LOGINCecilia tertawa kecil sambil melihat ke arah Liliana yang berdiri kaku di depan wastafel dapur. Raut wajahnya seperti begitu puas melihat Liliana yang tampak terluka.
Tiba-tiba, suara nenek Gerald menggema di ruangan. "Kalau kau datang kesini hanya untuk menindas orang, sebaiknya kau pulang!"
Mendengar suara itu, Cecilia langsung terdiam kemudian bersembunyi di balik tubuh Ibunya.
"Ibu...."
"Diam! Susan, didik anak perempuanmu dengan benar agar ia tidak kehilangan akal, apa dia tidak malu menindas orang yang telah menyelamatkan nyawa kakaknya? Kalau tidak ada Liliana, Gerald tidak mungkin berdiri disini sekarang! Kapan kalian akan mengerti! Uhuk!"
Saking marahnya, nenek Gerald terbatuk dan wajahnya sampai menggelap. Amarahnya begitu memuncak melihat Liliana lagi-lagi diperlakukan seperti pembantu.
Gerald yang berdiri disana langsung menghampiri neneknya dan ingin memapahnya, tapi nenek Gerald menolak.
"Tidak perlu,” sanggahnya.
Mendengar nada sang nenek yang dingin itu, Gerald terdiam. wajahnya jadi terlihat lebih dingin.
"Susan, jangan sampai menyesal. Suatu saat nanti, jika dunia ini berubah dan Kamu membutuhkan bantuannya, Kamu tidak akan punya muka untuk bertemu dengannya," ucap sang nyonya besar Ford.
Susan Ford mengerutkan keningnya.
Nenek tidak ingin lagi melanjutkan perdebatan, ia kemudian memanggil Liliana dari dapur untuk makan bersama. Liliana ingin menolak, tapi melihat wajah nenek Gerald yang selalu penuh kelembutan membuat Liliana luluh.
Acara makan malam pun di mulai, semua anggota keluarga tampak sangat tidak nyaman dengan keberadaan Liliana, tapi nenek Gerald tidak peduli.
Baginya, Liliana adalah harta yang berharga. Orang yang benar-benar tulus kepadanya dibandingkan dengan semua anggota keluarga Ford.
"Makanlah yang banyak, kamu sedang hamil besar, kenapa semakin kurus?” tanya nenek Gerald sambil meletakan beberapa potongan daging ke mangkuk Liliana.
Susan dan Cecilia serta anggota keluarga Ford yang lain melihatnya dengan wajah masam, terutama Bibi Gerald, Diana Ford.
"Sayang sekali, anak yang dikandungnya adalah perempuan, jika saja anak itu laki-laki tentu Susan dan Robert lebih bahagia, bukan begitu kakak ipar?" kata Diana Ford.
Susan hanya tersenyum sebagai tanggapan, matanya berkilat dingin saat mendengar kata ‘anak’. Liliana hanya bisa terdiam. Ia tahu bahwa ibu mertuanya tidak menginginkan cucu perempuan.
"Memangnya kenapa kalau anak perempuan?” sela nenek Gerald. “Liliana dan Gerald masih muda, masih bisa punya anak lagi. Aku juga perempuan, aku menjalankan perusahaan ini selama hampir separuh hidupku. Kau pikir sekarang kau bisa makan enak kalau bukan karena aku yang menghabiskan masa mudaku demi membangun bisnis keluarga Ford?"
Nenek Gerald sangat murka, mendengar putri keduanya merendahkan makna perempuan.
Semua orang tahu bahwa keluarga Ford bisa berdiri kokoh seperti ini adalah karena usaha si nyonya besar Ford setelah suaminya meninggal karena kecelakaan. Itu sebabnya, semua anggota keluarga Ford bahkan keluarga suaminya sangat menghormatinya.
Tapi, anaknya sendiri berani merendahkan makna perempuan.
"Kalau kau datang kesini hanya untuk membuatku marah, sebaiknya pergi saja sana,” lanjut nenek Gerald tajam.
