Share

Transaksi Manis dengan Dokter Dingin
Transaksi Manis dengan Dokter Dingin
Penulis: Santari Kirani

Bab 1

Penulis: Santari Kirani
"Buka kakimu, kalau begitu terus nggak akan bisa masuk."

Amara Atmaja berbaring di atas ranjang periksa, napasnya agak terengah-engah.

Roknya sudah disingkap sampai pangkal paha, memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna putih bersih. Ini pertama kalinya Amara berada dalam posisi seperti ini di depan lawan jenis, sehingga membuatnya merasa begitu malu hingga tidak sanggup mengangkat kepala.

Namun, dokter pria di hadapannya yang mengenakan masker itu, terlihat acuh tak acuh, seakan menganggap Amara tidak lebih dari sebuah benda mati.

Sebelum datang, Amara tidak pernah menyangka jika pemeriksaan ginekologi juga bisa dilakukan oleh dokter pria ….

Terlebih lagi, pria itu sedang memegang sebuah tang logam bergagang lengkung di tangannya, sehingga membuat Amara tanpa sadar mencengkeram seprai dengan erat.

Seberapa sakitkah jika benda itu dimasukkan?

Melihat sedikit rasa tidak sabar melintas di mata di balik kacamata bingkai emas itu, Amara pun memberanikan diri untuk bertanya, "Ini … apa bisa merobeknya?"

Dokter itu langsung mengerutkan kening. "Kamu belum pernah berhubungan seksual? Lalu untuk apa kamu melakukan skrining penyakit menular seksual?"

Amara menggigit bibirnya, membuat rasa darah di mulutnya menjadi makin pekat.

Amara tidak mungkin memberi tahu dokter itu jika dia melakukan pemeriksaan untuk menjual keperawanannya, 'kan?

"Dokter lakukan saja pemeriksaannya, ini privasiku."

Amara memalingkan wajah, tidak berani menatap matanya. Amara hanya merasa malu dan takut di dalam hati.

Dokter itu menatapnya sejenak. Lalu, tanpa berkata apa pun, dia mengambil cotton bud yang ada di sampingnya.

Tangan yang panjang itu mendarat di kaki Amara. Tekstur sarung tangan karetnya terasa halus sekaligus dingin.

Beberapa batang cotton bud menjelajah di dalam sana, terasa agak gatal sekaligus kering yang tidak nyaman.

Posisi dokter itu sangat dekat dengannya. Tangannya yang satunya lagi diletakkan begitu saja di perut bagian bawah Amara. Namun, aroma disinfektan samar-samar yang menguar dari tubuh pria itu terasa begitu segar sekaligus dingin, sama seperti tatapan matanya.

Yang membuat Amara merasa jauh lebih malu adalah, sentuhan dingin di kakinya serta aroma tubuh pria itu malah membuatnya terangsang.

Oleh karena itu, saat ujung jari dokter itu tanpa sengaja menyentuh bagian itu, Amara pun hampir secara spontan ingin merapatkan kedua kakinya.

Aryan Devara berhenti sesaat. Tatapannya menyapu wajah yang tampak agak kekanak-kanakan itu. "Kalau ada yang nggak nyaman, bilang saja."

Mana mungkin Amara berani mengatakannya. Dia pun hanya bisa menjawab dengan kaku, "Nggak ada. Silakan Dokter lanjutkan saja."

Namun, seiring dengan gerakan cotton bud, dada Amara naik turun makin hebat. Dia sampai harus menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah agar bisa menahan desakan untuk mendesah.

Sedikit hasrat yang tersembunyi melintas di mata Aryan. Aryan tidak tahan untuk tidak melirik sekilas ke arah sepasang kaki yang seputih dan semulus mutiara itu. Aryan pun segera menarik kembali cotton bud tersebut dan memasukkannya ke dalam cairan reagen di sampingnya. "Berapa umurmu?"

Suara Amara terdengar sedikit gemetar, "Sembilan belas tahun."

Aryan mencatat informasi itu di bukunya begitu saja, lalu tangannya yang masih mengenakan sarung tangan karet itu menyusup masuk ke balik lipatan baju Amara.

