Home / Rumah Tangga / Tuan Dingin & Nyonya Luka / Luka Rahasia di Pelabuhan Senja

Share

Luka Rahasia di Pelabuhan Senja

Author: Borneng
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-07 22:04:45
Senja merayap pelan di ufuk pelabuhan Tanjung Priuk. Langit jingga perlahan memudar menjadi biru tua, sementara kapal-kapal besar bergeming di dermaga, menunggu giliran bongkar muat. Di kafe kecil tak jauh dari pelabuhan, aroma kopi dan roti bakar tercium samar, bercampur dengan bau laut yang asin.

Di salah satu sudut kafe, dua sosok duduk saling diam. Meja kayu sederhana di depan mereka penuh sesak dengan tumpukan kertas sketsa, laptop yang masih menyala, serta segelas air hangat yang kini ting
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Rumah yang Dipenuhi Cahaya (TAMAT)

    Pagi di Jakarta datang dengan cahaya lembut yang menembus jendela-jendela besar rumah Kenan. Udara terasa sejuk, burung-burung berkicau di taman belakang, dan aroma teh hangat menyebar dari dapur. Rumah besar itu kini tak lagi sunyi. Ia hidup, berdenyut, penuh tawa dan langkah kecil yang berlarian.Jifanya duduk di sofa ruang keluarga dengan bantal kecil menyangga punggungnya. Perutnya yang mulai membesar membuat semua orang memperlakukannya bak ratu. Setiap geraknya diawasi dengan penuh cinta.“Ji, jangan bangun sendiri,” tegur Kenan yang baru saja keluar dari kamar mandi, masih mengenakan kaus rumah. “Panggil aku kalau mau apa-apa.”Jifanya tersenyum kecil. “Mas, aku cuma mau ambil air putih.”“Air putih juga tugas suami,” jawab Kenan sambil mengambil gelas dan menyerahkannya. Nada suaranya lembut, matanya penuh perhatian.Dari dapur, Neha memperhatikan mereka. Wanita itu kini berbeda. Tak ada lagi sorot mata tajam atau nada suara dingin. Sejak t

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ketika Senja Mengajarkan Memaafkan

    Langit senja Jakarta sore itu tampak seperti kanvas raksasa yang dilukis Tuhan dengan warna jingga dan keemasan. Awan-awan tipis bergerak perlahan, seolah ikut menjadi saksi bahwa sebuah keputusan besar baru saja diambil. Angin sore berembus lembut, namun di hati Mustofa, ayah Kenan, hembusannya terasa dingin dan berat.Pria paruh baya itu berdiri di teras rumah sederhana miliknya, memandangi jalanan yang mulai lengang. Lampu-lampu rumah warga satu per satu menyala, menandai peralihan hari. Namun pikiran Mustofa masih tertahan pada percakapan siang tadi. Keputusan Kenan untuk berdamai dengan ibunya terasa seperti batu besar yang menekan dadanya.Mustofa menghela napas panjang. Ia mengenal betul watak mantan istrinya, Neha. Wanita itu keras kepala, mudah terhasut, dan sulit mengakui kesalahan. Luka yang ia goreskan di hati Kenan dan Jifanya bukan luka kecil yang bisa sembuh hanya dengan waktu singkat.Namun sore itu, Kenan pulang dengan wajah yang b

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ada Kebahagian di Balik Musibah

    Kabar kehamilam Jifanya sampai juga ke teliga ayah. Mustofa sangat bahagia dan menagis terharu, akhirnya putranya memiliki anak kandung juga dari istrinya. Setelah menunggu lima tahun perjuangan menahlukkan hati Jifanya, akhirnya pemilik semesta mem beri hadiah terindah untuk kesabaran untuk Kenan.“Aku sangat bahagia, selamat untukmu, Nak,” ucap Mustofa di ujung telepon.“Aku sangat bahagia Ayah, Qila akan punya adik,” ujar Kenan dengan suara bergetar.“Kalian masih di rumah sakit?”“Iya Ayah, kami akan pulang, Qila pasti sudah khawatir sama Mamanya.”“Bailklah pelan-pelan bawa mobilnya, jangan sampai Jifanya, capek. Ayah akan ke rumahhmu. Dila juga sudaha ada di rumah.”Di rumah, Dila dan suaminya dan putra mereka Izam datang ke rumah Kenan, setelah Qila menelpon menangis, dia mengadu kalau mamanya sakit dan di bawa ke rumah sakit.“Tenanglah

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Kepanikan yang Membahagiakan

