Share

Selamat Tinggal Luka

Author: Maufy Izha
last update Last Updated: 2026-02-18 13:56:15

Saat mengatakan itu, nafasnya sedikit tertahan, kemudian melanjutkan "Aku menyerah, Aku sudah tidak sanggup lagi" Lanjutnya, kemudian Liliana mulai menceritakan semuanya. Bukan untuk mengadu, bukan untuk menciptakan permusuhan antar Nyonya besar Ford dan Gerald, melainkan agar Nyonya besar Ford mengerti alasannya harus pergi.

"Maafkan Aku nak, semua ini salahku" Suaranya terdengar sangat bergetar, Liliana menjadi sedikit panik, kemudian berkata "Nenek, ini bukan salahmu, jangan berkata seperti itu lagi, Aku menelepon agar Kamu tidak cemas dan mencariku. Aku baik-baik saja dan akan pergi bersama Kakak angkatku"

"Kemana? Kemana Kamu akan pergi? bisakah Kamu kasih tahu Aku agar Aku merasa yakin kalau Kamu akan baik-baik saja"

Liliana tampak ragu, Dia terdiam sesaat. Nenek Ford tahu bahwa Liliana takut kalau Dia akan memberitahu Gerald, jadi Dia berjanji pada Liliana.

"Lily, Aku berjanji dengan sisa umurku, Aku tidak akan memberitahu siapapun"

"Nenek...."

Setelah merasa lebih tenang, Liliana memutuskan panggilannya setelah berjanji akan segera menghubungi Nyonya tua Ford setelah sampai di negaranya tujuan.

"Aku harus kembali ke villa dulu kak"

"Setelah seperti ini pun Kamu masih sudi bertemu dengannya?"

Liliana tersenyum, sepertinya Adam salah paham, mengira bahwa dirinya kembali ke Villa tempatnya tinggal untuk bertemu Gerald. Padahal Dia kembali untuk menandatangani surat perceraian yang di berikan Gerald saat Grace baru saja kembali dari luar negeri.

"Aku kesana bukan untuk bertemu dengannya. Aku kesana untuk tanda tangan surat cerai. Karena Aku masih kesulitan untuk bergerak, Aku akan minta bantuan Kakak"

Mendengar itu, Adam merasa lega. Dia pun dengan cepat mengangguk. Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, Adam bersiap menjemput Liliana di ruangannya sebelum seseorang menabrak tubuhnya deri belakang.

"Maaf, Saya tidak sengaja" Ucapnya dengan tergesa-gesa. Adam terdiam menatapnya begitu pun orang yang tak lain adalah Gerald bersama dengan Grace dalam gendongannya.

Adam jelas mengenalnya, tapi tidak dengan Gerald.

"Kak Gege, jangan terlalu panik, aku hanya tergores pisau, tidak perlu secemas itu" Ucap Wanita itu dengan nada memarahi tapi tidak menutupi suaranya yang ingin dimanja. Jari telunjuk gadis itu memang di perban dengan kain kasa. tapi dari sudut manapun bisa terlihat bahwa itu hanyalah luka kecil, bahkan tidak ada lagi darah yang mengalir, jadi kepanikan yang Gerald tunjukkan terlihat sangat konyol di mata Adam.

Adam tiba-tiba tertawa dan itu membuat Gerald serta Grace menatapnya dengan bingung.

"Kalian sangat romantis, Aku sampai terharu loh. Pacarmu hanya tergores pisau tapi Kamu sepanik ini, apalagi kalau sudah jadi istri nanti ya kan?"

Ekspresi Gerald terlihat tidak senang, meskipun tidak mengenal pria di depannya, Gerald merasa Pria ini sedang menyindirnya?

Berbeda dengan Gerald, Grace malah tersipu malu. Adam melihat kedua pasangan itu dengan tatapan jijik dan tentu saja hanya Gerald yang merasakannya. Sambil menahan mual Adam berkata "Jangan diam saja, segera bawa pacarmu ke ICU sepertinya kalau terlalu lama mungkin Dia akan kehabisan darah"

Omong kosong! Pria ini jelas-jelas mengejeknya. Gerald merasa sangat kesal entah kenapa, Dia pun mengabaikan Adam dan berjalan menuju ke resepsionis. Adam menatap kedua orang itu dengan sinis. Baginya kelakuan Gerald dan gadis itu sangat menjijikan. Mereka memang pasangan yang cocok. Wanitanya licik sedangkan Si Pria sangat bodoh, sungguh serasi.