Amara tidak bisa menahan diri untuk tidak gemetar. Namun, saat menatap mata yang tenang itu, entah mengapa Amara malah tidak berani berontak.

Tangan yang besar itu melakukan pemeriksaan raba di dada Amara dengan tekanan yang pas. Akan tetapi, hal itu justru membuat detak jantung Amara berdegap lebih cepat. "Ada yang sakit atau nggak nyaman?"

Sambil sekuat tenaga menahan rasa malunya, Amara menggelengkan kepala.

Tangan yang besar itu meluncur turun, lalu menekan-nekan perut bagian bawah Amara. "Kalau begini?"

Tangan itu benar-benar terasa agak dingin, ditambah dengan AC yang menyala di ruang periksa, membuat Amara tidak bisa menahan diri untuk tidak merapatkan kakinya. "Itu juga nggak sakit."

Aryan membuat catatan, lalu melepas sarung tangannya begitu saja. "Pakai kembali bajumu."

Sepasang tangan dengan tulang-tulangnya yang menonjol, terpampang di depan mata Amara. Sendi-sendinya yang terlihat kemerahan yang memesona itu, entah mengapa membuat detak jantung Amara berdebar lebih kencang.

"Tunggu saja di rumah, besok pagi hasilnya sudah bisa keluar."

Amara tertegun. "Apa nggak bisa sekarang? Bukankah katanya hasil pemeriksaan ini bisa keluar dengan cepat?"

Aryan menengadah. Jari telunjuknya menurunkan maskernya begitu saja, memperlihatkan wajahnya yang tampan tiada tara.

Amara kembali terpana.

"Pemeriksaannya memang bisa keluar cepat. Tapi, departemen kami sudah mau jam pulang kerja. Hasil laporannya baru bisa keluar besok pagi."

Suara Aryan terdengar tenang, matanya menatap lurus ke arah Amara. Namun, entah mengapa hal itu membuat jantung Amara berdebar kencang. "Cuma laporan saja, kenapa buru-buru?"

Amara merasa bersalah karena ditatap seperti itu. Dia pun tanpa sadar menundukkan kepalanya. "Nggak apa-apa."

Operasi ibunya dijadwalkan besok siang. Pria itu mengatakan, asal Amara membawa hasil pemeriksaannya, pria itu bisa langsung mengaturnya untuknya. Jadi, besok pagi seharusnya masih sempat, 'kan?

Amara menyambar pakaiannya, lalu mengenakannya. Dia mengucapkan terima kasih kepada dokter itu dengan suara lirih, kemudian berbalik dan keluar dari ruang periksa.

Amara tahu bahwa menjual diri adalah hal yang sangat kotor. Namun, saat ini dia sudah tidak punya pilihan lain.

Seminggu yang lalu, ibunya tiba-tiba pingsan saat sedang berjualan di kiosnya. Setelah dibawa ke rumah sakit, barulah diketahui bahwa ibunya ternyata terkena serangan jantung.

Meski kondisi ibunya sempat stabil setelah dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa perlu dilakukan operasi drainase pada ibunya. Jika tidak, nyawa ibunya akan tetap terancam.

Biaya operasinya 200 juta. Amara tidak punya jalan lain, selain menjual diri.

Saat kembali ke sekolah, ponsel Amara tiba-tiba berdering. Itu telepon dari nomor yang tidak dikenal.

Amara mengangkatnya dengan ragu-ragu. "Halo?"

Suara yang jernih dan dingin terdengar dari ujung telepon, "Amara?"

Amara merasa suara itu sangat familier. Namun, dia tidak bisa mengingat dengan pasti di mana dia pernah mendengarnya, sehingga dia merasa ragu-ragu untuk angkat bicara.

"Aku dokter yang memeriksamu hari ini, Aryan Devara."

Suara dingin itu kembali terdengar, "Tasmu ketinggalan."

Amara langsung menunduk. Dia baru menyadari jika dirinya tadi pergi terlalu terburu-buru. Amara hanya fokus mengenakan pakaian dan mengambil ponsel, sampai benar-benar melupakan tasnya.

