Share

Nenek, Aku Harus Pergi

Author: Maufy Izha
last update Last Updated: 2026-02-18 13:56:12

Liliana sudah setengah sadar ketika ambulans datang. 

 Liliana tergeletak bersimbah darah. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Liliana sempat menengok ke bagian perut dan kakinya. Gaun putih yang dikenakan nampaknya berubah merah sebagian. 

Kondisi Liliana sungguh mengerikan.

Melihat bagaimana parahnya kondisi wanita itu, para petugas ambulance yang datang langsung membawa Liliana ke rumah sakit.

  Petugas itu bergegas memindahkannya ke dalam tandu dan segera membawanya ke rumah sakit.

*** 

“Ah…”

Liliana mengerang saat ia membuka matanya perlahan. Ada nyeri luar biasa yang dia rasakan di sekujur tubuhnya. 

“Nyonya?” panggil seseorang yang tak dikenalnya. Liliana mengerjap, berusaha mencerna keadaan. Ah, pasti perawat yang membawanya ke sini.

Liliana mengangguk, menandakan bahwa ia dapat mendengar perawat itu.

“Nyonya, maaf, tadi kami menelepon nomor darurat di ponsel milik Nyonya. Kami menghubungi suami Nyonya,” ucap perawat itu pelan. “Penanganan kondisi Nyonya harus mendapat persetujuan keluarga, namun …” 

Perawat itu menatap Liliana lama. Liliana membaca tatapan kasihan dari perawat itu, seolah ia paham arah bicaranya. 

“Suami Nyonya nampaknya menolak untuk memegang tanggung jawab,” kata si perawat dengan hati-hati.

Liliana hanya bisa menghela napasnya. Liliana tidak lagi terkejut. Memang apa yang bisa ia harapkan dari Gerald yang sudah membencinya?

Ia tidak mampu memberikan penjelasan karena rasa sakit yang masih menjalar. Jadi, dengan cepat Liliana membuat keputusan untuk menelepon kakak angkatnya.

Liliana melirik ponselnya yang ada di meja kecil di sampingnya.

“Tolong bukakan kunci teleponnya, sandi 250525 dan bantu saya menelepon kakak saya, nama kontaknya Adam Smith," ucap Liliana dengan lebih tenang. 

Perawat itu pun menuruti permintaan Liliana dengan patuh. Ia nampak mencari kontak itu dan segera melakukan panggilan setelah berhasil menemukan namanya. 

Tak lama, telepon tersambung. Perawat itu memberikan ponsel kepada Liliana.

 "Halo, Lily, ada apa?" suara terdengar begitu khawatir. Tentu saja, sekarang hampir setengah dua pagi dan Liliana tiba-tiba meneleponnya. 

  "Kak Adam, tolong aku..." 

  Setelah menjelaskan secara singkat dan mendapatkan kepastian bahwa Adam akan datang ke rumah sakit besok pagi untuk menandatangani surat persetujuan, penanganan lanjutan pun segera dilakukan. 

Bayi didalam kandungan Liliana memang sudah tidak bisa diselamatkan. Namun, perlu dilakukan operasi agar tubuh Liliana terasa nyaman. 

Di sisa-sisa kesadarannya, ia masih teringat tawa mengejek dari Cecilia dari dalam mobil. Di dalam mobil itu juga masih ada orang lain. Liliana tidak tahu siapa itu, tapi sepertinya Liliana tidak asing dengan siluet tubuh itu. 

   Setelah menjalani operasi selama hampir 5 jam, Liliana dibawa ke ruang perawatan, sementara jasad bayinya dibawa ke ruang jenazah.

  Keesokan paginya, Liliana tersadar dan merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. 

  Adam, kakak angkatnya. Putra tunggal dari Bibi Rosita Santoso yang telah mengasuhnya sejak kecil. 

    Mengingat betapa sengsara hidupnya 3 tahun terakhir, kemudian melihat wajah Adam yang selalu tampak lembut dan penuh kasih, membuat Liliana tidak kuasa menahan air matanya. 

  "Kakak..." 

  "Sssst... Jangan menangis, semuanya sudah berlalu.”

  "Bayiku.... Mereka membunuh bayiku…!" ucapnya pilu. 

Adam menggenggam tangan Liliana lebih erat. Raut wajahnya berubah, Liliana sadar itu. Ada amarah yang tergambar di sana.

   "Mereka akan mendapatkan balasannya, Lily, Kamu tenang saja, Aku tidak akan mengampuni mereka semua, orang-orang tidak tahu diri yang bahkan tidak tahu cara membalas budi." 

