Share

Perubahan Winda

Author: V.W. Anara
last update publish date: 2026-01-22 13:09:23

Pagi itu, cermin besar di kamar utama apartemen memantulkan sosok yang hampir tidak dikenali oleh Winda sendiri. Rambut hitamnya yang dulu selalu tergerai dengan polosnya, kini rambut itu tergerai dengan tatanan wavy yang elegan. Gaun tidur sutranya telah berganti dengan setelan kantor premium, sebuah blus sutra berwarna hitam yang pas di tubuh, dipadukan dengan rok span senada yang menonjolkan lekuk pinggulnya yang langsing. Sepatu hak tinggi lima sentimeter membuat postur tubuhnya tampak lebi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Tempat Kita Pulang

    Satu tahun berlalu sejak Yura berjuang demi melawan penyakitnya. Kini, musim semi kembali menyapa seluruh penjuru kota dengan keanggunan yang sama, namun kali ini atmosfernya terasa jauh lebih ringan. Tidak ada lagi kabut kecemasan yang menggantung di antara pepohonan pinus, juga tidak ada lagi bayang-bayang menakutkan yang mengintai dari balik kegelapan. Bunga-bunga sakura liar kembali berguguran tertiup angin sepoi-sepoi menutupi rumput hijau dengan kelopak merah muda yang lembut, menciptakan pemandangan yang sangat Indah sebagai wujud nyata dari salah satu lukisan terbaik Winda.Di teras rumah kaca yang kini telah menjadi simbol kedamaian, sebuah meja panjang telah ditata dengan rapi. Aroma sedap dari masakan khas Indonesia yang bumbunya meresap sempurna dari rendang bercampur dengan aroma kopi yang segar. Hari ini adalah hari istimewa dimana merupakan hari perayaan ulang tahun Ji-hoo yang kedua sekaligus syukuran atas satu tahun kebebasan mereka semua dari belenggu masa lalu.

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Balik Duka

    Lorong rumah sakit yang terasa dingin dan mencekam itu kini telah menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan seorang wanita bernama Kim Yura. Sudah sepuluh hari sejak operasi besar itu dilakukan, dan Park Jae-hyun tidak pernah sekalipun meninggalkan sisi tempat tidur Yura. Pria yang dulunya dikenal sebagai pria dingin yang mampu meruntuhkan bursa saham hanya dengan satu gerakan tangan itu kini terlihat jauh lebih manusiawi dan jauh lebih rapuh dari sebelumnya .Jae-hyun duduk di kursi kecil, kepalanya bersandar pada pinggiran ranjang Yura. Matanya yang merah karena kurang tidur terus menatap layar monitor yang menampilkan detak jantung Yura yang kian stabil. Ia menggenggam tangan Yura yang masih terasa sangat lemah dengan gerakan yang pelan."Yura," bisik Jae-hyun, suaranya parau. "Musim semi hampir berakhir. Bunga-bunga sakura di kantor baru kita pasti sudah mulai gugur. Kau bilang ingin berdansa di sana tanpa musik, bukan? Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku bahkan sudah menghafal l

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Runtuhnya Pertahanan Yura

    Pesta kebun di lereng bukit pagi ini seharusnya menjadi momen yang penuh tawa dan rasa syukur yang dalam dengan dihiasi langit berwarna biru yang seolah sedang memayungi rumah kaca yang kini telah kembali asri. Bahkan aroma daging panggang dan saus marinasi buatan Winda yang menyatu dengan wangi pinus itu seharusnya ikut membuat udara di sekitarnya terasa menyegarkan, tapi tampaknya pagi itu tidak akan berjalan seperti yang seharusnya.Seonwoo sedang berdiri santai dengan mengenakan kemeja linen putih yang membuatnya tampak berbeda dari biasanya, sementara Ji-hoo asyik merangkak di atas rumput hijau dengan pakaian bayi yang membuatnya tampak begitu menggemaskan, sesekali ia mengejar kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga liar sambil terus merangkak.Jae-hyun, yang baru beberapa hari menghirup udara bebas pun tampak begitu segar dengan balutan kemeja putih linen yang senada dengan yang Seonwoo kenakan, ia duduk di bangku kayu bersama Yura sambil terus-menerus memperhatikan wanita itu ya