Sekarang sudah jam tujuh malam, bus kota sudah berhenti beroperasi, sehingga dia tidak bisa kembali ke sana.

Amara hanya bisa bertanya dengan suara lirih. "Aku sekarang ada di kampus dan agak sulit untuk ke sana. Apa boleh aku ambil besok pagi?"

Aryan terdiam untuk sesaat. "Boleh."

Amara mengucapkan terima kasih. Saat Amara hendak menutup telepon, suara Aryan kembali terdengar, "Kamu sangat butuh uang?"

Tubuh Amara langsung kaku.

Di ujung telepon, Aryan memegang selebaran bertuliskan "Gadis Kencan Berbayar". Suaranya terdengar agak dingin, "Aku melihat selebaran ini waktu mencari kontakmu. Mungkin kamu menganggapku terlalu ikut campur. Tapi, sebagai seorang dokter, aku ingin mengingatkanmu kalau hal semacam ini sangat berbahaya."

Wajah Amara langsung memerah.

Amara melihat selebaran klub malam itu saat sedang bekerja paruh waktu di sebuah bar. Wanita-wanita yang mengenakan pakaian dalam seksi di selebaran itu berpose dengan sangat berani, sehingga bisa langsung diketahui apa yang mereka lakukan.

Namun, Amara tidak menyangka jika benda seperti itu malah terlihat oleh dokter itu.

Untuk sesaat, Amara tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Tangannya yang memegang ponsel juga ikut sedikit gemetar.

Di ujung telepon, Aryan yang mendengar Amara tidak mengatakan apa-apa, mulai mengerutkan kening dengan gusar. Suaranya juga terdengar agak dingin, "Kamu mendengarku?"

Amara pun tersadar. Buku-buku jarinya memutih karena terlalu erat mencengkeram ponselnya. "Aku mengerti, terima kasih sudah mengingatkan."

Amara sama sekali tidak ingin menerima perhatian seperti ini dari seorang lawan jenis, meskipun itu didasari oleh niat baik …. Selain membuatnya merasa lebih hina, hal itu tidak ada gunanya.

Amara menjauhkan ponsel dari telinganya dan berniat untuk menutup telepon.

Akan tetapi, tepat di saat itu, Aryan kembali berbicara, "Mengerti, tapi tetap akan melakukannya, begitu kan maksudmu?"

Amara menggigit bibirnya kuat-kuat, membuat rasa karat besi kembali menyeruak di dalam mulutnya. "Urusan pribadiku nggak perlu Anda urusi. Terima kasih atas kebaikan Anda."

Di ujung telepon, tangan Aryan yang memegang selebaran itu menjadi makin mengencang.

Sejujurnya, dia sama sekali tidak ingin ikut campur.

Namun, saat memikirkan gadis sekecil ini akan melangkah ke jalan yang sesat, entah mengapa Aryan mendadak ingin menjadi penyelamat.

Seakan dirasuki sesuatu, Aryan tiba-tiba saja berkata, "Kalau kamu memang begitu ingin menjual diri, kamu bisa menyerahkan dirimu kepadaku. Harganya nggak akan lebih rendah dari orang yang kamu kencani sekarang."

Tangan Amara langsung kaku.

Apa maksudnya ini ….

Apa Aryan ingin membayarnya untuk melakukan hal seperti itu dengannya?

Mengingat sentuhan Aryan di atas ranjang periksa hari ini, entah mengapa Amara merasa tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa bergerak.

Namun, sebelum Amara bisa bicara, telepon tiba-tiba saja ditutup.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 100