Diana langsung dibuat bungkam. Setelahnya, tidak ada lagi yang berbicara.
Liliana merasa terharu dan hangat saat nenek mencurahkan perhatian padanya seperti ini, mengingatkannya pada mendiang Bibinya yang telah meninggal satu tahun lalu.
Tapi, sikap seperti ini juga membuatnya terbebani, karena anggota keluarga Ford terutama ibu mertua dan adik iparnya semakin gencar membenci dirinya.
Semenara itu, acara makan malam selesai dalam keheningan.
Saat hendak pulang, nenek memberikan sebungkus hadiah berisi berbagai macam vitamin untuk Liliana. Nenek berkata pada Liliana bahwa ia ingin Liliana dan Gerald menginap malam ini, tapi Gerald dengan tegas menolaknya karena dirinya harus pergi pagi-pagi untuk perjalanan bisnis.
Di dalam mobil, suasana di antara mereka berdua kembali hening.
Liliana pun tidak berniat membuka topik pembicaraan karena tubuhnya sudah cukup lelah. Tiba-tiba, ponsel Gerald berdering dan sekilas. Liliana bisa melihat nama siapa yang tertera di layar ponsel suaminya itu. Grace Natalie.
Liliana menundukkan kepalanya saat Gerald dengan lembut berbicara dengan wanita itu, Meski sudah memutuskan untuk melepaskan perasaannya, tapi hatinya tetap merasa sakit.
Gerald adalah cinta pertamanya dan perasaannya telah tumbuh terlalu dalam, efek kehamilannya juga membuatnya jauh lebih sensitif. Tapi, apa yang bisa dirinya lakukan? Pria ini jelas-jelas tidak menginginkannya sama sekali!
"Turun!" pinta Gerald tiba-tiba. Liliana menoleh, sepertinya suaminya sudah selesai menelepon wanita itu.
"Apa?" Liliana meragukan pendengarannya sesaat.
"Aku bilang turun!" ulang pria itu, ekspresinya semakin terlihat tidak sabar.
Liliana bergumam pelan, suaranya bergetar. "Di sini? Tapi ini hampir tengah malam.."
Gerald tidak menjawab, pria itu malah meminta sopirnya untuk segera menepikan mobil. Sang sopir pun hanya bisa diam dan patuh.
Liliana tahu ia sedang diusir, tapi bagaimana bisa Gerald setega itu?
"Tidak bisakah kamu turunkan aku di halte bus terdekat? Aku benar-benar tidak tahu jalan di sini…" ucap Liliana pelan.
"Itu bukan urusanku," balas Gerald. Liliana tercengang.
Maka, Liliana tidak punya pilihan lain. Setelah meraih tasnya yang terletak di sampingnya, ia pun turun dari mobil. Tidak sampai 10 detik, mobil Gerald melaju dengan cepat meninggalkannya.
Liliana kemudian meraih ponselnya, hendak memesan taksi.
Tapi tiba-tiba dari kejauhan sebuah lampu mobil yang menyilaukan bergerak cepat ke arahnya, Liliana secara refleks mundur ke belakang dan jatuh tersungkur.
Rasa sakit yang menusuk tulang menyergap tubuhnya. Tak lama kemudian Ia merasakan cairan hangat mengalir deras di sela-sela kakinya. Liliana panik bukan main.
Mobil di depannya itu lalu berhenti, Liliana menatapnya dengan terkejut, sebelum kepala seseorang menyembul keluar sambil mengejeknya.
"Rasakan kau! semoga Kamu dan anakmu mati disini!"
Setelahnya, mobil itu melaju cepat, meninggalkan Liliana yang tergeletak kesakitan.
"Cecilia…? Kenapa kau melakukan ini padaku…"
Liliana meringis dan menangis kesakitan. Ia berusaha berteriak meminta tolong, tapi tempat itu sangat sepi. Liliana kemudian meraih ponselnya, mencoba menelepon Gerald tapi panggilannya ditolak berkali-kali.
