Partager

Bab 7

Auteur: Juju
Selama tiga hari ini, Sunny mengumumkan kebahagiaannya kepada seluruh dunia.

Hari pertama, dia mengunggah sebuah video.

Marco berdiri di dapur, membuatkan makanan untuknya dengan kikuk.

Sementara dia bersandar di samping Marco, dengan senyuman manis yang membuat orang lain iri.

"Dia sedang belajar memasak," katanya. "Untukku. Untuk kami."

Hari kedua, dia semakin berlebihan. Berbelanja di toko perlengkapan bayi. Marco memijat kakinya di tengah malam. Ditambah rekaman suaranya yang membacakan cerita sebelum tidur.

Delapan juta pengikutnya tak henti-henti berseru iri.

[Pasangan paling serasi.]

[Dia sangat beruntung.]

[Ini yang namanya cinta sejati!]

Hari ketiga, ciuman mesra mereka di bawah senja. Siluet mereka bersinar terang di bawah langit oranye kemerahan.

Dia mengumumkan rencana siaran langsung perayaan ulang tahun besok.

"Temani aku merayakan," katanya. "Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian semua."

Aku menyaksikan semua ini melalui layar. Tepat pada saat itu, ponselku berdering.

"Anakku sayang," panggil ayahku dengan suara dalamnya. "Besok ulang tahunmu. Aku mau mengadakan pesta untukmu. Pesta yang sesungguhnya. Biar mereka lihat sendiri siapa sebenarnya pewaris sejati Keluarga Sanjaya. Kamu sudah siap?"

Tenggorokanku tercekat. Air mata yang telah kutahan berhari-hari kini menggenang di mataku.

"Ya, Ayah. Aku siap."

Besok adalah hari ulang tahunku. Kebetulan, itu juga hari ulang tahun Sunny.

Dia tidak tahu sama sekali apa yang sedang menantinya.

...

Ruang pesta itu bagaikan istana yang dibangun dari kekayaan.

Lampu gantung kristal yang berkilauan, menara sampanye bertingkat, para tamu yang mengenakan gaun pesta karya desainer ternama, total biaya pesta ini bahkan jauh melebihi pesta pernikahan orang biasa.

Sunny melintas di antara kerumunan, dengan sikap tenang dan senyuman sempurna.

Marco di sampingnya tampak sedang memikirkan sesuatu, sibuk memainkan ponselnya.

Ponsel di sakuku bergetar sebentar. Lalu bergetar lagi.

Aku tidak membukanya, karena aku sudah tahu isi pesan-pesan itu.

Beberapa hari ini, dia terus-terusan mengirim pesan yang sama.

[Kamu di mana?]

[Pulanglah.]

[Jangan ngambek lagi.]

Baru pagi ini dia lihat aku sudah memblokir nomornya.

Teror pesan itu pun terhenti seketika.

Rasa panik dan gelisah yang terpendam dalam dirinya mulai tumbuh tak terkenali.

Aku menatapnya saat dia kembali mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.

"Ada yang sudah dihubungi Diana di rumah?"

Suaranya terdengar rendah dan tegang. Setelah keheningan sejenak, dia melanjutkan, "Nggak. Dia nggak mungkin benar-benar kabur dari rumah. Semua barang pribadinya masih di vila. Perhiasan, jam tangan mewah, semua hadiah dariku masih ada di sana."

"Dia cuma mau menunjukkan emosinya saja. Kalau tujuannya untuk membuatku marah, dia sudah berhasil."

Seorang temannya mendekat, dengan senyum mengejek di wajahnya. "Tuan Marco, hari ini ulang tahun Sunny. Kenapa malah meributkan Diana, si yatim piatu itu?"

Marco menutup telepon dengan gusar dan mendengus dingin.

"Nggak, kok. Satu-satunya orang yang aku pedulikan itu Sunny. Dia satu-satunya pasanganku."

Pengakuan tulusnya itu terekam oleh kamera siaran langsung yang baru saja dibuka Sunny.

Kolom komentar pun riuh.

[Romantisnya!]

[Begini baru suami idaman!]

[Manisnya! Bikin nggak tahan!]

Senyum Sunny semakin terlihat angkuh dan penuh kemenangan.

Tapi, hal itu tidak berlangsung lama.

Sunny refleks meraba dadanya, lalu matanya tiba-tiba melebar, dipenuhi rasa terkejut dan panik.

"Bros ...." bisiknya pelan. Lalu, suaranya tiba-tiba meninggi. "Brosku! Brosku hilang!"

Bros itu adalah simbol status sebagai pewaris Keluarga Sanjaya.

Jika hilang, dia tidak hanya akan dimarahi oleh ayahnya, tapi bahkan mungkin kehilangan posisinya sebagai penerus takhta Keluarga Sanjaya.

Wajah Marco pun memucat.

"Nggak ada yang boleh meninggalkan hotel ini. Cari bros itu. Sekarang juga!"

Para tamu berbisik-bisik, dan di siaran langsung pun penonton sudah heboh.

Sunny menarik temannya dan bergegas menuju ruang ganti.

