ログインSeminggu telah berlalu sejak Roland Archer terpaksa menghabiskan malamnya dengan memeluk bantal guling di kamar tamu.Pengalaman yang cukup menyakitkan bagi seorang CEO yang terbiasa tidur di ranjang besar bersama istrinya itu rupanya meninggalkan pelajaran berharga.Sejak malam tersebut, Roland tidak lagi berani memprovokasi kecemburuan Michelle. Setidaknya, dia berusaha keras untuk tidak melakukannya.Pagi itu, keluarga kecil mereka telah bersiap untuk pergi. Roland dan Michelle mengenakan pakaian formal bernuansa putih dan biru, sementara ketiga anak mereka tampil menggemaskan dalam busana yang senada.Mereka akan mengunjungi mansion Jullian untuk melakukan sesi foto keluarga bersama keluarga inti Archer.Leah sudah tidak sabar sejak tadi. Damian dan Dmitry pun terus bertanya kapan mereka akan berangkat, meskipun keduanya sesekali masih sibuk memperdebatkan hal-hal kecil yang hanya mereka anggap penting.Sementara itu, Roland sedang memastikan semua barang yang perlu dibawa sudah te
Michelle tidak langsung menanggapi pengakuan pria yang berdiri di hadapannya.Gelas champagne masih berada di tangannya, tetapi perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada pria itu. Dia memperhatikan wajahnya, mencoba menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan mengapa seseorang yang tidak dikenalnya tiba-tiba mengaku sebagai ayahnya.Namun, Michelle tidak membiarkan keterkejutannya terlihat terlalu lama.Dia berada di sebuah gala dinner yang dihadiri para pebisnis, eksekutif, dan tokoh penting. Tidak pantas baginya membicarakan persoalan pribadi di tengah keramaian, terlebih ketika dia bahkan belum mengetahui maksud kedatangan pria itu.Michelle mengalihkan pandangan ke sekitar.Pria itu tampaknya memahami sikapnya. Dia mengikuti arah pandang Michelle sebelum kembali menatap perempuan tersebut."Mungkin kita bisa berbicara di tempat lain."Michelle menatapnya sejenak. "Balkon?"Pria itu mengangguk.Michelle tidak langsung menjawab, tetapi akhirnya meletakkan gelasnya di atas nampan seorang
Michelle berdiri di depan cermin rias, memperhatikan pantulan dirinya untuk terakhir kalinya.Dress hitam yang membalut tubuhnya memiliki potongan elegan dengan bagian punggung terbuka, memperlihatkan kulitnya yang mulus hingga ke pinggang. Rambutnya disanggul setengah dengan gaya sedikit berantakan, beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Riasannya tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menonjolkan kecantikan yang semakin matang seiring bertambahnya usia.Di atas meja rias, sepasang anting berlian kecil berkilau di bawah cahaya lampu.Michelle baru saja selesai merapikan riasan matanya ketika bayangan seseorang muncul di belakangnya melalui cermin.Roland.Pria itu sudah siap dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya. Kemeja putih dan dasi hitam membuat penampilannya tampak semakin elegan. Rambutnya tertata rapi, sementara jam tangan mewah di pergelangan tangannya melengkapi penampilan seorang CEO yang terbiasa menjadi pusat perhatian.Namun alih-alih memuji ist
Pagi itu seharusnya berjalan tenang. Setidaknya, itulah yang Michelle pikirkan ketika mereka akhirnya duduk bersama di meja makan.Sarapan berlangsung seperti biasanya. Leah duduk di salah satu sisi meja sambil menikmati sandwich-nya, sementara Damian dan Dmitry sesekali saling berebut buah yang sebenarnya tersedia cukup banyak untuk mereka berdua.Michelle bahkan sudah mulai menikmati ketenangan pagi itu. Sampai dia menyadari satu hal.Roland terlalu diam. Bukan diam karena sibuk makan. Roland sedang menatap Leah.Tatapannya bahkan terlalu serius untuk ukuran seseorang yang hanya sedang memperhatikan putrinya sarapan.Matanya bergerak dari wajah Leah, turun ke seragam sekolahnya, lalu berhenti cukup lama pada rok yang dikenakan putrinya.Michelle mengernyit. Dia tahu tatapan itu.Tatapan Roland yang biasanya muncul ketika dia menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan standar kesempurnaannya.“Kenapa?”Roland tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada Leah. Kemudian dia bert
