MasukSerena sudah sampai di kantor Vincen, meskipun banyak yang menatapnya memuja dan sinis tapi ia tidak peduli malah dirinya berjalan dengan anggun dan dagu terangkat tinggi. Ia yakin orang-orang di sini tidak mengenalinya dan jika mereka tahu siapa dirinya maka ia yakin mereka akan syik syak syok.
"Lihat deh, cantik dan anggun banget." "Betul, saya sebagai perempuan sangat insecure sama wajahnya." "Kalah jauh sama istrinya Pak Vincen." "Haha jelaslah, istrinya pak Vincen sangat norak dan tidak enak dipandang." "Cantik banget." "Kira-kira Siapa ya dia? Apa selingkuhannya Pak Vincen?" Itulah omongan orang-orang tentangnya, tanpa menghiraukan mereka Serena berjalan menuju resepsionis yang menatapnya ramah. "Permisi," sapa Serena sopan. Resepsionis yang melihat tamunya sangat ramah pun membalasnya tak kalah ramah. "Ada yang bisa saya bantu?" "Saya ingin bertanya, dimana ruangan Pak Vincen?" tanya Serena tak lupa dengan senyuman manis, ia akan bersikap ramah kepada orang yang menghargainya saja. "Maaf, apakah Anda sudah membuat janji? "Belum, eummm tapi saya punya foto berdua dengan Pak Vincen," ujar Serena sengaja. Sebenarnya ia sudah tahu dimana ruangan suaminya, hanya saja sengaja melakukan ini ingin melihat sikap karyawan Vincen. Resepsionis itu menatap Serena tetap ramah, karena Serena tidak mengacau seperti perempuan sebelum-sebelumnya. "Maaf Bu, jika tidak ada janji anda boleh membuat janji terlebih dahulu." Tanpa berucap Serena menyerahkan foto pernikahannya dengan Vincen membuat resepsionis itu membelalakkan matanya terkejut. "B-bu Serena?" tanya resepsionis itu tergagap, mereka yang mendengar bertambah terkejut bahkan terang-terangan menatap Serena tidak percaya. "Yes, l'm." "Di-dilantai 64 Bu," jawab resepsionis tergagap. "Thanks." Setelah mengatakan itu Serena berlalu pergi tak lupa ia juga tersenyum manis ke resepsionis itu dan sepeninggalan Serena kantor menjadi heboh. Serena tersenyum miring melihat kehebohan yang dirinya ciptakan, ia sangatlah menyukai menjadi pusat perhatian makanya dulu ia ingin menjadi seorang selebriti. Serena sudah sampai di ruangan suaminya, bagaimana ia tahu kantor suaminya? Tentu saja dari Idoy dan ia juga sengaja mampir ke sini karena ingin mendekatkan baby Arce kepada anggota keluarga suaminya, untung saja ia menyetok asi-nya banyak. Tanpa mengetuk pintu Serena masuk ke dalam dengan senyuman, tapi senyumnya luntur melihat banyak orang di dalam yang membuat Serena terkejut adalah suaminya duduk di samping perempuan yang ia tidak tahu siapa, bahkan perempuan itu menuangkan minuman kepada suaminya dan menurut Serena itu terlihat mesra. Mereka menatap Serena datar, uhhh Serena sangat tidak menyukai tatapan mereka. Tanpa menghiraukan mereka yang menatapnya, Serena berjalan ke arah Vincen dan berhenti di sampingnya. "Jadi, seperti ini saat kamu di kantor. Suamiku?" bisik Serena berani, bukan Serina jika ia tidak berani. "Ow siapa wanita cantik di samping mu, Vincen?" tanya sahabat Vincen yang bernama Pielson Karisty, wajahnya terlihat ramah. "Serena hati-hati, meskipun wajahnya terlihat ramah tapi dia pemburu berdarah dingin," ucap Idoy mengingatkan tuannya, Serena tanpa rasa takut melihat wajahnya yang tersenyum kepadanya. "Bukankah aku bilang, dia suamiku?" ujar Serena dengan wajah santai, sontak mereka melihat ke arah Serena dengan