Home / Romansa / Tuan CEO, Lepaskan Aku! / Sentuhan Dendam Dan Hinaan

Share

Sentuhan Dendam Dan Hinaan

Author: V.W. Anara
last update Last Updated: 2025-12-13 03:48:56

Keesokan paginya, kesadaran Winda seolah belum datang sepenuhnya. Pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang Seonwoo yang menguasainya semalam. Winda menghela napas selagi beranjak ke kantornya. 

Kini, udara di dalam kantor terasa jauh lebih mencekam daripada suhu di bawah tujuh derajat di luar gedung. 

Sejak Seonwoo secara resmi menariknya menjadi asisten pribadi, posisi yang seharusnya diisi oleh tenaga profesional dengan gelar dari universitas ternama, bisik-bisik kebencian mulai merayap di setiap sudut kantor.

Winda baru saja hendak mengantarkan dokumen laporan keuangan ke ruang rapat ketika jalannya dihadang. Bukan oleh sembarang orang, melainkan oleh Choi Junseob, seorang Manajer Pemasaran yang dikenal sebagai salah satu 'anjing penjaga' paling setia di perusahaan itu.

Choi Junseob berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Winda dari balik kacamata mahalnya dengan binar mata yang penuh penghinaan. Beberapa staf lain yang sedang lewat sengaja memperlambat langkah mereka, seperti ingin menonton pertunjukan gratis yang akan terjadi.

"Jadi, ini 'sampah' yang dibawa Tuan CEO kita?" suara  Choi Junseob memecah keheningan koridor, cukup keras untuk didengar oleh semua orang.

Winda berhenti, mencengkeram map di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Maaf, Tuan. Saya sedang bertugas."

"Bertugas? Menjadi asisten atau menjadi boneka pemuas?"  Choi Junseob tertawa sinis, sebuah tawa yang segera diikuti oleh senyum mengejek para staf lainnya. "Aku dengar kau berasal dari tempat kumuh di Jakarta. Bagaimana rasanya merangkak keluar dari selokan hanya untuk menghirup udara bersih di HanGroup? Kau tidak sadar, ya? Bau kemiskinanmu itu tidak bisa hilang meski kau memakai parfum mahal sekalipun."

Winda merasakan dadanya sesak. Hinaan itu bukan hanya tentang dirinya, tapi tentang martabat bangsanya, tentang ayahnya, dan tentang perjuangannya untuk bertahan hidup.

"Jangan bawa-bawa asal-usul saya, Tuan. Saya bekerja di sini dengan kontrak resmi!" balas Winda, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

"Kontrak resmi?"  Choi Junseob melangkah maju, memperkecil jarak hingga Winda bisa mencium aroma kopi dari napas pria itu. "Tuan Han hanya sedang bermain-main. Kau tidak lebih dari sekadar mainan murahan untuknya. Setelah dia bosan, dia akan membuangmu kembali ke tempat sampah asalmu. Apa kau mengerti?!"

Pada saat yang sama, pintu lift eksekutif terbuka. Sosok tinggi tegap Han Seonwoo melangkah keluar dengan aura yang begitu dominan hingga membuat atmosfer di koridor seolah membeku.

Semua orang langsung menunduk hormat, termasuk  Choi Junseob yang langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi penuh kepatuhan yang dibuat-buat. Winda menatap Seonwoo dengan mata berkaca-kaca, ada secercah harapan di hatinya bahwa pria itu akan mengatakan sesuatu untuk membela harga dirinya.

Seonwoo berhenti tepat di samping Winda. Ia melirik map yang dipegang Winda, lalu beralih menatap  Choi Junseob sejenak. Matanya dingin, datar, dan tidak terbaca.

"Tuan Han," sapa Choi Junseob dengan nada menjilat. "Saya baru saja memberikan sedikit 'pengarahan' kepada asisten baru Anda agar dia tahu diri."

Winda menahan napas, menunggu reaksi Seonwoo. Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat Seonwoo hanya mendengus dingin.

"Teruskan pekerjaanmu, Junseob," ucap Seonwoo datar tanpa melirik Winda sedikit pun. "Dan kau, Winda. Masuk ke ruanganku sekarang. Jangan buang waktuku dengan drama tidak berguna di koridor."

Seonwoo melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Winda yang berdiri mematung di bawah tatapan kemenangan  Junseob. Winda merasa harga dirinya telah diinjak-injak dua kali, pertama oleh musuh yang nyata, dan kedua oleh pria yang secara diam-diam ia harapkan masih memiliki sedikit nurani.

Sepanjang sisa hari itu, Winda bekerja seperti robot. Ia tidak berani mengangkat wajahnya saat berpapasan dengan siapa pun. Ia merasa kecil, tidak berarti, dan benar-benar sendirian di negeri orang. Seonwoo sendiri memperlakukannya dengan sangat dingin, memberikan perintah demi perintah tanpa ada satu pun kata yang menyinggung kejadian di koridor tadi pagi.

