Share

Bab 5

Author: Juju
Aku mencoba melepas cincin itu. Tapi tidak bisa dilepas sama sekali.

Logam itu menancap dalam ke dagingku. Terlalu kecil, terlalu ketat, seperti lingkaran api yang melilit tulang jariku.

Setiap aku memutarnya, rasa sakit yang menusuk menjalar ke atas sepanjang lenganku.

Tapi, yang membuat mataku perih bukanlah rasa sakit itu.

Melainkan makna yang terkandung dalam cincin ini.

"Cincin itu sudah disiapkan selama tujuh tahun."

Tujuh tahun yang lalu, sebelum aku tidur bersamanya, sebelum aku menjahit luka pertamanya dengan tanganku sendiri, sebelum aku menyerahkan setiap detak jiwaku padanya.

Dia sudah memilih wanita lain.

Setiap bisikan "Aku mencintaimu" dalam kegelapan.

Setiap janji yang dia ucapkan.

Setiap kali dia berkata, "Kamu satu-satunya bagiku."

Semua itu bohong.

Meskipun aku sudah tahu kebenarannya, hatiku tetap terasa sakit.

Sunny masih duduk di tanah sambil terisak dengan nada penuh kesedihan. "Aku nggak pura-pura .... Kalau kamu suka cincin itu, aku bisa memberimu yang lain, tapi yang ini nggak boleh ...."

Tanpa perlu menoleh, aku bisa merasakan tatapan dingin Marco dari belakang.

Langkahnya berat dan tergesa-gesa, berjalan cepat mendekatiku.

"Diana, masih belum cukup bikin ributnya?!"

Tanganku tiba-tiba dicengkeram. Cengkeramannya sangat keras dan kuat, seperti ingin menghancurkan tulangku.

"Sunny sangat baik padamu, tapi kamu malah menyakitinya?"

Aku menggertakkan gigi dan berkata pelan, "Aku nggak melakukan apa-apa!"

Entah sejak kapan, para pengawal dan pelayan berkumpul di depan pintu vila.

Bisikan mereka menusuk telingaku seperti jarum-jarum tajam.

"Tuan dan Sunny sudah tunangan. Apa gunanya menemani Tuan selama tujuh tahun? Tetap nggak bisa menandingi Sunny yang baru kembali. Sampai mencuri cincin, menjijikkan sekali ...."

Marco mendorongku tanpa ragu.

Aku terhuyung mundur, tersandung koperku sendiri, dan terjatuh keras di atas tanah berkerikil.

Kerikil tajam menusuk telapak tanganku dan menusuk sisa-sisa harga diriku yang tersisa.

Ritsleting koper terbuka karena terbentur, sebuah kalung perak dengan liontin bintang tergelincir keluar.

Kecil dan murahan. Ini adalah hadiah pertama yang dia berikan padaku.

"Matamu mengingatkanku pada bintang," katanya dulu.

Selama tujuh tahun ini, aku selalu menyimpannya dengan baik. Menyembunyikannya di sudut terdalam lemari, menjaganya dengan penuh pengabdian.

Pandangan Marco tanpa sengaja menjurus pada kalung itu, langkahnya terhenti sejenak.

Tapi, seketika itu juga, kebimbangan di matanya tersapu oleh ketidakpedulian.

Dia berjalan ke depan, mengangkat kakinya, dan menginjak "bintang" itu dengan keras.

Krak ....

Liontin perak itu berubah bentuk. Retakan halus menyebar di permukaannya seperti jaring laba-laba.

Seperti hati tulusku yang telah kujaga dengan hati-hati selama tujuh tahun ini, hancur berkeping-keping.

Napasku terhenti.

Sunny bersandar di pelukannya, senyuman puas tersungging di bibirnya.

Dia lalu menarik lengan baju Marco dengan lembut, suaranya lemah dan penuh pengertian.