wajah datar. Tapi Serena yakin, mereka terkejut melihat dirinya yang berubah. "Kamu... Serena?" tanya perempuan yang bernama Gladys Viktoria, dia yang tadi menuangkan air kepada suaminya. "Ya, itu aku. Jadi... Bisakah jangan terlalu dekat dengan suamiku? Aku cemburu." Serena berterus-terang, untuk apa disembunyikan toh dirinya memang tidak menyukainya. "Maaf, tapi kami memang sering seperti ini," sahut Gladys santai. "Itu dulu, tapi sekarang status Vincen sudah berubah dan dia adalah suamiku bahkan dia Daddy dari anakku." Serena berucap tak kalah santai membuat Gladys terdiam membisu, Serena menatap kedua pria yang terus-menerus berwajah datar bahkan yang memakai kacamata hitam sangat menyeramkan menurutnya. Apakah jika mereka berkumpul akan terasa sepi ya? Atau karena ada dirinya di sini, jadi mereka tidak mengobrol. Serena juga kesal, kenapa suaminya sedari tadi hanya diam sambil meminum kopi. Bukannya membantu istrinya atau menyambutnya, ini malah asik dengan dunianya sendiri. Benar-benar suami menyebalkan! "Serena, kamu harus hati-hati dengan mereka. Mereka adalah penguasa di Indonesia, untuk sekarang jangan membuat masalah dulu. Apalagi suamimu belum berpihak padamu, tunggu sampai suamimu bertekuk lutut padamu maka semuanya akan terasa mudah." Idoy kembali mengingatkan Serena, baiklah untuk sekarang ia tidak akan berulah. "Sayang, seperti yang aku ucapkan kemarin, ini bukti diriku yang mencintai kamu." Serena menyodorkan flashdisk kepa Vincen yang menatapnya, entah kenapa Serena selalu tidak mengerti arti tatapan suaminya kepadanya. "Kalo begitu aku permisi, jangan terlalu dekat sama gadis di samping kamu. Aku cemburu," ucap Serena diakhiri dengan bisikan kepada suaminya, setelah berpamitan kepada mereka Serena pergi sambil bersenandung ria. Vincen POV "Istrimu berubah," ujar pria yang memakai kacamata hitam, namanya Marcellio Neiland. "Ya, saya tidak menyangka dia sekarang begitu cantik dan anggun," sahut Piel santai. "Apakah sekarang kamu menyukainya, Vincen?" tanya Gladys dengan suara lembut, tapi tidak ada jawaban. "Sudahlah, kita lihat saja sampai mana dia pandai bersandiwara," sahut Lucas Alexander dengan wajah datar. "Ngomong-ngomong gimana keadaan istri kamu, Lucas?" tanya Gladys mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin mereka membahas tentang Serena lagi. "Dia marah dan menyuruh saya pergi," jawabnya santai. "Makanya kamu harus perhatian kepada istrimu, meskipun kalian di jodohkan tapi kamu harus belajar mencintai istrimu jangan hanya pura-pura saja," ujar Gladys. "Lalu bagaimana dengan dirimu dan Vincen?" tanya Marcel dengan senyuman miring. "Ah, so-soal itu aku belum memikirkannya." ujarnya dengan wajah memerah malu, keduanya memang di jodohkan oleh ibunya Vincen. "Pulanglah jika kalian hanya ingin mengurusi urusan saya," ujar Vincen dingin. "Baiklah, baiklah, kita lanjutkan membahas kerja sama kita," sahut Pielson. Bisa gawat jika Vincen membatalkan kerja sama mereka. Kenapa mereka tidak di ruangan meeting? Karena sahabat Vincen menginginkan meeting di ruangan miliknya. Mereka berempat bersahabat dari kecil, tapi hanya Vincen yang selalu datar kepada Gladys. Mereka kembali membahas tentang bisnis, setelah selesai mereka melanjutkan pembicaraan santai sampai mereka pamit pulang dan tersisalah Vincen dan Gladys. "Vincen, orang tuaku kembali