  "Tidak perlu kak, aku yang akan membalas mereka di masa depan, saat ini, tolong bawa aku pergi. Aku ingin menyembuhkan lukaku terlebih dahulu." 

  Adam mengangguk. Rautnya terlihat semakin prihatin melihat Liliana yang tampak sangat kurus dan lemah. 

   Padahal dulu, Liliana adalah gadis tercantik di desanya, wajah tirus alami dengan mata bulat yang penuh semangat, kulitnya cerah disempurnakan dengan rambut ikal bergelombang berwarna cokelat. Liliana sangat cantik seperti boneka. 

  "Kak, aku ingin bercerai dengan Gerald.”

Adam tidak terkejut mendengarnya. Ia hanya mengangguk. “Lakukanlah.”

 “Tapi, aku ingin menyelesaikan perceraianku sebelum pergi dan memberitahu nenek Gerald terlebih dahulu." 

   "Kenapa kamu harus memberitahunya?" 

   "Dia satu-satunya keluarga Ford yang baik padaku," sahut Liliana, ia mencoba meyakinkan Adam. Adam pun nampak luluh dan mengiyakan.

   Setelahnya, Liliana menghubungi nenek Gerald. Seperti biasa, jika Liliana yang menelpon, nenek akan langsung menjawabnya dengan cepat. 

  "Halo? Kamu di mana, Nak?" 

Liliana mengambil napas berat. Keputusannya sudah bulat.

   "Nenek, aku.... harus pergi." 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Aku Akan Bekerja Keras

    "Sudahlah, jangan banyak bicara. Pergilah, Aku sangat sibuk hari ini" "Ya,ya, baiklah. Tapi malam ini Kamu harus datang, Aku, Kak David, kak Randy dan Kak Grace akan menyiapkan makan malam istimewa, Kakak jangan sampai tidak datang, Ok?" "Ok, Aku akan datang, tapi mungkin sedikit terlambat" Ujarnya dengan malas. "nggak masalah, yang penting kakak datang! kalau gitu Aku akan kasih tahu yang lain" "hmn, terserahlah" Melihat kepasrahan kakaknya, Cecilia tampak lebih gembira. Dia sudah mengatur pesta kecil yang istimewa untuk Kakak dan calon Kakak ipar kesayangannya. Semacam pesta untuk mengingat memori indah keduanya saat masih bersama. Dan Cecilia sudah berencana untuk mengirim foto-foto momen pesta itu pada Liliana agar wanita itu sadar akan posisinya! Setelah mendapat lampu hijau, Cecilia dengan riang meninggalkan ruangan Gerald dengan langkah ringan dan ceria kemudian menghubungi teman-teman Gerald termasuk Grace bahwa Dia sudah berhasil melakukan misinya. Sementara di

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Menghilang Tanpa Jejak

    Gerald membeku di tempat sambil bergumam Bayi itu meninggal? Bagaimana mungkin. Kemarin... Seketika kenangan semalam menyambar ingatannya. Dia telah menurunkan Liliana di tengah jalan karena harus pergi menemui Grace yang tiba-tiba demam. Dia tidak berfikir panjang karena perasaan bencinya pada wanita itu kian menumpuk hingga tidak tahan walau hanya menghabiskan waktu sebentar bersama dengannya. "Tuan Ford, apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanya perawat itu. Gerald menatapnya dengan tatapan kosong. Kenyataan pahit yang baru saja di dengarnya membuatnya sedikit linglung. Meskipun Ia marah saat mengetahui Liliana hamil tapi bukan berarti Ia membenci anaknya sendiri. "Kapan Liliana keluar dari rumah sakit?" "Berdasarkan data di komputer, beliau meninggalkan rumah sakit 3 jam yang lalu Tuan" "Baiklah" Gerald menarik nafas dalam-dalam dengan kening berkerut. Ia kemudian pergi dari rumah sakit itu dan berniat untuk kembali ke Villa dan mencari petunjuk, namun di tengah perjalanan

