แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Crispy Coco
Selama tiga hari ini, aku mengurung diri di kamar dan menutup semua tirai jendela rapat-rapat.

Roberto berkali-kali mengetuk pintu kamarku, tetapi makanan yang diletakkannya di depan kamar tetap tidak tersentuh. Aku bisa mendengarnya menghela napas dan bergumam, "Nyonya, nanti kamu bisa jatuh sakit."

Aku tidak peduli. Aku hanya berbaring di tempat tidur sambil memeluk potongan lukisan ibuku yang hangus itu dan tidak bergerak sedikit pun. Namun, di tengah ketenangan memilukan yang menggerogotiku, masih saja ada seseorang yang menggangguku.

Ava terus mengirimku pesan berupa fotonya dan Dante berjalan di pantai, video kalung mahal yang dibelikan Dante untuknya, dan sebuah foto buram mereka berdua yang saling terjerat di ranjang.

[ Terima kasih sudah membebaskan kami. Ava. ]

Aku seharusnya menghapus semua pesan itu dan memblokir nomor Ava, tetapi aku tidak melakukannya. Aku menatap foto-foto itu seperti seorang masokis, menyaksikan suamiku memanjakan wanita lain sampai hatiku mati rasa dan rasa sakit itu akhirnya mereda. Bersamaan dengan itu, sisa-sisa rasa cinta yang pernah aku miliki pada Dante pun benar-benar mati.

Pada hari kelima, ponselku berdering dan itu berasal dari temanku, Sophia. Aku ragu sejenak, lalu mengangkat telepon itu.

"Elara? Astaga, suaramu buruk sekali. Apa yang terjadi?" tanya Sophia dengan nada penuh khawatir.

"Nggak apa-apa, hanya flu," kataku dengan suara yang berusaha terdengar normal.

Sophia berkata dengan tergesa-gesa, "Dengar. Aku tahu ini permintaan besar, tapi aku benar-benar putus asa. Malam ini ada gala amal dan aku seharusnya bermain biola, tapi ibuku baru saja masuk rumah sakit. Aku harus segera ke Bastin."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Kamu masih ingat, 'kan? Saat kuliah, kamu adalah pemain biola yang lebih hebat dariku. Hanya saja setelah itu ...."

Setelah mengatakan itu, Sophia terdiam sejenak. "Pokoknya, bisakah kamu tolong menggantikanku sekali ini saja? Hanya satu lagu saja, Ave Maria. Aku tahu kamu masih ingat lagu ini."

Ave Maria adalah lagu favorit ibuku. Ibuku pernah bilang lagu ini menyimpan rasa cinta yang paling murni dan kerinduan yang paling dalam di dunia. Setelah terdiam lama, aku akhirnya menyetujuinya.

Aku merias wajahku dengan hati-hati, setiap detail lembut itu seperti sebuah perisai. Gaun sifon putih memberikan kesan sangat anggun dan hampir suci pada penampilanku. Aku hampir tidak bisa mengenali wanita yang terlihat di cermin. Untuk pertama kalinya sejak kematian ibuku, aku tidak bersembunyi di balik topeng agresif dan mengintimidasi.

Sebelum naik ke panggung, seorang staf muda bertanya, "Gugup?"

Aku menggelengkan kelapa. Anehnya, aku sama sekali tidak merasa gugup, malahan merasakan ketenangan yang sudah tidak kurasakan selama bertahun-tahun ini. Musik selalu menjadi tempat perlindunganku. Tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang hidup ini lemparkan padaku, aku selalu bisa menemukan kedamaian saat memegang biola.

"Hadirin sekalian, mohon sambut solois biola kita yang akan membawakan Ave Maria."

Suara pembawa acara bergema di aula, sedangkan sorot lampu menyinari tepat di tengah panggung.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah ke dalam cahaya itu. Suasana di aula menjadi hening dan semua mata tertuju padaku. Aku tidak melihat ke arah mereka dan hanya memejamkan mata, lalu menempatkan biola di bahuku dan membiarkan jemariku menemukan senarnya.

Saat nada pertama melayang memenuhi aula, dunia seolah-olah menghilang. Melodi Ave Maria mengalir dengan setiap nada yang tepat dan dipenuhi emosi. Di dalam musik itu, aku mencurahkan semua kenangan, cinta, luka, dan keikhlasanku untuk melepaskan. Suasana di aula itu tenggelam dalam keheningan saat nada terakhir memudar, lalu tiba-tiba dipenuhi dengan suara tepuk tangan.

