LOGINSerena berada di dalam taksi, soal yang ia bilang hanya Abigail dan Elsie yang dirinya percayai memang benar karena ia belum mempercayai suaminya. Kecuali jika nanti Vincen sudah bertekuk lutut padanya, maka ia akan mempertimbangkannya.
Serena melihat ke kaca samping, keningnya berkerut heran melihat jalanan yang ia rasa tidak asing di pandangannya dan sepertinya ia pernah ke sini sebelumnya. "Pak maaf, boleh saya bertanya?" tanya Serena kepada Pak supir. "Tentu nona," jawab supir. "Ini kota mana?" Tadinya Serena sedikit bingung dengan bahasa yang setiap hari ia gunakan di sini, sedikit familliar. Meskipun supir itu menatapnya aneh, ia tidak peduli. "Indonesia, nona." Deg Jantung Serena berdegup kencang, ia tidak salah dengarkan. Dunia yang ia kira aneh berada di Indonesia, tempat yang dulu dirinya pernah kunjungi sekali. Tapi apa mungkin, Indonesia ini adalah Indonesia yang sama dengan tempat ia berlibur dulu. Dulu ia tidak mengerti dengan bahasanya, itulah mengapa ia berpikir ini dunia aneh. Tapi kenapa sekarang ia lancar berbahasa indonesia? Mungkin saja bantuan sistem. "Apa di sini juga ada Monas, taman Indonesia, kota tua, candi borobudur, pelabuhan ratu, atau mungkin nyi loro kidul. Pak?" tanya Serena beruntun, ia masih belum percaya dengan semuanya. "Ada Nona," jawabnya. Serena bersandar di kursi, air matanya menetes. "Idoy, apakah Indonesia ini adalah Indonesia yang aku maksud?" tanya Serena lirih, tiba-tiba saja Idoy sudah ada di hadapannya. "Benar Serena, kita ada di Indonesia yang dulu pernah kamu kunjungi." Pecah sudah tangisan Serena, tidak percaya ternyata ia berada di Indonesia dan masih di dunia yang sama dengan dirinya asli. Supir yang melihat penumpangnya menangis pun memberikan tisu. "Silahkan nona, saya tidak tahu masalah anda apa. Tapi bersabarlah nona," ucap supir itu, Serena mengambil tisunya dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah Serena sudah tenang, ia menatap tajam Idoy. "Kenapa kamu tidak bilang kalo dunia yang aku tempati adalah duniaku sendiri?" "Kamu tidak bertanya," sahut Idoy santai. Memilih memakan permen rasa apel seperti tubuhnya. Serena menggeram, ia ingin sekali meninju Idoy tapi tidak jadi karena ucapan sistem itu yang menghentikannya. "Jangan marah Serena! Nanti aku jelaskan semuanya, tapi untuk sekarang kita sudah sampai cafe dan kamu harus membuat Andrian menjauh dari hidupmu!" seru Idoy semangat. Serena menarik nafas panjang guna menghilangkan emosi yang sangat ingin membunuh sistemnya sekarang juga. Tapi, ucapan Idoy memang tidak salah juga. Ia saja tidak bertanya, jadi yasudahlah ia maafkan untuk kali ini. Dirinya tidak sabar mendengarkan cerita Idoy tentang dunianya, itu berarti dirinya kembali ke tubuh asli semakin dekat saja dan ia akan bertemu kak Tania kembali. "Oke, sekarang ceritakan tentang Andrian kepadaku," titah Serena datar. "Andrian Dalbert, orang bilang dia cowok ramah dan juga lembut. Tapi kenyataannya dia cowok berengsek yang memanfaatkan harta orang lain dan juga mencari selangkangan saja. Serena asli sudah termakan oleh rayuan manisnya, meskipun keduanya berpacaran pura-pura tapi Andrian selalu bilang mencintainya. Tapi nyatanya, Andrian hanya ingin keuntungan dari istri