Share

Bab 4

Penulis: Juju
Saat aku sampai di gerbang vila, pengawal menghentikanku.

Suara yang penuh amarah tiba-tiba terdengar dari belakangku. "Kamu beneran mau pergi?"

Aku berbalik dan melihat Marco berjalan mendekat dengan langkah cepat.

Wajahnya tampak dingin, jelas sedang marah.

"Jangan ngambek lagi. Kembalilah."

Sunny yang ikut keluar menasihatinya dengan lembut. "Sayang, jangan terlalu keras. Kesehatannya masih belum pulih."

Kemudian, dia berpaling kepadaku. Suaranya lembut, tapi ada nada penuh kemenangan di baliknya.

"Diana, Marco mungkin terbiasa dirawat kamu. Lagi pula, dia juga khawatir kalau kamu menemui bahaya sendirian di luar."

Dia benar-benar bertingkah seperti nyonya.

Aku menatapnya, mataku datar dan kosong. "Ini bukan urusanmu."

Marco tertawa marah.

"Ya sudah. Biarkan dia pergi. Aku terlalu baik padanya, sampai-sampai dia lupa tempatnya sendiri."

Dia melangkah mendekat. Suaranya ditekan sangat rendah, dipenuhi ketajaman dan kekejaman yang biasa dia gunakan saat menghadapi musuh.

"Diana, jangan lupa semua yang kamu miliki sekarang itu berkat aku. Tanpa aku, kamu cuma anak yatim piatu gelandangan."

Yatim piatu.

Dua kata itu bagaikan peluru yang menghantam dadaku dengan keras.

Dia pernah berkata padaku, "Di mana aku pun berada, di situlah rumahmu."

Dia pernah memelukku erat-erat, berjanji bahwa aku tidak akan pernah sendirian lagi.

Sekarang, dia berdiri bersama tunangannya, merendahkanku seakan aku murahan.

Aku menelan paksa rasa pahit yang naik ke tenggorokanku. Aku menegakkan punggungku.

"Tuan Marco, walaupun aku cuma pelayan, kamu nggak berhak membatasi kebebasan pribadiku. Aku mau pergi, dan nggak ada yang bisa menghentikanku."

Marco tiba-tiba menarik dasinya dengan kasar, suaranya tegas.

"Aku nggak mengizinkan. Aku sudah cukup sibuk dengan urusanku sendiri, jangan tambah masalahku."

Aku menatap matanya dengan teguh. "Aku mau pergi."

Suasana membeku.

Marco benar-benar kehabisan kesabarannya.

"Cukup!" Dia mengacak rambutnya dengan frustrasi.

"Kalau kamu butuh istirahat, istirahatlah di sini. Nggak akan ada yang mengganggumu. Memang benar Sunny tunanganku, tapi aku nggak pernah memintamu melayaninya. Apa lagi yang kamu mau?"

Kata-katanya membuatku terdengar seperti pengemis yang minta-minta.

Tenggorokanku terasa tersumbat. Suara yang keluar terdengar serak dan melengking.

"Aku nggak mau apa-apa. Aku cuma mau pergi."

Warna di wajahnya seketika memudar. Suhu di halaman seolah turun sepuluh derajat.

Aku tidak ragu lagi.

Dengan koper di tangan, aku melangkah pergi.

Saat jarak ke gerbang tinggal tiga kaki, sepasang jari ramping mencengkeram pergelangan tanganku.

"Tunggu."

Wajahnya dihiasi senyuman yang sempurna, tapi suaranya sengaja ditekan.

"Diana, jangan marah. Marco nggak bermaksud jahat, dia cuma peduli padamu."

Wanita itu berhenti sebentar, suaranya mengandung penyesalan palsu.

"Selama tujuh tahun, kamu selalu mendampingi dan merawatnya. Aku tahu kamu sudah memberikan segalanya. Dia nggak seharusnya memperlakukanmu seperti ini."

"Tapi, sekarang aku sudah kembali. Berhentilah bermimpi. Nggak usah mencoba menarik perhatiannya dengan cara seperti ini. Cuma buang-buang waktu saja."

Dia akhirnya memperlihatkan taringnya padaku.

Aku menatap matanya lurus-lurus, menjawab dengan dingin, "Urusanku dengan Marco, apa hubungannya denganmu?"

