แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Crispy Coco
Ponselku bergetar, lalu sebuah foto masuk dari nomor tak dikenal. Darahku langsung membeku saat melihat itu adalah foto Ava yang memegang bros ibuku di atas laut yang gelap dan dalam, seolah-olah akan menjatuhkannya.

[ Kalau kamu menginginkannya, datang ke Marima Bek di dermaga tujuh. Kamu punya waktu satu jam. Terlambat sedetik saja, benda ini akan lenyap. Ava. ]

Aku tahu ini adalah sebuah jebakan, tetapi aku tidak peduli. Aku harus merebut kembali bros milik ibuku.

Saat aku melangkah naik ke yacht, Ava sedang bersandar di pagar dengan segelas sampanye di tangan.

"Kamu akhirnya datang."

Ava berbalik dan memperlihatkan senyum manis yang menjijikkan. "Aku sempat berpikir Tuan Putri dari Keluarga Nugroho yang terhormat mungkin akan terlalu tinggi derajatnya untuk bertemu orang sepertiku."

"Bros itu .... Kembalikan," kataku langsung ke intinya.

"Jangan terburu-buru."

Ava berjalan ke sofa di dek dan duduk, lalu menyilangkan kakinya dengan anggun. "Mari mengobrol. Bagaimanapun juga, ini mungkin terakhir kalinya kita bisa bicara berdua."

Dia mengeluarkan bros berlian itu dari tasnya, lalu memutarnya perlahan-lahan di bawah sinar matahari sampai kilau cahayanya menyilaukan mataku.

"Indah sekali."

Ava menghela napas. "Dante bilang ini satu-satunya peninggalan ibumu untukmu. Sayang sekali, dia meninggal begitu muda. Dia nggak pernah bisa melihat putrinya menikah dengan pria yang begitu luar biasa."

"Kembalikan padaku," kataku sambil berusaha menahan suaraku agar tidak bergetar.

"Oh, aku lupa."

Ava pura-pura terkejut. "Kamu kan sudah bukan istrinya Dante lagi. Dia bilang padaku kalian baru saja bercerai. Aku hampir saja mati tertawa."

Dia berdiri dan melangkah mendekatiku, lalu melanjutkan, "Kamu tahu apa yang dia bilang? Dia bilang Elara akhirnya melepaskannya, jadi sekarang kami bisa benar-benar bersama. Setelah itu, dia mengangkatku, lalu memutarku dan bilang aku adalah wanita yang selama ini dia tunggu."

Saat mengatakan itu, nada bicara Ava terdengar penuh kemenangan.

Setiap kata Ava adalah pisau yang menusuk jantungku, tetapi aku tidak akan membiarkannya melihat semua itu. Aku berkata dengan nada datar, "Apa perlu aku mengucapkan selamat? Sekarang, aku sudah boleh mendapatkan kembali bros itu?"

Ava tersenyum dengan manis sekaligus kejam. "Mengingat sebentar lagi kamu ini hanya janda basi, mungkin aku bisa mempertimbangkannya."

Dia mengulurkan satu kaki yang mengenakan sepatu hak tinggi berwarna putih. "Berlutut dan semir sepatuku."

Aku sempat mengira aku sudah salah dengar. "Apa?"

"Kamu enggak dengar ya? Berlutut dan semir sepatuku."

Senyum Ava makin lebar. "Lakukan itu dan aku akan memberimu brosnya. Ini nggak terlalu berlebihan, 'kan? Lagi pula, sekarang ini milikku."

Angin laut seperti meraung di telingaku dan kepalaku terasa pusing.

"Ada apa? Tuan Putri Keluarga Nugroho merasa harga dirinya terinjak ya? Baiklah. Kalau kamu nggak menginginkannya, aku akan membuangnya sekarang juga," ejek Ava.

"Tunggu!" teriakku, lalu memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Setelah itu, aku berlutut.

Ava berkata dengan nada puas, "Gadis pintar, begini dong. Pakai lengan bajumu. Aku mau benar-benar bersih."

Tanganku gemetar saat meraih kaki Ava dan mulai mengelap sepatu Ava. Kulit putih itu berkilau di bawah sinar matahari, sedangkan air mataku menetes sedikit demi sedikit ke atas dek.

"Kamu tahu, Elara."

Ava menatapku dari atas. "Aku membencimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku benci sikapmu yang sok berkuasa dan senyuman percaya dirimu."

Aku tidak menjawab, hanya terus melakukan tugas memalukan itu.

