Eva duduk di tepi kasur, meraba meja yang ada di sampingnya dengan hati-hati. Di kamar yang sunyi itu hanya terdengar napas dan detak jam dinding yang menghiasi ruangannya. Beberapa hari ini, Eva merasakan tantangan kecil, seperti menemukan dan mengenali barang-barang yang tersebar di sekitar tempat tidur atau mencari pakaian yang tersimpan di dalam lemari. Meski mengalami kesulitan, dia tidak ingin terlihat lemah dan menyerah begitu saja. Sudah berkali-kali kakinya terbentur benda-benda di sekitarnya. Pagi itu, Eva berjalan dengan menuju dapur kecilnya, dengan meraba-raba benda di sekitar. Namun tak sengaja kakinya kembali terbentur kursi yang ada di dekatnya. Dia masih belum hapal tata letak setiap benda di ruangan kecilnya. Hingga membuat kakinya memar. Di tengah-tengah rasa berjuangnya Eva dalam kesulitan, Samuel segera melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan penuh. Tangannya tak berhenti membunyikan klarkson di tengah padatnya lalu lintas. Terlihat jelas kedua matanya
Samuel yang menunduk sedih berkesiap saat Rosie kembali keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Tak ada seorangpun yang menyadari keberadaannya di sana. Samuel mengusap air matanya dengan cepat, menyembunyikan kelemahannya meski tidak ada seorangpun yang melihat. Dia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri di tengah gejolak perasaannya yang membuncah. Setelah itu, akhirnya dia melangkah pasti ke arah pintu apartemen Eva. Di depan pintu, Samuel terdiam, dia sedikit ragu untuk mengetuk pintu. Setelah berpikir, tangannya terangkat mengetuk pintu tersebut. Sementara di dalam sana, Eva bertanya-tanya, siapa yang mengetuk pintunya. “Apa itu Nyonya Rosie? Kenapa kembali dengan cepat, ya? Mungkin ada yang tertinggal,” gumamnya pelan, kemudian berjalan perlahan ke arah pintu, khawatir jika itu adalah Rosie. Suara ketukan pintu masih terdengar, tapi tidak ada suara seseorang yang memanggil namanya.“Ah, ya … sebentar. Kenapa Anda tidak membukanya saja, Nyonya,” sahut Eva. Dia sedikit me
Di balik meja kayu yang elegan, Henry duduk dengan tenang, mengenakan setelan jas berwarna gelap yang memancarkan aura profesionalisme. Di hadapannya, sebuah komputer dibiarkan menyala, layarnya memancarkan cahaya lembut menerangi wajahnya yang serius. Jendela besar di belakangnya memperlihatkan pemandangan gedung-gedung tinggi yang menjulang, menciptakan kontras antara dunia luar yang sibuk dan keheningan di dalam ruangan.Tubuhnya bersandar di kursi kebesarannya. Henry tampak tenggelam dalam lamunannya, kedua matanya menatap ke arah pemandangan kota di bawah sana. Meskipun kota di bawah sana terlihat sibuk, pikirannya tak pernah teralihkan. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Eva. ‘Harus bagaimana lagi agar dia tidak menjaga jarak dan tidak selalu menunjukkan emosinya?’ pikirnya. Dia mendesah pelan, menggaruk pelipisnya. Henry tidak bisa lagi menahan rasa frustasinya. Henry masih termenung, pikirannya terfokus pada Eva. Hingga lamunannya terpecah saat pintu ruangannya terbuk