    Pak Zamri bukan hanya Kepala Dokter Bedah Jantung, tetapi juga pernah membimbing Aryan selama beberapa waktu dan merupakan dosen Aryan di kampus.Hingga saat ini, Aryan tetap memanggilnya "Profesor", yang menunjukkan jika hubungan mereka sangat dekat dan istimewa."Bukankah permohonannya sudah disetujui? Kenapa tiba-tiba ada masalah?"Aryan merasa agak gugup.Selama beberapa kali rotasi sebelumnya, dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berada di bagian bedah jantung. Yang terakhir ini adalah atas inisiatif dan permohonannya sendiri.Sejak di kampus, prestasi Aryan selalu unggul. Setelah lulus, baik selama masa magang maupun pendidikan residen, kinerjanya sangat bagus. Hingga saat ini, Aryan menjadi wakil kepala ruang operasi."Kamu tahu sendiri, bedah jantung selalu menjadi departemen yang sangat diminati. Terlalu banyak dokter yang ingin menjalani rotasi di sini."Pak Zamri menghela napas. "Ini juga akibat kesalahan administratif rumah sakit. Mereka keliru menambahkan satu kuo

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 99

    Yoga tidak mengerti di mana letak kesalahannya kali ini. Apa jangan-jangan Amara tidak ingin menjadi adiknya, melainkan ingin menjadi istri kakaknya?"Kak Yoga, Amara memang agak pemalu. Jangan diambil hati."Kezia tidak rela melewatkan kesempatan langka ini, sehingga dia tidak ikut pergi. Dengan sikap manja, dia mendekati Yoga untuk menghiburnya."Bagaimana mungkin Kak Yoga bisa memahami perasaan seorang gadis? Gimana kalau kita bertukar nomor WhatsApp? Jadi, nanti kalau ada perlu, akan lebih mudah untuk menghubungi."Tasya memberanikan diri membantu Kezia untuk meminta nomor WhatsApp.Awalnya, Yoga berniat menolaknya.Namun, Kezia menambahkan, "Benar banget. Kalau Amara merasa malu atau sungkan menghubungi Kak Yoga, kami bisa bantu menyampaikannya. Selain itu, kalau Kak Yoga sulit menghubungi Amara, Kakak juga bisa cari kami."Mendengar penjelasan itu, Yoga merasa jika hal itu ada benarnya juga.Bagaimanapun, mereka satu kamar asrama. Jadi, akan lebih mudah untuk berkomunikasi."Oke,

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 98

    "Nggak, nggak kok. Rasanya enak banget."Kezia merasa agak bingung. Namun, dengan memujinya pasti tidak akan salah.Yoga mengangkat kedua tangannya dengan cuek. "Kalau begitu, kenapa kalian masih nggak bisa menjaga mulut kalian?"Kalimat itu langsung berhasil membuat ekspresi kedua gadis cantik itu menjadi muram.Terutama Kezia, yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Wajahnya langsung terlihat begitu muram.Tasya masih bisa bersikap tenang. Lagi pula, dia datang hanya untuk mendukung Kezia, meski harus menghadapi sikap dingin. Namun, Kezia ini ….Tasya pun membuka mulutnya dan berkata, "Kak Yoga, kata-katamu terlalu kasar …. Kezia cuma mengagumimu, apa salahnya?"Pernah membaca novel cinta zaman dahulu dengan tokoh protagonis yang tingkahnya konyol?Dialog seperti inilah yang biasanya mereka ucapkan.Amara memegangi dahinya dengan putus asa. Dia benar-benar ingin mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak kenal Kezia dan Tasya!"Aku cuma menyetujuinya karena menghormati Amara. Ka

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 97

    "Kamu aja yang pesan."Amara merasa agak terpukul melihat harganya.Yoga pun tidak sungkan-sungkan. Dia langsung memesan lebih dari sepuluh hidangan sekaligus."Aku dengar kamu ikut serta dalam kompetisi antar kampus. Gimana? Kamu sekelompok sama siapa?"Setelah selesai memesan, Yoga bersikap layaknya seorang ayah yang khawatir terhadap anak perempuannya dan mulai menanyakan kehidupan Amara.Sikap Yoga membuat Amara merasa bingung.Apa Yoga ini sudah gila?Meski dalam hati penuh tanya, ada pepatah yang mengatakan, "Jangan bersikap buruk pada orang yang bersikap ramah."Amara pun menceritakan situasinya apa adanya dan menjelaskan anggota timnya secara singkat.Ketika Amara menyebut nama Andre, Kezia dan Tasya tanpa sadar langsung terkesiap karena kaget.Astaga! Beruntung sekali Amara!Kezia dan Tasya merasa sangat iri. Mereka juga ingin satu tim dengan Andre."Amara, kamu benar-benar beruntung," kata Kezia dengan nada sinis."Aku beruntung atau nggak, itu masih belum diketahui."Amara m