Ava tetap melanjutkan, "Tapi, lihat dirimu sekarang. Berlutut di kakiku seperti pelayan. Inikah Tuan Putri Keluarga Nugroho? Janda menyedihkan yang bahkan nggak bisa mempertahankan bayinya sendiri?"

Karena kata-kata Ava menghantamku seperti pukulan fisik, aku pun berhenti. Aku berdiri, lalu berkata dengan suara tenang yang menyeramkan, "Sudah bersih."

Ava memeriksa sepatunya dan menganggukkan kepala. "Ya, lumayan. Kalau begitu, kesepakatan tetap kesepakatan ...."

Dia mengeluarkan bros itu dari tasnya dan mengayunkannya di depanku. Namun, sebelum aku sempat bereaksi, dia menarik lengannya kembali dan melempar bros itu. Bros itu pun melayang di udara, lalu lenyap ke dalam laut dengan percikan kecil. Dia berkata dengan ekspresi yang pura-pura terkejut, "Aduh, tanganku terpeleset. Aku ini ceroboh sekali."

Aku menatap titik tempat potongan terakhir dari ibuku menghilang ke dalam lautan biru dan pikiranku kosong.

Ava berdiri, lalu merapikan gaunnya. "Terima kasih untuk jasa semir sepatunya, Elara. Mungkin ini hal paling berguna yang pernah kamu lakukan. Lagi pula, kamu memang nggak berguna, bahkan nggak bisa mempertahankan bayi sendiri. Bagaimana rasanya kehilangan bayi? Itulah akibatnya karena kamu sudah merebut posisi yang seharusnya jadi milikku. Ini baru permulaan, Elara."

Saat itu, aku mengerti maksud Ava, keguguranku adalah ulahnya. Aku langsung kehilangan akal sehatku dan hatiku dipenuhi dengan kebencian. Aku mencengkeram pergelangan tangan Ava dan menyeretnya ke pagar kapal. Aku mencekik leher Ava dengan kuat. "Dasar wanita jalang sialan! Kamu sudah membunuh bayiku!"

Namun, tidak ada rasa takut di tatapan Ava, hanya tatapan penuh kemenangan. "Kenapa kalau aku melakukannya? Siapa yang akan percaya padamu?"

Napasku langsung terengah-engah. Aku sudah bertekad bulat akan membongkar perbuatan Ava, membuat Dante melihat monster seperti apa yang sudah dilindunginya selama ini.

Tepat saat itu, Ava menoleh melewati bahuku dan perlahan-lahan tersenyum aneh.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 20

    Sebulan kemudian, tibalah hari pernikahanku dengan Liam.Aku mengenakan gaun putih yang indah, dikelilingi para tamu yang benar-benar ikut berbahagia untuk kami. Tidak ada satu pun dari semua ini yang pernah kurasakan di pernikahanku dengan Dante.Seorang pelayan menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil, hadiah pernikahan dari tamu anonim.Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah catatan.[ Bos bersikeras agar ini disampaikan kepadamu. Tolong, terimalah. ]Di bawah catatan itu tergeletak sebuah bros. Bros milik ibuku.Meski telah diperbaiki dengan sangat hati-hati, aku masih bisa melihat samar bekas kerusakan air di tepinya. Aku hanya bisa membayangkan betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengambilnya kembali dari dasar laut.Aku menggenggamnya erat dan berbisik pelan, "Terima kasih."Namun, hanya itu saja."Sayang? Ada apa?"Suara Liam memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di ujung lorong, senyum hangat menghiasi wajahnya.Aku tak bisa menahan senyum saat melangkah

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 19

    Aku terbangun dengan bau apek yang menusuk.Tangan dan kakiku terikat erat ke sebuah kursi dengan tali kasar. Tempat itu tampak seperti gudang terbengkalai, udara dipenuhi aroma karat dan debu."Kamu sudah bangun."Sebuah suara parau dan nyaris gila terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihat siapa yang berdiri di sana.Ava.Tidak, wajah itu sudah tak bisa lagi disebut wajah.Separuh mukanya dipenuhi bekas luka mengerikan, seperti terkena cairan asam. Matanya menyala dengan kebencian gila yang membara. Dia tampak seperti iblis yang diseret kembali dari neraka."Kaget?" katanya sambil menyeret kakinya yang terluka, terpincang-pincang mendekat, sebuah pistol tergenggam di tangannya. "Ini ulah Dante. Dia melemparkanku ke laut, menarikku keluar, lalu melemparkanku lagi. Dia menghancurkan wajahku dan mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia sudah selesai denganku. Katanya dia ingin aku merasakan rasa sakit yang kamu rasakan."Dia tertawa melengking, histeris."Dia menghancurkanku dan semu

