Home / Fantasi / Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz / Bab 38. Binatang Buas yang Tak Berperasaan

Share

Bab 38. Binatang Buas yang Tak Berperasaan

last update Last Updated: 2025-12-02 05:49:15

"Bibi Jangga menuduh ayahku pernah melecehkannya. Fitnah kejam itu membuat semua orang marah pada Bibi Jangga, karena para anggota Aula Penghakiman lebih mempercayai ayahku. Tujuh orang suci yang dulu dipilih oleh kakek bahkan dengan tegas menolak semua tuduhan Bibi Jangga. Tapi ada satu penjaga yang mengaku pernah menyaksikan ayahku melecehkan Bibi Jangga. Saat itu banyak orang yang semula tidak percaya, mendadak mempercayai tuduhan itu."

"Setelah itu ayahku memilih mengasingkan diri bersama
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 218. Klasemen yang Berubah

    Dua hari setelah pengumuman diskualifikasi MIU A dan MIU B, aula utama olimpiade kembali dipenuhi peserta.Namun kali ini tidak ada sorakan.Tidak ada ejekan.Hanya ketegangan yang tenang.Layar digital raksasa menyala perlahan. Nama MIU A dan MIU B sudah tidak ada. Semua pertandingan yang melibatkan keduanya resmi dihapus. Poin mereka dianulir. Rekor mereka tidak pernah ada.Ketua panitia berdiri di tengah podium.“Seluruh klasemen telah dihitung ulang. Hanya pertandingan sah antar tim yang tersisa yang menjadi dasar penilaian.”Kini hanya tersisa enam tim.UNS A.UNS B.CHU A.CHU B.BII A.BII B.Semua tim itu memang sudah saling bertemu satu sama lain. Artinya masing-masing menjalani lima pertandingan sah setelah MIU dihapus.Layar mulai menampilkan hasil akhir.Di posisi puncak berdiri UNS A.Lima pertandingan. Lima kemenangan. Tanpa kekalahan.Mereka mengalahkan CHU A, BII A, BII B, CHU B, dan bahkan UNS B. Tidak ada celah dalam catatan mereka.Di bawahnya, UNS B mengamankan pos

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 217. Sanksi dan Kejatuhan Reputasi

    Setelah pertempuran berakhir, arena tidak langsung kembali tenang. Petugas keamanan internal dan tim medis masuk secara terkoordinasi. Area dibersihkan dari puing puing retakan lantai, sisa energi yang masih mengambang dinetralkan oleh divisi pengendali aura. Anggota MIU B yang masih hidup diamankan tanpa perlawanan berarti. Wajah mereka kosong, kehilangan arah setelah runtuhnya seluruh formasi. Beberapa individu yang terlibat dalam manipulasi identitas dan distribusi pil terlarang langsung dipisahkan untuk investigasi khusus. Data rekaman, sensor energi, hingga log administrasi peserta dikumpulkan sebagai bukti resmi. Penonton dipulangkan lebih cepat dari jadwal. Olimpiade dihentikan sementara. Berita menyebar cepat ke seluruh kompleks akademi. Rapat darurat panitia inti digelar malam itu juga. Perwakilan dari setiap akademi utama hadir sebagai saksi transparansi keputusan. Layar besar di ruang sidang menampilkan ulang momen penyamaran Ranggan dan Gandra sebagai mahasiswa MIU A

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 216. Penghancuran Total

    Tubuh Ranggan belum sepenuhnya membisu ketika Gandra meraung. Raungan itu memecah udara arena. Bukan sekadar kemarahan. Itu kehilangan yang merobek kesadaran. Aura raksasanya meledak liar tanpa kendali. Tanah di bawah kakinya pecah membentuk lingkaran retakan besar. “RANGGAN!” Ia menerjang tanpa perhitungan. Rabik mencoba menghadang, tetapi hantaman Gandra kali ini jauh lebih brutal. Roger terdorong mundur. Shadow Chameleon melompat menghindari sapuan lengannya. Nasha dan Chelyna terpaksa membuka jarak. Gandra mengangkat kedua tangannya tinggi. Energi merah tua bergetar tidak stabil di sekeliling tubuhnya. Ia berniat mengakhiri semuanya dalam satu ledakan nekat. Nathan bergerak. Dalam satu kedipan mata ia sudah berada di sisi leher raksasa itu. Satu pukulan pendek menghantam retakan lama di sana. Retakan itu pecah. Gandra tersendat. Nathan berputar dan menghantam sendi lututnya. Raksasa itu roboh keras mengguncang arena. Ia masih mencoba bangkit. Namun Nathan sudah b

