Mag-log inOdelia menatap Jullian beberapa saat. Pertanyaan pria itu masih menggantung di antara mereka.“Apa yang belum aku ketahui, Odelia?”Odelia mengalihkan pandangannya. Dia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, wanita itu berbalik menuju meja makan, seolah masih ada sesuatu yang harus dibereskan di sana.“Sebaiknya kita sarapan dulu.”Jullian menatap punggung istrinya dengan tatapan tidak percaya. “Bagaimana aku bisa sarapan sekarang?”Odelia berhenti.Jullian melanjutkan dengan suara yang lebih berat. “Kau pikir makanan itu akan tertelan ke tenggorokanku setelah tahu kalian menyembunyikan hal penting dariku?”Odelia memejamkan mata. Dia tahu percakapan ini tidak mungkin lagi dihindari.Selama ini dia selalu memiliki alasan untuk menunda. Kesehatan Jullian, kondisinya yang belum benar-benar pulih. Keinginannya untuk menjaga rumah tetap tenang.Namun pagi ini, semua alasan itu terasa tidak lagi cukup.Odelia menarik napas panjang. Kemudian dia berbalik.“Duduklah dulu.”Jullian masih berdir
Pagi itu, rumah keluarga Archer terasa jauh lebih tenang daripada biasanya.Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela-jendela besar di ruang makan, jatuh di atas meja yang sudah tertata rapi. Aroma sarapan memenuhi ruangan, bercampur dengan suara kecil peralatan makan yang sesekali beradu ketika Odelia merapikan semuanya.Wanita itu baru saja selesai menyiapkan sarapan ketika suara ponselnya terdengar dari atas meja.Odelia menoleh, tangannya yang masih memegang sebuah piring berhenti sejenak sebelum akhirnya dia meletakkannya perlahan di atas meja. Matanya jatuh pada layar ponsel.Valencia.Odelia segera mengambilnya. “Halo, Valen?”“Mom.”Suara Valencia terdengar dari seberang.Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Odelia tanpa sadar mengernyitkan kening.“Ada apa?”Valencia tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu, hanya terdengar suara napas putrinya dari seberang telepon.“Mommy sudah melihat berita tentang Ella?”Gerakan tangan Odelia yang sedang merapikan beb
Beberapa menit setelah percakapan mereka berakhir, Michelle masih berdiri di dekat pintu kamar hotel sambil memandangi layar handphone-nya yang sudah kembali gelap.Roland akan datang.Entah kenapa, hanya dengan mendengar kalimat itu, hatinya terasa sedikit lebih tenang.Michelle menghela napas perlahan.Pandangannya kemudian beralih kepada Leah yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur.Gadis kecil itu sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya sedang dalam perjalanan untuk menjemput mereka.Michelle berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk di tepinya. Tangannya bergerak perlahan membelai rambut Leah.Suara bel pintu terdengar tak sampai setengah jam berlalu. Michelle beranjak lembut dari tepian tidur agar Leah tidak terbangun.Dia berjalan menuju pintu dan membukanya. Senyum lembut langsung muncul di wajahnya ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya, Roland.Pria itu berdiri dengan wajah yang terlihat jauh lebih tegang daripada biasanya. Di belakangnya ada Daniel yang berdir
Pagi itu, Los Angeles terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.Michelle berdiri di depan lemari sambil menatap beberapa pakaian yang sudah diletakkan di atas tempat tidur. Tangannya sesekali berpindah dari satu pakaian ke pakaian lain, tetapi pikirannya sebenarnya tidak benar-benar berada di sana.Sudah beberapa hari terakhir dia merindukan New York.Bukan kotanya, bukan kesibukan yang selalu membuatnya lelah. Melainkan seseorang yang tinggal di sana ... Roland.Michelle menahan senyum kecil ketika mengingat suara pria itu beberapa hari lalu. Ada sesuatu dalam cara Roland berbicara kepada Leah yang selalu berhasil membuat hatinya menghangat.Leah sendiri bahkan lebih parah. Sejak pagi, gadis kecil itu sudah berulang kali mengatakan ingin bertemu daddy.“Mom.” Suara Leah terdengar dari ambang pintu.Michelle menoleh, melihat Leah berdiri sambil memeluk sebuah tas kecil berisi beberapa mainan kesayangannya.“Kenapa?”“Aku sudah siap untuk ketemu Daddy!”Michelle terse