menanyakan tentang perjodohan kita dan mereka ingin bertemu denganmu dan keluarga besar mu," ucap Gladys anggun. Bukannya mendengarkan ucapan Gladys, Vincen malah menatap flashdisk yang istrinya berikan. "Vincen?" "Tanyakan saja kepada Mommy, saya tidak ada urusan dengan itu," jawab Vincen datar dan santai. "Tapi kamu yang di jodohkan denganku." "Bukankah kamu sudah tahu, saya sudah memiliki istri dan juga anak," ujar Vincen malas. "Tapi kamu tidak mengakuinya." "Ya, untuk sekarang. Pergi!" titah Vincen dengan wajah dingin, meskipun keduanya bersahabat tapi Vincen tidak pernah bersikap lembut padanya. "Vincen," lirih Gladys tidak percaya. Tangannya mengepal emosi, dia tidak ingin kehilangan orang yang dia cintai, Vincen harus menjadi miliknya bukan Serena. "Pergi, Gladys!" Dengan tatapan sedih Gladys pergi dari ruangan Vincen, Gladys tidak ingin membuat Vincen marah. Vincen kembali melihat flashdisk, ia memasukkannya ke laptop dan melihat bukti apa yang Serena berikan. Senyum miring terpatri di bibir seksi milik Vincen, ternyata Serena memperlihatkan bukti video di cafe bersama Andrian dan sayangnya dirinya sudah melihat bersama asistennya. "Menarik, saya ingin melihat apa rencanamu selanjutnya. Istriku." "Baiklah, jika kamu ingin masuk ke kehidupan saya, silahkan. Tapi jangan menyesal, jika kamu tidak bisa keluar dari hidup saya." Lanjut Vincen santai tapi dengan tatapan tajam, jika Serena ingin masuk ke kehidupannya ia akan mempersilahkan. Tapi jangan harap setelah ini ia akan melepaskannya, tidak akan pernah Vincen biarkan. Vincen POV end "TWINS, KENAPA LO MAU GENDONG ANAK HARAM ITU SIH!" teriak Alice kepada kembarannya yang menatap tajam. "Berhentilah mengucapkan Arce anak haram Alice, dia ponakan lo!" seru Elsie dingin. "Gue ga peduli, sampai kapan pun gue ga akan anggap dia keponakan. Bahkan Kak Vincen saja nggak mengakui dia anaknya, untuk apa gue ngakuin ponakan yang jelas-jelas bukan anak kak Vincen?" ujar Alice kesal. "Jaga bicara lo! Arce anak kak Vincen dan dia ponakan gue," sahut Elsie dengan tatapan tidak suka. Hampir seharian dia bersama ponakannya dan dia merasa sangat nyaman. Apalagi baby Arce sangatlah pandai mengambil hatinya dengan keimutan dan kelucuannya dengan wajah yang polos tapi memikat hati siapapun yang melihat. "Gue nggak peduli!" "Siapa yang bilang anakku anak haram?" ujar Serena yang baru datang, wajahnya terlihat datar menatap Alice yang mencaci-maki anaknya. "Gue, kenapa? Emang benar kok dia anak haram, buktinya kakak gue nggak anggap dia anak tuh," ujar Alice tanpa rasa takut sedikitpun. "Bagaimana jika anakku anaknya Vincen?" Serena berusaha tenang. "Maka gue akan terima bayi lo," sahut Alice percaya diri, entah kenapa Alice yakin Arce bukan anak Vincen. "Baiklah, tapi apakah kamu juga akan menerimaku sebagai kakak ipar?" Awalnya Alice terdiam lalu tersenyum miring. "Bisa, tapi luluhkan hati Kak Vincen. Maka gue bisa pertimbangkan lo jadi Kakak ipar gue." "Deal." Tanpa mikir panjang Serena mengiyakan, lihat saja nanti ia akan membuat suaminya jatuh cinta kepadanya. Serena mengambil baby Arce yang tertidur di gendongan Elsie, tak lupa Serena juga mengusap pucuk kepala Elsie dengan lembut membuat Elsie tertegun. "Terima kasih sudah menjaga anakku," ucap Serena tersenyum menawan, ia menyodorkan sebuah buku pada Elsie. "Ini?" "Hadiah buat kamu karena sudah menjaga bayiku," ujar Serena. Elsie membaca judul buku yang Kakak iparnya kasih. 