Masuk“Ayah,” panggil Marley selepas melihat pesan masuk di ponselnya.
Pandangan Arnon tertarik, pria itu mengangkat sebelah alis matanya walau mulutnya masih terbungkam saat Marley memanggilnya. “Aku akan pergi ke kamar mandi sebentar.” Pamit Marley beranjak dari kursinya. Tetapi saat ia akan melangkah pergi, tangan dingin Giselle lebih dulu menahan. Ia seperti memohon lewat tatapannya agar tak meninggalkannya sendirian bersama Arnon. “Tenang saja, aku hanya sebentar. Ayah juga akan menjagamu.” kata Marley menenangkan sambil menepuk punggung tangan Giselle sekilas, kemudian melepaskannya. Marley benar-benar pergi meninggalkan rasa canggung pada Giselle. Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa saat ini, tapi ia merasa kesalahpahaman yang terjadi harus diluruskan malam ini juga. Dengan segenap hati, Giselle memberanikan diri berbicara saat mata itu menatap wajah Arnon yang masih sama seperti sebelumnya. Tak berekspresi, pria itu sangat dingin hingga kepribadiannya sangat sulit ditebak. “T-tuan.” cicit Giselle memanggil dengan lirih. Mendengar kata ‘Tuan” yang disebut Giselle, Arnon kembali menarik senyum tipis. Walau tipis namun cukup mengusik relung hati Giselle yang tengah gelisah saat ini. “Tuan, saya—” “Kau merubah panggilan lebih cepat dari yang kuduga.” sela Arnon, intonasinya rendah nyaris tak ada nada. “Ma-af?” “Tidak memanggilku paman lagi, hmm?” kepala itu miring, seringainya tercetak tipis. Gleg! Giselle meneguk ludah kepayahan berhadapan dengan Arnon, sekali lagi pria itu sangat terlihat dominan. Berulang kali Giselle harus meremas gaun di pangkuan hanya untuk membuat rasa dingin yang menguasai suhu tubuh menghilang. “S-saya hanya ingin menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara kita sebelumnya.” kata Giselle, menyikirkan sejenak pada panggilan yang dikoreksi oleh Arnon. “Soal?” “Pekerjaan saya,” tandas Giselle. “Pekerjaanmu di klub itu?” selidik Arnon, menaikkan sebelah alisnya. Giselle menelan ludah, buru-buru menjelaskan, “Saya tidak benar-benar bekerja sebagai pengantar minum di klub. Malam itu, ibu dari teman saya sedang sakit, tidak bisa ditinggal untuk bekerja walau semalam saja. Namanya Sofia, dia meminta saya untuk menggantikan mengantar minum di ruang VIP yang Anda lihat. Sungguh, saya belum pernah menginjakkan kaki di tempat seperti itu.” Giselle bahkan tak mengambil jeda sedikit pun hanya agar Arnon tidak berpikir ia bukan gadis baik-baik. “Kenapa baru menjelaskan sekarang?” Giselle mengusap belakang lehernya, tidak enak dengan pertanyaan selanjutnya. “Karena … saya pikir Anda pria asing yang tidak akan pernah saya jumpai lagi. Saya hanya merasa tidak perlu memberi penjelasan.” Penjelasan yang dikatakan Giselle, bahkan masih tak merubah raut wajah Arnon sama sekali. Lihatlah! Sorot mata Arnon masih sama, dingin dan datar. Ekspresi pada wajahnya sangat sulit diartikan oleh Giselle, seakan ada kabut yang menghalangi jarak pandangnya. “Tuan, saya tidak berbohong.” imbuh Giselle, dengan cepat dia menyambar ponsel kemudian sibuk dengan benda pipih yang telah menyala. Di tempat duduknya, Arnon mengernyit melihat gelagat Giselle yang seperti mencari sesuatu untuk diperlihatkan padanya. “Saya bekerja di salah satu bakery,” kata Giselle, menunjukkan potretnya saat sedang menghias tart di ruang kitchen, “Di Batterbake. Jika Anda tak percaya, Anda bisa datang ke sana dan menanyakan secara langsung pada kepala Bakery.” Arnon menatap lekat pada foto yang diperlihatkan oleh Giselle dari layar ponselnya. Ibu jarinya mengusap dagu sendiri saat tatapan serius itu