"Marco, sudahlah, jangan marah. Aku nggak menyalahkannya."

Kemarahan Marco semakin memuncak. Dia menatapku dari atas, suaranya sedingin es tanpa sedikit pun kehangatan.

"Diana, aku nggak akan mempermasalahkan hal ini. Lepaskan cincin itu. Minta maaf kepada Sunny."

Aku mengepalkan tanganku, menggertakkan gigi dan berkata, "Aku nggak merebutnya. Dan aku nggak akan pernah minta maaf."

Suasana membeku seketika saat kata-kata itu terucap.

Marco tiba-tiba membungkuk, mencengkeram keras tanganku yang mengenakan cincin itu.

Tapi, saat menyentuh darah yang merembes dari sela-sela jariku, dia tanpa sadar melonggarkan cengkeramannya.

"Kenapa kamu harus melawanku seperti ini? Kamu dulu penurut. Aku nggak suka kamu yang sekarang."

Aku yang sekarang?

Aku masih wanita yang telah mencintainya selama tujuh tahun. Hanya saja, dia tidak pernah mau benar-benar melihatku sebagai diriku sendiri.

"Aku nggak mengambilnya." Aku mencoba lagi dengan sekuat tenaga, ingin melepaskan cincin itu.

"Dia yang memasangkannya di tanganku. Aku nggak mengambilnya."

Darah menetes ke tanah berkerikil. Marco tampak tidak tega.

"Aku nggak bermaksud mempermalukanmu. Tapi, kalau kamu terus-terusan bikin keributan, kamulah yang mempermalukan dirimu sendiri."

Aku tetap tidak mau mengaku salah.

Dia menegakkan tubuhnya, wajahnya menjadi tanpa ekspresi.

Dia memerintahkan, "Lepaskan cincin itu, kembalikan kepada Sunny."

Aku tidak bisa menahan emosiku lagi, mataku berkaca-kaca.

Aku masih tahan dituduh Sunny, masih tahan dihina para pelayan.

Tapi, aku tidak kuat lagi saat dia tidak mau percaya padaku.

"Kalau kamu nggak percaya, lihat saja rekaman CCTV." Suaraku serak. "Lihat rekaman CCTV sekali saja, kamu akan tahu sendiri siapa yang bohong."

Jawabannya tanpa ragu. "Nggak perlu."

"Sebagai putri Keluarga Sanjaya, dia nggak punya alasan apa pun untuk menjebakmu."

Padahal jelas-jelas ada alasan, tapi Marco mengabaikannya.

Karena dia sengaja menutup mata.

Sunny berkata dengan nada yang semakin sedih, "Sayang ... mungkin dia cuma sedang bingung. Aku nggak apa-apa. Beneran."

Wajah Marco mendadak muram, lalu dia merenggut cincin itu dari tanganku dengan kasar.

Cincin itu terlepas dengan paksa. Ujung jariku terluka parah. Aku menggigit bibirku dengan keras, menahan diri agar tidak berteriak. Bahkan rasa darah memenuhi mulutku.

Sebersit rasa iba melintas di matanya, tapi segera menghilang.

Dia berbalik, dan di hadapan semua orang, memasangkan cincin itu ke jari Sunny.

"Cincin ini sejak awal selalu milikmu."

Setelah mengatakan itu, dia perlahan berbalik, tatapannya dingin dan tak acuh. "Diana, istirahatlah di rumah temanmu dulu."

Aku terpaku di tempat, pandanganku gelap.

Tujuh tahun kebersamaan akhirnya tidak sebanding dengan satu kata dari Sunny.

Dengan gemetaran, aku memungut kalung bintang yang hancur itu dan senyum pilu terlukis di bibirku.

Kemudian, di hadapan semua orang, aku melemparkannya ke dalam tempat sampah.

"Oke." Suaraku sangat pelan, hanya tersisa keheningan yang sunyi.

Aku berbalik, mengambil koper, dan berjalan menuju gerbang.