'Cara mengekspresikan wajah agar terlihat ramah' itulah judul bukunya, Elsie menatap Serena tidak percaya. "Agar nanti kamu bisa bersikap ramah kepada Baby Arce," sahut Serena santai. Semua drama itu disaksikan langsung oleh Alice yang mengepalkan tangannya kuat-kuat, entah kenapa ia merasa tidak suka atau mungkin cemburu? "Dan jangan mengingkari kesepakatan kita, Alice." Serena berucap seperti itu sambil memandang Alice menggoda, setelahnya pergi meninggalkan twins yang saling menatap dengan tatapan kesal. Bersambung...Hati Agatha merasa tidak tenang, tangannya saling bertautan karena gugup. Di otak kecilnya ia terus berpikir hal-hal negatif, salah satunya apa ia akan di terima? Sampai tangan seseorang menghangatkan tangannya yang terasa dingin akibat gugup. "Kamu tenang aja sayang, Mom pasti menyukaimu." "Tenang gundulmu, masih ingat terakhir aku datang ke rumahmu. Hah?!" ujar Agatha. "Terus gimana sayang, masa kita harus diam di sini sampai pagi lagi." Sudah hampir satu jam keduanya berada di mobil, katanya Agatha merasa gugup dan takut. "Syal yang aku bawa benaran Mommy kamu suka?" tanya Agatha. Benar, malam ini ia putuskan akan bertemu dengan calon mertua yang dulu tidak menyukainya, itu juga alasan kenapa ia gugup. "Suka banget, jadi kapan kita masuk?" tanya Marcel kesekian kali. "Aku takut sayang, jika harus memilih. Lebih baik aku melabrak selingkuhan orang lain daripada bertemu ibu kamu, lihatlah. Ta
Malam harinya, Agatha yang sedang maskeran dengan warna hitam bersenandung ria sambil membaca buku. Saat sedang asik asiknya membaca, ia di kejutkan dengan suara petasan kembang api yang berada di dekat rumahnya. "Siapa tuh yang nyalahin kembang api di dekat rumahku, ganggu aja." Awalnya Agatha membiarkan saja, tapi petasan itu tak kunjung berhenti membuat ia geram merasa terganggu. Agatha keluar rumah tanpa melepaskan maskernya, pintu terbuka dan-- "Woy berisik! Ganggu..." Ucapan Agatha terhenti karena lagi-lagi ia dikejutkan dengan petasan kembang api yang bertuliskan 'aku mencintaimu Agatha' lalu tatapan yang tadinya melihat langit menurun ke arah seorang pria yang berdiri di depan rumahnya, diikuti beberapa bodyguard berbaris sambil membawa barang-barang mewah. "Selamat malam Agatha," sapa Marcel ceria. Ya, dia Marcel yang ingin melamar Agatha dengan cara seperti di drama-drama kerajaan. Tadinya mereka juga terkejut
Agatha yang sedang bercanda tawa dengan seorang pria yang dulu pernah ia tolak dan sekarang menjadi sahabat karibnya terkejut, saat tangannya di tarik pelan oleh seseorang. Melihat siapa yang menarik, wajah yang tadinya ingin marah pun tidak jadi, ia melongo. "Pak buta, ngapain kamu di sini?" Ngegas Agatha berdiri, tubuhnya tersentak saat Marcel merengkuh pinggangnya untuk lebih dekat kepada Marcel. "Bisa kamu menjauh dari Agatha?" ujar Marcel dingin, menatap pria yang tadi bercanda tawa dengan Agatha. Agatha yang sudah tersadar kembali memberontak, tapi bukannya terlepas pelukan Marcel malah semakin mengerat di pinggangnya. "Pak, Lepas! Kamu apa-apaan sih," bisik Agatha. Pria yang bersama Agatha menatap keduanya santai, ide jahil terlintas di pikirannya. "Oh, memangnya kenapa kalo saya dekat dengan Agatha, memangnya siapa kamu?" tanya pria itu, namanya Galang.