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Janji Terakhir

    Langit di atas Lapas Permanen Seoul pagi ini tampak lebih cerah dari biasanya, awan kelabu yang menyelimuti sekeliling lapas itu selama berhari-hari itu seolah-olah sengaja menyingkir untuk memberikan jalan bagi sebuah awal yang baru bagi pria bernama Park Jae-hyun itu. Angin musim semi pun bertiup lembut membawa aroma bunga sakura yang mulai berguguran menutupi aspal kasar di depan gerbang penjara dengan kelopak-kelopak merah muda yang tampak begitu cantik.Di depan gerbang besi besar yang dingin itu sebuah mobil sedan berwarna hitam yang tampak mewah telah terparkir di sana. Seonwoo berdiri bersandar pada pintu mobil, tangannya yang sudah tidak lagi dibalut gips terlipat di depan dada. Di sampingnya, Winda berdiri dengan anggun sambil sesekali merapikan selimut Ji-hoo yang ada dalam dekapan Seonwoo. Namun, pusat dari segala penantian pagi ini adalah Kim Yura.Wanita itu berdiri beberapa langkah lebih depan dari yang lain. Ia mengenakan gaun sutra berwarna peach lembut memberikan

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Rahasia...

    Pagi itu langit di kota Seoul ini terlihat sendu dengan tampilan warna yang abu-abu, awan pun seakan sengaja menahan diri untuk tidak menumpahkan air hujan. Di distrik Gangnam yang bising, gedung baru Kantor Hukum Jae-Yura berdiri dengan kokoh, memantulkan kesibukan kota pada dinding kacanya yang mengilat. Namun, di dalam ruangan utama milik Yura, suasananya cukup berbeda dan jauh dari kata bising. Hanya ada kesunyian yang mencekam, yang sesekali dipecah oleh suara helaan napas milik Yura.Winda berdiri di depan pintu kayu besar ruang kerja Yura. Tangannya yang memegang sebuah botol obat kecil tanpa label itu terasa dingin. Ia baru saja kembali dari apotek di pusat kota, tempat seorang kenalan lamanya memberikan konfirmasi yang meruntuhkan separuh dunianya pagi ini.“Ini bukan vitamin, Winda. Ini obat pereda nyeri saraf stadium akhir. Biasanya digunakan untuk pasien yang mengalami tekanan besar di otak agar mereka tetap bisa beraktifitas secara baik.”Kalimat itu terngiang-ngiang di

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Atas Gedung Baru

    Matahari musim semi bersinar terik di atas distrik Gangnam, memantul pada dinding kaca gedung-gedung pencakar langit yang menjadi simbol kekuatan ekonomi Seoul. Di salah satu sudut paling mewah, sebuah gedung perkantoran tiga lantai berdiri dengan desain arsitektur modern yang minimalis namun sangat berwibawa. Di bagian depan, terukir huruf logam berwarna perak yang elegan."KANTOR HUKUM JAE-YURA & PARTMER".Ini adalah hadiah dari Han Seonwoo, sebuah bentuk penebusan dosa dan rasa terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan Jae-hyun dan kesetiaan Yura. Bukan sekadar ruko kecil di sudut sempit seperti dulu, kini kantor mereka adalah salah satu firma hukum yang paling diperhitungkan di Seoul, lengkap dengan sistem keamanan tingkat tinggi dan tim staf yang profesional.Pagi itu, Kim Yura melangkah keluar dari mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh supir pribadi kiriman Sekretaris Kim. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna biru tua yang pas di tubuhnya, rambutnya ditata rapi, da

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Bayang Yang Tersisa

    Musim semi di lereng bukit mulai menunjukkan tanda-tandanya. Salju yang tadinya tebal kini telah menyisakan bercak-bercak putih yang kian menipis, membiarkan pucuk-pucuk rumput hijau dan bunga-bunga liar kecil menyembul dari tanah yang lembap. Aroma tanah yang basah bercampur dengan wangi pinus yan

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Rindu Jakarta

    Musim semi di lereng bukit semakin menunjukkan kemolekannya. Bunga-bunga sakura liar mulai bermekaran, menciptakan gumpalan awan merah muda di antara pepohonan hijau yang rimbun. Namun, bagi Winda, pemandangan indah di luar jendela rumah kaca itu terkadang terasa terlalu jauh, terlalu asing. Pagi i

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Strategi Dalam Lapas

    Musim semi di Seoul mulai menunjukkan sisi lainnya yang lebih garang, hujan turun dengan deras sejak pagi, membilas debu-debu di jendela Lapas Permanen dan meninggalkan aroma tanah basah yang dingin. Di dalam ruang kunjungan tatap muka, suasana terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Kim Yura tida

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Sentuhan Pertama Seorang Ayah

    Bau antiseptik yang tajam biasanya selalu membuat Han Seonwoo merasa mual, mengingatkannya pada lorong-lorong rumah sakit tempat ayahnya menghembuskan napas terakhir. Namun pagi ini, di dalam ruang perawatan privat Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul, aroma itu terasa seperti aroma kemenangan. S

    last updateLast Updated : 2026-04-01
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status