Share

Bab 6

Penulis: Crispy Coco
Aku menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya kembali ke kediaman. Di taman, sudah ada puluhan anak buah Dante berdiri diam, album foto dan sapu tangan bordir buatan ibuku berada di tangan mereka. Di tengah mereka, ada sebuah penyangga lukisan yang memajang potret ibuku. Itu adalah lukisan terakhir ibuku dan juga seluruh duniaku.

Sebuah lubang api besar berada di tengah taman, udara yang dipenuhi bau bensin yang menyengat tercium di sekitarnya. Dante berdiri tepat di samping lukisan itu dengan sekotak korek api di tangannya.

Aku segera berlari menuju taman. "Jangan! Dante, apa yang kamu lakukan?"

Dua pengawal menangkap dan menahanku dengan cengkeraman yang sangat kuat.

"Lepaskan aku! Itu adalah barang-barang ibuku! Kamu nggak berhak melakukan ini, Dante!" teriakku sambil memberontak dengan liar dan kukuku mencakar lengan para pengawal itu.

Dante berbalik perlahan-lahan, ekspresi dinginnya diliputi amarah yang membara di bawah sinar bulan. Dia berkata dengan suara dingin, "Rekaman keamanan menunjukkan kamu yang mendorongnya. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjelaskan, tapi kamu mengabaikan panggilanku. Sekarang, kamu harus membayar harga karena telah menyakiti Ava."

Aku menggelengkan kepala dengan putus asa. "Nggak, rekamannya ... pasti sudah dimanipulasi. Lagi pula, aku pingsan dan dibawa ke rumah sakit."

Namun, Dante tidak mendengarkan penjelasanku, melainkan mengangkat tangan dan memerintah, "Bakar."

"Jangan! Aku mohon!" mohonku dengan air mata mengalir deras di wajahku. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku benar-benar terlihat hancur di hadapannya.

Dante menatapku dari atas dan kilatan iba sempat muncul di tatapannya, tetapi tatapan itu segera lenyap dan digantikan dengan tatapan yang dingin serta teguh. "Saat kamu mendorong Ava ke laut, dia juga putus asa."

Begitu api menyentuh sudut dari lukisan itu, aku teringat dengan kata-kata ibuku. "Elara, sayangku, Ibu berharap kamu menikah dengan pria yang benar-benar mencintaimu. Ingatlah, orang yang sungguh mencintaimu nggak akan pernah sengaja menyakitimu."

Namun kini, pria yang pernah kucintai sedang menghancurkan hatiku dengan yang cara paling kejam.

"Mama! Mama!" jeritku dengan suara yang alami dan tak manusiawi sebelum aku ambruk.

Api melahap segalanya, setiap sapuan kuas dan kenangan. Bayangan ibuku dan momen saat kami hidup bersama lenyap tepat di depan mataku.

Aku menangis sampai kesulitan bernapas dan tubuhku bergetar dengan dahsyat. Saat menyaksikan harta paling berharga dalam hidupmu dimusnahkan, rasa tidak berdaya itu terasa jauh lebih kejam daripada siksaan fisik apa pun.

"Padamkan!" perintah Dante yang tiba-tiba memotong isakku.

Anak buah Dante bergegas memadamkan api, tetapi semuanya sudah terlambat. Lukisan potret diri itu sudah hampir musnah sepenuhnya, hanya tersisa sepotong kecil di sudut.

Aku tergeletak di tanah dan menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang tersesat.

Mungkin pemandanganku yang begitu putus asa itu sempat menggoyahkan hati Dante karena ekspresinya sempat berubah. Namun, semua itu hanya sesaat saja, lalu ekspresinya kembali dingin. Dia menatapku dari atas dan berkata, "Anggap saja ini peringatan, Elara. Kalau kamu berani menyentuh Ava lagi, lain kali yang terbakar bukan hanya lukisan saja."

Aku perlahan-lahan mengangkat kepala, lalu menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan berkata dengan suara serak, "Dante, penyesalan terbesar di hidupku adalah bertemu denganmu."

Dante menyipitkan matanya, tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Rasa sakit yang luar biasa meledak di dadaku dan gelombang duka menenggelamkan seluruh indraku. Duniaku menjadi gelap, lalu aku pingsan di atas rumput yang bermandikan bensin. Hal terakhir yang kulihat adalah ekspresi Dante yang dingin dan cuek, serta asap dari puing-puing karya seni ibuku yang masih mengepul.

