LOGINKini Valyria sedang kembali ke rumah lamanya pada dini hari. Rumah Megah itu dikelilingi bunga-bunga tulip, baru saja kemarin terjadi insiden mengerikan di Rumah Ini namun Valyria harus kembali untuk mengemasi beberapa hal. Ia beranjak masuk ke dalam rumah didampingi Sang Suami, Frederitch. "Kemarin aku baru saja menembak Paman dan Bibi, mereka menyerangku," ucap Valyria."Kau tidak apa-apa bukan?" tanya Frederitch cemas. Ia lebih khawatir dengan kondisi Valyria. Valyria menggeleng pelan. "Aku langsung ditangkap oleh Liriel setelah bertarung dengan Lyn, sayangnya Lyn mengorbankan dirinya demi aku jadi seharusnya dihalaman belakang pun rusak oleh ledakan," ucap Valyria pilu, trauma dan sedih jadi satu. Frederitch mengangguk sembari memegang tangan Valyria, ia menelisik ke seluruh penjuru ruang tamu, Rumah Megah ini malah tampak baik-baik saja tanpa ada sisa pertikaian. "Kita mungkin harus ke halaman belakang rumah," ajak Frederitch memegang tangan Valyria. Rumah Keluarga Kinaru ini
"Aku tak mungkin bisa membereskan semua masalah yang Liriel perbuat," ucap Valyria pada Albert yang sedang duduk termangun menemani Liriel yang masih belum siuman itu. Ruangan perawatan di Fasilitas ini seperti Rumah Sakit Private, semuanya tertata rapih, bau antiseptik yang menyengat dan warna putih jadi latarnya. Valyria sebenarnya hendak pergi usai memastikan semua orang di Fasilitas ini terbangun dari pengaruhnya. "Kupikir hanya kau yang bisa diajak kerja sama," ucap Valyria lagi sembari duduk disebuah bangku tepat disamping Albert. Pria itu hanya menghela napas berat dan panjang seolah mengeluarkan beban beratnya juga disana. Ia menoleh menatap Valyria kemudian mengangguk setuju. "Sulit untuk percaya hal ini tapi kau benar-benar mirip dengan Liriel tapi sikapmu terkadang mengingatkanku dengan diriku di masa muda Nona," ucap Albert. "Tentu saja, aku tahu ini aneh tapi kita memang terhubung dalam sebuah keluarga," sahut Valyria yang sudah tahu semuanya. Sebenarnya Albert dan Li
“Lux Aeterna.” Valyria berucap sesuatu yang bahkan belum pernah ia ketahui namun hatinya langsung bergejolak dan sesaat kemudian sekujur tubuhnya bercahaya gemerlap. Ia dengan sengaja menunjukkan semua itu pada Liriel.Sinar cahaya menyilaukan itu mengurung seluruh fasilitas dalam zona tertidur, jadi semua orang tertidur kecuali mereka yang sengaja ‘diizinkan’ oleh Valyria untuk terjaga. Para Penjaga, Peneliti dan staff langsung terkapar terlelap sementara yang tetap terjaga hanya Liriel, Albert, David, Frederitch yang Bersama Valyria beserta Panacea, William dan Alphonse.Indah dan berbahaya itulah Valyria yang sebenarnya. Selama ini lingkungan membuatnya menderita membuat Valyria menciptakan berbagai versi dirinya. Valyria adalah salah satu bentuk dirinya yang lebih berbahaya dari Valerin Grayii maupun Ellis Francielli karena kemampuan Valyria disini berhubungan dengan ruang dan waktu.“Kau benar-benar Monster!” tuduh Liriel sembari memandangi Para Prajurit Militer yang terlelap.Va
“Anda ada ide Viscount Rovana?” tanya Panacea.William menggeleng. “Sejak dahulu aku kenal keduanya sangat kompetitif,” jawab William. William dengan Langkah pelan mendekati Villa yang jadi area tempur kedua pria mendominasi itu. “FREDERITCH ISTERIMU HILANG LAGI!” teriak William.“Apa?!” Frederitch dan Alphonse kompak menyahut.Pertarungan sengit itu langsung berhenti diantara keduanya. Frederitch yang babak belur dan Alphonse yang penuh sayatan luka. Kedua Pria itu hanya terdiam sambil memandangi satu sama lain dengan tatapan dendam.“Katakan dimana Permaisuriku!” bentak Frederitch sambil bersiap dengan tangan kanannya yang ditumbuhi kuku-kuku yang runcing itu.Alphonse memilih bungkam sembari memandangi Frederitch yang nyaris berubah menjadi Monster Buas itu. Pikiran Alphonse sedang berkecamuk, seharusnya ia bisa mendapatkan lagi Valyria setelah membantu keinginan Liriel terwujud yakni membuka akses celah menuju Boerhavia.“Kenapa mereka menculik Valerin setelah aku membantu mereka?