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Tidak Tahu Diri

    "Ok" Adam menuruti perkataan Liliana. Surat cerai itu memang masih tergeletak diatas meja rias. Adam meraihnya, Lalu memberikannya pada Liliana beserta dengan bolpoint nya. Liliana membaca sekali lagi isi surat perceraian itu. Kompensasi yang di berikan Gerald cukup banyak, tapi Dia tidak membutuhkannya. Liliana segera membubuhkan tanda tangannya dengan cepat lalu menutup dokumen itu. Ia juga melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya bersama dengan surat cerai itu diatas meja rias. Liliana memandangi kamar yang sudah di tempatinya selama 3 tahun ini. kamar itu penuh dengan foto-foto pernikahannya dan Gerald. "Kak, Aku ingin membuang semua foto itu" "Aku bantu" Setelahnya, Adam dengan cepat mencopot bangkai-bangkai foto yang menempel di dinding dan rak pajangan, lalu membuangnya sekaligus di tempat sampah. "Ada lagi?" "Tidak ada, Aku hanya membawa sedikit pakaian saat pertama kali datang kesini. Aku hanya ingin membawa itu dan kotak peninggalan Bibi Rosita di lemari

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Selamat Tinggal Luka

    Saat mengatakan itu, nafasnya sedikit tertahan, kemudian melanjutkan "Aku menyerah, Aku sudah tidak sanggup lagi" Lanjutnya, kemudian Liliana mulai menceritakan semuanya. Bukan untuk mengadu, bukan untuk menciptakan permusuhan antar Nyonya besar Ford dan Gerald, melainkan agar Nyonya besar Ford mengerti alasannya harus pergi. "Maafkan Aku nak, semua ini salahku" Suaranya terdengar sangat bergetar, Liliana menjadi sedikit panik, kemudian berkata "Nenek, ini bukan salahmu, jangan berkata seperti itu lagi, Aku menelepon agar Kamu tidak cemas dan mencariku. Aku baik-baik saja dan akan pergi bersama Kakak angkatku" "Kemana? Kemana Kamu akan pergi? bisakah Kamu kasih tahu Aku agar Aku merasa yakin kalau Kamu akan baik-baik saja" Liliana tampak ragu, Dia terdiam sesaat. Nenek Ford tahu bahwa Liliana takut kalau Dia akan memberitahu Gerald, jadi Dia berjanji pada Liliana. "Lily, Aku berjanji dengan sisa umurku, Aku tidak akan memberitahu siapapun" "Nenek...." Setelah merasa lebih

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Nenek, Aku Harus Pergi

    Liliana sudah setengah sadar ketika ambulans datang. Liliana tergeletak bersimbah darah. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Liliana sempat menengok ke bagian perut dan kakinya. Gaun putih yang dikenakan nampaknya berubah merah sebagian. Kondisi Liliana sungguh mengerikan.Melihat bagaimana parahnya kondisi wanita itu, para petugas ambulance yang datang langsung membawa Liliana ke rumah sakit. Petugas itu bergegas memindahkannya ke dalam tandu dan segera membawanya ke rumah sakit.*** “Ah…”Liliana mengerang saat ia membuka matanya perlahan. Ada nyeri luar biasa yang dia rasakan di sekujur tubuhnya. “Nyonya?” panggil seseorang yang tak dikenalnya. Liliana mengerjap, berusaha mencerna keadaan. Ah, pasti perawat yang membawanya ke sini.Liliana mengangguk, menandakan bahwa ia dapat mendengar perawat itu.“Nyonya, maaf, tadi kami menelepon nomor darurat di ponsel milik Nyonya. Kami menghubungi suami Nyonya,” ucap perawat itu pelan. “Penanganan kondisi Nyonya harus mendapat per

  • Tuan Ford, Kita Sudah Bercerai   Dijebak

    Cecilia tertawa kecil sambil melihat ke arah Liliana yang berdiri kaku di depan wastafel dapur. Raut wajahnya seperti begitu puas melihat Liliana yang tampak terluka. Tiba-tiba, suara nenek Gerald menggema di ruangan. "Kalau kau datang kesini hanya untuk menindas orang, sebaiknya kau pulang!" Mendengar suara itu, Cecilia langsung terdiam kemudian bersembunyi di balik tubuh Ibunya. "Ibu...." "Diam! Susan, didik anak perempuanmu dengan benar agar ia tidak kehilangan akal, apa dia tidak malu menindas orang yang telah menyelamatkan nyawa kakaknya? Kalau tidak ada Liliana, Gerald tidak mungkin berdiri disini sekarang! Kapan kalian akan mengerti! Uhuk!" Saking marahnya, nenek Gerald terbatuk dan wajahnya sampai menggelap. Amarahnya begitu memuncak melihat Liliana lagi-lagi diperlakukan seperti pembantu. Gerald yang berdiri disana langsung menghampiri neneknya dan ingin memapahnya, tapi nenek Gerald menolak. "Tidak perlu,” sanggahnya. Mendengar nada sang nenek yang dingin itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status