Share

Bab 5

Penulis: Crispy Coco
"Elara, lepaskan dia!"

Suara familier yang dipenuhi amarah dan niat membunuh yang belum pernah aku dengar sebelumnya membelah udara dari arah dermaga. Saat menoleh, aku melihat Dante melangkah ke atas yacht bersama tiga anak buahnya.

"Dante, tolong aku!"

Ava kembali memasang topeng gadis polosnya dan meronta dalam cengkeramanku, lalu suaranya berubah menjadi isak putus asa. "Dia sudah gila! Dia mau membunuhku!"

Ekspresi Dante menjadi muram. Dia perlahan-lahan mengeluarkan pistol perak dari jaketnya dan mengarahkannya tepat ke kepalaku. "Wanita gila, lepaskan dia."

Kebencian di tatapan Dante terasa seperti sebuah hantaman fisik dan cengkeramanku pun mengendur.

Namun, pada detik itu juga, Ava meraih tanganku dan mengarahkannya ke tubuhnya sendiri sampai dia terhuyung-huyung ke belakang. Dia menjerit saat terjatuh melewati pagar dan tercebur ke laut. "Ahhh!"

Dari sudut pandang Dante, terlihat seolah-olah aku yang mendorong Ava.

"Nggak!" teriak Dante sambil menjatuhkan pistolnya. Tanpa ragu sedetik pun, dia langsung meloncat ke laut dan mengejar Ava.

Pikiranku kosong saat melihat Dante berenang dengan putus asa menuju Ava.

Tak lama kemudian, Dante kembali ke sisi yacht sambil menggendong Ava yang basah kuyup dan menggigil. Anak buahnya segera menurunkan tangga dan menarik mereka naik. Dia berlutut di dek dan memeluk tubuh Ava yang gemetar. "Ava! Ava, kamu baik-baik saja, 'kan? Ada yang terluka?"

Ava memeluk Dante dengan erat dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan dan dingin. "Aku ... hampir mati .... Dia benar-benar mencoba membunuhku ...."

Dante mengusap rambut Ava dengan tatapan dipenuhi kepedihan. Setelah itu, dia perlahan-lahan berdiri dan berbalik ke arahku.

PLAK.

Tangan Dante langsung menampar wajahku dengan keras sampai hampir menjatuhkanku ke lantai. Dia berteriak dengan tatapan penuh amarah, "Wanita jalang kejam! Berani-beraninya kamu menyakitinya!"

Aku memegang pipiku yang terasa perih sambil menahan air mata agar tidak mengalir. "Bagaimana kalau aku bilang dia sendiri yang melompat? Dia menjebakku dan dia juga yang membunuh bayi kita! Dia yang mengakuinya sendiri!"

Dante menatapku dengan ekspresi kecewa. "Ava nggak mungkin melakukan hal seperti itu. Lagi pula, aku 'kan sudah bilang, kehamilanmu itu hanya kecelakaan. Kamu masih mau menuduhnya lagi?"

Aku hampir tertawa karena merasa semua yang dikatakan Dante begitu tidak masuk akal. Dia tak hanya sepenuhnya memercayai kebaikan Ava, tetapi juga menganggapku sebagai monster tanpa ragu. Aku menunjuk ke sudut yacht dan berkata, "Ada kamera keamanan di sana. Tonton rekamannya dulu sebelum kamu menghakimiku."

Dante ragu sejenak dan kilatan keraguan terlintas di matanya.

Namun, Ava langsung menyela dengan suara yang lemah, "Dante ... dadaku sakit .... Aku rasa aku sekarat ...."

Dante langsung berbalik ke arah Ava dan mengangkat Ava dengan panik. "Jangan takut. Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga."

Dante mengangkat Ava dengan hati-hati, seolah-olah Ava adalah boneka porselen paling berharga di dunia. Dia berhenti sejenak saat melewatiku, lalu berkata dengan suara dingin, "Aku akan melihat rekamannya. Kalau kamu yang melakukan ini, aku akan membuatmu membayarnya."

