LOGINSore mulai turun.
Elara duduk di teras belakang rumah, menikmati udara sore hari. Langit berubah warna. Semburat jingga memenuhi cakrawala. Tangannya mengusap perutnya. Bayi di dalam kandungannya bergerak pelan. Elara tersenyum. "Sebentar lagi." Entah apakah ia sedang berbicara kepada bayinya atau kepada dirinya sendiri. Yang jelas, ia tidak sabar bertemu dengan anak itu. "Nona!" Suara Sarah terdengar dari dalam rumah. Elara menoleh. Sarah berjalan cepat menghampirinya. "Ada apa?" "Tuan dan Nyonya tadi menghubungi Mona." Sarah berhenti di hadapan Elara. "Mereka tidak akan pulang hari ini." Elara sedikit terkejut. "Mereka baru akan kembali besok malam." "Benarkah?" Sarah mengangguk. "Mereka sedang pergi ke Birmingham." Elara terdiam. Kemudian perlahan ia mengembuskan napas lega. "Terima kasih sudah memberitahuku, Sarah." Sarah tersenyum. "Untuk makan malam, Anda ingin makan apa, Nona?" Elara menatapnya. "Apa saja." Ia tersenyum kecil. "Masakan kalian selalu enak. Aku tidak akan menolaknya." Sarah tampak senang. "Kalau begitu, aku akan memasak makanan paling enak untuk Anda!" Sarah segera berbalik dan berjalan ringan menuju dapur. Elara memperhatikannya sambil tersenyum. Angin sore kembali menyentuh wajahnya. Ia memejamkan mata sejenak. Dua hari. Hanya dua hari tanpa mereka. Namun, bagi Elara, itu sudah cukup untuk membuat rumah besar ini terasa seperti tempat yang aman. Ia tahu ketenangan itu hanya sementara. Tapi setidaknya malam ini, ia bisa tidur tanpa merasa takut. Dan besok, ia masih memiliki satu hari lagi. ***** Elara menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Senyum tipis menghiasi wajahnya ketika tangannya perlahan mengusap perutnya yang semakin besar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa tidur dengan sangat nyenyak meski usia kandungannya telah memasuki sembilan bulan. Biasanya, tidur menjadi hal yang cukup sulit baginya. Ia akan berkali-kali mengubah posisi, berusaha menemukan posisi yang paling nyaman dengan perutnya yang semakin berat. Terkadang, bahkan sebelum pagi benar-benar tiba, suara keras atau gedoran pintu sudah lebih dulu membangunkannya. Namun, pagi ini berbeda. Tidak ada suara keras. Tidak ada gedoran di pintu. Rumah itu masih diselimuti ketenangan, membuat Elara bisa menikmati tidurnya tanpa gangguan. “Selamat pagi, Sayang,” bisiknya lembut kepada bayi di dalam kandungannya. Elara kemudian bangkit dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari pakaian. Ketika pintunya dibuka, terlihat jelas betapa sedikitnya pakaian yang Elara miliki. Sejak hamil, pilihan pakaiannya semakin terbatas. Tubuhnya memang tidak bertambah besar secara keseluruhan, tetapi perutnya yang semakin membesar membuat sebagian besar pakaian lamanya sudah tidak nyaman dikenakan. Hampir semua pakaian khusus ibu hamil yang dimilikinya merupakan pemberian Mona, Sarah, dan beberapa pelayan lainnya. Mereka membelinya secara diam-diam dan memberikannya kepada Elara tanpa sepengetahuan keluarga Ellington. Sejak berhenti bekerja di restoran, Elara tidak pernah lagi membeli pakaian baru untuk dirinya sendiri. Tangannya meraih sebuah dress khusus ibu hamil berwarna biru muda. Setelah mengenakannya, Elara menyisir rambut panjangnya sebelum mengikatnya dengan sederhana. Setelah memastikan dirinya sudah rapi, ia keluar dari kamar. “Nona, Anda sudah bangun?” seru Sarah yang sedang mengganti bunga di ruang tamu. “Selamat pagi, Sarah.” Elara tersenyum. “Selamat pagi, Nona,” balas Sarah. “Sepertinya Anda tidur nyenyak.” “Apakah terlihat jelas?” Sarah mengangguk. “Wajah Anda terlihat lebih cerah pagi ini.” Elara tersenyum kecil. “Oh, ya. Mona sudah menyiapkan sarapan untuk Anda.” Sarah kemudian tersenyum. “Manfaatkan hari ini sebaik mungkin, Nona.” Elara menatapnya sejenak sebelum mengangguk. “Terima kasih, Sarah.” Ia kemudian berjalan menuju dapur. Di sana, Elara mendapati Mona sedang membersihkan meja dapur. “Selamat pagi, Mona.” Mona