Henry menatap Ryan dengan tatapan bingung. ”Bagaimana caranya untuk tahu apa yang sederhana itu?” katanya dengan wajah polosnya.Ryan tersenyum kikuk mendengar pertanyaan polos Henry. Dia berdeham sejenak sebelum menjawab, “Hmm … begini. Tuan pernah menjalin dengan ….” Ryan menjeda ucapannya, kemudian kembali melanjutkan dengan suara pelan, nyaris berbisik, “Nona Julia, ‘kan?”Henry mengangkat alisnya sebelah. “Memangnya apa hubungannya dengan Julia?”Ryan hanya bisa menggaruk keningnya yang tidak gatal. Dia menatap bosnya, merasa bingung sekaligus kasihan.Henry yang cerdas dalam bisnis dan pekerjaan, ternyata terlihat sangat bodoh dalam hal-hal yang berkaitan dengan emosi dan hubungan pribadi.Ryan merasa kasihan, tapi juga sedikit terhibur melihat bosnya yang biasanya begitu tajam dalam keputusan-keputusan besar, sekarang terjebak dalam kebingungan sederhana ini.“Begini, Tuan ….” Ryan mencoba memberitahu dengan hati-hati. “Tuan ‘kan pernah menjalin hubungan dengan Nona Julia, nah …
Eva sedikit tertegun mendengar ajakan Samuel. Ajakan itu tidak pernah terlintas di pikirannya. Dia merasa sejak pertemuan mereka, dia sudah terlalu banyak merepotkan pria itu. Eva meremas ujung bajunya, merasa berkecamuk. . “Samuel... aku baik-baik saja. Tidak perlu ke rumah sakit. Aku akan terbiasa dengan kondisi seperti ini.” jawab Eva dengan suara pelan. “Kau sudah banyak membantuku, dan aku merasa tidak enak terus merepotkanmu.”Samuel tersenyum lembut, matanya menatap dengan ketulusan. “Eva, kau tidak merepotkanku sama sekali. Justru, aku khawatir melihatmu seperti ini.”Eva terdiam sejenak, merasakan ketulusan dalam setiap kata yang diucapkan Samuel. "Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu," balas Eva, kali ini dengan nada penuh perasaan malu. "Kau sudah membantu begitu banyak. Aku ... aku tidak ingin menjadi bebanmu, Sam.”Samuel menarik napas dalam-dalam. Ingin sekali dia menggenggam tangan mulus Eva, tetapi hati kecilnya menahan agar tidak melakukannya.Dia sadar, itu adalah
“Tidak boleh!” seru Ryan keras, suaranya menggema di ruangan itu.Julia tersentak, tangan yang terulur langsung ditarik kembali. Jangankan Julia, Henry pun terkejut dengan pekikan Ryan secara tiba-tiba. Julia memutar tubuhnya dan menatap Ryan dengan ekspresi terkejut sekaligus bingung. “Apa? Kenapa tidak boleh?” tanyanya, dengan ekspresi yang tidak senang.Ryan berdiri tegap, wajahnya serius memandang Julia. Entah karena marah atau sekadar reaksi spontan. “Pokoknya tidak boleh!” ulangnya dengan nada lebih rendah, tetapi tetap tegas.Julia mengerutkan kening, seolah menantang. “Kenapa tidak boleh? Itu cuma hadiah biasa, ‘kan? Henry juga tidak akan menyimpan itu semua.”Dia beralih menatap Henry. “Iya, ‘kan Henry?”Henry terlihat sedikit bingung menanggapinya. Dia menatap ke arah Ryan, di sana anak buahnya itu menggelengkan kepalanya sebagai tanda untuk tidak menghiraukan Julia kali ini. Henry menghela napas. “Ryan, kau bawa semua ini keluar dari sini.”Ryan mengangguk dengan cepat. “
Tampak mobil mercedes berhenti tepat di depan gedung apartemen tua di kawasan Lower East Side. Henry menghela napas panjang, memandangi seikat buket bunga besar di tangannya dengan tatapan tak percaya. “Apa aku sudah kehilangan akal sehat?” gumamnya, berbisik pada dirinya sendiri. Dia menatap bayangan dirinya di kaca jendela mobil, merasa aneh dengan penampilannya yang tidak biasa ini. Jasnya selalu rapi, dasinya selalu lurus, tetapi kini lengannya membawa barang-barang yang baginya tampak seperti perlengkapan romansa remaja yang ke kanak-kanakan. Bunga, cokelat, bahkan sebuah kartu kecil yang ditulis dengan kata-kata yang membuatnya geli.Selama dia bersama Julia, tidak pernah terpikirkan hal sepeti ini. Cukup bawa Julia berbelanja barang mewah, makan di Restoran mewah, dan membiayai sedikit perawatannya sepeti wanita pada umumnya. Akan tetapi kali ini... berbeda. Dia bahkan rela menjatuhkan harga dirinya di depan Ryan hanya karena mencari barang-barang tersebut.Henry melirik k