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 18

    Sudut Pandang Elara:Aku sempat berpikir Dante pasti sudah lelah memainkan permainan kecilnya ini.Ternyata aku salah besar. Dia justru semakin menjadi-jadi.Selama satu minggu penuh, dia berdiri di luar gedung apartemenku, membawa mawar, memohon-mohon agar aku memaafkannya."Elara, aku tahu kamu ada di dalam," pintanya, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku cuma ingin bicara …."Yang kurasakan hanya lelah. Aku menolak menemuinya, jadi dia akan berdiri di sana sampai larut malam sebelum akhirnya pergi.Bunga-bunga yang ditinggalkannya di depan pintuku? Semua kubuang ke tempat sampah. Tak satu pun kusisakan."Perlu aku singkirkan dia?" tanya Liam lembut, sambil memandangi sosok yang berdiri di jalan di bawah sana.Aku tidak mengatakan tidak.Aku melihat Liam turun dan berbicara dengannya. Beberapa saat kemudian, Dante pergi, bahunya merosot, langkahnya penuh kekalahan.Aku penasaran. "Kamu bilang apa ke dia?"Liam tersenyum tipis. "Aku bilang kehadirannya hanya membangkitkan kenangan men

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 17

    Dante menarik napas dalam-dalam, lalu membuka berkas terenkripsi yang dikirim Vincent.Yang pertama muncul adalah rekaman kamera keamanan.Di rekaman itu Elara jelas terlihat sendirian sambil menyeret tubuh Dante yang berlumuran darah ke tempat aman. Kamera menangkap momen tepat ketika telapak tangan Elara teriris pecahan kaca di tanah.Beberapa menit kemudian, Elara berlari pergi untuk mencari bantuan. Saat itulah Ava keluar dari bayangan. Pertama, dia melukai tangannya sendiri. Kemudian, dia menelepon anak buahnya untuk mengangkat Dante dan membawanya pergi.Ketika Elara kembali dengan perban, yang tersisa hanyalah genangan darah.Dante merasa seperti disambar petir. Tubuhnya seketika membeku. Dia teringat suatu malam, di atas ranjang, jemarinya menelusuri bekas luka panjang yang menonjol di tangan Elara.Dia tak pernah menanyakannya.Dia teringat Ava yang menunjukkan "lukanya" dengan mata penuh air mata sambil berkata, "Dante, aku nggak menyesal. Semua ini sepadan demi menyelamatkan

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 16

    Keesokan paginya, aku melihat Liam menerima telepon tanpa henti.Dari kerutan di dahinya dan suaranya yang tegang, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Saat dia akhirnya menutup telepon, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa?"Liam menoleh dan memberiku senyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah kecil bisnisku."Namun, aku tahu itu lebih dari sekadar itu. Setelah tiga tahun menjadi istri Dante, aku tahu persis bagaimana dunia mafia bekerja. Hatiku terasa mencelos."Itu Dante, 'kan?" tanyaku langsung.Liam tidak menyangkal. Dia menghampiriku dan dengan lembut menangkup wajahku. "Elara, jangan khawatir. Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih buruk."Beberapa hari berikutnya, aku menyaksikan sendiri kegilaan Dante. Beberapa mitra utama Liam tiba-tiba menarik investasi mereka. Kasino-kasinonya digerebek secara mendadak. Satu demi satu "masalah" bermunculan.Aku menonton laporan berita dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Dasar bajingan keji! Menggunakan c

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 15

    Untuk membangkitkan semangatku, Liam membawaku ke sebuah resor ski di luar Bastin. Dengan mengenakan baju ski putih, aku meluncur menuruni lereng dan merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Liam adalah pemain ski yang luar biasa. Dia mengajarkanku teknik baru dengan sabar dan tangannya menstabilkanku setiap kali aku mulai goyah."Kamu belajar dengan cepat. Wajar juga. Seniman selalu punya koordinasi yang baik," kata Liam sambil tertawa.Aku juga ikut tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Profesor."Saat kami beristirahat di pondok di puncak gunung, aku merasa sangat tenang. Sinar matahari yang menembus jendela besar terasa hangat dan menenangkan."Elara, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Liam yang ekspresinya tiba-tiba menjadi serius."Apa itu?" tanya Elara."Apa kamu mau ... bersamaku? Maksudku, benar-benar bersamaku," tanya Liam.Hatiku langsung berdebar, pipiku terasa panas. Pria yang baik dan lembut ini .... Aku telah melihat betapa baiknya dia padaku selam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status