Share

Bab 5

Author: Santari Kirani
Amara bergerak dengan cepat dan sigap. Sebelum mereka bisa melihatnya dengan jelas, dia langsung menginjak kotak pil kontrasepsi itu dengan kakinya, lalu segera memungutnya.

"Memangnya aku mengizinkan kalian mengacak-acak barang-barangku?" kata Amara dengan penuh amarah.

Melihat Amara yang biasanya selalu baik hati tiba-tiba menjadi marah, Kezia pun menatapnya dengan penuh minat.

"Barang memalukan apa sih sampai nggak boleh dilihat? Kami kan cuma mau lihat. Ini namanya peduli pada teman!" Kezia mendengus dingin, lalu kembali mendekat.

Kezia masih ingin merebutnya. Namun, Amara mencengkeram kotak obat kontrasepsi itu erat-erat di dalam kepalan tangannya.

Sekasar apa pun Kezia, dia tetap tidak berani benar-benar menggunakan kekerasan.

"Amara, aku sarankan sebaiknya kamu serahkan sendiri baik-baik. Kalau ternyata barang itu nggak benar, kami nggak mau ikut terseret gara-gara kamu!"

Kezia berkata dengan nada menyindir, sambil memberikan isyarat mata kepada Tasya, pengikutnya.

"Betul! Aku bahkan mendengar kehidupan pribadimu nggak jelas. Jangan sampai kamu punya penyakit menular seksual terus menularkannya kepada kami!" Tasya langsung menimpali.

Yang lain langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan, ada yang gembira di atas penderitaan orang lain. "Pantas saja waktu kelas tadi dia mendengarkan dengan begitu serius. Jangan-jangan, dia sendiri memang kena!"

Napas Amara tersengal-sengal. "Silakan saja kalau kalian mau terus bicara. Pencemaran nama baik sudah lebih dari cukup bagiku untuk menuntut kalian."

Tangan Amara yang lain mengangkat ponsel, di mana nomor kantor polisi sudah tertera di layar ponselnya.

Melihat jari Amara yang melayang di atas tombol panggil, wajah orang-orang itu langsung menjadi pucat.

Kezia merasa tidak puas. Namun, karena tidak mau reputasinya tercemar karena hal ini, dia pun terpaksa diam.

Mereka pun bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa, lalu kembali ke tempat duduk masing-masing untuk melanjutkan makan.

Amara tidak ingin tinggal di tempat itu lebih lama lagi. Dia mengambil salep di lantai dan meninggalkan asrama.

Setelah selesai kuliah, Aryan benar-benar datang.

Mobil Aryan terparkir di depan gerbang kampus. Amara pernah melihat logo mobil tersebut. Amara melihatnya saat teman-teman sekamarnya sedang asyik membicarakan mobil-mobil mewah. Di antaranya, ada logo mobil yang persis seperti ini.

Huruf B besar yang dilengkapi dengan sepasang sayap besar.

Katanya, mobil jenis itu sangat mahal.

Harga yang sama sekali tidak berani dibayangkan Amara.

Napas Amara tertahan untuk sesaat. Sementara, Aryan sudah membukakan pintu mobil untuknya.

"Aku sudah harus kembali di rumah sakit sebelum jam lima. Kamu nggak berniat membuatku terlambat, 'kan?" Aryan mengerutkan kening, tampak agak tidak senang.

Aryan bisa melihat dengan jelas bahwa Amara selalu merasa canggung setiap kali sedang bersamanya.

Terutama saat melihat mobilnya tadi. Rasa takut yang terpancar di mata Amara terlihat begitu jelas olehnya.

Aryan sengaja berkata seperti itu.

Benar saja, Amara langsung naik ke mobil dengan patuh. Dia sudah terlalu banyak merepotkan Aryan, mana mungkin dia berani membuat Aryan terlambat.

Aryan tersenyum tipis. Dia lalu membuka pintu mobil dan ikut masuk.

Tidak jauh dari sana, Kezia yang kebetulan sedang lewat melihat adegan itu. Kezia pun segera mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat menekan tombol kamera. Dia memotret momen saat keduanya masuk ke mobil mewah tersebut, lalu langsung mengunggah foto itu ke berbagai platform media sosial.

