Share

Bab 3

Author: Santari Kirani
Tubuh Aryan tiba-tiba menjadi tegang.

Setelah beberapa saat, Aryan bergeser ke samping untuk membiarkan Amara masuk. Setelah menutup pintu, Aryan menatap Amara dengan tatapan merendahkan. "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"

Ditatap mata Aryan yang dalam itu, Amara pun menjadi makin gugup.

Apakah ini artinya dia yang harus mengambil inisiatif?

Germo yang dia hubungi sebelumnya pernah bilang jika pria suka wanita yang bisa lepas saat melakukan hal itu. Namun, bagaimana caranya dia bisa bersikap lepas?

Setelah merasa ragu untuk sesaat, Amara menguatkan hatinya, melangkah maju, memeluk leher Aryan, lalu mencium bibir tipis itu dengan canggung.

Amara belum pernah berciuman sebelumnya, jadi ciumannya benar-benar tanpa teknik. Ditambah lagi Aryan sangat tinggi, sehingga Amara terpaksa harus berjinjit hingga tubuhnya goyah.

Aroma tubuh Aryan sangat enak, campuran antara aroma disinfektan yang samar dan alkohol. Jelas-jelas Amara-lah yang seharusnya menggoda Aryan. Namun, sementara Aryan belum memberikan respons apa pun, kaki Amara justru sudah terasa lemas.

Seakan kerasukan, bibir Amara meluncur ke leher Aryan. Sambil menggigit pelan jakunnya, tangannya dengan kikuk berusaha melonggarkan dasi pria itu, tetapi tidak berhasil.

Amara begitu panik hingga matanya memerah. Saat matanya bertatapan dengan mata Aryan yang kini tampak sedikit nakal, Amara pun akhirnya nekat mengulurkan tangan untuk menyentuh kancing di pinggang Aryan.

Namun, begitu menyentuh pinggang Aryan yang ramping dan kekar itu, Amara langsung menarik kembali tangannya seperti tersengat listrik.

Bahkan, melalui kemeja sekalipun, Amara bisa merasakan otot perut Aryan yang kencang dan hangat itu. Aryan terlihat begitu kurus, tetapi siapa sangka tubuhnya ternyata sebagus ini?

Tiba-tiba, terdengar tawa dingin di tengah kegelapan, "Dasar bodoh."

Sebelum Amara bisa menyadarinya, Aryan sudah melepas dasinya dan langsung mengikat pergelangan tangan Amara.

Tangan Aryan yang besar itu tiba-tiba mencengkeram pinggang Amara. Dalam sekejap, pandangan Amara terasa berputar dan Amara dilempar ke atas tempat tidur.

Tangan yang hari ini memeriksanya dengan begitu teliti itu kini menyibak handuk Amara dan menekan kaki Amara. Kemudian, ciuman yang lembut tetapi ganas, mendarat di leher Amara.

Amara tidak bisa menahan diri untuk tidak memekik kaget dan gemetar ingin mundur. Namun, mengingat jika dirinya hanyalah barang dagangan memaksa Amara untuk tetap mengeraskan hati. Amara pun berinisiatif menggesekkan tubuhnya ke pinggang Aryan dan membiarkan Aryan menyibak handuknya dengan kasar.

Saat bibir yang agak dingin itu mendarat di tulang selangkanya, tubuh Amara langsung gemetar. Suaranya terdengar serak, seperti rintihan manja seekor kucing.

Gerakan Aryan langsung terhenti. Matanya yang gelap bagaikan lautan yang bergolak, membuat siapa pun tanpa sadar akan tenggelam dan kehilangan arah ….

"Menyesal? Kamu pikir sekarang masih sempat?"

Wajah Amara langsung memerah dan tubuhnya gemetar makin hebat.

Keputusan yang sudah diambil, tidak bisa diubah lagi. Amara tahu persis hal itu di dalam hatinya. Namun, dia tetap tidak bisa menahan rasa takutnya. Bagaimanapun, dia tidak berpengalaman.

Melihat Amara terus saja tegang dan canggung, gairah di mata Aryan pun perlahan surut. Aryan lalu bangkit berdiri dan bersiap untuk pergi.

"Aku nggak suka memaksa. Kalau kamu nggak mau …."

"Jangan!"

"Maaf Dokter Aryan, aku cuma belum siap. Aku … aku bisa melakukannya."

Mata Amara memerah, dia mencengkeram erat tangan Aryan. Setelah pergulatan batin yang cukup lama, Amara kembali memejamkan mata dan mencium bibir Aryan.

Teknik ciuman Amara masih sama canggungnya seperti tadi. Namun, hal itu justru meruntuhkan akal sehat Aryan. Aryan langsung mengambil inisiatif. Ketika dinding pembatas terakhir disingkirkan, segala sesuatunya mulai berjalan tanpa kendali.