"Gerald…. Aku mohon… selamatkan anak kita…" ia terus merintih kepada udara, sambil terus berupaya menelepon sampai akhirnya nomor Gerald benar-benar tidak bisa di hubungi.
Tidak ada cara lain selain menghubungi nomor darurat ambulans.
Liliana merasakan pergerakan di perutnya mulai melemah, ia benar-benar merasakan setiap detiknya, bayinya mulai tidak bergerak.
"Tidak, sayang bertahanlah, Mama mohon... bertahanlah, jangan tinggalkan Mama... sayang, tolong...."
Jika terjadi sesuatu pada bayinya, Liliana bersumpah tidak akan memaafkan orang-orang itu, tidak akan pernah!
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Pergilah, Aku sangat sibuk hari ini" "Ya,ya, baiklah. Tapi malam ini Kamu harus datang, Aku, Kak David, kak Randy dan Kak Grace akan menyiapkan makan malam istimewa, Kakak jangan sampai tidak datang, Ok?" "Ok, Aku akan datang, tapi mungkin sedikit terlambat" Ujarnya dengan malas. "nggak masalah, yang penting kakak datang! kalau gitu Aku akan kasih tahu yang lain" "hmn, terserahlah" Melihat kepasrahan kakaknya, Cecilia tampak lebih gembira. Dia sudah mengatur pesta kecil yang istimewa untuk Kakak dan calon Kakak ipar kesayangannya. Semacam pesta untuk mengingat memori indah keduanya saat masih bersama. Dan Cecilia sudah berencana untuk mengirim foto-foto momen pesta itu pada Liliana agar wanita itu sadar akan posisinya! Setelah mendapat lampu hijau, Cecilia dengan riang meninggalkan ruangan Gerald dengan langkah ringan dan ceria kemudian menghubungi teman-teman Gerald termasuk Grace bahwa Dia sudah berhasil melakukan misinya. Sementara di
Gerald membeku di tempat sambil bergumam Bayi itu meninggal? Bagaimana mungkin. Kemarin... Seketika kenangan semalam menyambar ingatannya. Dia telah menurunkan Liliana di tengah jalan karena harus pergi menemui Grace yang tiba-tiba demam. Dia tidak berfikir panjang karena perasaan bencinya pada wanita itu kian menumpuk hingga tidak tahan walau hanya menghabiskan waktu sebentar bersama dengannya. "Tuan Ford, apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanya perawat itu. Gerald menatapnya dengan tatapan kosong. Kenyataan pahit yang baru saja di dengarnya membuatnya sedikit linglung. Meskipun Ia marah saat mengetahui Liliana hamil tapi bukan berarti Ia membenci anaknya sendiri. "Kapan Liliana keluar dari rumah sakit?" "Berdasarkan data di komputer, beliau meninggalkan rumah sakit 3 jam yang lalu Tuan" "Baiklah" Gerald menarik nafas dalam-dalam dengan kening berkerut. Ia kemudian pergi dari rumah sakit itu dan berniat untuk kembali ke Villa dan mencari petunjuk, namun di tengah perjalanan
"Ok" Adam menuruti perkataan Liliana. Surat cerai itu memang masih tergeletak diatas meja rias. Adam meraihnya, Lalu memberikannya pada Liliana beserta dengan bolpoint nya. Liliana membaca sekali lagi isi surat perceraian itu. Kompensasi yang di berikan Gerald cukup banyak, tapi Dia tidak membutuhkannya. Liliana segera membubuhkan tanda tangannya dengan cepat lalu menutup dokumen itu. Ia juga melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya bersama dengan surat cerai itu diatas meja rias. Liliana memandangi kamar yang sudah di tempatinya selama 3 tahun ini. kamar itu penuh dengan foto-foto pernikahannya dan Gerald. "Kak, Aku ingin membuang semua foto itu" "Aku bantu" Setelahnya, Adam dengan cepat mencopot bangkai-bangkai foto yang menempel di dinding dan rak pajangan, lalu membuangnya sekaligus di tempat sampah. "Ada lagi?" "Tidak ada, Aku hanya membawa sedikit pakaian saat pertama kali datang kesini. Aku hanya ingin membawa itu dan kotak peninggalan Bibi Rosita di lemari