Keterangan fotonya adalah: [Primadona Fakultas Seni Rupa dan sugar daddy-nya. Terbukti kalau dia jadi piaraan!]

Meskipun Kezia sangat enggan mengakui jika Amara adalah primadona kampus, hanya keterangan seperti inilah yang bisa menarik perhatian orang.

Ini pertama kalinya Amara naik mobil semacam ini. Dia tidak berani bergerak sedikit pun. Melihat hal itu, Aryan pun tiba-tiba mendekat.

Jarak wajah mereka berdua tidak sampai setengah kepalan tangan. Embusan napas Aryan yang hangat menerpa wajah Amara, rasanya begitu panas.

Napas Amara langsung memburu dan otak Amara juga langsung kosong.

Bermacam-macam pikiran melintas di benak Amara.

Jika Aryan mengajukan permintaan seperti itu lagi, apakah dia harus menerimanya?

Uangnya sudah dibayar, transaksi mereka seharusnya sudah berakhir pagi ini.

Namun, bayaran yang diminta Amara adalah 200 juta, sementara Aryan membayarnya dua kali lipat.

Sebenarnya, Amara sadar betul di dalam hatinya. Keperawanan seorang mahasiswi sama sekali tidak bernilai sebanyak itu.

Hanya karena memiliki paras yang rupawan, Amara dipilih oleh germo yang sebelumnya, yang kemudian mencarikannya seorang pria kaya raya.

Belum sempat Amara menemukan jawaban untuk dirinya sendiri, Aryan sudah menjauhkan tubuhnya dan bangkit kembali dari hadapannya.

Kini sabuk pengaman sudah terpasang di dada Amara. Sabuk itu menahan tubuhnya dengan erat, hingga mempertegas lekuk payudaranya yang sempurna.

Amara baru menyadari jika dia sudah berpikiran yang tidak-tidak, sehingga wajahnya langsung memerah.

Di sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Amara bersandar di dekat jendela sambil menahan napas, lalu mengembuskannya perlahan-lahan untuk meredakan rasa tegangnya.

Rumah sakit yang familier dan ruangan kantor yang familier. Aryan mengambil tas Amara dari dalam lemari.

Sebuah tas kanvas yang warnanya sudah memudar, jenis tas gratisan yang didapat saat membeli susu diskon di supermarket. Di bagian sambungan kedua tali bahunya juga memperlihatkan bekas jahitan untuk memperbaikinya.

Begitu tua dan usang, tetapi tetap bersih.

Gadis ini benar-benar sangat kekurangan uang.

Dia malah memanfaatkan kesulitan gadis ini ….

Aryan tiba-tiba merasa sangat bersalah. Jakunnya bergerak-gerak saat dia berkata dengan suara yang dalam, "Kalau ke depannya kamu butuh uang, kamu bisa datang padaku."

Amara menengadah dengan terkejut. Apakah dia sudah salah dengar?

Apakah pria ini berniat untuk terus membelinya, atau ini adalah bentuk lain dari menjadikannya wanita simpanan?

Tidak. Transaksi semacam ini, cukup satu kali saja.

Amara pun memejamkan matanya dengan pedih. "Semalam kamu membayar dua kali lipat. Kelebihannya akan kukembalikan kepadamu. Ke depannya, aku akan mencari jalan keluar sendiri."

Dua ratus juta itu sebenarnya hanya cukup untuk biaya operasi.

Setelah operasi masih ada masa pemulihan. Masa pemulihan yang panjang itu membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dari biaya operasinya sendiri.

Kelebihan 200 juta yang diberikan oleh Aryan ini sebenarnya bisa membuat Amara sedikit bernapas lega. Uang itu memberinya cukup waktu untuk bekerja paruh waktu demi mengumpulkan uang dan melunasi sisa biaya pengobatan ke depannya.

Jika uang ini dikembalikan kepada Aryan, Amara mungkin tidak punya pilihan selain putus sekolah dan bekerja penuh waktu.

Akan tetapi, Amara tidak takut.