Setelah Dante pergi, aku menatap air laut yang gelap serta dalam dan berpikir aku tidak boleh kehilangan bros ibuku. Tanpa ragu, aku langsung melompat dan terus menyelam ke dalam, menyisir ke dasar laut dengan putus asa hingga anggota tubuhku terasa berat karena kelelahan. Namun, tubuhku yang masih lemah karena baru saja keguguran tidak sanggup menahan beban itu. Aku pun ambruk.

Saat tim pengawalku menyadari ada yang tidak beres, aku baru ditemukan dan dibawa ke rumah sakit.

Saat aku terbangun, hari sudah berganti. Ponselku penuh dengan panggilan tak terjawab dari Dante dan kepala pelayan kami, Roberto. Dengan mengabaikan ancaman-ancaman Dante, aku menelepon sang kepala pelayan. "Roberto, ada apa?"

Tak lama kemudian, aku akhirnya tahu seperti apa caranya Dante balas dendam.

Suara Roberto terdengar panik. "Ini mengerikan, Nyonya. Pak Dante datang ke vila bersama anak buahnya. Dia ... akan membakar semua lukisan ibumu."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 20

    Sebulan kemudian, tibalah hari pernikahanku dengan Liam.Aku mengenakan gaun putih yang indah, dikelilingi para tamu yang benar-benar ikut berbahagia untuk kami. Tidak ada satu pun dari semua ini yang pernah kurasakan di pernikahanku dengan Dante.Seorang pelayan menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil, hadiah pernikahan dari tamu anonim.Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah catatan.[ Bos bersikeras agar ini disampaikan kepadamu. Tolong, terimalah. ]Di bawah catatan itu tergeletak sebuah bros. Bros milik ibuku.Meski telah diperbaiki dengan sangat hati-hati, aku masih bisa melihat samar bekas kerusakan air di tepinya. Aku hanya bisa membayangkan betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengambilnya kembali dari dasar laut.Aku menggenggamnya erat dan berbisik pelan, "Terima kasih."Namun, hanya itu saja."Sayang? Ada apa?"Suara Liam memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di ujung lorong, senyum hangat menghiasi wajahnya.Aku tak bisa menahan senyum saat melangkah

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 19

    Aku terbangun dengan bau apek yang menusuk.Tangan dan kakiku terikat erat ke sebuah kursi dengan tali kasar. Tempat itu tampak seperti gudang terbengkalai, udara dipenuhi aroma karat dan debu."Kamu sudah bangun."Sebuah suara parau dan nyaris gila terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihat siapa yang berdiri di sana.Ava.Tidak, wajah itu sudah tak bisa lagi disebut wajah.Separuh mukanya dipenuhi bekas luka mengerikan, seperti terkena cairan asam. Matanya menyala dengan kebencian gila yang membara. Dia tampak seperti iblis yang diseret kembali dari neraka."Kaget?" katanya sambil menyeret kakinya yang terluka, terpincang-pincang mendekat, sebuah pistol tergenggam di tangannya. "Ini ulah Dante. Dia melemparkanku ke laut, menarikku keluar, lalu melemparkanku lagi. Dia menghancurkan wajahku dan mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia sudah selesai denganku. Katanya dia ingin aku merasakan rasa sakit yang kamu rasakan."Dia tertawa melengking, histeris."Dia menghancurkanku dan semu