***

Hari berganti dengan begitu cepat Winda kembali ke kantor pagi ini dengan persiapan mental yang lebih kuat. Ia sudah siap jika harus bertemu lagi dengan  Choi Junseob dan hinaan-hinaannya yang berbisa. Namun, saat melewati divisi pemasaran, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Meja  Junseob yang biasanya penuh dengan dokumen dan dikelilingi oleh para staf yang menjilat, kini kosong melompong. Seorang petugas kebersihan sedang memasukkan barang-barang pribadi pria itu ke dalam kardus.

Winda mengernyit bingung. Ia mendekati salah satu rekan kerja  Junseob yang biasanya ikut tertawa saat ia dihina. "Permisi, di mana Tuan Choi?"

Wanita itu menatap Winda dengan tatapan ketakutan, wajahnya pucat pasi. "Kau... kau tidak tahu? Tuan Choi diberhentikan pagi ini. Katanya, semua aksesnya ke HanGroup dicabut dan dia dilarang bekerja di anak perusahaan mana pun di bawah bendera Han. Bahkan semua kontrak asuransi dan bonusnya dibatalkan secara sepihak."

Winda terkejut. "Diberhentikan? Kenapa?"

"Pihak manajemen bilang kinerjanya buruk, tapi..." wanita itu merendahkan suaranya, "ada rumor bahwa Tuan Han sendiri yang menandatangani surat pemecatannya semalam, secara mendadak. Seolah dia melakukan kesalahan fatal yang tidak termaafkan dalam semalam."

Langkah kaki Winda terasa ringan namun jantungnya berdegup kencang saat ia berjalan menuju ruang kerja Seonwoo. Ia teringat kembali sikap dingin Seonwoo kemarin. Jika Seonwoo memang ingin membelanya, kenapa dia tidak melakukannya di tempat? Kenapa harus menunggunya sampai keesokan harinya?

Saat ia masuk ke ruangan Seonwoo untuk meletakkan kopi, pria itu sedang sibuk menatap layar monitornya.

"Terima kasih. Karena sudah membuat pria…" 

Seonwoo tidak mengalihkan pandangannya dari layar. "Aku memecatnya karena dia tidak kompeten mengelola emosinya di depan staf. Itu mengganggu produktivitas kantorku.”

Winda hanya terdiam, namun ia tahu ada sesuatu yang lain di balik nada suara Seonwoo yang kaku. Tapi Winda sendiri belum yakin tentang itu. “Tapi...”

“Jangan terlalu percaya diri, Winda. Aku tidak melakukannya untukmu."

Winda tercenung. Ia sadar, Seonwoo seolah baru saja menegaskan hal itu pada dunia, bahwa hanya dirinya yang boleh menyakiti Winda.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Bisikkan Di Balik Kabut

    Kabut tebal merayap naik dari lembah, menyelimuti lereng bukit dengan selubung putih yang dingin dan lembap. Di dalam rumah kaca, suasana yang biasanya hangat dan transparan kini terasa terisolasi, seolah-olah dunia luar telah lenyap dan menyisakan mereka dalam keheningan yang mencekam. Suara tetesan embun yang jatuh dari daun-daun pinus ke atap kaca terdengar seperti ketukan jari yang tak beraturan, memicu saraf Winda yang sejak pagi tadi merasa tidak tenang.Seonwoo sedang berada di ruang kerjanya, terkunci dalam pembicaraan serius dengan tim keamanan baru yang ia sewa secara rahasia. Winda mencoba menyibukkan diri di ruang tengah, menata mainan kayu milik Ji-hoo. Namun, setiap kali ia melewati dinding kaca, ia merasa ada siluet yang bergerak di balik kkabut seperti ada sepasang mata yang mengintai dari kegelapan pepohonan.Drrrtt... Drrrtt...Ponsel Winda yang tergeletak di atas meja kayu bergetar. Layarnya menampilkan "Nomor Tidak Dikenal". Winda ragu sejenak, namun rasa ingin tah

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Pelukan Di Balik Terali

    Gedung Pengadilan Distrik Seoul Pusat tampak begitu angkuh di bawah guyuran hujan sisa semalam. Di dalam Ruang Sidang 402, udara terasa mencekik. Kim Yura berdiri di belakang meja pengacara dengan tangan yang dingin dan gemetar hebat. Di seberangnya, Pengacara Kang Min-ho dari firma hukum Sin-Gwang baru saja menyelesaikan argumen penutupnya untuk sesi mediasi hari ini.Namun, Kang Min-ho tidak berhenti pada masalah hukum. Ia berbalik, menatap ke arah galeri yang dipenuhi jurnalis, lalu melemparkan senyum miring ke arah Yura."Yang Mulia," ujar Kang dengan suara yang lantang dan penuh sandiwara. "Bagaimana kita bisa mempercayai integritas sebuah yayasan medis yang diwakili oleh seorang pengacara yang memiliki hubungan... intim dengan narapidana kelas berat? Apakah Han Medical Center akan menjadi tempat pemulihan, atau sekadar mesin pencucian uang baru bagi Park Jae-hyun melalui asistennya yang setia ini?"Gumaman riuh rendah seketika memenuhi ruangan. Kilatan lampu kamera jurnalis meng