Jika waktu itu biaya operasi tidak ditagih dengan sangat mendesak hingga Amara tidak punya cara untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat dan satu-satunya cara yang terpikir oleh Amara hanyalah menjual dirinya sendiri, Amara sama sekali tidak akan melakukan hal tersebut.

Dengan tangan gemetar, Amara mengeluarkan ponsel dari sakunya, tetapi langsung direbut Aryan.

Tatapan mata Aryan menjadi makin dingin. "Apa yang sudah kuberikan, nggak ada alasan untuk diambil lagi."

Sikap macam apa yang ditunjukkan gadis ini sekarang? Apa karena sudah merasakan enaknya, jadi dia berniat melakukan transaksi yang sama dengan orang lain?

"Kalau kamu memang bersikeras ingin menukarnya dengan tenagamu, aku nggak keberatan untuk menidurimu sekali lagi!"

Selama bertahun-tahun, tidak terhitung banyaknya wanita yang berbondong-bondong ingin tidur dengannya. Namun, tidak ada satu pun yang membuat Aryan tertarik. Aryan justru merasa muak.

Sekarang, setelah dia merasa iba pada gadis ini, ternyata gadis ini punya bakat luar biasa untuk memancing amarahnya.

Namun, Aryan harus mengakui jika kelembutan semalam membuatnya tidak bisa lepas.

Kata-kata Aryan barusan bagaikan pukulan yang telak. Amara pun tersentak dan mundur selangkah.

Pikirannya yang kacau membuat langkah kaki Amara limbung, hingga akhirnya dia jatuh ke lantai.

Bahkan, saat Aryan berniat untuk menahannya, semuanya sudah terlambat.

Saat jatuh terduduk di lantai, rasa sakit yang luar biasa hebat, yang seakan mengoyak tubuh bagian bawah Amara, langsung datang menyerang.

Rasanya jauh lebih menyakitkan dibanding semalam.

Amara memekik tertahan. Wajah langsung pucat pasi. Dia hanya bisa terbaring di lantai dan tidak bisa bangkit untuk waktu yang lama.

Amara merapatkan kedua kakinya erat-erat dengan raut wajah yang tersiksa. Hanya dengan sekali lirik saja, Aryan langsung mengerti apa yang sedang terjadi.

Aryan pun tersenyum tipis, lalu sengaja menakut-nakutinya. "Kayaknya lukamu robek lagi. Kalau nggak segera diobati, kemungkinan besar bisa borokan dan bernanah!"

Rasakan, itu akibatnya jika tidak menurut.

Mata Amara langsung memerah. Bukannya dia tidak mau menurut, tetapi dia memang tidak punya cara untuk mengoleskan obat di asrama. Selain itu, Amara juga tidak punya tempat lain untuk pergi.

Ada banyak mata yang mengawasinya di asrama. Jika Kezia mengetahuinya, gadis itu pasti akan membesar-besarkan masalah ini.

Amara langsung merasa sedih dan ketakutan di dalam hati. Air matanya mulai menetes.

Sorot mata Aryan kini menyiratkan sedikit rasa bersalah. Dia membantu Amara berdiri dan membimbingnya untuk duduk di atas ranjang periksa.

"Selama obatnya dioleskan dengan benar, semuanya akan baik-baik saja. Aku ini dokter, kamu harus percaya padaku."

Suara Aryan terdengar seperti sedang merayu. Amara mengangguk pelan. Wajah Amara tampak memerah. Amara tidak lagi memberontak dan membiarkan Aryan dengan gerakan lembut, tetapi cekatan menurunkan celananya dan memperlihatkan celana dalamnya ….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 100

