MasukAdelaide menaiki undakan tangga memutar di area depan kastil menuju ke arah kastil utara tempat ia tinggal sekaligus bekerja. Beberapa langkah di depannya—Alexander berdiri menatap ke arah para ksatria dan pengawal yang tengah mengajak Ivony bermain di sana dengan gembira. Tidak pernah terbesit dalam benak Alexander bila Ivony—putri kecilnya itu ingin menjadi seorang ksatria wanita yang mungkin akan menjadi satu-satunya di Balford bila Alexander mengizinkan di kemudian hari. "Apa maksudmu membawa Ivony ke pelatihan ksatria, Adelaide?" Seperti gema dingin yang tenang menyapa pendengaran Adelaide, wanita itu baru saja berjalan satu langkah melewatinya. Dengan bergaun hijau mauve yang melekat cantik di tubuhnya, Adelaide melirik Alexander dengan bibir yang setia terkatup rapat. "Aku hanya menuruti permintaannya." Adelaide membuat suara setelah beberapa detik ia diam. "Lagipula selain aku, siapa yang akan menuruti permintaannya?" tanyanya, barulah menatap Alexander. "Kau? Tidak mung
"Ibu, ini adalah langkah pertama dari rencana Ivony, sekarang Ivony sudah siap!" Pukul tujuh pagi saat mentari bersinar terik di musim semi menyingsing atap bumi Balford—di depan gerbang pelatihan prajurit dan ksatria, Adelaide menelan ludah saat putri kecilnya mengajaknya ke sana. Adelaide melirik ekspresi Ivony yang sudah tidak sabar. "Ivony yakin, Sayang? Apa Ivony tidak takut kalau orang-orang di dalam sana berwajah seram dan berbadan besar seperti raksasa?" "Badan boleh besar, Bu. Tapi mereka masih kalah cerdas dari Ivony," jawab bocah itu santai. Kekehan lucu dan geli dari bibir Ivony membuat Adelaide merasa lega. Siapa yang menduga kalau Ivony tumbuh menjadi anak yang sangat hebat. Saat tabib memeriksa bintang kelahiran Ivony, mereka tercengang saat melihat posisi bintang kelahiran Ivony menjadi yang paling sempurna dan luar biasa untuk pertama kali dari yang pernah ada. Seorang tabib mengatakan bahwa Ivony akan menjadi anak yang sangat haus akan keingintahuan tentang b
Pertanyaan Ivony membuat Alexander mengeraskan rahang. Walaupun pada anaknya sendiri, bila sudah menyangkut Serafina—tatapannya berubah tajam seperti sedang menatap musuh kecil, hanya dalam hitungan detik. "Karena dia ... lebih berharga dibanding ibumu, dan juga dirimu!" jawab Alexander dengan suara dingin yang mencekik. Adelaide langsung menarik lengan Ivony dan menggendongnya. Wanita itu membenci jawaban Alexander yang tidak pantas diucapkan pada anak sekecil Ivony. "Kau sudah gila, Tuan Duke?! Pada anakmu sendiri kau mengatakan hal bodoh seperti ini?!" sentak Adelaide, matanya berapi-api. "Aku memberi jawaban atas pertanyaan bodoh anakmu itu! Kau jangan menyalahkanku, apalagi pada Serafina!" Alexander membalas sinis.Adelete mengepalkan tangan dan maju satu langkah siap untuk menampar. "Kau—""Huuuh... sudah, Bu!" Ivony menyela, anak itu menarik tangan Adelaide yang kini hampir terangkat. Dengan manis Ivony menatapnya. Ia menepuk-nepuk pipi sang Ibu menggunakan telapak tangann
Alexander melayangkan tatapan beku pada Serafina. Tanpa peduli masih ada beberapa tamu di sana, Alexander menarik lengan wanita itu dan membawanya untuk ikut dengannya. Serafina panik meninggalkan tamunya bergitu saja. "Sayang, apa yang kau lakukan? Aku tidak melakukan kesalahan apapun, Sayang." Berusaha membela diri di hadapan Alexander adalah hal yang selalu Serafina lakukan. Alexander masuk ke dalam ruangan pribadinya dan menutup pintu rapat-rapat sampai pria itu melepas tangan Serafina. "Apa kau tidak sadar bahwa apa yang kau lakukan saat ini adalah hal yang memalukan, Serafina!" seru Alexander pada selirnya. Sebagai jurus pamungkas Serafina langsung memasang wajahnya yang sedih. Berpura-pura seperti wanita polos dan lugu, berdandan layaknya dialah yang paling disakiti. "Memangnya aku salah ya, bila aku memarahi Ivony yang sengaja menjatuhkan kue di gaunku?" Serafina menatap kekasihnya dengan mata berkaca-kaca. "Ini gaun baruku, aku sangat menyukai gaun ini, Sayang. Aku ber
Ivony kecil gampang sekali jenuh melakukan hal yang sama di waktu yang lama. Anak itu berpamitan pada ibunya untuk pergi bermain di luar. Saat Ivony berjalan di taman bersama anjing kecilnya—anak itu melihat Serafina bersama para tamu-tamunya. Mereka sedang mengadakan pesta minum teh di halaman samping kastil. "Mengapa orang itu selalu hidupnya bersenang-senang? Sedangkan Ibu, setiap hari sangat sibuk. Tapi Ayah selalu memprioritaskan orang itu." Ivony yang bingung dan penasaran, hanya memandangnya dari jauh. "Siapa dia sebenarnya? Mengapa Ayah menyayanginya lebih dari Ayah menyayangi Ivony?" "Tuan Putri!" Ivony tersentak saat salah satu dari wanita itu memanggilnya. Ivony menatap ke depan sana. "Kemarilah, Sayang!" Serafina bangkit dari duduknya. Wanita itu melambaikan tangannya pada Ivony dan tersenyum lebar.Insting anak kecil yang selalu merasa penasaran dengan pemikiran orang-orang dewasa, Ivony pun berjalan ke arah mereka semua. Ketujuh wanita itu menyapa Ivony dengan mani
Adelaide mengajak Ivony ke dalam sebuah perpustakaan—salah satu tempat yang paling disukai oleh Ivony. Anak kecil itu berjalan mengambil satu buku di sana. Ivony memperhatikan ibunya yang sedang mencari sebuah buku untuk keperluan obat-obatan. "Ibu, apakah hari ini Ibu akan membuat obat lagi?" tanya anak itu. "Iya, Sayang. Tuan Connor sudah membuat janji dengan Ibu untuk membantu membuat obat," jawab Adelaide mengambil beberapa buku tebak di rak. "Karena banyak prajurit yang terluka di wilayah perbatasan. Para tabib akan mengumpulkan banyak obat-obatan untuk dikirimkan ke sana dan juga desa-desa di negara tetangga yang berdekatan." "Apa Ivony boleh membantu Ibu?" Dengan lucu anak itu mendekati Adelaide. Wajah lucunya seperti merayu. "Tentu saja, Sayang."Setelah mengambil satu buku, Adelaide dan Ivony kembali berjalan keluar. Tanpa sengaja, dari arah depan sana Serafina muncul bersama dua pelayan setianya. Selir itu tersenyum ramah pada Adelaide. Tapi respon datar Adelaide tidak