Pada saat yang sama, aku keluar dari ruang samping.

Mata kami bertemu. Kami bertabrakan.

Teman-teman Sunny tersentak kaget.

"Diana? Kenapa kamu di sini? Kamu menyelinap masuk? Apa kamu ...." Salah satu dari mereka menunjuk ke arahku, matanya menyipit. "Kamu yang curi bros itu, ya?"

Semua kamera langsung mengarah padaku. Ponsel-ponsel diangkat tinggi-tinggi.

Semua mata di koridor tertuju padaku.

Sunny pura-pura menarik orang di sampingnya dengan lembut, lalu berbisik ke arah kamera, "Jangan salah paham, dia pelayan di rumah Marco .... Mungkin dia menyelinap masuk, nggak apa-apa."

Temannya menyeringai.

"Pelayan? Berani pakai baju begini? Lihat gaunnya, lihat jam tangannya. Jelas bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan gaji pelayan!"

Suaranya semakin meninggi.

"Dia pencurinya! Dia nggak cuma mencuri bros, tapi gaunnya juga. Dia pasti ingin menggantikan posisimu!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 16

    Saat melihat Marco dibawa pergi, ekspresi puas di wajah Sunny seketika membeku.Dia akhirnya panik, lalu merangkak dan menyeret dirinya ke kaki Austin.Dia bersujud berulang kali, hingga dahinya berdarah."Tuan Austin, tolong ampuni aku! Aku minta maaf!""Aku nggak akan berani lagi! Aku nggak akan berani menyakiti Nona Diana lagi!"Austin menunduk, matanya dingin menusuk, tanpa sedikit pun belas kasihan."Waktu kamu menyakitinya, kenapa kamu nggak pikirkan dulu apa yang akan terjadi padamu?""Sekalipun aku ambil nyawamu, itu masih belum cukup untuk menebus rasa sakit yang dia rasakan karena kehilangan anaknya."Dia mengangkat dagunya, memberi isyarat kepada para pengawal. "Bawa pergi."Sunny ketakutan, meronta-ronta dan berteriak histeris, "Nggak! Aku nggak mau dibawa pergi! Kumohon, lepaskan aku!"Tapi, para prajurit itu tidak bergeming. Mereka mengangkatnya dan menyeretnya pergi dengan paksa.Setelah itu, aku mendengar bahwa Sunny dikirim ke kamp hukuman paling kejam milik mafia.Dia

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 15

    Sunny berhenti sebentar, lalu berkata dengan puas, "Karena, kamu juga salah satu penyebab kematian anaknya!""Anak?"Marco tersentak, matanya membelalak.Dia menoleh cepat ke arahku, tampak terkejut dan tidak percaya."Kita ... punya anak?"Mataku memerah menahan tangis begitu anakku disebut.Tapi, aku tidak berkata apa-apa, hanya menghunjamnya dengan tatapan dingin.Diam itulah jawaban yang paling kejam.Marco segera menyadari bahwa kata-kata Sunny itu benar.Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti hantu.Dia terhuyung beberapa langkah ke belakang, suaranya bergetar seolah mencengkeram sisa-sisa harapannya."Kamu bohong, 'kan!"Melihatnya seperti itu, Sunny tertawa terbahak-bahak.Tawanya tajam dan menusuk telinga, mengerikan di tengah malam yang sunyi.Dia mendongak, menatap mataku dengan tatapan ular berbisa."Kamu lupa?""Dia baru kecelakaan. Kecelakaan itu membuatnya keguguran!""Waktu itu, dia baru dua bulan lebih mengandung anakmu.""Waktu dia kecelakaan, dia meneleponm

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 14

    Aku menunduk dan menyapu pandanganku kepada orang-orang yang gemetaran di lantai.Lalu berkata dengan datar, "Kalian memandang rendah pelayan, 'kan?""Kalau begitu, rasakan sendiri bagaimana rasanya jadi pelayan."Ini penghinaan berat bagi para tuan dan nona muda yang biasa hidup mewah.Tapi, mereka tidak berani melawan.Begitu aku selesai berbicara, Austin tersenyum setuju.Matanya memancarkan kasih sayang, suaranya dalam dan lembut."Kami ikuti perintahmu."Para prajurit menyeret mereka keluar dari ruang pesta.Marco yang pingsan juga digeret keluar. Keributan di ruang pesta perlahan mereda.Lampu-lampu menyala kembali. Alunan piano kembali mengiringi, dan para tamu berduyun-duyun mendekat untuk mengucapkan selamat.Seolah tidak terjadi apa-apa.Ini adalah pesta ulang tahunku.Orang tuaku yang sangat menyayangiku merayakannya untukku, dan tunanganku juga menemaniku.Aku tersenyum, menerima ucapan selamat satu per satu.Ini adalah ulang tahun paling bahagia yang pernah kualami sejak