Amara membenamkan wajahnya di bahu pria itu sambil merintih lirih, wajahnya tampak merah padam ….

Aryan menggigit cuping telinganya, suaranya terdengar dalam dan serak, "Bukannya tadi kamu bilang akan menuruti apa pun yang kulakukan? Baru begini saja sudah nggak kuat?"

Air mata Amara mengalir makin deras, campuran antara rasa malu dan takut. Tangannya yang lemas berusaha mendorong dada bidang pria itu, tetapi usahanya sia-sia.

Amara tenggelam dalam kegelapan, hingga hampir melupakan siapa dirinya. Hanya ada kehangatan yang mendekapnya dengan begitu erat.

Malam yang penuh gairah itu terasa seperti mimpi yang begitu indah.

Amara tidak ingat kapan pastinya dia tertidur. Saat terbangun, dia hanya merasa seluruh tubuhnya terasa sakit.

Pinggangnya terasa begitu lemas sampai hampir tidak bisa ditegakkan. Dia memaksakan diri untuk membuka mata dan pria di sisinya ternyata sudah tidak ada.

Di samping tempat tidur diletakkan sebuah kantong kertas berisi satu set pakaian wanita yang masih baru. Desainnya sederhana dan elegan. Sebagai mahasiswi seni, sekali lihat saja, Amara bisa langsung tahu jika perancang baju itu begitu genius. Hanya saja, harga yang tertera pada labelnya langsung membuatnya merinding.

Siapa sangka, hanya sehelai gaun saja harganya bisa semahal itu!

Amara tidak berani memakainya. Sambil melilitkan handuk mandi, dia turun ke bawah untuk berganti pakaian dengan baju olahraga miliknya sendiri yang sebenarnya belum terlalu kering, lalu bergegas pergi dengan kepala tertunduk.

Setelah pergi ke rumah sakit dan memastikan kondisi ibunya baik-baik saja, barulah Amara bergegas kembali ke kampus.

Di kampus, Amara mengambil jurusan seni rupa. Sebenarnya ini adalah jurusan yang banyak menghabiskan uang. Namun, karena dosennya mengatakan bahwa Amara berbakat, ibu Amara pun rela menahan diri dan menabung untuk biaya kuliah Amara.

Namun, sekarang, setelah ibunya jatuh sakit, Amara terpaksa harus kuliah sambil bekerja paruh waktu.

Gadis-gadis lain di asrama Amara berasal dari keluarga kaya. Jadi, mereka agak mengucilkan dirinya yang dicap sebagai "gadis miskin". Oleh karena itu, saat Amara sampai di asrama, tidak ada yang menghiraukannya. Mereka semua asyik mengobrol sendiri.

"Siang nanti kayaknya ada seminar medis. Katanya untuk kampanye pencegahan AIDS."

"Siapa juga yang mau datang ke acara kayak gitu, malu-maluin banget!"

"Tapi, katanya kalau datang bisa nambah SKS. Lagian, salah satu dokternya ganteng banget!"

Amara melamun dan tidak begitu mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Rasa perih yang menyengat di kedua kakinya membuat dirinya makin tidak nyaman, hingga wajahnya menjadi pucat.

Sambil berpura-pura tidak terjadi apa-apa, Amara pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Saat melihat bekas-bekas cupang di tubuhnya melalui cermin, Amara menjadi makin tidak sanggup mengangkat kepala.

Untungnya sekarang musim pancaroba, jadi pakaiannya bisa menutupi semua tanda itu.

Begitu keluar dari kamar mandi, grup kerja paruh waktu di ponselnya memunculkan sebuah pesan: [Butuh pekerja paruh waktu untuk seminar medis nanti siang. Tugasnya cuma bantu angkat barang dan membagikan materi. Upahnya 200 ribu untuk satu siang. Yang mau silakan langsung ke aula untuk mendaftar.]

Amara memeriksa jadwal kuliahnya. Kelas siang ini, semua mata kuliahnya santai.

Amara segera membereskan barang-barangnya dan pergi ke aula. Saat berjalan keluar, Amara mendengar teman sekamarnya bergumam, "Sombong banget sih jadi orang. Seharian nggak ada di asrama, entah apa yang dia lakukan di luar. Jangan-jangan, jadi peliharaan om-om!"

Tangan Amara sedikit gemetar. Namun, Amara memaksakan diri untuk tetap tenang. Dia pun menutup pintu dan pergi.

Begitu tiba di aula, Amara melihat banyak dokter berjas putih sedang mengobrol dengan pihak pimpinan kampus.

Sekarang, melihat jas putih saja sudah membuat jantung Amara berdebar. Amara pun segera mendaftarkan diri ke bagian kerja paruh waktu dan berniat langsung pergi dari sana. Namun, tiba-kira dia mendengar seseorang berseru, "Ya ampun, yang itu ganteng banget!"

