MasukNamun saat itu… Tak seorang pun menyadari… Bahwa di tempat yang sangat jauh, di Dimensi Atas… Nathan tidak sedang bergerak. Tidak sedang bertarung. Melainkan… Sedang berjuang untuk membangkitkan kembali jiwanya yang putus asa. … Cahaya keemasan masih menyelimuti ruangan itu. Hangat. Tenang. Namun ketenangan itu terasa rapuh. Nathan masih terbaring di atas ranjang emas. Tubuhnya tidak bergerak. Napasnya lemah. Seolah hanya tersisa sedikit saja kehidupan di dalam dirinya. Di sampingnya… Ravina menggenggam tangannya erat. Matanya mulai memerah. Bibirnya bergetar. “Kau tidak boleh seperti ini…” suaranya pelan, hampir berbisik. Namun tidak ada jawaban. Tidak ada reaksi. Hening. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali… Ketakutan itu benar-benar muncul. Ravina menggertakkan giginya. Lalu tiba-tiba berdiri. “Senior!” suaranya menggema di ruangan. “Kalau kau masih di sini, tolong keluar dan bantulah aku!” Tidak butuh waktu lama… Sosok pria tua itu muncul dar
Suasana di dalam restoran itu masih dipenuhi ketegangan. Semua orang duduk dalam diam, memikirkan hal yang sama. Rania menghilang. Nathan pergi mencarinya. Dan sampai sekarang… belum kembali. Paul Oscar akhirnya berdiri. Wajahnya tegang, sorot matanya dipenuhi amarah yang tertahan. “Aku tidak bisa diam saja seperti ini.” Suaranya berat, penuh tekanan sebagai seorang jenderal. “Aku akan mengerahkan pasukanku. Kita sisir seluruh wilayah. Aku tidak peduli harus membongkar setiap sudut negeri ini… aku akan menemukan putriku.” Beberapa orang terdiam. Tidak ada yang langsung menjawab. Namun sebelum Paul melangkah lebih jauh… “Tidak bisa, Paman.” Suara itu lembut, namun tegas. Mila berdiri. Tatapannya lurus ke arah Paul. Ucapan itu langsung membuat suasana berubah. Paul menoleh, alisnya mengernyit. “Apa maksudmu?” Nada suaranya mulai meninggi. “Putriku hilang. Dan kau melarangku bergerak?” Aura militer yang terbiasa memerintah mulai terasa di ruang
Begitulah… Kabar menghilangnya Nathan menyebar dengan cepat. Mahasiswa paling bersinar dari Universitas Negeri Senantara, pemenang olimpiade antar kampus, tiba-tiba tidak muncul tanpa penjelasan. ... Sore itu… Di kota Heaven. Di lingkungan Central Heaven University. Seorang gadis berdiri di depan jendela asrama, menatap langit yang mulai meredup. Elvira Colin. Ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat tatapannya berubah. Eva Mclycon. Ia langsung mengangkatnya. “El, kamu sudah dengar kabar tentang Nathan?” Suara di seberang terdengar serius. Elvira menghela napas pelan. “Sudah, Ev. Aku bahkan sudah mengajukan cuti selama satu pekan. Aku akan berangkat ke Metropolis sore ini juga. Kamu bagaimana?” Hening sejenak. Lalu suara Eva kembali terdengar. “Aku juga sudah mengajukan cuti.” Tidak perlu penjelasan panjang. Tidak perlu perdebatan. Keduanya saling memahami. Karena ini tentang satu orang. Nathan. Pria yang tanpa mereka sadari… sudah
Sementara itu di Bumi Tengah... Langit di atas Universitas Negeri Sentantara tampak cerah seperti biasa. Namun suasana di dalamnya justru terasa berbeda. Sejak pagi, bisikan mulai menyebar di antara para mahasiswa. Awalnya hanya percakapan ringan, namun perlahan berubah menjadi kegelisahan yang sulit disembunyikan. “Nathan belum kembali?” “Bukannya hari ini harusnya ada penyambutan resmi?” “Kenapa tidak ada pengumuman apa pun dari kampus?” Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan. Namun tidak ada satu pun yang mampu memberikan jawaban. Karena bahkan pihak kampus sendiri pun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Nathan, mahasiswa paling berprestasi yang menjadi kebanggaan kampus, seharusnya hari ini berdiri di atas panggung kehormatan. Kemenangannya dalam olimpiade antar kampus seharusnya dirayakan dengan meriah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia menghilang. Tanpa jejak. Tanpa penjelasan. Dan bukan hanya dia. Dua mahasiswi terbaik yang dikenal dekat d
