INICIAR SESIÓNLeah tersenyum, kemudian mengangguk paham. Gadis itu segera keluar dari ruangan untuk melaksanakan perintah bosnya.
Sesaat kemudian, Leah kembali."Nona Rose, Tuan Dexter akan menjemput Anda setengah jam lagi.""Cepat sekali..." gumam Rosalina sambil berusaha menahan senyum."Baiklah, terima kasih, Leah, kamu boleh kembali ke mejamu.""Baik, Nona."Selepas kepergian Leah, Rosalina menekan dadanya, mencoba meredam degup jantungnya yang menggila."Aku harus bertahan.Dengan santai, Ana memungut pisau lipat yang terjatuh di aspal, memainkannya sebentar di jemarinya dengan lihai, lalu menancapkannya dengan kuat di kap mesin mobil Lucy—tepat beberapa sentimeter di samping wajah Lucy yang sudah pucat pasi seperti mayat. Jleb! Lucy menjerit tertahan, menutup matanya rapat-rapat karena ketakutan. "Ini peringatan terakhir dariku, Lucy," bisik Ana tepat di depan wajah adiknya, suaranya terdengar sangat tenang namun begitu dingin menembus tulang. "Pesta pertunanganku besok akan tetap berjalan dengan atau tanpa persetujuanmu. Dan kamu... jika aku melihat wajahmu berada di sekitar hotel atau berani mengacau lagi, aku tidak akan segan untuk mengirimmu langsung menyusul ayah ke alam kubur. Apa kamu mengerti, adikku?!" Lucy mengangguk dengan cepat dengan tubuh gemetar, air matanya mengalir deras karena perasaan takut yang luar biasa. Ana berbalik, wajah dinginnya seketika mencair dan berubah menjadi senyuman manis saat menatap Adam yang berdiri terpaku den
Setelah acara lamaran yang dramatis itu, Adam segera membuat pengumuman tentang pertunangannya dengan Ana di akun media sosialnya. Tentu saja setelah memberi tahu Liliana dan teman-teman dekatnya terlebih dahulu.Berita tentang pertunangan Adam Smith dengan gadis misterius seketika menjadi perbincangan hangat di dunia maya.Sementara Adam dan Ana tengah mempersiapkan pesta pertunangan mereka, Lucy malah merencanakan sesuatu yang tujuannya tentu saja untuk menggagalkan rencana pertunangan kakaknya sendiri.Sehari sebelum acara berlangsung, Adam dan Ana mengecek kembali ballroom hotel yang akan digunakan untuk menggelar acara pertunangan mereka. Setelah semuanya sudah dipastikan aman dan sesuai dengan keinginan, mereka pun meninggalkan hotel itu.Namun di perjalanan, tiba-tiba mobil mereka dihadang oleh mobil lain.Ciiiit!Adam menginjak pedal rem secara mendadak hingga ban mobil itu berdecit keras di atas aspal. Adam menoleh cepat ke arah Ana untuk memastikan keadaannya. "Ana, kamu bai
Mendengar permintaan Lucy, ekspresi Adam langsung berubah jelek. suasana hatinya yang sejak bangun sangat baik dan cerah, seketika berubah mendung. Adam jelas ingin berkata tidak, namun Ana justru tersenyum padanya dan menjawab sebaliknya, "Baiklah, silahkan. Aku yakin kalau Adam tidak akan keberatan, benar kan?" "Tentu saja aku keberatan, aku kan-" "Ya ampun, sayang kamu jangan pelit begitu dong sama calon adik iparmu? Lucy itu kan adik aku satu-satunya, masa kamu tega tidak mau memberinya tumpangan?" Ana berkata sambil berjalan menghampiri Adam, dengan nada yang manja dia membujuk pria itu sembari menggoyang-goyangkan lengan kekasihnya itu. Adam dan Lucy sama-sama membeku di tempat. Terkejut dengan sikap Ana yang tiba-tiba berubah. Bedanya, Adam terkejut karena bahagia, sementara Lucy terkejut karena tidak terima dengan ucapan kakaknya. Adam berdehem sekali dengan keras sebelum akhirnya menjawab, "baiklah, karena pacarku yang minta, aku akan mengizinkan. Silahkan, calon adik i