Basement Parking. Henry baru saja tiba di basement. Namun dia hanya diam di kursi pengemudi tanpa berniat untuk turun. Tangannya masih memegang setir, sedangkan matanya menatap tumpukan hadiah yang ada di kursi belakang melalui pantulan kaca. Harusnya dia menemui Eva, membawa semua hadiah itu sebagai alat untuk menarik perhatian Eva. Namun keberaniannya itu hilang. Hatinya dipenuhi dengan pergulatan, antara menarik perhatian Eva atau membiarkannya seperti dulu. Pikirannya kacau, dia menyandarkan kepalanya ke setir mobil. Setelah lama tenggelam dalam pikirannya, Henry pun membuka pintu mobil. Namun baru saja dia ingin melangkahkan kaki, sebuah mobil Mercedes berhenti tak jauh dari jangkauannya. Suara ban mobil berdecit keras. Seseorang keluar dari dalam mobil dengan ekspresi marah berjalan ke arahnya. “Apa kau tidak bisa menjawab telepon di saat-saat mendesak, hah?” Nada suaranya terdengar tinggi. Henry mengernyitkan keningnya, kenapa orang itu datang-datang memara
Perlahan, Eva mengerjap. Dia tak tahu sudah berapa lama tertidur. Cahaya senja masuk melalui celah tirai, menandakan waktu sore. Sudah sore?Seketika, mata Eva terbuka lebar. Ternyata, dia tertidur dalam waktu yang lama. Dia berniat untuk bangun, tapi gerakannya terhenti saat menyadari ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Dia menoleh perlahan dan melihat sosok di sampingnya. Sudah pulang? Sunyi beberapa saat.Dia memerhatikan wajah Henry yang masih tidur dengan napas teratur dan wajah tenang. Pria itu masih mengenakan baju kantornya, dengan kancing kemeja atasnya terbuka. Saat tidur, pria ini begitu pulas seperti bayi, tapi saat terbangun, sikapnya begitu menyebalkan. Entah mengapa, pria ini membingungkan, terkadang tak masuk akal bahwa ada orang sepertinya di dunia ini. Masih dengan mata terpejam, Henry bergumam, suaranya serak khas seseorang yang baru bangun tidur. “Apa kau selalu menatapku diam-diam seperti itu?”Eva terkejut, tidak menyangka jika pria itu sudah ban
Ryan meringis, lalu menjawab, “Tuan … apakah Anda tahu berapa banyak laporan yang saya kerjakan saat Anda liburan?”Henry menatapnya datar. “Itukan memang tugasmu sebagai Asisten,” jawabnya santai dan bodo amat. “Berarti saya tidak bermalas-malasan, Tuan ….” Ryan menjawab dengan suara merendah. “Kalau tidak malas, kenapa dokumen ini masih menumpuk di mejaku?” Henry ngotot menyalahkannya.Ahirnya Ryan terdiam sejanak, meratapi nasibnya. Dalam lubuk hatinya, dia bertanya-tanya, kenapa hari ini Henry begitu menyebalkan? Biasanya, bosnya itu biasa saja mengatasi semua dokumen itu dan asik tenggelam dalam pekerjaannya. Namun, kenapa hari ini berbeda sekali? Dia seperti serba salah di mata Henry. Pasti gara-gara tadi pagi aku menerornya!Tapi, itukan karena Nyonya Besar. Kenapa tidak marah saja padanya? “Baiklah, maafkan saya, Tuan,” katanya pasrah.Tak ada yang menang berdebat dengan Henry. Henry menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Matanya melirik ke arah ponselnya yang ada di s