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 215. Runtuhnya Sang Pemimpin Raksasa

    Retakan di tubuh Ranggan tidak lagi bisa disembunyikan.Aura merah tua yang menyelimutinya berkedip seperti api yang kehabisan bahan bakar.Namun ia tidak jatuh.Belum.Raksasa itu menarik napas panjang.Tanah di bawah kakinya kembali retak saat ia memaksa tubuhnya berdiri tegak.Di sisi arena, Stuart menyadari perubahan itu.“Ketua mulai melemah!” serunya.Hansen mencoba kembali menghantam barier, tetapi Billy dan Richard kini menekan balik tanpa memberi celah.Roni terdesak mundur oleh kombinasi Seno dan Reno.Marco dan Braga mempersempit ruang gerak mereka.Untuk pertama kalinya…Formasi klan raksasa goyah.Di tengah arena, Ranggan menatap Nathan.Tatapannya tidak lagi penuh keyakinan mutlak.Kini ada sesuatu yang lain.Kesadaran.“Kau pikir… ini akhir dari darah raksasa?” suaranya berat namun stabil.Nathan melangkah mendekat.“Ini akhir dari kesombonganmu.”Ranggan tertawa pelan.Retakan di dadanya semakin melebar.“Kau mengusir Jangga… menghancurkan pengaruh kami… dan sekarang k

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 214. Bentrokan Dua Pemimpin

    Ledakan ketiga jauh lebih besar dari dua sebelumnya. Nathan muncul tepat di atas kepala Ranggan, lalu menghantamkan tekanan angin yang terkonsentrasi seperti palu raksasa. Ranggan sempat mengangkat kedua tangannya. Namun kali ini… Ia terdorong mundur. Kaki raksasanya menciptakan parit panjang di arena saat tubuhnya bergeser mundur beberapa meter. Penonton yang masih tersisa di tribun terdiam. Untuk pertama kalinya sejak berubah ke wujud raksasa… Ranggan mundur. Namun bukan hanya dua pemimpin itu yang bergerak. Di sisi arena, Stuart menyipitkan mata. “Jangan biarkan mereka fokus satu lawan satu,” ujarnya singkat. Hansen dan Roni langsung menyebar. Mereka tidak menuju Nathan. Mereka menuju barier. Hansen menghantam sisi utara dengan teknik kompresi energi bertubi-tubi. Retakan tipis muncul. Billy langsung bereaksi. “Utara terancam!” Richard memperkuat lapisan dalam barier, menahan gelombang tekanan yang berusaha menembus. Di sisi barat, Roni mencoba menerobos dengan

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 213. Para Raksasa Mengamuk

    Tekanan belum sepenuhnya stabil ketika Gandra bergerak lebih dulu. Dia langsung berubah bentuk, tubuhnya membesar dengan cepat.Tubuh raksasa itu langsung melesat. Tanpa memberi aba-aba. Tanah arena retak di titik pijakannya. Tubuh besarnya meluncur seperti proyektil menuju Nathan, tangan kanannya terangkat, siap menghantam sebelum siapa pun sempat bereaksi. Namun seseorang sudah menunggu. Rabik. Ia melompat dari sisi kiri dengan timing yang presisi. Tubuhnya berputar di udara, menghantam lengan Gandra tepat sebelum serangan itu mencapai Nathan. DUUMM! Benturan pertama mengguncang barier. Gandra terdorong setengah langkah. Rabik mendarat dengan satu lutut menekan tanah, retakan menyebar dari bawah kakinya. “Akulah Lawanmu,” ucap Rabik pendek. Gandra menyeringai dalam wujud raksasanya. “Manusia lemah.” Ia mengayunkan tangan kiri kali ini, lebih cepat, lebih berat. Rabik menahan dengan kedua lengan, namun terdorong mundur beberapa meter, meninggalkan jejak gesekan panjang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status