Aku berusaha melepaskan diri, tapi dia mencengkeram lebih erat.

Dengan nada palsu, dia berkata, "Selama tujuh tahun, kamu ingin menikah dengannya, 'kan? Aku tahu kamu nggak rela."

"Kalau memang begitu, aku akan berbaik hati membiarkanmu mencoba cincin pertunanganku, untuk mewujudkan keinginanmu, bagaimana?"

Tanpa menunggu penolakanku, dia langsung mendorong cincinnya ke jari tengahku.

Cincin itu terlalu ketat, hingga sendi jariku memutih karena tercekik.

Rasa sakit yang tajam membuatku tanpa sadar mendorongnya dengan keras.

"Ah!"

Sunny menjerit berlebihan dan jatuh dengan keras ke tanah.

Matanya langsung memerah, dan dia berkata dengan suara tertahan, "Kamu seingin itu menikah dengan Marco?"

"Aku berterima kasih padamu karena sudah menemani Marco selama tujuh tahun. Kalau kamu ingin mencoba cincin pertunanganku, aku bisa memberikannya. Kenapa kamu merebutnya begitu saja?"

Aku menatapnya. Menatap cincin berlian yang tertanam dalam di daging jariku. Menatap para pengawal yang pura-pura tidak melihat. Dan menatap sosok Marco yang samar-samar di ambang pintu.

Dia hanya melihat apa yang wanita itu ingin dia lihat.

Suaraku dingin, setiap kata bagaikan pisau.

"Sunny, kamu pintar akting, sayang sekali nggak jadi bintang sinetron."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 16

    Saat melihat Marco dibawa pergi, ekspresi puas di wajah Sunny seketika membeku.Dia akhirnya panik, lalu merangkak dan menyeret dirinya ke kaki Austin.Dia bersujud berulang kali, hingga dahinya berdarah."Tuan Austin, tolong ampuni aku! Aku minta maaf!""Aku nggak akan berani lagi! Aku nggak akan berani menyakiti Nona Diana lagi!"Austin menunduk, matanya dingin menusuk, tanpa sedikit pun belas kasihan."Waktu kamu menyakitinya, kenapa kamu nggak pikirkan dulu apa yang akan terjadi padamu?""Sekalipun aku ambil nyawamu, itu masih belum cukup untuk menebus rasa sakit yang dia rasakan karena kehilangan anaknya."Dia mengangkat dagunya, memberi isyarat kepada para pengawal. "Bawa pergi."Sunny ketakutan, meronta-ronta dan berteriak histeris, "Nggak! Aku nggak mau dibawa pergi! Kumohon, lepaskan aku!"Tapi, para prajurit itu tidak bergeming. Mereka mengangkatnya dan menyeretnya pergi dengan paksa.Setelah itu, aku mendengar bahwa Sunny dikirim ke kamp hukuman paling kejam milik mafia.Dia

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 15

    Sunny berhenti sebentar, lalu berkata dengan puas, "Karena, kamu juga salah satu penyebab kematian anaknya!""Anak?"Marco tersentak, matanya membelalak.Dia menoleh cepat ke arahku, tampak terkejut dan tidak percaya."Kita ... punya anak?"Mataku memerah menahan tangis begitu anakku disebut.Tapi, aku tidak berkata apa-apa, hanya menghunjamnya dengan tatapan dingin.Diam itulah jawaban yang paling kejam.Marco segera menyadari bahwa kata-kata Sunny itu benar.Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti hantu.Dia terhuyung beberapa langkah ke belakang, suaranya bergetar seolah mencengkeram sisa-sisa harapannya."Kamu bohong, 'kan!"Melihatnya seperti itu, Sunny tertawa terbahak-bahak.Tawanya tajam dan menusuk telinga, mengerikan di tengah malam yang sunyi.Dia mendongak, menatap mataku dengan tatapan ular berbisa."Kamu lupa?""Dia baru kecelakaan. Kecelakaan itu membuatnya keguguran!""Waktu itu, dia baru dua bulan lebih mengandung anakmu.""Waktu dia kecelakaan, dia meneleponm