Amara tanpa sadar menoleh ke arah pandangan mereka dan napasnya langsung tertahan.

Itu Aryan.

Pria itu mengenakan seragam yang begitu rapi. Auranya dingin dan tidak tersentuh. Namun, wajahnya yang tampan serta tubuhnya yang tegap justru terlihat menarik perhatian, membuat banyak gadis curi-curi pandang ke arahnya.

Kenapa dia ada di sini?

Jantung Amara langsung berdebar kencang. Tepat di saat Amara berbalik untuk pergi, Aryan justru kebetulan menoleh ke arahnya.

Saat mata mereka bersirobok, otak Amara langsung kosong.

Namun, Aryan hanya meliriknya sekilas, lalu segera mengalihkan pandangannya.

Amara menghela napas lega. Dia lalu mengambil berkasnya. Namun, entah mengapa hatinya terasa agak getir.

Bagi Aryan, dirinya mungkin hanya sebatas cinta satu malam, atau hanya salah satu dari sekian banyak wanita yang pernah ditidurinya … Jadi, wajar saja jika Aryan tidak menghiraukannya.

Amara memaksakan diri untuk tetap tenang. Dia mengambil berkas-berkasnya, lalu meminta maaf kepada dosen sebelum melangkah keluar. Namun, tiba-tiba terdengar suara yang dingin dari arah belakang, "Amara."

Tubuh Amara langsung kaku dan berhenti di tempat. Dia melihat Aryan berdiri di belakangnya.

"Dokter Aryan …."

Amara mengepalkan jari-jarinya. "Ada yang bisa kubantu?"

Aryan menyerahkan sebuah kantong kertas kepadanya. "Tadinya, aku mau berikan ini waktu kamu datang untuk mengambil tasmu. Nggak disangka bisa sekebetulan ini."

Amara menerimanya dengan bingung. Kantong itu berisi sekotak pil kontrasepsi darurat dan salep pengurang bengkak.

Ekspresi Aryan tampak begitu tenang, kembali seperti saat memeriksanya sebelumnya. "Seingatku bagian itu agak lecet. Setelah diolesi salep, rasanya akan sedikit lebih mendingan."

Otak Amara langsung kosong dan telinganya langsung memerah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 50

    Aryan langsung tersadar. Dia baru ingat jika belum sempat memberi tahu tujuannya menyuruh Amara datang ke sini.Pantas saja Amara salah paham dengan niatnya. Namun, kenapa wajah gadis itu malah merona?Jangan-jangan, dia mengira ….Dengan kaki menyilang dan tubuh setengah bersandar di dinding, Aryan menatap punggung Amara dengan tatapan menggoda.Meja di ruang tamu tampak begitu bersih, hanya ada sekotak tisu dan sebuah kantong plastik di atasnya.Kantong plastik yang tampak penuh menggembung itu dibuka Amara dengan wajah yang masih merona.Di dalamnya, menyembul sebuah sudut benda. Ternyata, itu adalah palet lukis.Amara sempat tertegun untuk sesaat. Dia baru menyadari jika isi kantong itu semuanya adalah peralatan melukis, mulai dari kuas, papan sketsa, hingga cat warna.Namun, bahkan, setelah mengubek-ubeknya sampai ke bagian paling bawah, Amara tetap tidak menemukan barang yang sempat ada dalam bayangannya itu.Amara benar-benar dibuat melongo. Jadi, Aryan membeli semua ini?"Kenap

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 49

    Sementara risikonya? Jika sampai ada yang sedang sial dan mendapat tiga rekan tim yang payah, itu bisa jadi bencana.Namun, Amara tetap merasa senang. Setidaknya, dia tidak perlu satu tim dengan orang-orang di kamar asramanya.Tanpa ragu lagi, Amara langsung mengirimkan formulir pendaftaran kompetisi. Begitu mendapat notifikasi jika pendaftarannya berhasil, Amara segera mempelajari jadwal perlombaan dengan saksama.Kompetisi ini benar-benar penting bagi masa depannya. Jadi, Amara harus mencurahkan seluruh perhatiannya ke kompetisi tersebut. Amara perlu memahami jadwal acara sejak awal agar bisa meluangkan waktu untuk bersiap-siap.Jika sudah seperti ini, artinya Amara harus izin libur dahulu dari beberapa kerja paruh waktunya.Untungnya, selama ini performa kerja Amara selalu bagus. Begitu Amara meminta izin, para bos di beberapa tempat kerjanya langsung setuju tanpa ragu. Bahkan, mereka menyuruh Amara untuk fokus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.Setelah itu, Amara sempat mampi