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 18

    Sudut Pandang Elara:Aku sempat berpikir Dante pasti sudah lelah memainkan permainan kecilnya ini.Ternyata aku salah besar. Dia justru semakin menjadi-jadi.Selama satu minggu penuh, dia berdiri di luar gedung apartemenku, membawa mawar, memohon-mohon agar aku memaafkannya."Elara, aku tahu kamu ada di dalam," pintanya, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku cuma ingin bicara …."Yang kurasakan hanya lelah. Aku menolak menemuinya, jadi dia akan berdiri di sana sampai larut malam sebelum akhirnya pergi.Bunga-bunga yang ditinggalkannya di depan pintuku? Semua kubuang ke tempat sampah. Tak satu pun kusisakan."Perlu aku singkirkan dia?" tanya Liam lembut, sambil memandangi sosok yang berdiri di jalan di bawah sana.Aku tidak mengatakan tidak.Aku melihat Liam turun dan berbicara dengannya. Beberapa saat kemudian, Dante pergi, bahunya merosot, langkahnya penuh kekalahan.Aku penasaran. "Kamu bilang apa ke dia?"Liam tersenyum tipis. "Aku bilang kehadirannya hanya membangkitkan kenangan men

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 17

    Dante menarik napas dalam-dalam, lalu membuka berkas terenkripsi yang dikirim Vincent.Yang pertama muncul adalah rekaman kamera keamanan.Di rekaman itu Elara jelas terlihat sendirian sambil menyeret tubuh Dante yang berlumuran darah ke tempat aman. Kamera menangkap momen tepat ketika telapak tangan Elara teriris pecahan kaca di tanah.Beberapa menit kemudian, Elara berlari pergi untuk mencari bantuan. Saat itulah Ava keluar dari bayangan. Pertama, dia melukai tangannya sendiri. Kemudian, dia menelepon anak buahnya untuk mengangkat Dante dan membawanya pergi.Ketika Elara kembali dengan perban, yang tersisa hanyalah genangan darah.Dante merasa seperti disambar petir. Tubuhnya seketika membeku. Dia teringat suatu malam, di atas ranjang, jemarinya menelusuri bekas luka panjang yang menonjol di tangan Elara.Dia tak pernah menanyakannya.Dia teringat Ava yang menunjukkan "lukanya" dengan mata penuh air mata sambil berkata, "Dante, aku nggak menyesal. Semua ini sepadan demi menyelamatkan

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 16

    Keesokan paginya, aku melihat Liam menerima telepon tanpa henti.Dari kerutan di dahinya dan suaranya yang tegang, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Saat dia akhirnya menutup telepon, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa?"Liam menoleh dan memberiku senyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah kecil bisnisku."Namun, aku tahu itu lebih dari sekadar itu. Setelah tiga tahun menjadi istri Dante, aku tahu persis bagaimana dunia mafia bekerja. Hatiku terasa mencelos."Itu Dante, 'kan?" tanyaku langsung.Liam tidak menyangkal. Dia menghampiriku dan dengan lembut menangkup wajahku. "Elara, jangan khawatir. Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih buruk."Beberapa hari berikutnya, aku menyaksikan sendiri kegilaan Dante. Beberapa mitra utama Liam tiba-tiba menarik investasi mereka. Kasino-kasinonya digerebek secara mendadak. Satu demi satu "masalah" bermunculan.Aku menonton laporan berita dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Dasar bajingan keji! Menggunakan c

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 15

    Untuk membangkitkan semangatku, Liam membawaku ke sebuah resor ski di luar Bastin. Dengan mengenakan baju ski putih, aku meluncur menuruni lereng dan merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Liam adalah pemain ski yang luar biasa. Dia mengajarkanku teknik baru dengan sabar dan tangannya menstabilkanku setiap kali aku mulai goyah."Kamu belajar dengan cepat. Wajar juga. Seniman selalu punya koordinasi yang baik," kata Liam sambil tertawa.Aku juga ikut tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Profesor."Saat kami beristirahat di pondok di puncak gunung, aku merasa sangat tenang. Sinar matahari yang menembus jendela besar terasa hangat dan menenangkan."Elara, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Liam yang ekspresinya tiba-tiba menjadi serius."Apa itu?" tanya Elara."Apa kamu mau ... bersamaku? Maksudku, benar-benar bersamaku," tanya Liam.Hatiku langsung berdebar, pipiku terasa panas. Pria yang baik dan lembut ini .... Aku telah melihat betapa baiknya dia padaku selam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status