Aku membuka mata dan membungkuk dalam-dalam. Saat menegakkan tubuhku, aku melihat Dante yang mengenakan tuksedo hitam duduk di baris ketiga dan menatap lurus ke arahku. Dia menunjukkan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya, terkejut, terpukau, dan sesuatu yang rumit serta sulit dibaca.

Sementara itu, Ava yang duduk di samping dengan mengenakan gaun merah muda menarik lengan baju Dante, seolah-olah bertanya ada apa dengan Dante. Aku tidak bisa mendengar suaranya, tetapi ekspresinya terlihat sangat jengkel saat bertanya mengapa Dante terus menatapku. Dante tidak menjawabnya, hanya terus menatapku.

Saat tatapanku bertemu dengan tatapan Dante, waktu seolah-olah berhenti selama satu detik. Dante sedang melihat sosokku yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Bukan seorang istri pemarah yang terpaksa dinikahinya, melainkan seorang wanita yang terbentuk dari kekuatan yang rapuh. Sementara itu, aku melihat seorang pria yang pernah kucintai dan kini harus kulepaskan sepenuhnya.

Aku memutuskan tatapan itu, lalu memberikan penghormatan terakhir pada para penonton dan melangkah turun dari panggung. Suara tepuk tangan masih bergema di belakangku, tetapi aku tahu penampilan ini bukan hanya untuk Sophia.

Penampilan ini untuk diriku sendiri juga. Ini adalah perpisahanku, perpisahan terakhir untuk diriku yang lama. Perpisahan terakhir dengan Elara Nugroho. Mulai sekarang, aku akan memulai hidup baru.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 20

    Sebulan kemudian, tibalah hari pernikahanku dengan Liam.Aku mengenakan gaun putih yang indah, dikelilingi para tamu yang benar-benar ikut berbahagia untuk kami. Tidak ada satu pun dari semua ini yang pernah kurasakan di pernikahanku dengan Dante.Seorang pelayan menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil, hadiah pernikahan dari tamu anonim.Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah catatan.[ Bos bersikeras agar ini disampaikan kepadamu. Tolong, terimalah. ]Di bawah catatan itu tergeletak sebuah bros. Bros milik ibuku.Meski telah diperbaiki dengan sangat hati-hati, aku masih bisa melihat samar bekas kerusakan air di tepinya. Aku hanya bisa membayangkan betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengambilnya kembali dari dasar laut.Aku menggenggamnya erat dan berbisik pelan, "Terima kasih."Namun, hanya itu saja."Sayang? Ada apa?"Suara Liam memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di ujung lorong, senyum hangat menghiasi wajahnya.Aku tak bisa menahan senyum saat melangkah

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 19

    Aku terbangun dengan bau apek yang menusuk.Tangan dan kakiku terikat erat ke sebuah kursi dengan tali kasar. Tempat itu tampak seperti gudang terbengkalai, udara dipenuhi aroma karat dan debu."Kamu sudah bangun."Sebuah suara parau dan nyaris gila terdengar di depanku. Aku mendongak dan melihat siapa yang berdiri di sana.Ava.Tidak, wajah itu sudah tak bisa lagi disebut wajah.Separuh mukanya dipenuhi bekas luka mengerikan, seperti terkena cairan asam. Matanya menyala dengan kebencian gila yang membara. Dia tampak seperti iblis yang diseret kembali dari neraka."Kaget?" katanya sambil menyeret kakinya yang terluka, terpincang-pincang mendekat, sebuah pistol tergenggam di tangannya. "Ini ulah Dante. Dia melemparkanku ke laut, menarikku keluar, lalu melemparkanku lagi. Dia menghancurkan wajahku dan mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia sudah selesai denganku. Katanya dia ingin aku merasakan rasa sakit yang kamu rasakan."Dia tertawa melengking, histeris."Dia menghancurkanku dan semu

