Share

Tidak Tahu Diri

Author: Maufy Izha
last update Last Updated: 2026-02-18 13:56:18

"Ok" Adam menuruti perkataan Liliana. Surat cerai itu memang masih tergeletak diatas meja rias. Adam meraihnya, Lalu memberikannya pada Liliana beserta dengan bolpoint nya.

Liliana membaca sekali lagi isi surat perceraian itu. Kompensasi yang di berikan Gerald cukup banyak, tapi Dia tidak membutuhkannya. Liliana segera membubuhkan tanda tangannya dengan cepat lalu menutup dokumen itu. Ia juga melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya bersama dengan surat cerai itu diatas meja rias.

Liliana memandangi kamar yang sudah di tempatinya selama 3 tahun ini. kamar itu penuh dengan foto-foto pernikahannya dan Gerald.

"Kak, Aku ingin membuang semua foto itu"

"Aku bantu"

Setelahnya, Adam dengan cepat mencopot bangkai-bangkai foto yang menempel di dinding dan rak pajangan, lalu membuangnya sekaligus di tempat sampah.

"Ada lagi?"

"Tidak ada, Aku hanya membawa sedikit pakaian saat pertama kali datang kesini. Aku hanya ingin membawa itu dan kotak peninggalan Bibi Rosita di lemari bajuku kak"

Adam kembali mengangguk. saat membuka lemari, ia langsung melihat ransel usang yang sangat di kenalinya dibawahnya ada kotak yang baru saja di bicarakan oleh Liliana. Ia segera mengambilnya dan memasukannya ke dalam ransel.

"Ada lagi?" Tanya Adam. Liliana menggelengkan kepalanya. Setelah itu, Adam kembali menggendongnya turun dan segera masuk ke mobil. Tanpa Ragu, Liliana menutup pintu mobil Adam dan berkata " Ayo pergi kak"

Adam merasa sangat puas dengan keputusan Liliana, Dengan penuh semangat Ia pun melajukan mobilnya menuju bandara.

Tak lama berselang, sebuah mobil terparkir di depan gerbang villa itu.

"Kemarin Aku menabraknya cukup parah. Kalau tidak ada di rumah, berati Dia berada di rumah sakit kan? gawat kalau sampai Dia berkata yang tidak-tidak pada Nenek!"

Cecilia pun langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Gerald sudah memberitahu sandi rumah itu sejak lama, jadi selama ini, Dia bisa keluar masuk villa ini sesuka hatinya.

Begitu masuk, Cecilia tidak menemukan adanya tanda-tanda kehidupan di sana. Liliana memang tidak menggunakan layanan pembantu, Dia mengurus rumah ini sendiri. Cecilia langsung naik ke lantai atas, menuju ke kamar Liliana. Kamar itu juga kosong. Tapi saat mengedarkan pandangannya, ada sesuatu yang mencuri perhatian Cecilia. Foto-foto pernikahan yang tadinya berjejer rapi di dinding kini berpindah ke dalam tong sampah. Gadis itu mengernyitkan keningnya.

"Trik apa lagi yang di mainkan oleh wanita tidak tahu diri itu?"

Cecilia pun mengambil potret dari bangkai-bangkai yang teronggok di tempat sampah itu dan mengirimkannya pada Gerald dan Grace, dan menulis caption :

"Lihatlah, drama apalagi yang sedang wanita ini mainkan? mungkin Dia berfikir dengan bertingkah seperti ini, Kak Gerald akan meliriknya"

Pesan dari Cecilia sudah terkirim, tapi belum dibaca. Gadis itu pun memutuskan untuk meninggalkan Villa. Dia yakin saat ini Liliana pasti ada di rumah sakit. tapi, Rumah sakit di kota ini ada banyak, dimana Dia harus mencarinya ? Tapi, setelah di pikir-pikir lagi, memangnya kenapa kalau Liliana berani mengatakan bahwa Dia yang telah menabraknya? Tidak akan ada yang mempercayai wanita itu kan? Mengingat hal itu, Cecilia tertawan kecil. Dia pun kembali merasa yakin bahwa meskipun Liliana mengatakan yang sebenarnya, Wanita itu tidak memiliki bukti, juga, keluarga besar Ford tidak ada yang menyukainya jadi bisa dipastikan tidak akan ada yang percaya pada ucapan wanita itu.