tak teralihkan. “Apa alasanmu menjelaskan padaku perihal pekerjaanmu? Apa benar hanya ingin memutus kesalahpahaman yang terjadi?” Giselle masih diam, ia bisa melihat jika Arnon masih ingin berbicara. “Jika hanya karena kesalahpahaman, kau salah. Aku sudah tak mengingat lagi kejadian malam itu,” tandasnya lugas. Mendengar itu, Giselle kian menundukkan kepalanya, ia tahu jika ia tak cukup berharga untuk diingat Arnon. Tetapi entah kenapa, tak di anggap itu tetap saja menyakitkan. “Tidak, Tuan. Saya takut Anda tidak merestui hubungan saya dengan Marley, menganggap saya wanita buruk karena telah bekerja disana.” paparnya, lirih namun cukup jelas di telinga Arnon. “Kau sangat mencintainya?” “Kami telah menjalin hubungan yang begitu lama.” “Bukan itu yang ku tanyakan.” “Jika saya tidak mencintai Marley, tidak mungkin saya berada di hadapan Anda saat ini. Tidak mungkin juga saya membuang banyak waktu untuk bersamanya.” Arnon manggut-manggut, mengerti. “Marley, dia tidak tahu apa yang terjadi di malam itu? Atau dia tidak tahu kau sedang menggantikan pekerjaan temanmu?” “Keduanya. Marley tidak tahu apa pun.” lirih Giselle. “Menjalin hubungan tanpa adanya kejujuran satu sama lain.” simpul Arnon mendesis. “Tidak!” Giselle memekik cukup panik. Kenapa bisa Arnon mengambil kesimpulan demikian? Seharusnya Arnon mengerti jika tak mudah bagi Giselle mengatakan dengan jujur. “Saya hanya tidak ingin membuat Marley kecewa,” ujar Giselle membela diri. “Dengan berbohong padanya.” Giselle menghela nafas dengan berat, dari bola matanya terpancar rasa pasrah. Sebuah kesalahan yang tak diungkapkan memang cukup menyesakkan dada. “Sejujurnya jika saya boleh memilih, saya juga tidak ingin berbohong pada Marley. Saya juga tidak menginginkan peristiwa itu terjadi pada hidup saya. Mungkin saya egois, namun—” “Hmm, aku mengerti,” tandas Arnon lebih cepat dari penjelasan yang akan dibeberkan pada Giselle. Giselle terperangah, saat ia akan membuka mulut lagi untuk berbicara, Marley sudah datang. Kekasih Giselle tersebut datang sambil melempar canda pada Noel yang masih ada disana. “Apa aku terlalu lama?” tanya Marley pada Giselle saat lelaki itu sudah kembali duduk di tempatnya. Giselle hanya menggeleng, ia sempat mencuri pandang pada Arnon. Dan ya! Pria itu kembali menyesap alkohol dengan gerakan pelan. Raut wajah Arnon masih acuh tak acuh seakan tidak ada hal serius yang diobrolkan beberapa detik yang lalu bersamanya. “Noel, kemari, duduk di sampingku, kita makan bersama-sama!” ajak Marley, menyeret pelan lengan Noel yang dipaksa untuk duduk di kursi sebelahnya. Noel bersama Marley sempat saling adu mulut singkat, sebuah candaan sebab Noel sempat menolak ajakan Marley. Tapi Marley lebih dulu menuang wine ke beberapa gelas, diberikan pada Noel, lalu ayahnya, dan tanpa sadar gelas itu digeser pada Giselle. Itu merupakan kebiasaan Marley saat berkumpul dengan beberapa rekan ayahnya. Dia bahkan melupakan jika yang berada di sampingnya adalah Giselle. “Ayo lagi, minum lebih banyak lagi,” ledek Marley pada Noel. Marley memang kerap kali meledek dan dengan antusias menuangkan beberapa kali gelas Noel yang sudah kosong. “Aish, kau ingin membuatku mabuk.” protes Noel. “Satu gelas lagi tidak akan membuatmu mabuk. Kau kan sangat pandai minum.” “Tapi ini bukan pesta perayaan.” “Tak masalah, ayo minum lagi.” Giselle yang menyaksikan kekasihnya sedang beradu minum bersama Noel hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Kesenangan pria memang berbeda, Giselle juga tak pernah melarang Marley untuk melakukan apa pun asal tidak melebihi batas. Sedangkan Giselle sendiri sedang menatap pada gelas yang diisi cairan alkohol. Haruskah ia minum? Ini pertama kalinya Giselle duduk di resto mewah bersama Marley, biasanya ia akan meminta ke kedai kopi biasa. Apa minum memang wajib di saat seperti ini? Giselle bimbang namun, benaknya berpikir jika iya ia sampai mabuk akan ada Marley yang melindunginya. ‘Ah, sudahlah, mungkin aku harus meminum walau sedikit untuk menghargai mereka.’ batin Giselle. Setelah lama bertarung, perlahan-lahan Giselle mengangkat tangan kanan, ia hendak mengambil gelas hingga … Grep! Gelas itu sudah lebih dulu direbut oleh Arnon, digantikan dengan minuman bebas alkohol. Mata Giselle mengerjap, ia terpaku beberapa saat hingga mendengar suara Arnon yang datar berbicara. “Minumlah.” suruh Arnon, menunjuk gelas yang sudah ditukar melalui ekor matanya. Cepat-cepat Giselle mengalihkan pandangannya, kemana saja asal tidak lagi bersitatap dengan Arnon. Perasaan di hatinya entah kenapa terasa aneh. Seharusnya, perasaan ini tak boleh ada. Giselle merasa kalut. Sedangkan Marley— lelaki itu masih sibuk beradu minum dengan Noel.Keesokan harinya, pagi membawa sinar yang terang. Sinar jingga menyelinap masuk melalui jendela kaca. Sebuah cahaya yang mengawali aktivitas para pekerja yang memiliki kesibukan.Dunia luar yang penuh dengan cahaya itu, sangat kontras dengan perasaan Giselle saat ini.Dia duduk di tepi ranjang, mengusap kedua tangannya berulang kali. Bukan karena kedinginan, akan tetapi karena Giselle sedang mempersiapkan dirinya untuk menguasai diri dalam dunia asing. ‘Semua akan baik-baik saja, Giselle. Ini tidak menakutkan seperti yang ada dalam bayanganmu.’ batin Giselle bertarung pada pikirannya sendiri. Pikiran yang menjadi momok menakutkan bagi dirinya sendiri. Berulang kali pikiran itu berbicara seperti racun, mengatakan jika dia tidak akan bisa berbaur dengan keluarga Leopold. Tetapi Giselle harus bertahan demi Arnon. Diam-diam, Arnon yang telah keluar dari ruang ganti. Menatap Giselle yang saat ini sedang melamun sambil mendesah panjang. Dari raut wajahnya, seakan sudah menggambarkan ji
Giselle serta Arnon langsung kembali ke kamar setelah perdebatan yang membuat suasana tegang di meja makan. Arnon menghempaskan tubuhnya untuk duduk di sofa. Dia mendongakkan kepala dengan raut wajah yang masih tampak mengeras. Dahi pria itu nampak berkerut,Rahangnya mengeras walau wibawanya masih tak berkurang sedikit pun. Sementara Giselle sendiri masih berdiri di depan pintu. Ia diam, pandangannya mengarah pada Arnon dimana mimik wajah Arnon sendiri terlihat kepayahan. Giselle merenung, merasa bersalah dengan kerumitan yang terjadi hari ini. Melihat Arnon saat ini, membuat Giselle sadar sepenuhnya dengan batas diantara mereka. Dunia Arnon jelas berbeda. Pria itu terlalu sempurna bukan hanya dari segi rupa namun, juga dari status sosial. Ia merasa kurang pantas saat ini berdiri di dunia Arnon. Dunia yang penuh dengan kemewahan yang jauh dari kehidupannya dahulu. “Arnon.” panggil Giselle setelah melangkah mendekat, dia berdiri di depan Arnon yang semula memejamkan mata. Mend