"Kak, Kamu darimana? kenapa lama sekali?" Tanya Liliana, Adam berdehem beberapa kali lalu tersenyum dan menjawab "Tadi antriannya agak panjang, jadi Kakak menunggu cukup lama"

"Begitu ya, baiklah... kalau begitu Kita bisa pergi sekarang?"

"Bisa, mmmm tapi dokter menyarankan Kamu untuk memakai masker wajah"

"Masker wajah? kenapa?"

"Mmm, Karena kondisimu belum terlalu pulih, udara yang berdebu dan berpolusi bisa memperburuk kondisimu"

Liliana mengangguk paham. Liliana baru saja menjalani operasi, pernafasannya saat ini juga memburuk, jadi memakai masker wajah memang solusi yang baik.

"Ya sudah, Ayo..."

Adam dan satu perawat yang menunggu, membantu Liliana yang sudah bersiap untuk berpindah ke atas kursi roda. Adam sudah menyuruh sopirnya untuk menunggu di depan lobi rumah sakit. Saat keluar dari ruang perawatan kebetulan Gerald juga baru saja keluar dari ruang dokter. Grace berdiri di sampingnya. Mereka berdua melihat Adam yang tengah mendorong seorang pasien di kursi roda. Seorang wanita yang tampak sangat familiar bagi Gerald.

Grace pun kebingungan karena melihat Gerald terus memandangi wanita itu. "Sepertinya itu adalah istrinya" Ucap Grace.

Mendengar itu, wajah Gerald menjadi lebih tidak enak dilihat. Gerald kemudian ingat bahwa tadi malam Liliana meneleponnya berpuluh-puluh kali, kemudian saat Dia menjawab teleponnya, orang lain yang berbicara. orang itu mengaku sebagai perawat dan bilang bahwa Liliana harus segera di operasi. Entah kenapa, melihat wanita yang berada di kursi roda itu langsung membuat Gerald teringat pada Liliana.

"Tunggu sebentar" Pria itu kemudian membuka ponselnya dan melakukan panggilan ke nomor Liliana. Grace juga melihatnya, ekspresinya seketika berubah masam. Tapi, melihat wajah Gerald yang begitu dingin, Ia pun hanya bisa menelan kekesalannya.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif cobalah beberapa saat lagi"

Berulang kali Gerald melakukan panggilan, hasilnya tetap sama. Tapi, hal itu justru membuatnya senang. Liliana sedang merajuk dan membalasnya karena kemarin Ia tidak memenuhi keinginan wanita itu. Operasi? omong kosong!

"Kak Gege" Suara Grace melemparkan Gerald kembali kepada kenyataan. Adam dan wanita itu juga sudah menghilang dari Pandangan. Setelah puas merajuk, Liliana pasti akan menghubunginya kembali. Wanita itu, mana pernah berani marah kepadanya. Dia tidak punya siapa-siapa sekarang. Berani marah seperti ini aja Dia sudah cukup bernyali tinggi.

"Ayo, Aku antar Kamu pulang"

"Mmmm Kak Gege, tiba-tiba Aku ingat kalau Aku belum membeli hadiah untuk ulang tahun Cecilia, bolehkah Kita mampir dulu untuk membeli sesuatu di toko perhiasan langgananku?"

"Hmn" Gerald mengangguk setuju. Mereka pun pergi ke toko perhiasan yang dimaksud oleh Grace.

Sementara itu, Liliana telah sampai di Villa Bougenville, rumah pemberian Nyonya tua Ford sebagai hadiah pernikahannya dan Gerald.

Selama 3 tahun ini, Liliana mengurus villa ini dengan sangat baik, meskipun Gerald jarang sekali pulang, tapi Dia selalu berusaha membuat suasana rumah ini nyaman dan hangat setiap kali Gerald pulang.