    Matahari sore itu menyinari halaman rumah Kenan dengan lembut. Suara tawa Aqila terdengar dari teras, bercampur dengan suara ceria Jifanya yang sedang bermain bersamanya. Rumah yang dulu sempat diselimuti kegelisahan kini mulai kembali berdenyut dengan keceriaan. Namun, di balik senyum hangat yang menghiasi wajah Kenan, ada satu hal yang tak bisa ia sembunyikan, beban di hatinya masih berat.Meski telah memaafkan ibunya, luka itu belum sembuh. Luka yang tak terlihat, tapi terus mengganggu setiap detak jantungnya.Sore itu, Kenan duduk sendirian di bangku kayu di taman depan rumah. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma bunga kenanga yang mekar di sudut halaman. Tiba-tiba, langkah ringan terdengar mendekat dari belakang. Kenan tak perlu menoleh, ia tahu itu adalah Jifanya.“Ada apa, Sayang?” suara Jifanya terdengar lembut, seperti biasa. Ia duduk di sebelah Kenan, menatapnya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu.Kenan menghela napas, panda

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Demi Cinta dan Luka yang Tertinggal

    Sore itu langit menggantung kelabu, seakan ikut menyerap semua resah yang mengendap di hati Kenan. Angin yang bertiup dari arah utara membawa aroma tanah basah, namun sama sekali tidak menenangkan pikirannya. Hari ini, di ruang tamu sebuah rumah megah namun terasa dingin tanpa kehangatan, kenyataan pahit akhirnya terkuak, pelaku penculikan Aqila bukan orang lain, melainkan darah dagingnya sendiri ibunya, Bu Neha.Polisi hebat itu sudah terbiasa menghadapi kriminal, tetapi kali ini hatinya nyaris runtuh. Seandainya pelakunya orang lain, mudah saja ia seret ke penjara tanpa ragu. Namun bagaimana jika tangan itu adalah tangan yang dulu menimangnya? Bagaimana jika pelakunya adalah perempuan yang selama ini ia junjung tinggi, yang telapak kakinya disebut-sebut sebagai pintu surga?Duduk di hadapannya, Bu Neha menunduk dengan mata bengkak. Tangisnya mungkin sudah mengering, tetapi luka yang ia tinggalkan di hati anak-anaknya baru saja menganga.“Iya,” ucap

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ketikan Pelukan Menjadi Benteng

    Hanya beberapa menit dibutuhkan untuk melumpuhkan para pelaku. Kenan berlari ke mobil, wajahnya pucat menahan marah sekaligus khawatir. Kaca belakang mobil sudah retak lebar. Ia membuka pintu dengan tergesa, memeluk Jifanya erat, lalu langsung menggendong Aqila yang menangis tersedu.“Papa…!” teriak Aqila sambil memeluk lehernya erat-erat.“Tidak apa-apa, Sayang. Papa sudah menghukum mereka,” ucap Kenan, menciumi kepala putrinya berulang-ulang. Nada suaranya bergetar, meski ia mencoba tegar.“Mereka membentak Mama sama Om Bagas,” isaknya.“Iya, Papa sudah memborgol tangan mereka. Mereka tidak akan macam-macam lagi sama Qila.”Jifanya tetap berusaha terlihat tenang. Ia tahu, jika ia ikut panik, Aqila bisa trauma. Tapi begitu Kenan memeluknya, seluruh kekuatan pura-puranya runtuh. Kakinya lemas. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, dan tangisnya pecah.Kenan menoleh ke arah Theo, rekan se

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Luka yang Tak Terlihat

    Hujan baru saja reda sore itu. Langit mendung seperti perasaan yang menggantung di dalam rumah keluarga Mustofa. Jifanya duduk di ruang belakang, diapit oleh Dila yang terus berusaha menenangkannya. Isak tangis pelan terdengar di sela-sela helaan napasnya yang berat.“Aku tidak ingin tinggal di rum

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Luka yang Tak Pernah Diobati

    Senja mulai turun pelan-pelan, membalut langit dengan warna keemasan yang mengabur, seiring bergulirnya waktu di rumah keluarga Kenan. Udara terasa lembab, seolah menyimpan banyak rahasia yang belum terucap. Suasana rumah besar itu tampak tenang di permukaan, namun ada percikan-percikan bara yang se

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Pelabuhan Luka

    Malam mulai menua di kawasan pelabuhan Tanjung Priok. Angin laut menusuk hingga ke tulang. Lampu-lampu jalan berpendar redup, menciptakan bayang-bayang panjang dari tiap kendaraan dan kontainer yang berserakan di kejauhan. Di depan sebuah pos jaga tua, dua sosok manusia bertahan melawan dingin dan

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Di Antara Janin dan Kepergian

    Senja baru saja merayap di langit kota ketika Dila, dengan amarah yang ditahan-tahan, menelepon dua pria yang sangat dikenalnya: Kenan dan Bayu. Wajahnya pucat, matanya memerah. Ia meminta mereka segera pulang. Ada hal besar yang harus diselesaikan.Tak lama kemudian, suara langkah kaki menggema di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status