Saat aku terbangun, itu sudah keesokan sorenya. Aku berada di kamar tidurku di vila. Sinar matahari menyinari masuk melalui jendela, seolah-olah mimpi buruk semalam tidak pernah terjadi. Namun, aku tiba-tiba melihat serpihan kecil dari lukisan ibuku yang hangus terbakar di meja samping ranjang, sebuah pengingat kejam bahwa semua itu nyata.

Terdengar ketukan di pintu.

"Masuk," kataku dengan suara yang lemah.

Orang yang masuk itu adalah Marco, tangan kanannya Dante. Dia mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya dan menaruhnya di atas nakas. "Pak Dante memintaku menyampaikan perjanjian kompensasi ini. Dia bilang semalam dia mungkin sudah bertindak terlalu berlebihan dan bersedia memberikan ganti rugi secara finansial."

Setelah berhenti sejenak, Marco melanjutkan, "Selain itu, Pak Dante berharap kamu bisa lebih rasional dan berhenti mengganggu Nona Ava. Kita semua orang beradab, nggak perlu membuat semuanya menjadi begitu buruk."

Orang beradab? Saat membakar hasil karya seumur hidup ibuku, Dante sama sekali tidak terlihat seperti orang beradab. Saat menatap ekspresi Marco yang sopan sekaligus dingin, amarahku di hatiku langsung meledak.

"Keluar! Bawa perjanjian sialan itu dan pergi dari sini!" teriakku sambil meraih gelas air di meja dan melemparkannya ke arah Marco.

Gelas itu pecah di dekat kaki Marco, lalu airnya memercik ke seluruh setelan jasnya. Dia mundur selangkah, tetapi ekspresinya tetap tenang. "Nyonya, aku mengerti kamu sedang emosi, tapi ...."

"Aku bilang keluar!"

Aku meraih berkas itu dan merobeknya hingga hancur, lalu melemparkannya ke arah Marco. "Dan bilang pada Dante, aku nggak mau uangnya. Aku nggak butuh kompensasinya. Suruh dia dan pelacur kecilnya itu menjauh dariku."

Marco akhirnya berbalik dan pergi.

Setelah itu, aku kembali ambruk ke atas ranjang dengan tubuh yang terasa benar-benar terkuras.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 20

    Sebulan kemudian, tibalah hari pernikahanku dengan Liam.Aku mengenakan gaun putih yang indah, dikelilingi para tamu yang benar-benar ikut berbahagia untuk kami. Tidak ada satu pun dari semua ini yang pernah kurasakan di pernikahanku dengan Dante.Seorang pelayan menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil, hadiah pernikahan dari tamu anonim.Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah catatan.[ Bos bersikeras agar ini disampaikan kepadamu. Tolong, terimalah. ]Di bawah catatan itu tergeletak sebuah bros. Bros milik ibuku.Meski telah diperbaiki dengan sangat hati-hati, aku masih bisa melihat samar bekas kerusakan air di tepinya. Aku hanya bisa membayangkan betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengambilnya kembali dari dasar laut.Aku menggenggamnya erat dan berbisik pelan, "Terima kasih."Namun, hanya itu saja."Sayang? Ada apa?"Suara Liam memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di ujung lorong, senyum hangat menghiasi wajahnya.Aku tak bisa menahan senyum saat melangkah

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 19

    Aku terbangun dengan bau apek yang menusuk.Tangan dan kakiku terikat erat ke sebuah kursi dengan tali kasar. Tempat itu tampak seperti gudang terbengkalai, udara dipenuhi aroma karat dan debu."Kamu sudah bangun."Sebuah suara parau dan nyaris gila terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihat siapa yang berdiri di sana.Ava.Tidak, wajah itu sudah tak bisa lagi disebut wajah.Separuh mukanya dipenuhi bekas luka mengerikan, seperti terkena cairan asam. Matanya menyala dengan kebencian gila yang membara. Dia tampak seperti iblis yang diseret kembali dari neraka."Kaget?" katanya sambil menyeret kakinya yang terluka, terpincang-pincang mendekat, sebuah pistol tergenggam di tangannya. "Ini ulah Dante. Dia melemparkanku ke laut, menarikku keluar, lalu melemparkanku lagi. Dia menghancurkan wajahku dan mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia sudah selesai denganku. Katanya dia ingin aku merasakan rasa sakit yang kamu rasakan."Dia tertawa melengking, histeris."Dia menghancurkanku dan semu