Agatha Evanora, sosok gadis yang tangguh, pejuang keras, blak-blakan, humoris. Harus berubah menjadi gadis pendiam karena kematian sahabatnya yang sudah ia anggap keluarga sendiri, bahkan Agatha pernah melakukan bunuh diri lantaran tidak sanggup kehilangan keluarga satu-satunya yang ia miliki. Rasanya Agatha ingin ikut dengan sahabat dan keluarganya yang sudah tiada, kadang ia bingung harus melakukan apa, kesepian adalah hal yang paling Agatha benci. Sekarang Agatha sedang berada di Paris bersama mantan bos buta dirinya, keduanya berada di sini gara-gara permainan konyol dari keluarga Casanova yang memberikan liburan gratis kepada pemenang dansa dan ia menjadi salah satu pemenang dansa itu karena tidak sengaja terjatuh. "Kenapa kamu resign dari kantor saya?" tanya Marcellio Neiland, dia sengaja menyetujui liburan ini karena ingin berbicara empat mata dengan Agatha yang menjauhinya tanpa sebab. "Buka
Delapan bulan kemudian… "Awss… Mas, perutku sakit banget, kayaknya aku mau melahirkan!" seru Serina histeris. Vincen yang baru mandi langsung menggendong istrinya tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. "Vincen, kenapa dengan Serina?" tanya Zander. "Serina mau melahirkan, Dad, aku duluan. Nanti kalian nyusul." Vincen berlari sambil menggendong Serina menuju parkiran, saat sudah sampai parkiran Vincen mencari kunci mobil di saku jas, tapi dia lupa baru selesai mandi dan hanya memakai bathrobe saja. "Sial, kuncinya di dalam lagi," umpat Vincen. Merasa kasihan melihat Serina yang kesakitan. "Huh! Sa-sakit, mas." "Sabar sayang..." Vincen melihat mobil yang baru datang, tanpa berucap apapun Vincen masuk ke dalam mobil itu. “Woy, cepat ke rumah sakit!” seru Vincen tanpa melihat siapa yang menyetir. "Kamu nyuruh saya?" Vincen yang mengenali suaranya melihat siapa? Dan wajahnya berubah datar, ternyata Piel si makhluk menyebalkan. “Cepat, ke rumah sakit sekarang,” titah Vin
Sudah beberapa hari Keduanya menghabiskan waktu bersama di Bali dan sekarang keduanya pulang karena anaknya merindukan orang tuanya. Serina dan Vincen sudah sampai di mansion Casanova, kedatangan keduanya disambut hangat oleh mereka. "OMMY, DADDY!" seru Arce dan Aurel berlari menghampiri orang tuanya, dengan sigap Vincen dan Serina menggendongnya. "Kenapa talian lama? Ulel nunggu lamaaaa anget, tapi Ommy dan Daddy ndak ulang-ulang," ucap Aurel cemberut. Vincen mengusap-usap rambut anaknya sayang. “Maaf ya Princess, kita lagi buat adik buat kalian,” bisik Vincen. "Mas!" seru Serina mencubir pinggang suaminya. Arce yang memang mendengar karena berada di gendongan Serina pun menatap Daddy-nya heran. "Telus sekalang adiknya mana?" tanya Arce polos. "Masih launching Abang," jawab Vincen santai tanpa melihat Serina yang kesal kepada suaminya. "Ulel ndak mau unya adik, nanti talian ndak cayang agi cama Ulel." Aurel menyilangkan tangannya di dada dengan wajah menatap orang tuanya cembe
"Sayang, ini serius aku kayak gini?" tanya Vincen tidak percaya, hilang sudah kesan cool pada dirinya."Serius Hubby, kamu bawel banget sih, tuh lihat Varel aja adem ayem." Serena menunjuk Varel yang hanya pasrah didandani oleh istrinya."Tapi kita laki-laki Sayang, bukan peremp
"Tidak semua orang mendapat kesempatan kedua. Jika kalian mendapatkannya, manfaatkan sebaik mungkin untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya!" SecretNim 😎 Pagi harinya, Serena membuka mata karena ada yang mencolek colek pipinya. Betapa terkejutnya Serena saat meli
Agatha dan bos buta.Saat sedang berdansa dengan seorang pria, ia melihat Marcel yang hanya diam saja. Seketika wajah Agatha berubah sendu, sepertinya benar Marcel tidak menyukainya."Kenapa bersedih, girls?" tanya pria yang tidak Agatha kenal."Bukan apa-apa.""Mau keluar mencari udara segar?" tan
Dua hari kemudian..Serena berjalan di samping suaminya dengan Arce di gendongan suaminya, banyak yang menyapa Vincen tapi yang di sapa cuek-cuek saja.Vincen yang melihat pria lain menatap Serena mengeratkan rengkuhan di pinggang istrinya, bahkan sesekali menatap mereka tajam,