Lima tahun telah berlalu.Kehidupan rumah tangga Michelle dan Roland semakin penuh warna. Roland semakin sukses dengan bisnisnya dan akhirnya resmi menjadi pewaris sekaligus pemilik Trilogi Group. Sementara Michelle semakin bersinar di kalangan sosialita kelas atas.Namun bukan karena dirinya adalah istri Roland Archer. Melainkan karena Michelle telah membangun namanya sendiri.Wanita itu kini menjadi direktur Archer Foundation, yayasan milik almarhum ibu Roland yang dahulu dipercayakan Jullian kepadanya.Di bawah kepemimpinan Michelle, yayasan tersebut berkembang pesat. Kerja sama dengan para donatur semakin luas.Beberapa rumah sakit menjadi mitra yayasan untuk menyalurkan bantuan biaya pengobatan bagi pasien kurang mampu, menyediakan fasilitas medis, serta memberikan bantuan bagi pasien yang menderita penyakit kronis, termasuk kanker.Michelle juga membangun beberapa rumah singgah untuk anak-anak yatim. Beberapa sekolah didirikan melalui program yayasan.Bahkan dalam dua tahun tera
Miami menjadi tempat mereka menghabiskan tujuh hari pertama sebagai suami istri.Sebuah private villa milik Roland yang berada tidak jauh dari pantai menjadi tempat mereka tinggal selama bulan madu.Tempat itu cukup luas untuk membuat Michelle merasa seperti sedang benar-benar melarikan diri dari kehidupan sehari-harinya.Tidak ada pekerjaan. Tidak ada rapat. Tidak ada jadwal yang harus dikejar. Hanya ada dirinya dan Roland.Pada siang hari, Roland mengajak Michelle menikmati pantai menggunakan yacht miliknya. Michelle benar-benar menikmati hari-hari itu.Dia berenang, Berjemur, bermain air sampai sore.Bahkan beberapa kali Roland harus memintanya beristirahat karena istrinya itu terlalu bersemangat menikmati laut.Namun Michelle baru menyadari satu hal. Hari-hari mereka ternyata tidak hanya melelahkan karena aktivitas di bawah matahari.Setiap kali malam tiba dan mereka kembali ke villa, Roland selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat Michelle kehilangan sisa tenaganya.Hari keli
Michelle mendorong dua kartu ini sampai mendekat ke tangan Alins yang berada di tepian meja. Dengan tindakan serupa pula Alins mendorong balik ke tangan Michelle, sampai memaksa Michelle menggenggamnya.“Kami tidak merasa disusahkan olehmu. Sebaliknya, kami merasa senang kau ada bersama
Ruangan senam hamil itu seperti tempat aerobic pada umumnya. Kaca besar melingkari ruang latihan.Michelle menengok ke pintu mencari sosok Alins yang berjanji menemaninya. Hatinya sedikit merasa rendah diri ketika melihat pesertanya senam lainnya didampingi suami mereka.[Michel
"Hentikan mobilnya.” Dengan suara parau Roland memerintah Daniel.Pria yang duduk di kursi penumpang belakang itu telah tersadar dari mabuknya. Matanya memerah itu menyorot tajam Daniel yang melirik singkat dari cermin dashboard.“Apa Anda ingin saya antar ke apartemen?”
Roland mencengkeram pundak Ella kasar, "Katakan bayi siapa itu? Atau aku bisa saja berbuat kasar padamu!" Roland memekik dengan suara keras."Apa kau pernah berlaku lembut padaku? Apa kau pernah peduli dengan kehadiranku selama ini?" Ella melepaskan cengkraman kasar Roland dengan keras







