Beranda / Romansa / Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah! / Bab 22: Roland dan Keinginannya

Share

Bab 22: Roland dan Keinginannya

last update Tanggal publikasi: 2024-07-20 15:53:47

“Roland? Roland siapa yang kau maksud, Michelle?” Alins langsung bereaksi panik sesuai ekpektasi Michelle. Dia sampai duduk menegang dengan mata membulat sempurna.

“Tuan David meneleponku dan aku menjawabnya dalam keadaan menyetir. Aku panik karena sudah sangat terlambat. Dan aku tidak sengaja menabrak mobil yang berada di depanku karena kelalaianku.”

Michelle menghela napas kasar setelah menjelaskan awal kronologi kecelakaan yang dialami. Tak lama setelah itu dia kembali membuka mulut untuk me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Bunda Hafizh
dasar modus si roland ja ni mah
goodnovel comment avatar
puji amriani
roland bisa ajaaa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 146: Kau Punya Kami

    Beberapa menit setelah percakapan mereka berakhir, Michelle masih berdiri di dekat pintu kamar hotel sambil memandangi layar handphone-nya yang sudah kembali gelap.Roland akan datang.Entah kenapa, hanya dengan mendengar kalimat itu, hatinya terasa sedikit lebih tenang.Michelle menghela napas perlahan.Pandangannya kemudian beralih kepada Leah yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur.Gadis kecil itu sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya sedang dalam perjalanan untuk menjemput mereka.Michelle berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk di tepinya. Tangannya bergerak perlahan membelai rambut Leah.Suara bel pintu terdengar tak sampai setengah jam berlalu. Michelle beranjak lembut dari tepian tidur agar Leah tidak terbangun.Dia berjalan menuju pintu dan membukanya. Senyum lembut langsung muncul di wajahnya ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya, Roland.Pria itu berdiri dengan wajah yang terlihat jauh lebih tegang daripada biasanya. Di belakangnya ada Daniel yang berdir

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 145: Berita yang Tidak Pernah Ingin Di dengar

    Pagi itu, Los Angeles terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.Michelle berdiri di depan lemari sambil menatap beberapa pakaian yang sudah diletakkan di atas tempat tidur. Tangannya sesekali berpindah dari satu pakaian ke pakaian lain, tetapi pikirannya sebenarnya tidak benar-benar berada di sana.Sudah beberapa hari terakhir dia merindukan New York.Bukan kotanya, bukan kesibukan yang selalu membuatnya lelah. Melainkan seseorang yang tinggal di sana ... Roland.Michelle menahan senyum kecil ketika mengingat suara pria itu beberapa hari lalu. Ada sesuatu dalam cara Roland berbicara kepada Leah yang selalu berhasil membuat hatinya menghangat.Leah sendiri bahkan lebih parah. Sejak pagi, gadis kecil itu sudah berulang kali mengatakan ingin bertemu daddy.“Mom.” Suara Leah terdengar dari ambang pintu.Michelle menoleh, melihat Leah berdiri sambil memeluk sebuah tas kecil berisi beberapa mainan kesayangannya.“Kenapa?”“Aku sudah siap untuk ketemu Daddy!”Michelle terse

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 144: Jalan yang Harus Dihadapi

    Pagi datang tanpa membawa perubahan apa pun.Ella masih berada di dalam ruang tahanan ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah kecil di bagian atas dinding. Cahaya itu tidak cukup untuk menghangatkan ruangan. Hanya membuat Ella semakin sadar bahwa malam telah berlalu dan tidak ada seorang pun yang datang menjemputnya.Dia duduk di sudut ruangan dengan kedua lutut ditekuk. Sejak tadi pikirannya terus berputar pada percakapan dengan Roland.Aku tidak peduli.Dua kata itu terus terdengar di kepalanya. Ella menggeleng perlahan, berusaha menepis kata-kata menyakitkan itu.Ella mengangkat wajah ketika mendengar langkah kaki mendekat.Seorang petugas berhenti di depan jeruji. “Anda memiliki waktu untuk bertemu pengacara.”Ella langsung berdiri. “Pengacaraku datang?”“Ya.”Untuk pertama kalinya pagi itu, ada sedikit harapan di mata Ella. Dia segera mengikuti petugas keluar dari ruang tahanan.Namun ketika memasuki ruang pertemuan, senyum di wajahnya perlahan menghilang.Pria yang dudu

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 143: Tidak Ada Lagi yang Datang Menyelamatkan