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 18

    Sudut Pandang Elara:Aku sempat berpikir Dante pasti sudah lelah memainkan permainan kecilnya ini.Ternyata aku salah besar. Dia justru semakin menjadi-jadi.Selama satu minggu penuh, dia berdiri di luar gedung apartemenku, membawa mawar, memohon-mohon agar aku memaafkannya."Elara, aku tahu kamu ada di dalam," pintanya, suaranya serak dan menyedihkan. "Aku cuma ingin bicara …."Yang kurasakan hanya lelah. Aku menolak menemuinya, jadi dia akan berdiri di sana sampai larut malam sebelum akhirnya pergi.Bunga-bunga yang ditinggalkannya di depan pintuku? Semua kubuang ke tempat sampah. Tak satu pun kusisakan."Perlu aku singkirkan dia?" tanya Liam lembut, sambil memandangi sosok yang berdiri di jalan di bawah sana.Aku tidak mengatakan tidak.Aku melihat Liam turun dan berbicara dengannya. Beberapa saat kemudian, Dante pergi, bahunya merosot, langkahnya penuh kekalahan.Aku penasaran. "Kamu bilang apa ke dia?"Liam tersenyum tipis. "Aku bilang kehadirannya hanya membangkitkan kenangan men

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 17

    Dante menarik napas dalam-dalam, lalu membuka berkas terenkripsi yang dikirim Vincent.Yang pertama muncul adalah rekaman kamera keamanan.Di rekaman itu Elara jelas terlihat sendirian sambil menyeret tubuh Dante yang berlumuran darah ke tempat aman. Kamera menangkap momen tepat ketika telapak tangan Elara teriris pecahan kaca di tanah.Beberapa menit kemudian, Elara berlari pergi untuk mencari bantuan. Saat itulah Ava keluar dari bayangan. Pertama, dia melukai tangannya sendiri. Kemudian, dia menelepon anak buahnya untuk mengangkat Dante dan membawanya pergi.Ketika Elara kembali dengan perban, yang tersisa hanyalah genangan darah.Dante merasa seperti disambar petir. Tubuhnya seketika membeku. Dia teringat suatu malam, di atas ranjang, jemarinya menelusuri bekas luka panjang yang menonjol di tangan Elara.Dia tak pernah menanyakannya.Dia teringat Ava yang menunjukkan "lukanya" dengan mata penuh air mata sambil berkata, "Dante, aku nggak menyesal. Semua ini sepadan demi menyelamatkan

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 16

    Keesokan paginya, aku melihat Liam menerima telepon tanpa henti.Dari kerutan di dahinya dan suaranya yang tegang, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Saat dia akhirnya menutup telepon, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa?"Liam menoleh dan memberiku senyum menenangkan. "Nggak apa-apa, cuma sedikit masalah kecil bisnisku."Namun, aku tahu itu lebih dari sekadar itu. Setelah tiga tahun menjadi istri Dante, aku tahu persis bagaimana dunia mafia bekerja. Hatiku terasa mencelos."Itu Dante, 'kan?" tanyaku langsung.Liam tidak menyangkal. Dia menghampiriku dan dengan lembut menangkup wajahku. "Elara, jangan khawatir. Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih buruk."Beberapa hari berikutnya, aku menyaksikan sendiri kegilaan Dante. Beberapa mitra utama Liam tiba-tiba menarik investasi mereka. Kasino-kasinonya digerebek secara mendadak. Satu demi satu "masalah" bermunculan.Aku menonton laporan berita dengan tubuh gemetar menahan amarah. "Dasar bajingan keji! Menggunakan c

  • Tubuhnya Menginginkanku, Hatinya Terjerat Cintaku   Bab 15

    Untuk membangkitkan semangatku, Liam membawaku ke sebuah resor ski di luar Bastin. Dengan mengenakan baju ski putih, aku meluncur menuruni lereng dan merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Liam adalah pemain ski yang luar biasa. Dia mengajarkanku teknik baru dengan sabar dan tangannya menstabilkanku setiap kali aku mulai goyah."Kamu belajar dengan cepat. Wajar juga. Seniman selalu punya koordinasi yang baik," kata Liam sambil tertawa.Aku juga ikut tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Profesor."Saat kami beristirahat di pondok di puncak gunung, aku merasa sangat tenang. Sinar matahari yang menembus jendela besar terasa hangat dan menenangkan."Elara, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Liam yang ekspresinya tiba-tiba menjadi serius."Apa itu?" tanya Elara."Apa kamu mau ... bersamaku? Maksudku, benar-benar bersamaku," tanya Liam.Hatiku langsung berdebar, pipiku terasa panas. Pria yang baik dan lembut ini .... Aku telah melihat betapa baiknya dia padaku selam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status