orang kaya dan juga mencicipi tubuh menggoda Serena. Awalnya Serena ragu menyetujui berpacaran pura-pura, tapi karena Serena sangat mencintai Vincen dan ingin melihatnya cemburu akhirnya Serena menyetujuinya." Tatapan Serena berubah tajam, dirinya sangat tidak menyukai pria seperti itu. Ia janji akan membuat Andrian menyesal menjadi pria berengsek, lihat saja nanti apa yang akan dirinya lakukan. "Baiklah, sekarang apa tugasku?" tanya Serena. "Memutuskan hubunganmu dengan Andrian dan memberikan bukti kepada suamimu jika kalian berpacaran pura-pura." "Apa keuntungan yang aku dapatkan?" "Hehe, kamu tidak akan mendapatkan apapun." Idoy terkekeh lirih, dia sedikit takut sekarang. "Apa maksudmu?! Bukankah setiap sistem itu ajaib dan jika sang tuan berhasil menyelesaikan misinya maka akan diberikan hadiah, kenapa aku tidak?!" seru Serena kesal. "Hehe, Serena aku adalah sistem 99+ dan aku belum mengerti semuanya. Jadi maafkan aku karena tidak bisa memberikanmu hadiah." "Ck, kamu benar-benar sistem menyebalkan! Lalu apa gunanya kamu ke dunia ini jika tidak punya apa-apa?!" "Aku-aku hanya bisa membantumu memberikan informasi tentang orang-orang yang ingin kamu ketahui saja," cicit Idoy. "Apakah kamu juga tidak bisa membuat wajahku semakin cantik?" tnya Serena masih belum percaya, siapa tahu sistemnya sedang berbohong padanya. "Tidak bisa." "Badanku langsing?" "Tidak bisa." "Membesarkan payudaraku?" "Tidak bisa." "Mungkin, memberikanku harta?" Lagi-lagi Idoy menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa Serenaaaaa, kecuali jika aku sudah mencapai level 9999999999+" "What! Itu masih jauh, arggghh... benar-benar menyebalkan! Yasudahlah setidaknya kamu berguna memberikan informasi kepadaku." Pasrah Serena, Mata Idoy berbinar bahagia. "Terima kasih Serena." "Ya, ya, tapi ingat! Kamu harus memberikan informasi yang lengkap, jangan setengah-setengah. Jika tidak aku akan membuangmu, toh kamu tidak bisa apa-apa." Idoy bergidik ngeri melihat tuan barunya sangatlah menyeramkan, tapi dia bersyukur juga karena Serena sangatlah tulus padanya. Meskipun Serena mengucapkan kata-kata kejam tapi Idoy merasakan hatinya tidak mengatakan itu, malah menyanjungnya. Idoy tersenyum tulus kepada Serena, dulu Idoy pernah diperlakukan tidak baik oleh tuannya yang temperamental dan itu membuat dia sedikit takut dan juga kekuatannya berkurang karena itu. Serena sudah sampai di cafe, ia bingung yang namanya Andrian yang mana ya? Mana banyak laki-laki lagi di sini, dan dirinya tidak nyaman dengan tatapan mereka kepada tubuh indahnya ini. "Idoy, Andrian yang mana?" tanya Serena. "Itu." Tunjuk Idoy kepada pria yang sedang duduk sambil memainkan ponsel, Serena menghampiri pria yang dimaksud Idoy. Tanpa berucap apapun Serena duduk di hadapannya sampai Andrian melihat ke arahnya dengan tatapan memuja. "Siapa kamu cantik?" tanya Andrian dengan senyum genitnya, bahkan matanya melihat Serena dari atas ke bawah lalu menjilat bibir bawahnya. "Aku Serena." "Se-serena? Serena pacarku? Mana mungkin! Dia tidak secantik itu bahkan baju yang dia kenakan sangatlah norak." Sahut Andrian tidak percaya, Serena memutar matanya malas. "Jadi, seperti itu penilaian kamu terhadapku. Andrian?" tanya Serena. Seketika