Disisi lain,

Setelah mengantarkan Grace berkeliling untuk mencari hadiah untuk ulang tahun Cecilia, Gerald memutuskan untuk pulang ke villa. Entah kenapa seteymelihat foto yang dikirim oleh Cecilia, pikirannya terus teringat pada Liliana. Apalagi sampai detik ini nomor telepon wanita itu juga tidak bisa di hubungi. pesan pun hanya centang satu.

Sesampainya di rumah, Gerald melangkahkan kakinya yang lebar menaiki anak tangga satu persatu, penampilannya agak berantakan dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Pria itu menatap lurus ke arah pintu kamar uang yang dulu sangat ia benci. Kamar Liliana. Baru saja membuka pintu, Ia langsung di suguhkan pemandangan yang ada di foto itu. akhirnya Dia benar-benar melihat foto-foto pernikahan yang sudah dianggap seperti jimat oleh Liliana kini terbuang begitu saja di tong sampah. Gerald masuk lebih dalam sambil mencari-cari sesuatu untuk dijadikan petunjuk. Kemudian atensinya tercuri oleh benda mengkilap yang memantulkan cahaya diatas meja rias Liliana.

Pria itu melangkahkan kakinya perlahan-lahan menuju meja rias itu dengan tangan terkepal erat. Benda yang berkilau itu ternyata adalah cincin pernikahan Mereka yang tidak pernah lepas sedetik pun dari jari manis Liliana.

Dan, surat cerai. Surat cerai yang Gerald berikan beberapa waktu lalu setelah berpikir panjang, masih tergeletak rapi disana, hingga dugaan bahwa Liliana sudah menandatanganinya menyerbu ke dalam pikirannya. Gerald mengambil cincin pernikahan itu dengan tatapan rumit, lalu memasukannya ke dalam saku jasnya, setelah itu membuka dokumen perceraian itu dan menemukan bahwa Liliana sudah membubuhkan tanda tangan beserta nama lengkapnya disana.

Lalu, bagaimana dengan bayi itu?

Masih mencoba, Gerald kembali menghubungi nomer telepon Liliana dan lagi-lagi nomernya tidak aktif.

Gerald terdiam beberapa saat. Ia kembali mengingat alasannya begitu membenci Liliana. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan wanita itu, Gerald hanya tidak mencintainya. Tapi, jika saja Liliana menolak saat dijodohkan dengannya, Gerald pasti akan memberikan harta yang lebih dari cukup untuk menghidupi Liliana karena jasanya yang telah menyelamatkan Gerald. Tapi, wanita itu malah mengaku jatuh cinta padanya, hingga Ia harus merelakan cintanya pada Grace dan membuat gadis itu akhirnya pergi. Terlebih-lebih setelah Liliana berhasil mengandung anaknya. Gerald menjadi jauh lebih membencinya, menganggap wanita itu tidak tahu diri.

Tapi, mengetahui Liliana menghilang seperti ini juga membuatnya marah. Apalagi jika Neneknya sampai tahu, ini pasti akan menjadi masalah.

Gerald pun memutar otak, tidak ada salahnya jika Ia memastikan apakah benar Liliana mengalami kecelakaan dan harus di operasi?

Gerald menutup kembali dokumen perceraian itu kemudian membawanya, dengan langajhbceoat Ia menuruni anak tangga dan pergi ke rumah sakit.

Sesampainya disana...

"Ya, benar, kemarin malam ada pasien bernama Liliana Santoso. Tapi hari ini sudah pulang" Ucap perawat itu. Gerald terdiam dengan pikiran berkecamuk, yang ada dalam benaknya adalah bagaimana keadaan Liliana dan Bayinya sekarang.

"Apa yang terjadi padanya?" Tanyanya. Perawat itu mendongak. Kebetulan Dia adalah perawat yang menghubungi Gerald malam itu.

Saat melihat wajah Gerald yang sangat familiar, perawat itu menjadi gugup. "Anda... Tuan muda Ford?"