    Pak Zamri bukan hanya Kepala Dokter Bedah Jantung, tetapi juga pernah membimbing Aryan selama beberapa waktu dan merupakan dosen Aryan di kampus.Hingga saat ini, Aryan tetap memanggilnya "Profesor", yang menunjukkan jika hubungan mereka sangat dekat dan istimewa."Bukankah permohonannya sudah disetujui? Kenapa tiba-tiba ada masalah?"Aryan merasa agak gugup.Selama beberapa kali rotasi sebelumnya, dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berada di bagian bedah jantung. Yang terakhir ini adalah atas inisiatif dan permohonannya sendiri.Sejak di kampus, prestasi Aryan selalu unggul. Setelah lulus, baik selama masa magang maupun pendidikan residen, kinerjanya sangat bagus. Hingga saat ini, Aryan menjadi wakil kepala ruang operasi."Kamu tahu sendiri, bedah jantung selalu menjadi departemen yang sangat diminati. Terlalu banyak dokter yang ingin menjalani rotasi di sini."Pak Zamri menghela napas. "Ini juga akibat kesalahan administratif rumah sakit. Mereka keliru menambahkan satu kuo

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 99

    Yoga tidak mengerti di mana letak kesalahannya kali ini. Apa jangan-jangan Amara tidak ingin menjadi adiknya, melainkan ingin menjadi istri kakaknya?"Kak Yoga, Amara memang agak pemalu. Jangan diambil hati."Kezia tidak rela melewatkan kesempatan langka ini, sehingga dia tidak ikut pergi. Dengan sikap manja, dia mendekati Yoga untuk menghiburnya."Bagaimana mungkin Kak Yoga bisa memahami perasaan seorang gadis? Gimana kalau kita bertukar nomor WhatsApp? Jadi, nanti kalau ada perlu, akan lebih mudah untuk menghubungi."Tasya memberanikan diri membantu Kezia untuk meminta nomor WhatsApp.Awalnya, Yoga berniat menolaknya.Namun, Kezia menambahkan, "Benar banget. Kalau Amara merasa malu atau sungkan menghubungi Kak Yoga, kami bisa bantu menyampaikannya. Selain itu, kalau Kak Yoga sulit menghubungi Amara, Kakak juga bisa cari kami."Mendengar penjelasan itu, Yoga merasa jika hal itu ada benarnya juga.Bagaimanapun, mereka satu kamar asrama. Jadi, akan lebih mudah untuk berkomunikasi."Oke,

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 98

    "Nggak, nggak kok. Rasanya enak banget."Kezia merasa agak bingung. Namun, dengan memujinya pasti tidak akan salah.Yoga mengangkat kedua tangannya dengan cuek. "Kalau begitu, kenapa kalian masih nggak bisa menjaga mulut kalian?"Kalimat itu langsung berhasil membuat ekspresi kedua gadis cantik itu menjadi muram.Terutama Kezia, yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Wajahnya langsung terlihat begitu muram.Tasya masih bisa bersikap tenang. Lagi pula, dia datang hanya untuk mendukung Kezia, meski harus menghadapi sikap dingin. Namun, Kezia ini ….Tasya pun membuka mulutnya dan berkata, "Kak Yoga, kata-katamu terlalu kasar …. Kezia cuma mengagumimu, apa salahnya?"Pernah membaca novel cinta zaman dahulu dengan tokoh protagonis yang tingkahnya konyol?Dialog seperti inilah yang biasanya mereka ucapkan.Amara memegangi dahinya dengan putus asa. Dia benar-benar ingin mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak kenal Kezia dan Tasya!"Aku cuma menyetujuinya karena menghormati Amara. Ka

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 97

    "Kamu aja yang pesan."Amara merasa agak terpukul melihat harganya.Yoga pun tidak sungkan-sungkan. Dia langsung memesan lebih dari sepuluh hidangan sekaligus."Aku dengar kamu ikut serta dalam kompetisi antar kampus. Gimana? Kamu sekelompok sama siapa?"Setelah selesai memesan, Yoga bersikap layaknya seorang ayah yang khawatir terhadap anak perempuannya dan mulai menanyakan kehidupan Amara.Sikap Yoga membuat Amara merasa bingung.Apa Yoga ini sudah gila?Meski dalam hati penuh tanya, ada pepatah yang mengatakan, "Jangan bersikap buruk pada orang yang bersikap ramah."Amara pun menceritakan situasinya apa adanya dan menjelaskan anggota timnya secara singkat.Ketika Amara menyebut nama Andre, Kezia dan Tasya tanpa sadar langsung terkesiap karena kaget.Astaga! Beruntung sekali Amara!Kezia dan Tasya merasa sangat iri. Mereka juga ingin satu tim dengan Andre."Amara, kamu benar-benar beruntung," kata Kezia dengan nada sinis."Aku beruntung atau nggak, itu masih belum diketahui."Amara m

