LOGINSetelah pertempuran berakhir, arena tidak langsung kembali tenang. Petugas keamanan internal dan tim medis masuk secara terkoordinasi. Area dibersihkan dari puing puing retakan lantai, sisa energi yang masih mengambang dinetralkan oleh divisi pengendali aura. Anggota MIU B yang masih hidup diamankan tanpa perlawanan berarti. Wajah mereka kosong, kehilangan arah setelah runtuhnya seluruh formasi. Beberapa individu yang terlibat dalam manipulasi identitas dan distribusi pil terlarang langsung dipisahkan untuk investigasi khusus. Data rekaman, sensor energi, hingga log administrasi peserta dikumpulkan sebagai bukti resmi. Penonton dipulangkan lebih cepat dari jadwal. Olimpiade dihentikan sementara. Berita menyebar cepat ke seluruh kompleks akademi. Rapat darurat panitia inti digelar malam itu juga. Perwakilan dari setiap akademi utama hadir sebagai saksi transparansi keputusan. Layar besar di ruang sidang menampilkan ulang momen penyamaran Ranggan dan Gandra sebagai mahasiswa MIU A
Tubuh Ranggan belum sepenuhnya membisu ketika Gandra meraung. Raungan itu memecah udara arena. Bukan sekadar kemarahan. Itu kehilangan yang merobek kesadaran. Aura raksasanya meledak liar tanpa kendali. Tanah di bawah kakinya pecah membentuk lingkaran retakan besar. “RANGGAN!” Ia menerjang tanpa perhitungan. Rabik mencoba menghadang, tetapi hantaman Gandra kali ini jauh lebih brutal. Roger terdorong mundur. Shadow Chameleon melompat menghindari sapuan lengannya. Nasha dan Chelyna terpaksa membuka jarak. Gandra mengangkat kedua tangannya tinggi. Energi merah tua bergetar tidak stabil di sekeliling tubuhnya. Ia berniat mengakhiri semuanya dalam satu ledakan nekat. Nathan bergerak. Dalam satu kedipan mata ia sudah berada di sisi leher raksasa itu. Satu pukulan pendek menghantam retakan lama di sana. Retakan itu pecah. Gandra tersendat. Nathan berputar dan menghantam sendi lututnya. Raksasa itu roboh keras mengguncang arena. Ia masih mencoba bangkit. Namun Nathan sudah b
Retakan di tubuh Ranggan tidak lagi bisa disembunyikan.Aura merah tua yang menyelimutinya berkedip seperti api yang kehabisan bahan bakar.Namun ia tidak jatuh.Belum.Raksasa itu menarik napas panjang.Tanah di bawah kakinya kembali retak saat ia memaksa tubuhnya berdiri tegak.Di sisi arena, Stuart menyadari perubahan itu.“Ketua mulai melemah!” serunya.Hansen mencoba kembali menghantam barier, tetapi Billy dan Richard kini menekan balik tanpa memberi celah.Roni terdesak mundur oleh kombinasi Seno dan Reno.Marco dan Braga mempersempit ruang gerak mereka.Untuk pertama kalinya…Formasi klan raksasa goyah.Di tengah arena, Ranggan menatap Nathan.Tatapannya tidak lagi penuh keyakinan mutlak.Kini ada sesuatu yang lain.Kesadaran.“Kau pikir… ini akhir dari darah raksasa?” suaranya berat namun stabil.Nathan melangkah mendekat.“Ini akhir dari kesombonganmu.”Ranggan tertawa pelan.Retakan di dadanya semakin melebar.“Kau mengusir Jangga… menghancurkan pengaruh kami… dan sekarang k
Ledakan ketiga jauh lebih besar dari dua sebelumnya. Nathan muncul tepat di atas kepala Ranggan, lalu menghantamkan tekanan angin yang terkonsentrasi seperti palu raksasa. Ranggan sempat mengangkat kedua tangannya. Namun kali ini… Ia terdorong mundur. Kaki raksasanya menciptakan parit panjang di arena saat tubuhnya bergeser mundur beberapa meter. Penonton yang masih tersisa di tribun terdiam. Untuk pertama kalinya sejak berubah ke wujud raksasa… Ranggan mundur. Namun bukan hanya dua pemimpin itu yang bergerak. Di sisi arena, Stuart menyipitkan mata. “Jangan biarkan mereka fokus satu lawan satu,” ujarnya singkat. Hansen dan Roni langsung menyebar. Mereka tidak menuju Nathan. Mereka menuju barier. Hansen menghantam sisi utara dengan teknik kompresi energi bertubi-tubi. Retakan tipis muncul. Billy langsung bereaksi. “Utara terancam!” Richard memperkuat lapisan dalam barier, menahan gelombang tekanan yang berusaha menembus. Di sisi barat, Roni mencoba menerobos dengan
Tekanan belum sepenuhnya stabil ketika Gandra bergerak lebih dulu. Dia langsung berubah bentuk, tubuhnya membesar dengan cepat.Tubuh raksasa itu langsung melesat. Tanpa memberi aba-aba. Tanah arena retak di titik pijakannya. Tubuh besarnya meluncur seperti proyektil menuju Nathan, tangan kanannya terangkat, siap menghantam sebelum siapa pun sempat bereaksi. Namun seseorang sudah menunggu. Rabik. Ia melompat dari sisi kiri dengan timing yang presisi. Tubuhnya berputar di udara, menghantam lengan Gandra tepat sebelum serangan itu mencapai Nathan. DUUMM! Benturan pertama mengguncang barier. Gandra terdorong setengah langkah. Rabik mendarat dengan satu lutut menekan tanah, retakan menyebar dari bawah kakinya. “Akulah Lawanmu,” ucap Rabik pendek. Gandra menyeringai dalam wujud raksasanya. “Manusia lemah.” Ia mengayunkan tangan kiri kali ini, lebih cepat, lebih berat. Rabik menahan dengan kedua lengan, namun terdorong mundur beberapa meter, meninggalkan jejak gesekan panjang
Rombongan MIU A hampir mencapai pintu keluar arena.Ranggan dan Gandra masih dalam wujud mahasiswa muda, dengan wajah bersih, tubuh atletis, dan aura yang tampak stabil serta terkendali. Tidak ada yang mencurigakan.Setidaknya… sampai Nathan berbicara.“Satu jam sudah lewat.”Kalimat itu membuat langkah Ranggan berhenti.Penonton belum mengerti.Namun beberapa dosen langsung saling pandang.Efek Pil Peniru dan Pil Siluman hanya bertahan satu jam.Dan pertandingan… sudah melewati batas itu.Perubahan dimulai dari hal kecil.Kulit halus di wajah Ranggan mulai mengendur. Garis rahang yang tadinya tegas berubah lebih berat. Rambutnya memucat di beberapa sisi. Posturnya tidak lagi seperti mahasiswa dua puluhan tahun.Dalam hitungan detik…Mahasiswa MIU A itu menghilang.Yang berdiri sekarang adalah seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam dan aura yang jauh lebih tua dari yang selama ini mereka lihat.Gandra mengalami hal yang sama.Wajah mudanya memudar, digantikan garis usia dan eksp