menoleh dan tersenyum. “Selamat pagi juga, Nona.” “Duduklah, Nona. Saya sudah membuat pancake dengan sirup maple.” Elara tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian duduk di kursi meja makan. Pagi itu kembali terasa tenang, sama seperti pagi sebelumnya. Elara bisa makan dengan santai tanpa merasa terburu-buru. Bahkan ia mampu menghabiskan sarapannya tanpa menyisakan sedikit pun. Setelah meneguk susu hingga habis, ia meletakkan gelasnya. “Terima kasih makanannya, Mona.” “Sama-sama, Nona.” “Hari ini Anda ingin melakukan apa?” tanya Mona. “Aku hanya ingin membaca buku di teras belakang.” “Kebetulan sekali. Sarah baru saja membeli buku baru. Anda bisa meminjamnya.” Elara mengangguk. “Boleh.” Mona mulai membereskan piring dan gelas yang telah digunakan, sementara Elara kembali ke ruang tamu untuk menemui Sarah. “Sarah.” “Iya, Nona?” Sarah yang sedang membersihkan sofa menoleh. “Mona bilang kamu punya buku baru. Boleh aku meminjamnya?” “Aku ingin membaca di teras belakang.” “Tentu saja boleh, Nona.” Sarah tersenyum. “Nona pergi saja dulu ke teras. Nanti saya antarkan bukunya ke sana.” “Baiklah.” Elara berjalan menuju teras belakang dan duduk di kursi yang sama seperti kemarin sore. Tidak lama kemudian, Sarah datang sambil membawa sebuah buku. Sebuah novel romansa. Genre yang memang paling disukai Elara. “Terima kasih, Sarah.” Sarah tersenyum dan mengangguk. “Kalau begitu, saya kembali bekerja dulu. Kalau Nona membutuhkan sesuatu, panggil saja saya, Mona, atau pelayan lain yang berada di sekitar sini.” “Iya.” Sarah kemudian kembali mengerjakan tugasnya. Sementara itu, Elara membuka buku tersebut dan mulai membaca. Udara pagi musim panas terasa hangat dan nyaman. Angin berembus perlahan, menyentuh wajahnya dengan lembut. Untuk sesaat, Elara merasa seolah-olah tidak sedang tinggal di rumah orang lain. Seolah-olah hidupnya baik-baik saja.Pagi datang perlahan di kediaman Beaumont.Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar bayi, jatuh di lantai dan beberapa bagian tempat tidur.Elara sudah terbangun sejak beberapa menit lalu.Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menggendong Ivy yang baru saja selesai menyusu. Bayi kecil itu tampak tenang, sesekali menggerakkan bibirnya sebelum akhirnya kembali memejamkan mata.Elara tersenyum kecil.“Sudah kenyang?”Ivy hanya mengeluarkan suara kecil.Elara mengusap pipinya dengan lembut.Di tempat tidur sebelah, Noah juga mulai bergerak.Elara segera menoleh.“Sepertinya kamu juga sudah bangun.”Ia meletakkan Ivy dengan hati-hati, kemudian menghampiri Noah.Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan Elara adalah memeriksa popoknya.Ternyata popok Noah sudah penuh.Elara mengambil perlengkapan yang sudah disiapkan di meja kecil, lalu mengganti popok bayi itu.Setelah selesai, ia menggendong Noah.“Sekarang giliran kamu.”Noah mulai mencari-cari dengan mulutnya.Elara tersenyum
Tengah malam, Elara terbangun.Ia rupanya tertidur di kamar bayi setelah menyusui Ivy. Matanya masih terasa berat ketika ia menguceknya beberapa kali.Namun, rasa haus membuatnya benar-benar terbangun.Elara menoleh ke meja kecil di samping tempat tidur.Gelas miliknya sudah kosong.“Ah... haus sekali,” gumamnya pelan.Ia kemudian bangkit dari tempat tidur, mengambil gelasnya, lalu berjalan keluar kamar.Elara menuruni tangga dengan langkah perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Rumah Beaumont begitu tenang pada tengah malam. Hanya suara langkah kakinya yang terdengar samar di sepanjang lorong.Sesampainya di dapur, Elara meletakkan gelas di atas meja marmer.Ia kemudian membuka lemari pendingin untuk mencari air.Namun, matanya justru tertuju pada sebuah kotak brownies yang berada di dalamnya.“Ada brownies. Tapi punya siapa, ya?” gumam Elara.Perutnya tiba-tiba berbunyi.Elara terdiam.Ia menatap brownies itu beberapa saat.Sejujurnya, ia memang lapar.Namun, tangannya yang