Pagi datang tanpa membawa perubahan apa pun.Ella masih berada di dalam ruang tahanan ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah kecil di bagian atas dinding. Cahaya itu tidak cukup untuk menghangatkan ruangan. Hanya membuat Ella semakin sadar bahwa malam telah berlalu dan tidak ada seorang pun yang datang menjemputnya.Dia duduk di sudut ruangan dengan kedua lutut ditekuk. Sejak tadi pikirannya terus berputar pada percakapan dengan Roland.Aku tidak peduli.Dua kata itu terus terdengar di kepalanya. Ella menggeleng perlahan, berusaha menepis kata-kata menyakitkan itu.Ella mengangkat wajah ketika mendengar langkah kaki mendekat.Seorang petugas berhenti di depan jeruji. “Anda memiliki waktu untuk bertemu pengacara.”Ella langsung berdiri. “Pengacaraku datang?”“Ya.”Untuk pertama kalinya pagi itu, ada sedikit harapan di mata Ella. Dia segera mengikuti petugas keluar dari ruang tahanan.Namun ketika memasuki ruang pertemuan, senyum di wajahnya perlahan menghilang.Pria yang dudu
Ella mengerang kesakitan setelah tubuhnya dihempas kasar ke lantai yang dingin. Namun, rasa sakit itu cepat pulih ketika melihat pintu jeruji besi yang khas terkunci rapat.“Roland! Semua yang dia katakan itu bohong!” Ella berteriak keras sampai suaranya mendominasi seluruh ruang tahanan.Padahal Roland tak ada dalam satu ruangan sama dengan dirinya. Tetapi Ella meyakini teriakannya mampu menembus dinding-dinding kokoh nan dingin kantor kepolisian itu. Dia sangat percaya diri teriakannya mampu didengar Roland yang masih berada di ruangan lain pada kantor kepolisian itu.“Semua itu bohong, Roland! Jangan dengarkan dia!” teriakan Ella memekik lebih keras sampai mengganggu tahanan lainnya.Di ruangan lain, Roland masih duduk tenang dengan ekspresi dingin penuh kebencian. Matanya masih menusuk tajam Jemmy yang duduk berseberangan dengan kedua tangannya terikat borgol besi.“Kenapa kau mengaku padaku?”Suara dingin Roland kembali memperkuat dominasi dingin yang mencekam di ruangan interoga
Hari itu merupakan hari paling melelahkan bagi Michelle. Emosi dan perasaannya dipermainkan secara brutal. Michelle juga harus mengosongkan meja kerjanya dan mengalihkan pekerjaan itu kepada pengganti yang ditunjuk. Beban pikiran semakin bertambah saat mengetahui Roland melakukan pengumuman pertuna
Mata cokelatnya yang indah telah diselimuti oleh genangan air mata. Michelle terpaku kaku menatap Roland yang tak berekspresi pada dirinya.Pelacur? Begitu rendahnya sosok Michelle bagi Roland, sehingga tidak ada kata lebih layak yang disematkan pada Michelle.Padahal selama ini Michelle menghormat
“Ini surat pengunduran diri saya.” Roland mendongak ke arah wanita cantik yang berdiri dan tak berkedip di depan matanya. Konglomerat generasi ketiga itu memicingkan mata pada wanita yang menarik perhatiannya dari ipad dan beberapa tumpuk dokumen kerja di atas meja. “Kau bilang ini apa?” barit
"Bibi Alins, sepertinya aku akan melahirkan.” Michelle berusaha bersuara tenang demi tidak menambah kepanikan.Padahal wanita itu sudah merintih kesakitan dengan keringat yang berpeluh. Michelle bahkan sudah memucat ketika memastikan air yg keluar dari tengah-tengah pahanya itu adalah