Liliana baru menyadari bahwa semua usahanya itu terlihat sangat konyol. Karena mencintai seseorang, Dia kehilangan jati diri. Jika saja Dia sadar lebih cepat, Anaknya mungkin tidak akan pergi.

Mengingat bayi yang telah tiada itu, hati Liliana kembali perih, tanpa sadar Ia menyentuh permukaan perutnya yang masih sedikit menonjol.

"Lily...."

"Ayo Kak, Kita masuk. Aku harus segera menyelesaikan semuanya agar Aku bisa pergi lebih cepat"

"Ok" Adam kemudian menggendong Liliana masuk ke dalam rumah. Kamar Liliana ada di lantai 1, begitu masuk, Adam mendudukkan Liliana yang atas ranjangnya.

"Surat cerainya ada di atas meja rias Kak, tolong ambilkan ya, bolpoint nya ada di laci"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Aku Akan Bekerja Keras

    "Sudahlah, jangan banyak bicara. Pergilah, Aku sangat sibuk hari ini" "Ya,ya, baiklah. Tapi malam ini Kamu harus datang, Aku, Kak David, kak Randy dan Kak Grace akan menyiapkan makan malam istimewa, Kakak jangan sampai tidak datang, Ok?" "Ok, Aku akan datang, tapi mungkin sedikit terlambat" Ujarnya dengan malas. "nggak masalah, yang penting kakak datang! kalau gitu Aku akan kasih tahu yang lain" "hmn, terserahlah" Melihat kepasrahan kakaknya, Cecilia tampak lebih gembira. Dia sudah mengatur pesta kecil yang istimewa untuk Kakak dan calon Kakak ipar kesayangannya. Semacam pesta untuk mengingat memori indah keduanya saat masih bersama. Dan Cecilia sudah berencana untuk mengirim foto-foto momen pesta itu pada Liliana agar wanita itu sadar akan posisinya! Setelah mendapat lampu hijau, Cecilia dengan riang meninggalkan ruangan Gerald dengan langkah ringan dan ceria kemudian menghubungi teman-teman Gerald termasuk Grace bahwa Dia sudah berhasil melakukan misinya. Sementara di

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Menghilang Tanpa Jejak

    Gerald membeku di tempat sambil bergumam Bayi itu meninggal? Bagaimana mungkin. Kemarin... Seketika kenangan semalam menyambar ingatannya. Dia telah menurunkan Liliana di tengah jalan karena harus pergi menemui Grace yang tiba-tiba demam. Dia tidak berfikir panjang karena perasaan bencinya pada wanita itu kian menumpuk hingga tidak tahan walau hanya menghabiskan waktu sebentar bersama dengannya. "Tuan Ford, apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanya perawat itu. Gerald menatapnya dengan tatapan kosong. Kenyataan pahit yang baru saja di dengarnya membuatnya sedikit linglung. Meskipun Ia marah saat mengetahui Liliana hamil tapi bukan berarti Ia membenci anaknya sendiri. "Kapan Liliana keluar dari rumah sakit?" "Berdasarkan data di komputer, beliau meninggalkan rumah sakit 3 jam yang lalu Tuan" "Baiklah" Gerald menarik nafas dalam-dalam dengan kening berkerut. Ia kemudian pergi dari rumah sakit itu dan berniat untuk kembali ke Villa dan mencari petunjuk, namun di tengah perjalanan

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Tidak Tahu Diri

    "Ok" Adam menuruti perkataan Liliana. Surat cerai itu memang masih tergeletak diatas meja rias. Adam meraihnya, Lalu memberikannya pada Liliana beserta dengan bolpoint nya. Liliana membaca sekali lagi isi surat perceraian itu. Kompensasi yang di berikan Gerald cukup banyak, tapi Dia tidak membutuhkannya. Liliana segera membubuhkan tanda tangannya dengan cepat lalu menutup dokumen itu. Ia juga melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya bersama dengan surat cerai itu diatas meja rias. Liliana memandangi kamar yang sudah di tempatinya selama 3 tahun ini. kamar itu penuh dengan foto-foto pernikahannya dan Gerald. "Kak, Aku ingin membuang semua foto itu" "Aku bantu" Setelahnya, Adam dengan cepat mencopot bangkai-bangkai foto yang menempel di dinding dan rak pajangan, lalu membuangnya sekaligus di tempat sampah. "Ada lagi?" "Tidak ada, Aku hanya membawa sedikit pakaian saat pertama kali datang kesini. Aku hanya ingin membawa itu dan kotak peninggalan Bibi Rosita di lemari