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Teror Tanpa Wajah

    Musim semi di lereng bukit seharusnya menjadi simfoni kehidupan yang menenangkan, namun pagi ini, Han Seonwoo merasakan nada sumbang yang mengusik ketenangannya. Saat fajar baru saja menyapu kabut dari permukaan lembah, menyisakan butiran embun yang berkilauan di atas atap kaca rumah mereka, Seonwoo berjalan menuju kotak surat di depan gerbang utama. Langkahnya yang mantap tiba-tiba terhenti ketika ia melihat sebuah paket berbungkus kertas cokelat kusam yang tergeletak begitu saja di atas tanah, tepat di bawah bayangan pagar besi, bukan di dalam kotak surat seperti seharusnya.Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat asal. Hanya ada inisial "W" yang ditulis dengan tinta hitam tebal yang merembes ke serat kertas, seolah ditulis dengan tekanan yang penuh amarah.Seonwoo membawa paket itu ke ruang kerjanya yang kedap suara, memastikan Winda masih sibuk menyanyikan lagu nina bobo untuk Ji-hoo di dalam kamar yang letaknya di ujung koridor. Dengan pisau kertas perak, ia membuka bungkusanny

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Bawah Semesta

    Malam di lereng bukit datang dengan keheningan yang menusuk hingga ke tulang belakang. Setelah badai emosi yang dibawa oleh kabar strategi hukum Jae-hyun dari Seoul, rumah kaca itu kini terasa seperti sebuah suaka yang terputus dari hiruk-pikuk dunia. Di luar, langit musim semi tampak begitu bersih, memamerkan jutaan bintang yang bertaburan seperti debu berlian di atas hamparan beludru hitam. Tidak ada polusi cahaya di sini, hanya ada kemurnian alam yang menjadi saksi bisu perjalanan dua jiwa yang telah menempuh ribuan mil penderitaan untuk sampai di titik ini.Di dalam kamar, Han Ji-hoo telah terlelap dalam ranjang kayunya, napasnya teratur dan tenang. Winda berdiri di dekat jendela besar, menatap pantulan dirinya di kaca yang beradu dengan pemandangan lembah di bawah sana. Ia mengenakan daster sutra panjang berwarna putih tulang yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya yang kini telah pulih sepenuhnya.Seonwoo melangkah masuk, gerakannya tanpa suara namun kehadirannya memenuhi rua

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Strategi Dalam Lapas

    Musim semi di Seoul mulai menunjukkan sisi lainnya yang lebih garang, hujan turun dengan deras sejak pagi, membilas debu-debu di jendela Lapas Permanen dan meninggalkan aroma tanah basah yang dingin. Di dalam ruang kunjungan tatap muka, suasana terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Kim Yura tidak datang dengan senyum ceria atau cerita tentang sepatu barunya. Ia masuk dengan langkah terburu-buru, rambutnya sedikit berantakan karena terkena tempias hujan, dan sebuah map hitam tebal dipeluknya erat seperti nyawa.Saat ia duduk di depan Jae-hyun, Yura bahkan tidak sempat menyapa. Ia segera membentangkan sebuah dokumen dengan cap merah "Mendesak" di atas meja kayu."Tuan Jae-hyun, kita dalam masalah besar," bisik Yura, suaranya bergetar antara amarah dan kecemasan. "Para kreditur HanGroup, dipimpin oleh firma hukum Sin-Gwang, pengacara Kang yang sombong itu telah mengajukan gugatan pembatalan atas likuidasi Han Medical Center. Mereka menuduh Tuan Seonwoo melakukan pengalihan aset secara

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Rindu Jakarta

    Musim semi di lereng bukit semakin menunjukkan kemolekannya. Bunga-bunga sakura liar mulai bermekaran, menciptakan gumpalan awan merah muda di antara pepohonan hijau yang rimbun. Namun, bagi Winda, pemandangan indah di luar jendela rumah kaca itu terkadang terasa terlalu jauh, terlalu asing. Pagi ini, ia duduk di teras sambil menyesap teh hangat, matanya menatap lembah yang berkabut, namun pikirannya melayang ribuan kilometer ke selatan, ke sebuah kota yang panas, bising, penuh asap knalpot, namun memiliki aroma yang tak pernah bisa ia lupakan.Seonwoo, yang sedang menggendong Ji-hoo yang sudah mulai aktif menggerakkan tangan dan kakinya, memperhatikan istrinya dari ambang pintu. Ia melihat ada semburat melankolis di wajah Winda yang biasanya cerah. Ia tahu tatapan itu. Itu adalah tatapan seseorang yang jiwanya sedang melakukan perjalanan pulang ke tanah kelahirannya."Kau melamun lagi," suara Seonwoo memecah keheningan, lembut namun dalam.Winda tersentak kecil, lalu tersenyum tipis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status