Siapa yang menyangka jika Valyria justru merasakan pengalaman masa lampau Liriel yang disekap disebuah ruangan berdinding serba putih itu. Seharusnya ini adalah timeline Liriel yang sengaja ditangkap oleh Narendra karena ia dapat menyebabkan resiko yang berbahaya untuk dunia. Narendra tahu dan ia mencoba melakukan pencegahan namun perjuangan solonya itu menyebabkan citra Narendra jadi tampak kejam. Kini orang yang paling kejam itu sendiri tengah berdiri dihadapan Valyria dari balik kaca jendela yang lebar.“Kau sedang hamil besar loh,” ledek Valyria yang sedang duduk diranjang Kasur tepat didalam ruangan penyekapan ini.Liriel menatap Valyria dengan jengah. Ia mendekatkan bibirnya kearah microphone. “Kau pun sama, seharusnya sesame Ibu Hamil harus saling mendukung bukan membuka aibku kemudian membuat hubungan rumah tanggaku dan Harlan jadi berantakan,” ucap Liriel yang suaranya terdengar dari dalam intercom.“Berantakan katamu? Hahaha, kau yang mengacaukan semuanya Liriel!” kekeh Valy
“Ku pikir selama ini kau adalah saudaraku, kau bahkan menjebloskan Remington ke Penjara demi pengkhianatanmu itu!” bentak Valyria.“Kau tak akan pernah mengerti hal yang sudah kualami Valerin!” sahut Lyn juga berteriak.Valyria menggeleng pelan. Lyn adalah sosok kakak baginya disaat ia kehilangan ingatan dan kekuatan. Ia mengingat masa-masa lembut Lyn yang sangat menyayanginya. “Kau tak perlu melakukan semua ini Lyn! Apa tujuanmu sebenarnya?”“Kau Valerin, aku ingin jadi sosok dirimu, kenapa semua orang mencintaimu, mengasihimu bahkan menangisi kematianmu!” Lyn berteriak sembari beranjak berdiri padahal tubuhnya sudah babak belur oleh Valyria.“Kau dapatkan hati kedua Raja yang memperebutkanmu, betapa egoisnya dirimu Grayii, dari dulu hingga saat ini,” ucap Lyn. Ia teringat dengan masa lalunya. Ia diciptakan oleh seorang Vampir Wanita dari darah seorang Pemuda Ras Gandaria. Lyn hanya mengingat kilas wajah Pemuda yang memiliki tatapan lembut itu. Ia pergi sebelum Lyn merasakan sosok d
“Kurasa, aku Valerin Grayii itu.” Ellis berucap dengan asal tapi sebenarnya dia hanya bercanda, sekaligus ingin melihat raut wajah Sang Raja. Sebenarnya, Ellis jengah mendengarnya.Kedua iris hijau sang Alphonse melebar, binar cerah seolah menemukan harsa rasanya. Segera ia mendeham. “Ellis, kau be
Ellis mulai berjalan menelusuri puing bangunan Earl Grayii seorang diri, parahnya Ellis tak merasa takut sedikit pun melainkan merasa kembali pulang ke tempat yang seharusnya. Perasanya familiar ketika menelusuri puing bangunan yang ditelan oleh tumbuh-tumbuhan liar itu. “Aku yakin Earl Grayii memi
tok ... tok ...Suara ketukan pintu yang terdengar lantang dari luar ruangan. Ellis mendorong pintu itu tanpa ragu setelah mengetuk. Sosok Ellis memasuki ruangan dengan raut wajah yang tenang. Saat itu ia hanya mendengar suara Raja tapi belum menemukan sosoknya di ruang kerja miliknya yang besar it
Tatapan tajam tanpa rasa yang tega, tubuhnya tegap melintasi koridor hening, hanya suara dari kedua sepatu boots kulitnya. Sang Ajudan Raja dari Dust Bones. telah melewati malam yang sulit sejak kejadian kemarin tapi dia masih sulit menghadapi sikap asli Sang Raja.Tiba didepan pintu kayu bergagang