Ruang makan utama keluarga Theodore telah dipersiapkan dengan sempurna. Meja panjang dari kayu gelap membentang di tengah ruangan, permukaannya berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal. Peralatan makan tersusun rapi, simetris, nyaris tanpa cela. Pelayan berdiri berjajar di sisi ruangan, punggung tegak, kepala sedikit tertunduk seolah satu tarikan napas yang salah pun bisa dianggap tidak sopan. Semua orang sudah hadir. Anggota keluarga Theodore memenuhi kursi-kursi mereka, wajah-wajah yang sama dinginnya seperti siang tadi. Di antara mereka, duduk pula keluarga Marquis, termasuk Bella dan Marley. Percakapan pelan sempat terdengar, namun berhenti seketika ketika pintu ruang makan kembali terbuka. Arnon masuk lebih dulu. Dan untuk pertama kalinya dengan sengaja, tanpa keraguan tangannya menggenggam tangan Giselle. Genggaman itu tidak kuat, tidak menekan, namun tegas. Seolah berkata bahwa apa pun yang menanti di ruangan ini, mereka akan menghadapinya bersama. Langkah Gisel
Ruang kerja keluarga Theodore tertutup rapat begitu Arnon melangkah masuk. Aroma kayu tua dan kulit memenuhi ruangan itu bau khas kekuasaan dan keputusan besar. Rak buku tinggi menjulang di dinding, meja kerja besar berada di tengah dengan kursi kulit hitam menghadap jendela lebar yang mengarah ke taman belakang. Waktu sudah turun, tapi lampu meja menyala terang, membuat bayangan mereka jatuh tajam di lantai. Arthur Theodore berdiri membelakangi mereka, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi. Celine menyusul masuk dan menutup pintu perlahan, lalu berdiri di sisi ruangan, melipat tangan di depan dada. Arnon sendiri tetap berdiri, tegap, tenang namun tidak dengan rahangnya yang mengeras. Arthur berbalik. Tatapan ayahnya lurus menembus Arnon, tanpa basa-basi. “Menikah,” ucap Arthur pelan namun berat, “Tanpa satu pun pemberitahuan pada kami.” Arnon tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan kedua tangan di saku celana, posturnya santai, terlalu santai untuk situasi seperti i
Pagi datang tanpa kompromi. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai vila, menyapu lantai kayu dengan warna keemasan yang dingin. Suara ombak masih terdengar, namun kali ini tidak lagi menenangkan, hanya pengingat bahwa waktu mereka telah habis. Giselle terbangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap koper yang terbuka di lantai. Gaun-gaun ringan yang kemarin terasa indah kini tampak asing, seperti pakaian dari hidup lain yang sebentar lagi harus ia tinggalkan. Arnon masih tertidur di belakangnya, napasnya teratur, wajahnya tenang. Untuk sesaat, Giselle hanya memandangi pria itu, mencoba mengingat detail kecil yang mungkin tak akan lagi ia temui dalam suasana sesantai ini. Ia bangkit perlahan, mulai melipat pakaian dengan gerakan pelan. Setiap helai yang masuk ke dalam koper terasa seperti hitungan mundur. Arnon terjaga tak lama kemudian. “Kita harus berangkat sebelum siang,” katanya, suaranya masih serak oleh sisa tidur. Giselle mengangguk. “Aku tahu.” Tidak banyak
Marley tiba di kantor tepat waktu, rapi seperti biasa dengan setelan jas gelap, kemeja putih, dasi terikat sempurna. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda. Namun begitu ia melangkah masuk ke ruang kerjanya, pintu tertutup, dan dunia kembali sunyi, kepalanya justru semakin gaduh. Ia menjatuhkan map ke atas meja. “Brengsek…” gumamnya lirih. Kursi berputar sedikit saat Marley duduk. Ia menyalakan laptop membiarkan layar menyala, email terbuka dan laporan, grafik, revisi kontrak yang sekretaris sebutkan pagi tadi, Semua ada di sana. Semua penting, dan pekerjaan yang berat itu seharusnya cukup untuk menyibukkan pikirannya. Nyatanya, tidak satu pun masuk ke kepala Marley. Marley menatap layar tanpa benar-benar membaca. Kursor berkedip di dokumen kontrak, seolah mengejeknya karena diam terlalu lama. Fokus, Marley. Fokus! Ia mengusap wajahnya secara kasar, lalu meraih pulpen. Baru beberapa detik pulpen itu jatuh begitu saja dari jemarinya. “Kenapa selalu harus dia,” gumamnya