Andrian melotot melihat ponsel Serena yang menampilkan pesan Andrian yang menyuruh datang ke sini, dengan panik Andrian tersenyum seperti orang bodoh. "Hai sayang, maafkan aku karena tidak mengenalimu. Kamu terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dari sebelumnya, aku bahkan sampai terpana melihatmu." Andrian berucap dengan nada manja, Serena terdiam menatap Andrian datar. "Sayang, sudah lama kita tidak bertemu. Apakah kamu baik-baik saja Sayang? Huh, menyebalkan kenapa pria dingin itu membiarkan kamu melahirkan, pasti rasanya sangat sakit. Kamu tenang saja sayang, jika kamu sudah bersamaku aku tidak akan membiarkan kamu merasakan sakit lagi." Cerocos Andrian dengan suara lembut, Serena menatap Andrian jijik. Jika di tubuhnya masih Serena asli pasti akan luluh, tapi ini dirinya sang jiwa calon aktris yang sudah tahu karakter manusia seperti apa dan contohnya pria di hadapannya yang menurutnya sangatlah menjijikkan berbeda dengan suaminya yang sangatlah tampan. Aku tidak menyangka Serena lebih memilih Andrian dari pada Vincen yang menurutku sangat tampan dan juga hot Daddy- pikir Serena. Saat Andrian ingin menyentuh tangannya, Serena langsung menghindar dan menatap Andrian santai. "Sayang, kenapa kamu menghindar? Aku..." "Ayo kita akhiri hubungan kita." Potong Serena, seketika Andrian terdiam membisu. "Maksud kamu?" "Ya, kita akhiri hubungan ke pura-puraan yang kita jalani selama ini." Tangan Andrian mengepal, dia tidak boleh membiarkan hubungan ini berakhir apalagi sekarang Serena berubah dan sangatlah cantik menurutnya. "Aku tidak mau, bukankah kamu mencintaiku?" "Jujur saja Andrian, aku tidak pernah menyukaimu. Yang aku cintai adalah suamiku, bukan kamu ataupun orang lain dan aku ingin hubungan kita berakhir karena suamiku sudah menyayangiku." "Aku tidak terima, kamu harus mencintaiku Serena!" seru Andrian marah. "Dari awal aku sudah bilang padamu, aku mencintai suamiku dan ingin bersama dengannya. Bahkan kamu sendiri yang menawarkan bantuan padaku untuk berpacaran pura-pura denganmu, dan sekarang suamiku sudah berubah bahkan dia mencintaiku dan tidak ingin kehilanganku." Serena sengaja melebih-lebihkan perkataannya tentang Vincen, padahal Vincen saja belum membalas ajakannya untuk hidup bersama. "Tapi aku mencintaimu Serena!!" teriak Andrian sampai keduanya menjadi pusat perhatian. "Pria dingin itu tidak layak untukmu, aku yang layak bersama wanita cantik seperti kamu! Aku tidak akan pernah melepaskanmu, karena kamu adalah duniaku dan pria yang kamu cintai itu adalah pria psikopat dan juga menyeramkan..." Plak "Jangan menghina suamiku dengan mulut kotormu Andrian! Dia lebih baik seribu kali lipat daripada dirimu, jadi sadarlah dimana posisimu berada!" seru Serena tak kalah kencang, ia bahkan menampar Andrian dengan kuat sampai sudut bibir Andrian terluka. Ya, itung-itung pelajaran untuk cowok playboy sepertinya. "Serena..." lirih Andrian dengan wajah sendu. Andrian sengaja melakukan itu agar orang-orang salah paham kepada Serena. Padahal tangan Andrian mengepal kuat, dia berusaha tidak membalas tamparan Serena. "Dan ingatlah Andrian, kesepakatan kita tidak seperti itu, kita berpacaran dan aku memberikan uang kepadamu. Bukankah