Udara di halaman Sekte Lembah Jiwa terasa tegang. Lingkaran para murid wanita yang mengelilingi Nasha dan Laqisha semakin rapat. Aura mereka saling bertabrakan, menciptakan tekanan yang cukup untuk membuat tanah di bawah kaki retak halus. Namun di tengah semua itu… Kedua gadis itu tetap tenang. Seolah semua tekanan itu tidak berarti apa-apa. Seorang gadis melangkah maju. Rambutnya pendek sebahu, sorot matanya tajam. Gadis itu Gina. Aura Raja Suci tahap awal terpancar dari tubuhnya. Ia menatap langsung ke arah Laqisha. “Kalau hanya bicara, semua orang bisa,” katanya dingin. “Tunjukkan kemampuanmu.” Laqisha tersenyum tipis. “Baik,” jawabnya santai. Tanpa banyak gerakan… Ia melangkah maju. Dalam sekejap, keduanya sudah saling berhadapan di tengah lingkaran. Tidak ada aba-aba. Tidak ada hitungan. Gina langsung bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat cepat, pedangnya menebas lurus ke arah leher Laqisha. Namun… Gerakan itu terlalu mudah dibaca. Laqisha hanya memiringkan
Ruang batu yang luas itu dipenuhi aura gelap yang menekan. Dindingnya dipenuhi ukiran kuno yang memancarkan energi asing, seolah menyimpan sejarah panjang yang penuh darah. Di tengah ruangan, tubuh Rania terbaring tak berdaya. Segel energi membungkus seluruh tubuhnya seperti rantai tak kasat mata, mengunci setiap aliran kekuatan di dalam dirinya. Aura Raja Suci tahap awal yang ia miliki sama sekali tidak bisa digunakan. Di hadapannya, seorang pria berdiri dengan tangan di belakang punggungnya. Tatapannya tajam dan dingin, seperti ular yang sedang mengamati mangsanya. Nara Aolong. Di sampingnya, Raka berdiri dengan ekspresi tenang, seolah semua ini hanyalah bagian dari rencana yang telah ia perhitungkan sejak awal. “Jadi ini gadis naga yang kau maksud?” Suara Nara rendah, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa berat. Tatapannya jatuh pada tubuh Rania."Iya Ayah." Beberapa saat Nara hanya diam, mengamati Rania tanpa berkedip. Lalu perlahan, alisnya men
"Terima kasih, sayang. Kau sangat baik padaku, aku benar-benar tidak salah memilih dirimu sebagai calon suami," puji Nasha. "Bukannya biasanya aku ini pria jahat? Kalau dipikir-pikir, sebenarnya yang jahat itu kau. Tega-teganya kau manfaatkan aku di saat aku tak berdaya," gerutu Nathan. "Bukannya
"Kebetulan sekali, jadi kau adalah kekasih dari dua gadis itu. Sekarang kau bisa melihat pertunjukan yang bagus. Kami semua akan menikmati dua gadis kesayanganmu itu di depan matamu," ujar Anton yang ketenangannya sudah kembali. Dia tidak lagi merasakan ancaman dari Nathan. Bagaimanapun mereka men
"Bibi Jangga menuduh ayahku pernah melecehkannya. Fitnah kejam itu membuat semua orang marah pada Bibi Jangga, karena para anggota Aula Penghakiman lebih mempercayai ayahku. Tujuh orang suci yang dulu dipilih oleh kakek bahkan dengan tegas menolak semua tuduhan Bibi Jangga. Tapi ada satu penjaga ya
Dengan refleks cepat, Nathan memutar badan dan mengarahkan tinjunya pada sosok bayangan itu. “Buk.” Suara tinju Nathan menghantam sesuatu yang lembut, membuat Nathan mengernyit. “Dasar pria jahat, kau ingin membunuhku ya? Untung saja aku menyiapkan bantal ini,” omel sosok bayangan itu setenga