"Ya..."

"Mmm, apa hubungan Anda dengan pasien itu?" Tanya perawat itu lagi. Dia tidak bisa mengatakan informasi tentang pasien kepada orang lain begitu saja meskipun itu adalah Gerald Ford.

"Katakan saja jika ada yang perlu di katakan, Dia... anggota keluarga Ford"

"Begitu ya. pasien tersebut sudah pulang bersama kakaknya beberapa jam yang lalu. Dia mengalami kecelakaan, sepertinya korban tabrak lari. Saat di jemput oleh ambulance, kondisinya sangat mengenaskan, apalagi Dia sedang hamil kan? Sayang sekali bayinya tidak bisa di selamatkan dan meninggal, jenazahnya sudah di kremasi pagi ini atas izin dari Nyonya Liliana"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Aku Akan Bekerja Keras

    "Sudahlah, jangan banyak bicara. Pergilah, Aku sangat sibuk hari ini" "Ya,ya, baiklah. Tapi malam ini Kamu harus datang, Aku, Kak David, kak Randy dan Kak Grace akan menyiapkan makan malam istimewa, Kakak jangan sampai tidak datang, Ok?" "Ok, Aku akan datang, tapi mungkin sedikit terlambat" Ujarnya dengan malas. "nggak masalah, yang penting kakak datang! kalau gitu Aku akan kasih tahu yang lain" "hmn, terserahlah" Melihat kepasrahan kakaknya, Cecilia tampak lebih gembira. Dia sudah mengatur pesta kecil yang istimewa untuk Kakak dan calon Kakak ipar kesayangannya. Semacam pesta untuk mengingat memori indah keduanya saat masih bersama. Dan Cecilia sudah berencana untuk mengirim foto-foto momen pesta itu pada Liliana agar wanita itu sadar akan posisinya! Setelah mendapat lampu hijau, Cecilia dengan riang meninggalkan ruangan Gerald dengan langkah ringan dan ceria kemudian menghubungi teman-teman Gerald termasuk Grace bahwa Dia sudah berhasil melakukan misinya. Sementara di

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Menghilang Tanpa Jejak

    Gerald membeku di tempat sambil bergumam Bayi itu meninggal? Bagaimana mungkin. Kemarin... Seketika kenangan semalam menyambar ingatannya. Dia telah menurunkan Liliana di tengah jalan karena harus pergi menemui Grace yang tiba-tiba demam. Dia tidak berfikir panjang karena perasaan bencinya pada wanita itu kian menumpuk hingga tidak tahan walau hanya menghabiskan waktu sebentar bersama dengannya. "Tuan Ford, apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanya perawat itu. Gerald menatapnya dengan tatapan kosong. Kenyataan pahit yang baru saja di dengarnya membuatnya sedikit linglung. Meskipun Ia marah saat mengetahui Liliana hamil tapi bukan berarti Ia membenci anaknya sendiri. "Kapan Liliana keluar dari rumah sakit?" "Berdasarkan data di komputer, beliau meninggalkan rumah sakit 3 jam yang lalu Tuan" "Baiklah" Gerald menarik nafas dalam-dalam dengan kening berkerut. Ia kemudian pergi dari rumah sakit itu dan berniat untuk kembali ke Villa dan mencari petunjuk, namun di tengah perjalanan

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Tidak Tahu Diri

    "Ok" Adam menuruti perkataan Liliana. Surat cerai itu memang masih tergeletak diatas meja rias. Adam meraihnya, Lalu memberikannya pada Liliana beserta dengan bolpoint nya. Liliana membaca sekali lagi isi surat perceraian itu. Kompensasi yang di berikan Gerald cukup banyak, tapi Dia tidak membutuhkannya. Liliana segera membubuhkan tanda tangannya dengan cepat lalu menutup dokumen itu. Ia juga melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya bersama dengan surat cerai itu diatas meja rias. Liliana memandangi kamar yang sudah di tempatinya selama 3 tahun ini. kamar itu penuh dengan foto-foto pernikahannya dan Gerald. "Kak, Aku ingin membuang semua foto itu" "Aku bantu" Setelahnya, Adam dengan cepat mencopot bangkai-bangkai foto yang menempel di dinding dan rak pajangan, lalu membuangnya sekaligus di tempat sampah. "Ada lagi?" "Tidak ada, Aku hanya membawa sedikit pakaian saat pertama kali datang kesini. Aku hanya ingin membawa itu dan kotak peninggalan Bibi Rosita di lemari