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 96

    Yoga bukanlah orang yang mudah diajak bicara. Jika dia menolak, Amara sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa.Bagaimanapun, dia sudah janji pada Yoga, sehingga dialah yang terlebih dahulu ingkar janji.Yoga kembali membalas pesan dengan begitu cepat, seakan dia selalu menunggu di depan ponsel setiap saat.[Boleh saja. Nggak perlu ganti tempat, kan udah kubilang, aku yang traktir!]Melihat balasan Yoga, Amara merasa seperti salah baca. Sejak kapan Yoga menjadi begitu baik hati?Yang penting Yoga sudah setuju.Mengenai apa yang akan terjadi di restoran nanti, hanya bisa dihadapi sesuai keadaan."Kak Yoga sudah setuju. Cukup kita beberapa orang aja, jangan ajak orang lain lagi."Amara tadi diam saja, sehingga membuat Kezia berpikir keras mencari cara untuk membujuknya. Namun, ketika tiba-tiba mendengar kata-kata itu, ekspresi Kezia pun langsung berubah.Ternyata, Amara diam-diam menghubungi Yoga. Kezia merasa senang sekaligus kesal.Kezia senang karena tujuannya tercapai. Namun, saat m

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 95

    Lihat dulu situasinya."Oke, setelah kamu menyelesaikan tugas kelompok, jangan pergi ke tempat yang terlalu terpencil lagi, apalagi di malam hari."Aryan memberikan pesan singkat itu sebelum mengakhiri panggilan karena ada pasien yang datang menemuinya.Yoga langsung membalas pesannya. Amara melirik lokasi restoran yang dikirimkan Yoga dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mendecakkan lidah.Ternyata benar, orang-orang dalam satu keluarga memang memiliki selera yang sama. Restoran ini begitu mewah, hingga untuk memesan sepiring buah saja Amara harus berpikir berkali-kali.Saat Amara hendak menyimpan ponselnya, muncul sebuah pesan di grup obrolan tim kompetisi antar kampus itu.Seseorang dengan nama di WhatsApp "Gadis Sangat Lapar" mengirimkan dua pesan.[Karena ini pertama kalinya kita semua ketemu, gimana kalau kita makan bareng biar lebih akrab? Ke depannya, kita bakalan sering ketemu untuk waktu yang cukup lama!][Lagian, susah payah aku bisa datang ke Avari. Kakak-kakak senior, b

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 5

    Amara bergerak dengan cepat dan sigap. Sebelum mereka bisa melihatnya dengan jelas, dia langsung menginjak kotak pil kontrasepsi itu dengan kakinya, lalu segera memungutnya."Memangnya aku mengizinkan kalian mengacak-acak barang-barangku?" kata Amara dengan penuh amarah.Melihat Amara yang biasanya

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 4

    Amara mencengkeram ujung bajunya dengan tegang, lalu tanpa sadar melihat sekeliling.Banyak mata yang sejak tadi terus mengikuti Aryan, yang secara tidak langsung juga menimbulkan rasa penasaran yang besar terhadap dirinya.Untungnya, jarak mereka cukup jauh, sehingga sepertinya tidak ada yang mende

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 3

    Tubuh Aryan tiba-tiba menjadi tegang.Setelah beberapa saat, Aryan bergeser ke samping untuk membiarkan Amara masuk. Setelah menutup pintu, Aryan menatap Amara dengan tatapan merendahkan. "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"Ditatap mata Aryan yang dalam itu, Amara pun menjadi makin gugup.Apaka

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 2

    Aryan menutup teleponnya, wajahnya tampak begitu masam.Dia mungkin benar-benar sudah gila.Berapa memangnya umur gadis itu?Sembilan belas tahun dan masih usia kuliah. Dia malah berpikir untuk membayar demi bisa menidurinya.Tahun ini, Aryan berusia 26 tahun. Sebagai putra Keluarga Devara, Aryan ti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status