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Selamat Tinggal Luka

    Saat mengatakan itu, nafasnya sedikit tertahan, kemudian melanjutkan "Aku menyerah, Aku sudah tidak sanggup lagi" Lanjutnya, kemudian Liliana mulai menceritakan semuanya. Bukan untuk mengadu, bukan untuk menciptakan permusuhan antar Nyonya besar Ford dan Gerald, melainkan agar Nyonya besar Ford mengerti alasannya harus pergi. "Maafkan Aku nak, semua ini salahku" Suaranya terdengar sangat bergetar, Liliana menjadi sedikit panik, kemudian berkata "Nenek, ini bukan salahmu, jangan berkata seperti itu lagi, Aku menelepon agar Kamu tidak cemas dan mencariku. Aku baik-baik saja dan akan pergi bersama Kakak angkatku" "Kemana? Kemana Kamu akan pergi? bisakah Kamu kasih tahu Aku agar Aku merasa yakin kalau Kamu akan baik-baik saja" Liliana tampak ragu, Dia terdiam sesaat. Nenek Ford tahu bahwa Liliana takut kalau Dia akan memberitahu Gerald, jadi Dia berjanji pada Liliana. "Lily, Aku berjanji dengan sisa umurku, Aku tidak akan memberitahu siapapun" "Nenek...." Setelah merasa lebih

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Nenek, Aku Harus Pergi

    Liliana sudah setengah sadar ketika ambulans datang. Liliana tergeletak bersimbah darah. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Liliana sempat menengok ke bagian perut dan kakinya. Gaun putih yang dikenakan nampaknya berubah merah sebagian. Kondisi Liliana sungguh mengerikan.Melihat bagaimana parahnya kondisi wanita itu, para petugas ambulance yang datang langsung membawa Liliana ke rumah sakit. Petugas itu bergegas memindahkannya ke dalam tandu dan segera membawanya ke rumah sakit.*** “Ah…”Liliana mengerang saat ia membuka matanya perlahan. Ada nyeri luar biasa yang dia rasakan di sekujur tubuhnya. “Nyonya?” panggil seseorang yang tak dikenalnya. Liliana mengerjap, berusaha mencerna keadaan. Ah, pasti perawat yang membawanya ke sini.Liliana mengangguk, menandakan bahwa ia dapat mendengar perawat itu.“Nyonya, maaf, tadi kami menelepon nomor darurat di ponsel milik Nyonya. Kami menghubungi suami Nyonya,” ucap perawat itu pelan. “Penanganan kondisi Nyonya harus mendapat per

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Dijebak

    Cecilia tertawa kecil sambil melihat ke arah Liliana yang berdiri kaku di depan wastafel dapur. Raut wajahnya seperti begitu puas melihat Liliana yang tampak terluka. Tiba-tiba, suara nenek Gerald menggema di ruangan. "Kalau kau datang kesini hanya untuk menindas orang, sebaiknya kau pulang!" Mendengar suara itu, Cecilia langsung terdiam kemudian bersembunyi di balik tubuh Ibunya. "Ibu...." "Diam! Susan, didik anak perempuanmu dengan benar agar ia tidak kehilangan akal, apa dia tidak malu menindas orang yang telah menyelamatkan nyawa kakaknya? Kalau tidak ada Liliana, Gerald tidak mungkin berdiri disini sekarang! Kapan kalian akan mengerti! Uhuk!" Saking marahnya, nenek Gerald terbatuk dan wajahnya sampai menggelap. Amarahnya begitu memuncak melihat Liliana lagi-lagi diperlakukan seperti pembantu. Gerald yang berdiri disana langsung menghampiri neneknya dan ingin memapahnya, tapi nenek Gerald menolak. "Tidak perlu,” sanggahnya. Mendengar nada sang nenek yang dingin itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status