Marco menatap punggungku, keraguan melintas di matanya.

Tepat saat dia hampir bicara, Sunny tiba-tiba menjerit kesakitan.

Dia berbalik kembali.

Tentu saja dia berbalik.

Sementara aku terus berjalan ke depan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 16

    Saat melihat Marco dibawa pergi, ekspresi puas di wajah Sunny seketika membeku.Dia akhirnya panik, lalu merangkak dan menyeret dirinya ke kaki Austin.Dia bersujud berulang kali, hingga dahinya berdarah."Tuan Austin, tolong ampuni aku! Aku minta maaf!""Aku nggak akan berani lagi! Aku nggak akan berani menyakiti Nona Diana lagi!"Austin menunduk, matanya dingin menusuk, tanpa sedikit pun belas kasihan."Waktu kamu menyakitinya, kenapa kamu nggak pikirkan dulu apa yang akan terjadi padamu?""Sekalipun aku ambil nyawamu, itu masih belum cukup untuk menebus rasa sakit yang dia rasakan karena kehilangan anaknya."Dia mengangkat dagunya, memberi isyarat kepada para pengawal. "Bawa pergi."Sunny ketakutan, meronta-ronta dan berteriak histeris, "Nggak! Aku nggak mau dibawa pergi! Kumohon, lepaskan aku!"Tapi, para prajurit itu tidak bergeming. Mereka mengangkatnya dan menyeretnya pergi dengan paksa.Setelah itu, aku mendengar bahwa Sunny dikirim ke kamp hukuman paling kejam milik mafia.Dia

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 15

    Sunny berhenti sebentar, lalu berkata dengan puas, "Karena, kamu juga salah satu penyebab kematian anaknya!""Anak?"Marco tersentak, matanya membelalak.Dia menoleh cepat ke arahku, tampak terkejut dan tidak percaya."Kita ... punya anak?"Mataku memerah menahan tangis begitu anakku disebut.Tapi, aku tidak berkata apa-apa, hanya menghunjamnya dengan tatapan dingin.Diam itulah jawaban yang paling kejam.Marco segera menyadari bahwa kata-kata Sunny itu benar.Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti hantu.Dia terhuyung beberapa langkah ke belakang, suaranya bergetar seolah mencengkeram sisa-sisa harapannya."Kamu bohong, 'kan!"Melihatnya seperti itu, Sunny tertawa terbahak-bahak.Tawanya tajam dan menusuk telinga, mengerikan di tengah malam yang sunyi.Dia mendongak, menatap mataku dengan tatapan ular berbisa."Kamu lupa?""Dia baru kecelakaan. Kecelakaan itu membuatnya keguguran!""Waktu itu, dia baru dua bulan lebih mengandung anakmu.""Waktu dia kecelakaan, dia meneleponm

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 14

    Aku menunduk dan menyapu pandanganku kepada orang-orang yang gemetaran di lantai.Lalu berkata dengan datar, "Kalian memandang rendah pelayan, 'kan?""Kalau begitu, rasakan sendiri bagaimana rasanya jadi pelayan."Ini penghinaan berat bagi para tuan dan nona muda yang biasa hidup mewah.Tapi, mereka tidak berani melawan.Begitu aku selesai berbicara, Austin tersenyum setuju.Matanya memancarkan kasih sayang, suaranya dalam dan lembut."Kami ikuti perintahmu."Para prajurit menyeret mereka keluar dari ruang pesta.Marco yang pingsan juga digeret keluar. Keributan di ruang pesta perlahan mereda.Lampu-lampu menyala kembali. Alunan piano kembali mengiringi, dan para tamu berduyun-duyun mendekat untuk mengucapkan selamat.Seolah tidak terjadi apa-apa.Ini adalah pesta ulang tahunku.Orang tuaku yang sangat menyayangiku merayakannya untukku, dan tunanganku juga menemaniku.Aku tersenyum, menerima ucapan selamat satu per satu.Ini adalah ulang tahun paling bahagia yang pernah kualami sejak