“Kurang ajar sekali mereka mengganggu waktuku!” gerutunya, di selah-selah memasang dasinya. Waktu paginya yang indah itu terganggu, semua orang menghubunginya dengan hal-hal yang tidak penting menurutnya. Dia merasa belum puas menghabiskan waktu bersama Eva.Benar-benar menyebalkan!Eva mendekat, mengambil alih untuk mengikat dasinya. “Mungkin ada hal yang benar-benar mendesak,” katanya dengan suara menenangkan. Pandangan matanya turun menatap Eva. Dia meletakkan tangannya di pinggang istrinya dengan nyaman. Hanya butuh satu menit dasi itu terpasang dengan rapi. Eva mendongak, matanya bertemu mata gelap Henry. “Jangan terlalu keras pada dirimu, kau baru saja sembuh,” katanya penuh perhatian. Henry menarik napas panjang. “Kau tidak mau menahanku?”Eva memandangnya malas. Pria ini mulai bersikap dramatis. “Untuk apa?”Seketika Henry memasang wajah serius. “Kau benar-benar tidak peka dengan keadaan.”Eva mengedipkan matanya cepat. “Memangnya apa yang harus kulakukan?” Wajah Henry s
Pagi menyapa dengan cahaya lembut menyusup dari celah gorden. Henry dan Eva masih tertidur pulas. Kehangatan masih terasa di antara mereka, sisa dari kebersamaan yang baru saja terjadi semalam. Eva membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya dia benar-benar terbangun. Kedua matanya mencerna suasana kamar yang begitu asing. Di mana ini?Dia belum sepenuhnya sadar. Hingga dia merasakan tangan kekar memeluk tubuhnya. Dia menoleh. Di sampingnya, Henry masih tertidur pulas. Deru napasnya terdengar begitu teratur. Henry? Butuh tiga detik untuk mencerna hingga dia benar-benar sadar dengan kejadian semalam. Dia mengangkat selimut dan melihat ke dalamnya. Rona merah mulai terlihat di pipinya. Dia malu, dan segera menarik selimut untuk membungkus kepalanya. Pergerakannya itu membuat Henry terbangun. Mata Henry masih setengah terpejam, ekspresi khas seseorang yang baru saja terbangun. Dengan mata setengah terbuka itu, dia bisa melihat gundukan selimut di depannya.
Dengan satu gerakan cepat, Henry mengangkat tubuh Eva, merasakan betapa ringannya tubuh itu dalam dekapannya. Eva begitu terkejut ketika tubuhnya terangkat begitu saja. Matanya menatap Henry dengan penuh kebingungan. “Apa yang sedang kau lakukan?” “Yang kulakukan …?” Henry tersenyum penuh makna. Tanpa menjawab lagi, dia membawanya menuju tempat tidur. Henry membaringkan tubuh Eva perlahan. Eva merasakan jantungnya mulai berdetak lebih kencang saat ini. Suasana hening sejenak sebelum akhirnya Henry meraup bibir Eva. Awalnya ragu-ragu, tapi semakin lama, semakin dalam dan penuh hasrat. Tindakan itu begitu cepat. Eva yang sedikit terkejut kini memejamkan kedua matanya, merasakan gelombang hasrat yang Henry ciptakan. Kali ini, Henry seperti tidak memberikan ruang lagi untuk mereka berjarak. Kemudian, bibirnya turun perlahan menyentuh leher Eva.Eva bisa merasakan hembusan napas berat menyentuh kulitnya. Dia mencoba mendorong tubuh Henry, tetapi, Henry menarik tangannya ke atas kep
Eva membalas dengan tatapan bingung. “Kenapa? Apa kau perlu sesuatu?”Henry hanya diam, dan tatapan mata yang masih tertuju pada Eva.Dia kenapa? Apa ada yang salah?Eva berdehem pelan. “Aku ambilkan makan malam untukmu.” Dia bersiap untuk bangkit dari duduknya.Namun, dengan gerakan cepat, Henry menariknya, membuatnya terduduk kembali. Akan tetapi, kali ini ia terduduk di pangkuan Henry. Saat itu, jantungnya berdetak lebih kencang, antara rasa terkejut dan tatapan dalam suaminya padanya. “Kenapa kau buru-buru sekali?” Suaranya pelan dan sedikit serak. “Aku hanya ingin mengambilkan makanan untukmu.” Eva sedikit gugup dan mengalihkan pandangannya lurus ke depan. “Jangan seperti ini. Tidak enak jika pelayan melihatnya.” Dia berusaha bangkit, tapi tangan Henry menekan pinggangnya, memaksanya untuk tetap tinggal. “Memangnya kenapa jika mereka melihat?” jawabnya dengan acuh tak acuh. “Mereka tahu kalau kau Istriku.” Eva menoleh.Pria ini memang benar-benar keras kepala dan tidak ped