Saat mengatakan itu, nafasnya sedikit tertahan, kemudian melanjutkan "Aku menyerah, Aku sudah tidak sanggup lagi" Lanjutnya, kemudian Liliana mulai menceritakan semuanya. Bukan untuk mengadu, bukan untuk menciptakan permusuhan antar Nyonya besar Ford dan Gerald, melainkan agar Nyonya besar Ford mengerti alasannya harus pergi. "Maafkan Aku nak, semua ini salahku" Suaranya terdengar sangat bergetar, Liliana menjadi sedikit panik, kemudian berkata "Nenek, ini bukan salahmu, jangan berkata seperti itu lagi, Aku menelepon agar Kamu tidak cemas dan mencariku. Aku baik-baik saja dan akan pergi bersama Kakak angkatku" "Kemana? Kemana Kamu akan pergi? bisakah Kamu kasih tahu Aku agar Aku merasa yakin kalau Kamu akan baik-baik saja" Liliana tampak ragu, Dia terdiam sesaat. Nenek Ford tahu bahwa Liliana takut kalau Dia akan memberitahu Gerald, jadi Dia berjanji pada Liliana. "Lily, Aku berjanji dengan sisa umurku, Aku tidak akan memberitahu siapapun" "Nenek...." Setelah merasa lebih
Liliana sudah setengah sadar ketika ambulans datang. Liliana tergeletak bersimbah darah. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Liliana sempat menengok ke bagian perut dan kakinya. Gaun putih yang dikenakan nampaknya berubah merah sebagian. Kondisi Liliana sungguh mengerikan.Melihat bagaimana parahnya kondisi wanita itu, para petugas ambulance yang datang langsung membawa Liliana ke rumah sakit. Petugas itu bergegas memindahkannya ke dalam tandu dan segera membawanya ke rumah sakit.*** “Ah…”Liliana mengerang saat ia membuka matanya perlahan. Ada nyeri luar biasa yang dia rasakan di sekujur tubuhnya. “Nyonya?” panggil seseorang yang tak dikenalnya. Liliana mengerjap, berusaha mencerna keadaan. Ah, pasti perawat yang membawanya ke sini.Liliana mengangguk, menandakan bahwa ia dapat mendengar perawat itu.“Nyonya, maaf, tadi kami menelepon nomor darurat di ponsel milik Nyonya. Kami menghubungi suami Nyonya,” ucap perawat itu pelan. “Penanganan kondisi Nyonya harus mendapat per
Cecilia tertawa kecil sambil melihat ke arah Liliana yang berdiri kaku di depan wastafel dapur. Raut wajahnya seperti begitu puas melihat Liliana yang tampak terluka. Tiba-tiba, suara nenek Gerald menggema di ruangan. "Kalau kau datang kesini hanya untuk menindas orang, sebaiknya kau pulang!" Mendengar suara itu, Cecilia langsung terdiam kemudian bersembunyi di balik tubuh Ibunya. "Ibu...." "Diam! Susan, didik anak perempuanmu dengan benar agar ia tidak kehilangan akal, apa dia tidak malu menindas orang yang telah menyelamatkan nyawa kakaknya? Kalau tidak ada Liliana, Gerald tidak mungkin berdiri disini sekarang! Kapan kalian akan mengerti! Uhuk!" Saking marahnya, nenek Gerald terbatuk dan wajahnya sampai menggelap. Amarahnya begitu memuncak melihat Liliana lagi-lagi diperlakukan seperti pembantu. Gerald yang berdiri disana langsung menghampiri neneknya dan ingin memapahnya, tapi nenek Gerald menolak. "Tidak perlu,” sanggahnya. Mendengar nada sang nenek yang dingin itu,