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 13

    Begitu kata-kataku terucap, wajah Marco seketika memucat.Pupil matanya menyempit, bahunya yang terluka bergetar, dan darah mengalir semakin deras.Rasa bersalah membanjiri matanya, bercampur dengan rasa sakit."Sayang, jangan begini." Suaranya bergetar.Dia seperti tidak mampu melihatku bersikap asing kepadanya.Anak buahnya datang mendekat, kening berkerut, nada suaranya cemas."Bos, berhenti bicara. Lukamu harus cepat ditangani, nggak boleh ditunda-tunda."Marco mendadak menepis tangannya dengan kekuatan entah dari mana.Dia terhuyung selangkah, matanya masih terpaku padaku, suaranya parau."Jadi, kamu sudah lama tahu identitasmu yang sebenarnya. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?""Kamu nggak percaya padaku?"Setelah pertanyaan ini, ibuku maju ke depan, tatapannya dingin dan suaranya tajam."Marco, kamu berani mempertanyakan anakku?""Aku sudah menyelidiki semua perbuatanmu. Kamu bersekongkol dengan Sunny untuk mencelakai anakku demi kepentingan dirimu.""Yang kamu pedulikan itu

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 12

    Tiba-tiba, terdengar letusan senjata. Suara nyaring itu memecah kekacauan di ruang pesta.Tidak ada yang menduga keadaan jadi seserius iniTubuhku membeku, pikiranku kosong.Tapi, aku melihat seseorang berdiri di depanku.Marco.Setelah letusan menggema, peluru menembus bahunya. Darah mengucur membasahi kemejanya.Dia mengerang dan terhuyung sebentar, tapi masih berdiri tegak di depanku.Pada saat yang sama, sesosok pria tinggi mendadak melompat keluar dari kegelapan, mendekapku erat dalam pelukannya.Pelukannya kokoh dan hangat, dengan aroma pinus yang lembut.Kekacauan dalam hatiku seketika menghilang.Aku refleks mendongak dan melihat wajah tampannya.Pria ini sangat menawan.Entah sudah berapa lama dia mengamati aku dari kegelapan.Saat melihat aku dalam bahaya, dia langsung bertindak.Ibu dan Ayah pucat ketakutan. Mereka bergegas ke sisiku, menggenggam tanganku erat-erat.Suara ibuku bergetar. "Sayang, kamu nggak apa-apa?"Ayah juga tampak khawatir dan masih terbayang rasa takut.

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 11

    Suara bisik-bisik di ruang pesta pun memuncak.Jumlah penonton siaran langsung melonjak tajam. Tidak ada yang mau melewatkan pertunjukan seru ini."Ternyata dia penipu. Pantas saja dia menjebak Nona Diana. Mungkin dia takut identitasnya terbongkar.""Aduh, jijik. Pura-pura lemah dan nggak bersalah, tapi di belakang ternyata kelakuannya kotor.""Tadinya kukira Diana yang nggak tahu diri. Ternyata, semua ini sandiwara yang dirancang Sunny sendiri."Bisikan dan komentar itu menusuk-nusuk hati Sunny.Dia tiba-tiba berdiri, berteriak dengan mata merah, "Diam! Kalian semua diam! Diana pasti menipu Ayah dan Ibu. Mana mungkin aku penipu?"Teriakannya tajam dan memekakkan telinga, tapi tidak mampu meredam perbincangan orang-orang.Ayah mengerutkan kening, wajahnya suram. Dia mengangkat dagunya ke arah prajurit di belakangnya."Bawa masuk orang itu."Tak lama kemudian, dua prajurit membawa masuk seorang wanita berpakaian sederhana dengan wajah yang penuh keriput.Rambut wanita itu sudah memutih,

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 8

    Temannya tiba-tiba menerjang ke arahku, mencoba menangkapku.Aku mencengkeram pergelangan tangannya, lalu mendorongnya dengan keras."Kamu bilang aku pencuri? Mana buktinya?"Seketika itu juga, siaran langsung dipenuhi dengan komentar pedas.[Orang yang bersalah pasti punya seribu alasan.] [Lihat s

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 6

    Aku membawa koperku menuju apartemen yang dulu kubeli dengan seluruh tabunganku.Sejak Marco menjadi bos mafia, tempat ini ditinggalkan.Melihat dekorasi yang hangat itu, hatiku terasa perih.Tempat ini adalah tempat dia dulu berjanji akan menemaniku seumur hidup. Kini, menjadi tempat berlindungku u

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 5

    Aku mencoba melepas cincin itu. Tapi tidak bisa dilepas sama sekali.Logam itu menancap dalam ke dagingku. Terlalu kecil, terlalu ketat, seperti lingkaran api yang melilit tulang jariku.Setiap aku memutarnya, rasa sakit yang menusuk menjalar ke atas sepanjang lenganku.Tapi, yang membuat mataku per

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 4

    Saat aku sampai di gerbang vila, pengawal menghentikanku.Suara yang penuh amarah tiba-tiba terdengar dari belakangku. "Kamu beneran mau pergi?"Aku berbalik dan melihat Marco berjalan mendekat dengan langkah cepat.Wajahnya tampak dingin, jelas sedang marah."Jangan ngambek lagi. Kembalilah."Sunny

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status