“Ayolah … tidak ada yang salah jika kita melakukannya. Kenapa wajahmu seperti itu? Kau bahkan sering menuntut lebih,” ucapnya dengan penuh percaya diri.Tatapan mata Eva menjadi tajam. Pria ini benar-benar tidak punya malu dan terlalu percaya diri!Pintar sekali membalikkan fakta!“Racun itu bersarang di perutmu, tapi kenapa jadi otakmu yang bermasalah?” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Eva. Ekspresinya yang datar dan tanpa emosi itu membuat setiap kata yang diucapkan terdengar lebih tajam dan menusuk. Henry tidak mau kalah. Dia terus melayangkan serangannya menggoda Eva. “Aku hanya bicara sesuai fakta.” Eva membantah cepat, “Tapi fakta yang kau katakan justru sebaliknya.” “Coba katakan di mana kebohongannya? Setiap kau membalas, aku selalu kuwalahan.” Eva terdiam. Melihat wajah dan senyum nakal Henry itu membuatnya semakin jengkel. Rasanya dia ingin keluar dan mengambil sesuatu untuk memukul kepalanya yang sedang bermasalah. Dasar pria mesum!“Aku rasa, racun itu
Dua hari kemudian.Lawson menutup teleponnya, lalu mengambil mantel panjangnya dengan tergesa-gesa. Sophia mendekat, memasang wajah penasaran. “Papa mau ke mana? Ada kabar apa?”Gerakannya saat memakai mantel tampak terburu-buru. “Papa mau ke Dermaga. Kepala Koki menjadi tersangka dari insiden kemarin.”“Kepala Koki?” Mata Sophia terbelalak lebar. “Papa pergi dulu, ya.”“Mama ikut!” Sophia menyambar tas, kemudian berlari mengejar langkah suaminya. ****Dermaga. Di tengah suasana tegang, kepala koki itu terlihat berlutut, dengan suara gemetar. Dia menahan tangis, dan memohon ampunan di depan orang-orang yang berjejer penuh kekuasaan, memandang ke atas dengan tatapan penuh harap. “Saya berani bersumpah, saya tidak pernah melakukannya.” Salah satu tim keamanan itu menjawab dengan penuh otoriter, “Simpan semua jawabanmu itu, kita tunggu Tuan Lawson datang.” Kepala koki memegang ujung bajunya dengan tangan gemetar, dia terus memohon, tetapi tak ada seorang pun yang bergeming, maupun
“Itu ….” Dengan sekuat tenaga, Henry mengangkat kepala, mendekat, lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Eva, memberikan ciuman yang lembut tanpa terburu-buru atau memaksa. Dia memberikan jeda satu detik. Namun, detik berikutnya dia sedikit menekan kepala Eva.Ciuman yang semula lembut itu perlahan semakin dalam. Eva yang mencoba mengimbangi irama Henry itu kini dibuat kuwalahan. Tangannya bergerak, mencengkeram baju yang dikenakan oleh Henry. Suasana di antara mereka semakin memanas, bukan sekedar hasrat, tetapi seperti pengakuan diam-diam tentang rindu yang tertahan, luka yang perlahan sembuh dalam pelukan. Ruangan itu hanya berisi helaan napas yang mulai tak beraturan, dan ciuman itu masih terus berlanjut, menghapus batas logika di antara keduanya. Henry melupakan kondisinya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, menciptakan momen bersama istrinya. Dia menginginkan lebih. Ciuman itu bergerak perlahan ke leher Eva. Namun, tidak lama ciumannya terhenti karena Eva menarik