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 48

    Amara sudah bisa menebak jika Yoga akan bertanya seperti itu."Kami cuma kebetulan kenal. Dokter Aryan orang yang baik."Amara sengaja menjawabnya secara tidak langsung, berputar-putar demi menghindari inti pertanyaannya.Akan tetapi, wajah Yoga langsung terlihat masam.Apa-apaan sih?Aryan dibilang orang baik?Amara pasti belum pernah melihat sisi iblis pria itu."Kakakku nggak naksir kamu, 'kan?"Yoga jauh lebih memedulikan pertanyaan yang satu ini.Itu karena, jawabannya menentukan apakah Amara akan menjadi kakak iparnya di masa depan atau tidak.Amara memikirkannya baik-baik, sepertinya memang tidak ada.Sejak awal, hubungannya dengan Aryan hanya murni transaksi bisnis, sama sekali tidak melibatkan perasaan."Nggak ada."Yoga merasa agak lega di dalam hati. Baguslah jika kakaknya memang tidak ada rasa.Jika sampai Aryan tahu dia pernah menyatakan cinta pada orang yang disukainya, ditambah juga sempat merundungnya, Yoga pasti akan langsung berakhir di kolom berita pembunuhan besok p

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 47

    Setelah menahan amarah sekian lama, hanya kalimat itu yang akhirnya bisa keluar dari mulut Yoga.Amara menengadah untuk menatap Yoga dan gerombolan sahabatnya. Tanpa terburu-buru, Amara menggigit rotinya, lalu kembali menyesap susu kedelainya."Bukan aku yang merusak kunci pintunya."Ucapan Amara terdengar datar, diiikuti dengan ekspresi wajah yang seakan menyuruh Yoga untuk menyimpulkannya sendiri.Yoga tertegun untuk sesaat. Sebuah jawaban mendadak terlintas di benaknya, tetapi Yoga langsung merasa hal itu sama sekali tidak mungkin.Lagi pula, sepupunya itu bukan orang sembarangan.Selama 20 tahun lebih hidup di dunia, selain ibunya sendiri, tidak ada satu pun perempuan yang bisa berada dekat-dekat dengan sepupunya itu.Zaman sekolah dahulu, ada banyak sekali gadis yang menulis surat cinta untuk Aryan, tetapi tidak pernah dilirik oleh Aryan.Setelah bekerja sekalipun, banyak perempuan yang terang-terangan mengejar dan menyerahkan diri pada Aryan. Namun, tidak peduli seberapa cantikny

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 46

    Amara mengupas telur rebusnya dengan santai dan pelan-pelan, berpura-pura tidak melihat mereka yang sedang saling bertukar pandang.Jujur saja, akting mereka terlalu payah.Berharap Amara tidak menyadari kejanggalannya, itu benar-benar mustahil.Sambil menunduk dan menyesap susu kedelainya, tiba-tiba saja Amara teringat sesuatu."Sarapannya habis berapa? Sini, aku transfer ke kalian."Amara mengeluarkan ponselnya, lalu membuka grup obrolan asrama yang sudah lama tidak dibuka.Riwayat obrolan di sana masih tertahan di musim penghujan tahun lalu, tepatnya saat Amara mengirimkan rincian tagihan listrik asrama.Amara tahu betul jika Kezia dan yang lainnya punya beberapa grup obrolan asrama lain yang sengaja tidak mengajak dirinya.Sehari-hari, mereka memang selalu mengobrol di grup-grup terpisah itu.Cuma berenam, tetapi punya tujuh sampai delapan grup obrolan.Kelihatannya pertemanan mereka tidak sekompak itu, tetapi apa urusannya dengan Amara?Kezia sama sekali tidak ambil pusing soal ua

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 45

    Dalam kegelapan, Kezia menyibak tirai ranjangnya.Seketika itu juga, beberapa tirai ranjang lainnya ikut terbuka secara bersamaan. Teman-teman sekamarnya melongokkan kepala dan melihat ke arah Kezia."Kok bisa sih? Amara itu bebal banget, nggak mempan diapa-apain!"Salah satu dari mereka angkat bicara.Tasya sedikit mengerutkan kening. "Apa kita ketahuan, atau Amara sudah dengar desas-desus?"Setelah berkata seperti itu, Tasya menatap curiga ke arah gadis-gadis lain di kamar asrama itu.Meski sebenarnya, dalam kegelapan seperti ini, Tasya tidak bisa melihat apa-apa."Mana mungkin! Nggak bakalan aku bocorin info ke dia!""Iya, bener! Menurutku, jangan-jangan sikap kalian yang kurang natural, makanya bikin dia curiga?"Kamar asrama itu langsung riuh saat gadis-gadis itu mulai menyahut dan berebut untuk bicara.Meski mereka sudah merendahkan suara, Amara tetap bisa mendengarnya.Awalnya, Amara tidak mendengar dengan jelas. Namun, kamar asrama yang tadinya sunyi itu tiba-tiba dipenuhi suar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status