    Ella mengerang kesakitan setelah tubuhnya dihempas kasar ke lantai yang dingin. Namun, rasa sakit itu cepat pulih ketika melihat pintu jeruji besi yang khas terkunci rapat.“Roland! Semua yang dia katakan itu bohong!” Ella berteriak keras sampai suaranya mendominasi seluruh ruang tahanan.Padahal Roland tak ada dalam satu ruangan sama dengan dirinya. Tetapi Ella meyakini teriakannya mampu menembus dinding-dinding kokoh nan dingin kantor kepolisian itu. Dia sangat percaya diri teriakannya mampu didengar Roland yang masih berada di ruangan lain pada kantor kepolisian itu.“Semua itu bohong, Roland! Jangan dengarkan dia!” teriakan Ella memekik lebih keras sampai mengganggu tahanan lainnya.Di ruangan lain, Roland masih duduk tenang dengan ekspresi dingin penuh kebencian. Matanya masih menusuk tajam Jemmy yang duduk berseberangan dengan kedua tangannya terikat borgol besi.“Kenapa kau mengaku padaku?”Suara dingin Roland kembali memperkuat dominasi dingin yang mencekam di ruangan interoga

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 142: Tertangkap, Tapi Tak Sempurna

    Makan malam yang terhidang telah dinikmati oleh Michelle dan Leah. Pelayan yang bertugas telah membersihkan meja makan beserta piring-piring kotor, kemudian berpamitan pulang kepada Michelle.Michelle memutuskan menemui Leah yang telah berada di kamar tidur.Belum sempurna pintu kamar terbuka, dia mendengar Leah sedang berbicara.Putri cantiknya itu pasti sedang berbicara dengan Roland melalui sambungan telepon.Dugaan itu benar sepenuhnya.Leah sedang antusias mengadukan apa saja yang dilakukan sepanjang hari kepada Roland. Gadis kecil itu sampai tidak menyadari Michelle telah duduk di tepian ranjang di mana dia berbaring sejak tadi.“Mommy telah datang.”Leah dengan polos mengadu lewat sambungan telepon. Dia segera bangkit dan duduk berhadapan dengan Michelle.“Daddy mau berbicara dengan Mommy?” lanjutnya bertanya kepada Roland.Handphone yang menempel di sisi kiri telinga telah diberikan kepada Michelle. Tak perlu dijelaskan pun Michelle mengetahui Roland tak menolak tawaran dari L

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   BAB 141: Nasihat Menggoda

    ~ Penthouse Roland, Los Angeles ~Beberapa hari berlalu setelah Roland kembali ke New York. Michelle masih belum bisa melupakan sederet kenangan manis dan erotis yang mereka ciptakan sejak hari itu.Tak ada halangan sedikit pun yang merusak gairah mereka. Keduanya saling melapaskan kerinduan pada sensasi yang sudah lama tidak dirasakan.Hasrat duniawi yang bertahun-tahun terpendam telah terpuaskan secara menggebu-gebu. Seperti seekor binatang buas yang kelaparan, Roland memuaskan diri sepuasnya.Tidak! Tidak ada kepuasan bagi diri Roland pada kenikmatan tubuh Michelle.Pria itu selalu melahap Michelle setiap kali memiliki waktu berdua. Bahkan beberapa jam sebelum keberangkatannya ke New York, Roland Kembali mengguncang Michelle yang pasrah tak memberontak.Semua itu karena gejolak gairah yang terpendam selama bertahun-tahun telah menemukan titik pelepasan sempurna.Wajah Michelle diselimuti semburat rona merah setiap kali isi kepalanya terpenuhi bayangan-bayangan vulgar itu.Tidak pe

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 11: Sosok yang Dirindukan

    "Bibi Alins, sepertinya aku akan melahirkan.” Michelle berusaha bersuara tenang demi tidak menambah kepanikan.Padahal wanita itu sudah merintih kesakitan dengan keringat yang berpeluh. Michelle bahkan sudah memucat ketika memastikan air yg keluar dari tengah-tengah pahanya itu adalah

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 10: Pagi yang Panik

    Michelle mendorong dua kartu ini sampai mendekat ke tangan Alins yang berada di tepian meja. Dengan tindakan serupa pula Alins mendorong balik ke tangan Michelle, sampai memaksa Michelle menggenggamnya.“Kami tidak merasa disusahkan olehmu. Sebaliknya, kami merasa senang kau ada bersama

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 9: Kasih Sayang

    Ruangan senam hamil itu seperti tempat aerobic pada umumnya. Kaca besar melingkari ruang latihan.Michelle menengok ke pintu mencari sosok Alins yang berjanji menemaninya. Hatinya sedikit merasa rendah diri ketika melihat pesertanya senam lainnya didampingi suami mereka.[Michel

  • Tuan CEO, Aku Ingin Berpisah!   Bab 8: Merasa Kehilangan

    "Hentikan mobilnya.” Dengan suara parau Roland memerintah Daniel.Pria yang duduk di kursi penumpang belakang itu telah tersadar dari mabuknya. Matanya memerah itu menyorot tajam Daniel yang melirik singkat dari cermin dashboard.“Apa Anda ingin saya antar ke apartemen?”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status