Share

Rindu Jakarta

Penulis: V.W. Anara
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 12:55:23

Musim semi di lereng bukit semakin menunjukkan kemolekannya. Bunga-bunga sakura liar mulai bermekaran, menciptakan gumpalan awan merah muda di antara pepohonan hijau yang rimbun. Namun, bagi Winda, pemandangan indah di luar jendela rumah kaca itu terkadang terasa terlalu jauh, terlalu asing. Pagi ini, ia duduk di teras sambil menyesap teh hangat, matanya menatap lembah yang berkabut, namun pikirannya melayang ribuan kilometer ke selatan, ke sebuah kota yang panas, bising, penuh asap knalpot, na
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Bisikkan Di Balik Kabut

    Kabut tebal merayap naik dari lembah, menyelimuti lereng bukit dengan selubung putih yang dingin dan lembap. Di dalam rumah kaca, suasana yang biasanya hangat dan transparan kini terasa terisolasi, seolah-olah dunia luar telah lenyap dan menyisakan mereka dalam keheningan yang mencekam. Suara tetesan embun yang jatuh dari daun-daun pinus ke atap kaca terdengar seperti ketukan jari yang tak beraturan, memicu saraf Winda yang sejak pagi tadi merasa tidak tenang.Seonwoo sedang berada di ruang kerjanya, terkunci dalam pembicaraan serius dengan tim keamanan baru yang ia sewa secara rahasia. Winda mencoba menyibukkan diri di ruang tengah, menata mainan kayu milik Ji-hoo. Namun, setiap kali ia melewati dinding kaca, ia merasa ada siluet yang bergerak di balik kkabut seperti ada sepasang mata yang mengintai dari kegelapan pepohonan.Drrrtt... Drrrtt...Ponsel Winda yang tergeletak di atas meja kayu bergetar. Layarnya menampilkan "Nomor Tidak Dikenal". Winda ragu sejenak, namun rasa ingin tah

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Pelukan Di Balik Terali

    Gedung Pengadilan Distrik Seoul Pusat tampak begitu angkuh di bawah guyuran hujan sisa semalam. Di dalam Ruang Sidang 402, udara terasa mencekik. Kim Yura berdiri di belakang meja pengacara dengan tangan yang dingin dan gemetar hebat. Di seberangnya, Pengacara Kang Min-ho dari firma hukum Sin-Gwang baru saja menyelesaikan argumen penutupnya untuk sesi mediasi hari ini.Namun, Kang Min-ho tidak berhenti pada masalah hukum. Ia berbalik, menatap ke arah galeri yang dipenuhi jurnalis, lalu melemparkan senyum miring ke arah Yura."Yang Mulia," ujar Kang dengan suara yang lantang dan penuh sandiwara. "Bagaimana kita bisa mempercayai integritas sebuah yayasan medis yang diwakili oleh seorang pengacara yang memiliki hubungan... intim dengan narapidana kelas berat? Apakah Han Medical Center akan menjadi tempat pemulihan, atau sekadar mesin pencucian uang baru bagi Park Jae-hyun melalui asistennya yang setia ini?"Gumaman riuh rendah seketika memenuhi ruangan. Kilatan lampu kamera jurnalis meng

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Teror Tanpa Wajah

    Musim semi di lereng bukit seharusnya menjadi simfoni kehidupan yang menenangkan, namun pagi ini, Han Seonwoo merasakan nada sumbang yang mengusik ketenangannya. Saat fajar baru saja menyapu kabut dari permukaan lembah, menyisakan butiran embun yang berkilauan di atas atap kaca rumah mereka, Seonwoo berjalan menuju kotak surat di depan gerbang utama. Langkahnya yang mantap tiba-tiba terhenti ketika ia melihat sebuah paket berbungkus kertas cokelat kusam yang tergeletak begitu saja di atas tanah, tepat di bawah bayangan pagar besi, bukan di dalam kotak surat seperti seharusnya.Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat asal. Hanya ada inisial "W" yang ditulis dengan tinta hitam tebal yang merembes ke serat kertas, seolah ditulis dengan tekanan yang penuh amarah.Seonwoo membawa paket itu ke ruang kerjanya yang kedap suara, memastikan Winda masih sibuk menyanyikan lagu nina bobo untuk Ji-hoo di dalam kamar yang letaknya di ujung koridor. Dengan pisau kertas perak, ia membuka bungkusanny