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 13

    Begitu kata-kataku terucap, wajah Marco seketika memucat.Pupil matanya menyempit, bahunya yang terluka bergetar, dan darah mengalir semakin deras.Rasa bersalah membanjiri matanya, bercampur dengan rasa sakit."Sayang, jangan begini." Suaranya bergetar.Dia seperti tidak mampu melihatku bersikap asing kepadanya.Anak buahnya datang mendekat, kening berkerut, nada suaranya cemas."Bos, berhenti bicara. Lukamu harus cepat ditangani, nggak boleh ditunda-tunda."Marco mendadak menepis tangannya dengan kekuatan entah dari mana.Dia terhuyung selangkah, matanya masih terpaku padaku, suaranya parau."Jadi, kamu sudah lama tahu identitasmu yang sebenarnya. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?""Kamu nggak percaya padaku?"Setelah pertanyaan ini, ibuku maju ke depan, tatapannya dingin dan suaranya tajam."Marco, kamu berani mempertanyakan anakku?""Aku sudah menyelidiki semua perbuatanmu. Kamu bersekongkol dengan Sunny untuk mencelakai anakku demi kepentingan dirimu.""Yang kamu pedulikan itu

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 12

    Tiba-tiba, terdengar letusan senjata. Suara nyaring itu memecah kekacauan di ruang pesta.Tidak ada yang menduga keadaan jadi seserius iniTubuhku membeku, pikiranku kosong.Tapi, aku melihat seseorang berdiri di depanku.Marco.Setelah letusan menggema, peluru menembus bahunya. Darah mengucur membasahi kemejanya.Dia mengerang dan terhuyung sebentar, tapi masih berdiri tegak di depanku.Pada saat yang sama, sesosok pria tinggi mendadak melompat keluar dari kegelapan, mendekapku erat dalam pelukannya.Pelukannya kokoh dan hangat, dengan aroma pinus yang lembut.Kekacauan dalam hatiku seketika menghilang.Aku refleks mendongak dan melihat wajah tampannya.Pria ini sangat menawan.Entah sudah berapa lama dia mengamati aku dari kegelapan.Saat melihat aku dalam bahaya, dia langsung bertindak.Ibu dan Ayah pucat ketakutan. Mereka bergegas ke sisiku, menggenggam tanganku erat-erat.Suara ibuku bergetar. "Sayang, kamu nggak apa-apa?"Ayah juga tampak khawatir dan masih terbayang rasa takut.

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 11

    Suara bisik-bisik di ruang pesta pun memuncak.Jumlah penonton siaran langsung melonjak tajam. Tidak ada yang mau melewatkan pertunjukan seru ini."Ternyata dia penipu. Pantas saja dia menjebak Nona Diana. Mungkin dia takut identitasnya terbongkar.""Aduh, jijik. Pura-pura lemah dan nggak bersalah, tapi di belakang ternyata kelakuannya kotor.""Tadinya kukira Diana yang nggak tahu diri. Ternyata, semua ini sandiwara yang dirancang Sunny sendiri."Bisikan dan komentar itu menusuk-nusuk hati Sunny.Dia tiba-tiba berdiri, berteriak dengan mata merah, "Diam! Kalian semua diam! Diana pasti menipu Ayah dan Ibu. Mana mungkin aku penipu?"Teriakannya tajam dan memekakkan telinga, tapi tidak mampu meredam perbincangan orang-orang.Ayah mengerutkan kening, wajahnya suram. Dia mengangkat dagunya ke arah prajurit di belakangnya."Bawa masuk orang itu."Tak lama kemudian, dua prajurit membawa masuk seorang wanita berpakaian sederhana dengan wajah yang penuh keriput.Rambut wanita itu sudah memutih,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status