itu sudah cukup? Atau kamu hanya menginginkan uangku saja?" ujar Serena tersenyum miring. Ia tidak peduli dengan respon orang-orang kepadanya, Andrian menatap Serena tajam. Bagaimana mungkin Serena yang bodoh tahu maksudnya? "Tidak seperti itu Serena." "Aku tidak peduli, mulai sekarang kita tidak ada hubungan apapun lagi. Jika perlu jangan muncul di hadapanku, karena aku tidak ingin membuat suamiku cemburu." Serena menyodorkan black card ke meja sambil tersenyum miring menatap Andrian. "Ini kan yang kamu inginkan? Jadi, menjauhlah dariku. Jika tidak semua uang yang ada di kartu ini, akan aku ambil kembali." Serena mengambil tasnya dan berlalu pergi meninggalkan orang-orang yang berbisik tentangnya, Andrian menghancurkan kursi dan mengepalkan tangannya emosi. Sedangkan seseorang yang melihat videonya menyeringai. "Kita lihat apa trik yang akan wanita itu mainkan lagi?" gumam seorang pria. Bersambung...Sepulang dari kantor, Vincen ikut gabung bersama keluarganya. Tatapannya tidak pernah lepas dari Serina yang sedang mengajak main Arce, begitupun keluarga Casanova yang melihat Vincen aneh karena tidak biasanya dia pulang cepat kecuali jika disuruh saja. Tapi ini, entah ada angin dimana Vincen sudah pulang jam empat sore tadi. Serina tertawa melihat kegemasan yang Arce lakukan untuk menarik perhatiannya. "Tidak perlu melakukan itu, kakak bisa kok." "No, no, no, kata Daddy kita halus melakukan hal manis kepada olang yang kita sukai. Kalena Abang menyukai Ommy, jadi Abang lakuin." Arce kembali membuka jeruk untuk Serina, selesai membuka Arce menyuapi Serina dan dengan senang hati Serina memakannya. "Manis banget." Serina tersenyum, saat ia menengok ke samping. Pandangannya tidak sengaja melihat Vincen yang menatap ke arahnya dan Arce. "Ini perasaan aku saja atau memang benar kalo Pak Vincen lagi liatin aku atau dia lagi lihat
"Pak Vincen, tunggu!" Serina mengejar Vincen yang ingin pergi ke kantor, Vincen berhenti dari jalanya dan berbalik menghadap Serina. "Eummm… Soal di ruang makan maaf, saya tidak bermaksud ikut campur. Hanya saja saya..." "Hemm." Vincen melanjutkan jalannya, lagi-lagi Serina menghentikan langkah Vincen dengan manarik baju bagian tangan tapi sayang tangan keduanya tidak sengaja bersentuhan. Lebih tepatnya cincin pernikahan keduanya yang saling bersentuhan, Serena dan Vincen tersentak terkejut, seperti ada sengatan untuk keduanya. Serina memejamkan mata, ingatan seorang pria yang tersenyum di hadapannya kembali terlintas di pikirannya, Serina mendorong Vincen menjauh. Dengan nafas memburu, Serina menatap Vincen tajam. "Pak Vincen, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" "Bukankah sekarang kita sedang berhadapan?" "Bukan itu Pak, apakah kita kenal dari dulu? Vincen yang diberi pertan
Serina bangun dari pingsannya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah mungil anak kecil yang sedang melihatnya dengan tangan memangku dagu. "Ommy, ndak papa?" tanya Arce dengan wajah khawatir, Serina tersenyum mengusap rambut Arce. "Gapapa, kamu jangan khawatir," ujar Serina lembut. "Beneran gapapa, Serina?" tanya Zea yang memang masih ada di sana. "Saya tidak apa-apa, kak." "Syukurlah, dokter bilang katanya kamu kelelahan, lebih baik kamu istirahat dulu. Abang, ayo kita keluar. Biarkan Kakak Serina istirahat," ajak Zea. Arce yang memang mengerti Serina butuh istirahat pun menganggukkan kepalanya. Cup Lagi-lagi Arce mengecup pipi Serina dengan lembut. "Semoga cepat sembuh ya, Ommy." Serina tersenyum, berbeda dengan Zea yang melihatnya entah kenapa jadi dia yang malu karena Arce melakukan hal manis seperti itu, biasanya anak itu akan diam saja. Keduanya keluar, meni