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Bawah Semesta

    Malam di lereng bukit datang dengan keheningan yang menusuk hingga ke tulang belakang. Setelah badai emosi yang dibawa oleh kabar strategi hukum Jae-hyun dari Seoul, rumah kaca itu kini terasa seperti sebuah suaka yang terputus dari hiruk-pikuk dunia. Di luar, langit musim semi tampak begitu bersih, memamerkan jutaan bintang yang bertaburan seperti debu berlian di atas hamparan beludru hitam. Tidak ada polusi cahaya di sini, hanya ada kemurnian alam yang menjadi saksi bisu perjalanan dua jiwa yang telah menempuh ribuan mil penderitaan untuk sampai di titik ini.Di dalam kamar, Han Ji-hoo telah terlelap dalam ranjang kayunya, napasnya teratur dan tenang. Winda berdiri di dekat jendela besar, menatap pantulan dirinya di kaca yang beradu dengan pemandangan lembah di bawah sana. Ia mengenakan daster sutra panjang berwarna putih tulang yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya yang kini telah pulih sepenuhnya.Seonwoo melangkah masuk, gerakannya tanpa suara namun kehadirannya memenuhi rua

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Strategi Dalam Lapas

    Musim semi di Seoul mulai menunjukkan sisi lainnya yang lebih garang, hujan turun dengan deras sejak pagi, membilas debu-debu di jendela Lapas Permanen dan meninggalkan aroma tanah basah yang dingin. Di dalam ruang kunjungan tatap muka, suasana terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Kim Yura tidak datang dengan senyum ceria atau cerita tentang sepatu barunya. Ia masuk dengan langkah terburu-buru, rambutnya sedikit berantakan karena terkena tempias hujan, dan sebuah map hitam tebal dipeluknya erat seperti nyawa.Saat ia duduk di depan Jae-hyun, Yura bahkan tidak sempat menyapa. Ia segera membentangkan sebuah dokumen dengan cap merah "Mendesak" di atas meja kayu."Tuan Jae-hyun, kita dalam masalah besar," bisik Yura, suaranya bergetar antara amarah dan kecemasan. "Para kreditur HanGroup, dipimpin oleh firma hukum Sin-Gwang, pengacara Kang yang sombong itu telah mengajukan gugatan pembatalan atas likuidasi Han Medical Center. Mereka menuduh Tuan Seonwoo melakukan pengalihan aset secara

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Rindu Jakarta

    Musim semi di lereng bukit semakin menunjukkan kemolekannya. Bunga-bunga sakura liar mulai bermekaran, menciptakan gumpalan awan merah muda di antara pepohonan hijau yang rimbun. Namun, bagi Winda, pemandangan indah di luar jendela rumah kaca itu terkadang terasa terlalu jauh, terlalu asing. Pagi ini, ia duduk di teras sambil menyesap teh hangat, matanya menatap lembah yang berkabut, namun pikirannya melayang ribuan kilometer ke selatan, ke sebuah kota yang panas, bising, penuh asap knalpot, namun memiliki aroma yang tak pernah bisa ia lupakan.Seonwoo, yang sedang menggendong Ji-hoo yang sudah mulai aktif menggerakkan tangan dan kakinya, memperhatikan istrinya dari ambang pintu. Ia melihat ada semburat melankolis di wajah Winda yang biasanya cerah. Ia tahu tatapan itu. Itu adalah tatapan seseorang yang jiwanya sedang melakukan perjalanan pulang ke tanah kelahirannya."Kau melamun lagi," suara Seonwoo memecah keheningan, lembut namun dalam.Winda tersentak kecil, lalu tersenyum tipis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status