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Selamat Tinggal Luka

    Saat mengatakan itu, nafasnya sedikit tertahan, kemudian melanjutkan "Aku menyerah, Aku sudah tidak sanggup lagi" Lanjutnya, kemudian Liliana mulai menceritakan semuanya. Bukan untuk mengadu, bukan untuk menciptakan permusuhan antar Nyonya besar Ford dan Gerald, melainkan agar Nyonya besar Ford mengerti alasannya harus pergi. "Maafkan Aku nak, semua ini salahku" Suaranya terdengar sangat bergetar, Liliana menjadi sedikit panik, kemudian berkata "Nenek, ini bukan salahmu, jangan berkata seperti itu lagi, Aku menelepon agar Kamu tidak cemas dan mencariku. Aku baik-baik saja dan akan pergi bersama Kakak angkatku" "Kemana? Kemana Kamu akan pergi? bisakah Kamu kasih tahu Aku agar Aku merasa yakin kalau Kamu akan baik-baik saja" Liliana tampak ragu, Dia terdiam sesaat. Nenek Ford tahu bahwa Liliana takut kalau Dia akan memberitahu Gerald, jadi Dia berjanji pada Liliana. "Lily, Aku berjanji dengan sisa umurku, Aku tidak akan memberitahu siapapun" "Nenek...." Setelah merasa lebih

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Nenek, Aku Harus Pergi

    Liliana sudah setengah sadar ketika ambulans datang. Liliana tergeletak bersimbah darah. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Liliana sempat menengok ke bagian perut dan kakinya. Gaun putih yang dikenakan nampaknya berubah merah sebagian. Kondisi Liliana sungguh mengerikan.Melihat bagaimana parahnya kondisi wanita itu, para petugas ambulance yang datang langsung membawa Liliana ke rumah sakit. Petugas itu bergegas memindahkannya ke dalam tandu dan segera membawanya ke rumah sakit.*** “Ah…”Liliana mengerang saat ia membuka matanya perlahan. Ada nyeri luar biasa yang dia rasakan di sekujur tubuhnya. “Nyonya?” panggil seseorang yang tak dikenalnya. Liliana mengerjap, berusaha mencerna keadaan. Ah, pasti perawat yang membawanya ke sini.Liliana mengangguk, menandakan bahwa ia dapat mendengar perawat itu.“Nyonya, maaf, tadi kami menelepon nomor darurat di ponsel milik Nyonya. Kami menghubungi suami Nyonya,” ucap perawat itu pelan. “Penanganan kondisi Nyonya harus mendapat per

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Dijebak

    Cecilia tertawa kecil sambil melihat ke arah Liliana yang berdiri kaku di depan wastafel dapur. Raut wajahnya seperti begitu puas melihat Liliana yang tampak terluka. Tiba-tiba, suara nenek Gerald menggema di ruangan. "Kalau kau datang kesini hanya untuk menindas orang, sebaiknya kau pulang!" Mendengar suara itu, Cecilia langsung terdiam kemudian bersembunyi di balik tubuh Ibunya. "Ibu...." "Diam! Susan, didik anak perempuanmu dengan benar agar ia tidak kehilangan akal, apa dia tidak malu menindas orang yang telah menyelamatkan nyawa kakaknya? Kalau tidak ada Liliana, Gerald tidak mungkin berdiri disini sekarang! Kapan kalian akan mengerti! Uhuk!" Saking marahnya, nenek Gerald terbatuk dan wajahnya sampai menggelap. Amarahnya begitu memuncak melihat Liliana lagi-lagi diperlakukan seperti pembantu. Gerald yang berdiri disana langsung menghampiri neneknya dan ingin memapahnya, tapi nenek Gerald menolak. "Tidak perlu,” sanggahnya. Mendengar nada sang nenek yang dingin itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status