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 18

    Sudut Pandang Elara:Aku sempat berpikir Dante pasti sudah lelah memainkan permainan kecilnya ini.Ternyata aku salah besar. Dia justru semakin menjadi-jadi.Selama satu minggu penuh, dia berdiri di luar gedung apartemenku, membawa mawar, memohon-mohon agar aku memaafkannya."Elara, aku tahu kamu ada di dalam," pintanya, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku cuma ingin bicara …."Yang kurasakan hanya lelah. Aku menolak menemuinya, jadi dia akan berdiri di sana sampai larut malam sebelum akhirnya pergi.Bunga-bunga yang ditinggalkannya di depan pintuku? Semua kubuang ke tempat sampah. Tak satu pun kusisakan."Perlu aku singkirkan dia?" tanya Liam lembut, sambil memandangi sosok yang berdiri di jalan di bawah sana.Aku tidak mengatakan tidak.Aku melihat Liam turun dan berbicara dengannya. Beberapa saat kemudian, Dante pergi, bahunya merosot, langkahnya penuh kekalahan.Aku penasaran. "Kamu bilang apa ke dia?"Liam tersenyum tipis. "Aku bilang kehadirannya hanya membangkitkan kenangan men

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 17

    Dante menarik napas dalam-dalam, lalu membuka berkas terenkripsi yang dikirim Vincent.Yang pertama muncul adalah rekaman kamera keamanan.Di rekaman itu Elara jelas terlihat sendirian sambil menyeret tubuh Dante yang berlumuran darah ke tempat aman. Kamera menangkap momen tepat ketika telapak tangan Elara teriris pecahan kaca di tanah.Beberapa menit kemudian, Elara berlari pergi untuk mencari bantuan. Saat itulah Ava keluar dari bayangan. Pertama, dia melukai tangannya sendiri. Kemudian, dia menelepon anak buahnya untuk mengangkat Dante dan membawanya pergi.Ketika Elara kembali dengan perban, yang tersisa hanyalah genangan darah.Dante merasa seperti disambar petir. Tubuhnya seketika membeku. Dia teringat suatu malam, di atas ranjang, jemarinya menelusuri bekas luka panjang yang menonjol di tangan Elara.Dia tak pernah menanyakannya.Dia teringat Ava yang menunjukkan "lukanya" dengan mata penuh air mata sambil berkata, "Dante, aku nggak menyesal. Semua ini sepadan demi menyelamatkan

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 16

    Keesokan paginya, aku melihat Liam menerima telepon tanpa henti.Dari kerutan di dahinya dan suaranya yang tegang, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Saat dia akhirnya menutup telepon, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa?"Liam menoleh dan memberiku senyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah kecil bisnisku."Namun, aku tahu itu lebih dari sekadar itu. Setelah tiga tahun menjadi istri Dante, aku tahu persis bagaimana dunia mafia bekerja. Hatiku terasa mencelos."Itu Dante, 'kan?" tanyaku langsung.Liam tidak menyangkal. Dia menghampiriku dan dengan lembut menangkup wajahku. "Elara, jangan khawatir. Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih buruk."Beberapa hari berikutnya, aku menyaksikan sendiri kegilaan Dante. Beberapa mitra utama Liam tiba-tiba menarik investasi mereka. Kasino-kasinonya digerebek secara mendadak. Satu demi satu "masalah" bermunculan.Aku menonton laporan berita dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Dasar bajingan keji! Menggunakan c

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 15

    Untuk membangkitkan semangatku, Liam membawaku ke sebuah resor ski di luar Bastin. Dengan mengenakan baju ski putih, aku meluncur menuruni lereng dan merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Liam adalah pemain ski yang luar biasa. Dia mengajarkanku teknik baru dengan sabar dan tangannya menstabilkanku setiap kali aku mulai goyah."Kamu belajar dengan cepat. Wajar juga. Seniman selalu punya koordinasi yang baik," kata Liam sambil tertawa.Aku juga ikut tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Profesor."Saat kami beristirahat di pondok di puncak gunung, aku merasa sangat tenang. Sinar matahari yang menembus jendela besar terasa hangat dan menenangkan."Elara, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Liam yang ekspresinya tiba-tiba menjadi serius."Apa itu?" tanya Elara."Apa kamu mau ... bersamaku? Maksudku, benar-benar bersamaku," tanya Liam.Hatiku langsung berdebar, pipiku terasa panas. Pria yang baik dan lembut ini .... Aku telah melihat betapa baiknya dia padaku selam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status