Vincen yang merasa ditatap seseorang, melihat orang itu dan ternyata seorang perempuan yang tidak dia kenal. Menatap balik perempuan itu datar, tapi kenapa hatinya berdebar kencang ketika matanya bertubrukkan dengannya. Vincen kembali melihat Arce yang menepuk-nepuk tangannya. Berbeda dengan Serina yang menyentuh letak jantungnya yang terasa sakit. Apakah ia pernah melakukan kesalahan kepada pria itu? Tapi bagaimana mungkin, sedangkan ia tidak pernah bertemu dengannya, Serina menatap pria itu lagi yang wajahnya sangat mirip dengan anaknya. Ada yang tidak beres, apakah pria itu yang di maksud kak Tania? Aku harus mencari tahu- batin Serina. Ia melamun, memikirkan sesuatu yang mengganjal, bahkan Zea yang memanggilnya pun tidak membuatnya sadar kembali. "Serina." Zea memegang bahunya, barulah Serina sadar. "Ah, i-iya. Maaf, tadi sedang ada pikiran yang mengganggu." Serina merasa tidak enak kepada keluarga Casanova yang mungkin saja memperhatikannya sedari tadi. "Tidak masalah, tadi
Korea Serina tidur tengkurap sambil memainkan ponsel, di sebelahnya ada Tania yang juga tidur terlentang memainkan ponsel. "Kak, Aurel udah tidur?" tanya Serina tanpa melihat Tania. "Sudah pules dia sambil gendong boneka bear nya. Oh iya, ngomong-ngomong tentang Aurel kayaknya Kakak pernah liat orang yang mirip sama dia deh, tapi dimana ya?" ujar Tania. Serina yang memang sudah penasaran dari dulu menatap Tania bahkan ponselnya ia letakan. "Siapa, kak?" tanya Serina cepat. "Lupa." “Coba ingat-ingat lagi kak, aku penasaran sumpah.” Serina memasang wajah berharap, Tania berusaha memikir. "Kakak ingat! Waktu itu Kakak pernah cerita sama kamu kan kalo kakak tadi baru di Indonesia?" ujar Tania dengan wajah tak kalah antusias. “Iya, terus?” Serina ragu, selalu seperti ini jika negara itu terucap dari orang-orang. "Kakak kan jalannya lagi buru-buru tuh, ter
Tiga tahun kemudian... Seorang pria baru saja turun dari jet pribadi miliknya, ia dan beberapa bodyguard berjalan keluar karena saat ini mereka ada di bandara. Saat sedang berjalan ia tidak sengaja mencium aroma yang sangat dirinya rindukan bahkan jantungnya sudah berdetak kencang. Ia berhenti berjalan, melihat sekeliling mencari seseorang yang dirinya kenal tapi tidak ada. Saat melihat ada seseorang berjalan melewatinya spontan Vincen memegang tangan orang itu. Bodyguard yang melihatnya terkejut, dengan sigap mengelilingi Vincen membuat wanita itu ketakutan. "Serena," panggil Vincen. Ya, orang itu adalah Vincen yang ingin berkunjung ke mansion orang tuanya. Wanita yang ia panggil melihat ke arahnya dan ternyata bukan, dengan wajah datar Vincen melepaskan tangan wanita itu, tanpa berucap apapun Vincen kembali melanjutkan jalannya. "Silahkan, tuan." Bodyguard mempersilahkan Vincen masuk ke mobil.