Setelah mendarat dengan selamat, Adam tidak langsung mengantar Ana pulang ke rumahnya, melainkan membawa gadis itu keliling kota Malaka dalam rangka merayakan hari pertama mereka resmi berpacaran. Mereka baru pulang setelah matahari hampir tenggelam.Adam mengemudikan mobilnya sendiri dan Ana duduk di sampingnya dengan canggung. Ini adalah pertama kalinya dia diantar pulang oleh seorang pacar."Terima kasih," ucap Ana tiba-tiba.Adam menoleh ke arah gadis itu sembari mengerutkan keningnya. "Terima kasih untuk apa?" tanyanya."Karena kamu membuatku merasakan sesuatu yang bahkan tidak berani aku impikan."Pernyataan sederhana yang tulus itu membuat dada Adam terasa sesak. Meski tidak menyaksikannya secara langsung, tapi dari cerita Gerald, dia telah mengetahui tentang masa lalu Ana yang diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh lingkungannya, bahkan oleh ayahnya sendiri. Jadi, sangat wajar jika Ana merasa bersyukur atas sesuatu yang seharusnya menjadi hal lumrah bagi orang lain—seperti b
Liliana menghela napas panjang, wajahnya berubah sendu saat mengingat kenangan pahit itu."Gadis bernama Alana itu divonis mengidap tumor ganas di otak. Namun, saat itu dia tahu bahwa Kak Adam sedang mengikuti banyak ujian kompetensi dan seleksi beasiswa masuk perguruan tinggi jurusan kedokteran paling populer di Meikarta. Jadi, dia merahasiakannya dari Kak Adam."Liliana menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan keheningan malam yang dilengkapi semilir angin sejuk menemani mereka."Malam itu, kondisi Alana memburuk. Dia terus mencoba menghubungi Kak Adam, mungkin karena merasa hidupnya tidak lama lagi. Jadi, dia tidak berhenti menghubungi Kak Adam dan mengirimkan banyak pesan, tidak seperti biasanya. Namun, Kak Adam tengah menjalani ujian operasi pertamanya, jadi ponselnya memang tidak boleh dibawa masuk ke dalam ruang operasi. Hingga sampai Alana mengembuskan napas terakhirnya, dia tidak bisa bertemu dengan Kak Adam."Alana adalah luka terdalam kakaknya, juga nama yang masih tetap memb
Kale memperhatikan pasangan di hadapannya sambil menahan senyum. Pria dengan kepala plontos berperawakan tinggi besar itu kemudian mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.Sebelum pergi, Kale menepuk bahu Adam dan berkata, "Baiklah, Dokter Adam, kalau begitu saya permisi dulu. Tolong jaga calon istri Anda dengan baik. By the way, tidak perlu cemburu pada saya, bukankah saya lebih cocok jadi ayahnya Ana daripada pacar?"Kale tersenyum, kemudian melempar kedipan menggoda ke arah Ana yang sukses membuat rona merah di wajah Ana kian memerah. Gadis itu melotot ke arah Kale, namun binar wajahnya jelas tampak bahagia.Setelah Kale pergi, Ana meronta dan melepas pelukan Adam."Kale sudah pergi, Dokter Adam, lepaskan saya. Anda... tidak perlu berakting lagi."Ana mencoba menghindar. Entah kenapa dia merasa tidak mampu untuk menatap mata Adam."Siapa yang sedang berakting, Anastasia? Aku bersungguh-sungguh, termasuk perasaan kesalku karena kamu malah menyuruh
Liliana hanya menatap lurus. Jika saja Liliana melihat pemandangan itu beberapa hari lalu, hatinya mungkin akan terasa sangat sakit, tapi kali ini semuanya terasa begitu hampa, hatinya tidak lagi merasakan apa-apa. Saat dirinya semakin dekat dengan dua manusia itu, Liliana melihat Grace sekila
Saat mengatakan itu, nafasnya sedikit tertahan, suaranya bergetar. Liliana kemudian melanjutkan, "Aku menyerah, aku sudah tidak sanggup lagi." “Nak, apa yang terjadi sebenarnya?” suara nenek di seberang sana terdengar begitu terkejut. Dengan suara bergetar, Liliana mulai menceritakan semuanya. B
Liliana sudah setengah sadar ketika ambulans datang. Liliana tergeletak bersimbah darah. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Liliana sempat menengok ke bagian perut dan kakinya. Gaun putih yang dikenakan nampaknya berubah merah sebagian. Kondisi Liliana sungguh mengerikan.Melihat bagaimana
Cecilia tertawa kecil sambil melihat ke arah Liliana yang berdiri kaku di depan wastafel dapur. Raut wajahnya seperti begitu puas melihat Liliana yang tampak terluka. Tiba-tiba, suara nenek Gerald menggema di ruangan. "Kalau kau datang kesini hanya untuk menindas orang, sebaiknya kau pulang!" M