Ivy kini bisa menempati kamar Noah. Dua tempat tidur bayi sudah tersedia di dalam kamar itu, dengan warna yang berbeda. Satu berwarna putih, sementara yang lainnya berwarna merah muda.Elara sebenarnya merasa tidak enak hati. Ia sempat ingin menolak, tetapi Maggie sudah berkali-kali mengingatkannya untuk tidak menolak dan mematuhi perintah yang diberikan.Selain dua tempat tidur bayi, di dalam kamar itu juga terdapat sebuah tempat tidur yang cukup besar untuk dirinya beristirahat.Elara membawa Ivy ke tempat tidurnya, lalu membaringkan Noah di tempat tidurnya sendiri.Setelah memastikan kedua bayi itu nyaman, Elara berjalan menuju lemari pakaian.Bahkan lemari pakaian untuk kedua bayi itu pun dibuat terpisah.Elara membuka lemari berwarna merah muda. Matanya langsung membesar saat melihat isinya.Di dalamnya terdapat begitu banyak pakaian bayi perempuan dengan berbagai macam warna. Beberapa di antaranya memiliki motif bunga kecil, sementara yang lainnya berwarna lembut dan terlihat be
Pagi itu, setelah sarapan, Elara membawa Noah dan Ivy ke taman belakang mansion.Kedua bayi ditempatkan di stroller masing-masing. Salah seorang pelayan bernama Emma ikut menemani mereka dan mendorong stroller Noah, sementara Elara membawa stroller Ivy.Udara pagi terasa cukup sejuk.Matahari bersinar hangat, membuat suasana taman terasa nyaman untuk kedua bayi.Adrian sendiri sudah berangkat bekerja ketika Elara masih menyusui Noah. Karena itu, hingga pagi itu Elara masih belum bertemu langsung dengan pemilik mansion tersebut.Elara tidak terlalu mempermasalahkannya.Untuk sementara, ia justru menikmati waktunya sebagai pengasuh sekaligus ibu susu Noah.Ia juga tidak pernah melupakan Ivy.Sesekali Elara memeriksa keadaan putrinya, memastikan Ivy tetap nyaman di dalam stroller.Sambil berjalan santai mengelilingi taman, Elara berbincang dengan Emma.Emma juga sesekali menjelaskan beberapa bagian mansion yang belum sempat ditunjukkan Maggie kepadanya.“Kalau taman belakang ini biasanya
Kini Elara sedang beristirahat di kamar yang disediakan untuknya.Kamar itu berada di lantai dua, tepat bersebelahan dengan kamar Noah. Sementara di seberang kamar Noah terdapat kamar milik Adrian Beaumont, sang pemilik mansion.Sebelum masuk ke kamarnya, Elara sempat melihat kamar Adrian yang tadi ditunjukkan oleh Maggie.Pintu kamar itu selalu tertutup.Maggie mengatakan bahwa setelah Adrian berangkat bekerja, kamar tersebut biasanya dikunci. Hanya Maggie yang diperbolehkan masuk setiap hari untuk membersihkan dan merapikannya.Elara tidak terlalu memikirkannya.Baginya, kamar itu bukan sesuatu yang perlu ia ketahui lebih jauh.Saat ini yang terpenting adalah dirinya dan Ivy.Noah sedang tertidur di kamarnya, begitu pula Ivy yang sudah tertidur pulas setelah kenyang menyusu.Elara sendiri sudah makan siang sebelum Maggie mengajaknya berkeliling mansion dan menunjukkan beberapa bagian rumah yang perlu ia ketahui.Kini, ketika kedua bayi sedang tertidur, Elara akhirnya memiliki waktu
Maggie kembali sambil mendorong stroller Noah yang sedang tertidur pulas.Begitu melihatnya, Elara otomatis bangkit dari duduknya.Maggie mendekatkan stroller tersebut agar Elara bisa melihat wajah bayi itu dengan lebih jelas.“Namanya Noah Alexander Beaumont,” ucap Maggie.“Dia baru saja tertidur setelah diberi susu formula. Tapi sebentar lagi mungkin akan bangun.”Elara memperhatikan wajah kecil Noah yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya.“Apa tidurnya selalu tidak nyenyak?” tanya Elara.“Karena dia hanya minum susu sedikit, dia sering merasa lapar dan akhirnya mudah terbangun,” jawab Maggie.Kemudian Maggie menatap Elara.“Kamu pasti sudah tahu beberapa hal tentang Tuan Muda Noah dari Freya, kan?”Elara mengangguk.“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan ibu susu yang cocok untuknya. Tapi tidak ada yang benar-benar cocok, dan tidak ada yang bertahan lama.”“Yang paling lama hanya bertahan satu hari. Setelah itu, Tuan Muda Noah justru sakit,” lanjut Maggie.“M