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 96

    Yoga bukanlah orang yang mudah diajak bicara. Jika dia menolak, Amara sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa.Bagaimanapun, dia sudah janji pada Yoga, sehingga dialah yang terlebih dahulu ingkar janji.Yoga kembali membalas pesan dengan begitu cepat, seakan dia selalu menunggu di depan ponsel setiap saat.[Boleh saja. Nggak perlu ganti tempat, kan udah kubilang, aku yang traktir!]Melihat balasan Yoga, Amara merasa seperti salah baca. Sejak kapan Yoga menjadi begitu baik hati?Yang penting Yoga sudah setuju.Mengenai apa yang akan terjadi di restoran nanti, hanya bisa dihadapi sesuai keadaan."Kak Yoga sudah setuju. Cukup kita beberapa orang aja, jangan ajak orang lain lagi."Amara tadi diam saja, sehingga membuat Kezia berpikir keras mencari cara untuk membujuknya. Namun, ketika tiba-tiba mendengar kata-kata itu, ekspresi Kezia pun langsung berubah.Ternyata, Amara diam-diam menghubungi Yoga. Kezia merasa senang sekaligus kesal.Kezia senang karena tujuannya tercapai. Namun, saat m

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 95

    Lihat dulu situasinya."Oke, setelah kamu menyelesaikan tugas kelompok, jangan pergi ke tempat yang terlalu terpencil lagi, apalagi di malam hari."Aryan memberikan pesan singkat itu sebelum mengakhiri panggilan karena ada pasien yang datang menemuinya.Yoga langsung membalas pesannya. Amara melirik lokasi restoran yang dikirimkan Yoga dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mendecakkan lidah.Ternyata benar, orang-orang dalam satu keluarga memang memiliki selera yang sama. Restoran ini begitu mewah, hingga untuk memesan sepiring buah saja Amara harus berpikir berkali-kali.Saat Amara hendak menyimpan ponselnya, muncul sebuah pesan di grup obrolan tim kompetisi antar kampus itu.Seseorang dengan nama di WhatsApp "Gadis Sangat Lapar" mengirimkan dua pesan.[Karena ini pertama kalinya kita semua ketemu, gimana kalau kita makan bareng biar lebih akrab? Ke depannya, kita bakalan sering ketemu untuk waktu yang cukup lama!][Lagian, susah payah aku bisa datang ke Avari. Kakak-kakak senior, b

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 2

    Aryan menutup teleponnya, wajahnya tampak begitu masam.Dia mungkin benar-benar sudah gila.Berapa memangnya umur gadis itu?Sembilan belas tahun dan masih usia kuliah. Dia malah berpikir untuk membayar demi bisa menidurinya.Tahun ini, Aryan berusia 26 tahun. Sebagai putra Keluarga Devara, Aryan ti

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 4

    Amara mencengkeram ujung bajunya dengan tegang, lalu tanpa sadar melihat sekeliling.Banyak mata yang sejak tadi terus mengikuti Aryan, yang secara tidak langsung juga menimbulkan rasa penasaran yang besar terhadap dirinya.Untungnya, jarak mereka cukup jauh, sehingga sepertinya tidak ada yang mende

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 3

    Tubuh Aryan tiba-tiba menjadi tegang.Setelah beberapa saat, Aryan bergeser ke samping untuk membiarkan Amara masuk. Setelah menutup pintu, Aryan menatap Amara dengan tatapan merendahkan. "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"Ditatap mata Aryan yang dalam itu, Amara pun menjadi makin gugup.Apaka

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 1

    "Buka kakimu, kalau begitu terus nggak akan bisa masuk."Amara Atmaja berbaring di atas ranjang periksa, napasnya agak terengah-engah.Roknya sudah disingkap sampai pangkal paha, memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna putih bersih. Ini pertama kalinya Amara berada dalam posisi seperti ini di d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status