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 14

    Aku menunduk dan menyapu pandanganku kepada orang-orang yang gemetaran di lantai.Lalu berkata dengan datar, "Kalian memandang rendah pelayan, 'kan?""Kalau begitu, rasakan sendiri bagaimana rasanya jadi pelayan."Ini penghinaan berat bagi para tuan dan nona muda yang biasa hidup mewah.Tapi, mereka tidak berani melawan.Begitu aku selesai berbicara, Austin tersenyum setuju.Matanya memancarkan kasih sayang, suaranya dalam dan lembut."Kami ikuti perintahmu."Para prajurit menyeret mereka keluar dari ruang pesta.Marco yang pingsan juga digeret keluar. Keributan di ruang pesta perlahan mereda.Lampu-lampu menyala kembali. Alunan piano kembali mengiringi, dan para tamu berduyun-duyun mendekat untuk mengucapkan selamat.Seolah tidak terjadi apa-apa.Ini adalah pesta ulang tahunku.Orang tuaku yang sangat menyayangiku merayakannya untukku, dan tunanganku juga menemaniku.Aku tersenyum, menerima ucapan selamat satu per satu.Ini adalah ulang tahun paling bahagia yang pernah kualami sejak

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 13

    Begitu kata-kataku terucap, wajah Marco seketika memucat.Pupil matanya menyempit, bahunya yang terluka bergetar, dan darah mengalir semakin deras.Rasa bersalah membanjiri matanya, bercampur dengan rasa sakit."Sayang, jangan begini." Suaranya bergetar.Dia seperti tidak mampu melihatku bersikap asing kepadanya.Anak buahnya datang mendekat, kening berkerut, nada suaranya cemas."Bos, berhenti bicara. Lukamu harus cepat ditangani, nggak boleh ditunda-tunda."Marco mendadak menepis tangannya dengan kekuatan entah dari mana.Dia terhuyung selangkah, matanya masih terpaku padaku, suaranya parau."Jadi, kamu sudah lama tahu identitasmu yang sebenarnya. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?""Kamu nggak percaya padaku?"Setelah pertanyaan ini, ibuku maju ke depan, tatapannya dingin dan suaranya tajam."Marco, kamu berani mempertanyakan anakku?""Aku sudah menyelidiki semua perbuatanmu. Kamu bersekongkol dengan Sunny untuk mencelakai anakku demi kepentingan dirimu.""Yang kamu pedulikan itu

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 12

    Tiba-tiba, terdengar letusan senjata. Suara nyaring itu memecah kekacauan di ruang pesta.Tidak ada yang menduga keadaan jadi seserius iniTubuhku membeku, pikiranku kosong.Tapi, aku melihat seseorang berdiri di depanku.Marco.Setelah letusan menggema, peluru menembus bahunya. Darah mengucur membasahi kemejanya.Dia mengerang dan terhuyung sebentar, tapi masih berdiri tegak di depanku.Pada saat yang sama, sesosok pria tinggi mendadak melompat keluar dari kegelapan, mendekapku erat dalam pelukannya.Pelukannya kokoh dan hangat, dengan aroma pinus yang lembut.Kekacauan dalam hatiku seketika menghilang.Aku refleks mendongak dan melihat wajah tampannya.Pria ini sangat menawan.Entah sudah berapa lama dia mengamati aku dari kegelapan.Saat melihat aku dalam bahaya, dia langsung bertindak.Ibu dan Ayah pucat ketakutan. Mereka bergegas ke sisiku, menggenggam tanganku erat-erat.Suara ibuku bergetar. "Sayang, kamu nggak apa-apa?"Ayah juga tampak khawatir dan masih terbayang rasa takut.

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 11

    Suara bisik-bisik di ruang pesta pun memuncak.Jumlah penonton siaran langsung melonjak tajam. Tidak ada yang mau melewatkan pertunjukan seru ini."Ternyata dia penipu. Pantas saja dia menjebak Nona Diana. Mungkin dia takut identitasnya terbongkar.""Aduh, jijik. Pura-pura lemah dan nggak bersalah, tapi di belakang ternyata kelakuannya kotor.""Tadinya kukira Diana yang nggak tahu diri. Ternyata, semua ini sandiwara yang dirancang Sunny sendiri."Bisikan dan komentar itu menusuk-nusuk hati Sunny.Dia tiba-tiba berdiri, berteriak dengan mata merah, "Diam! Kalian semua diam! Diana pasti menipu Ayah dan Ibu. Mana mungkin aku penipu?"Teriakannya tajam dan memekakkan telinga, tapi tidak mampu meredam perbincangan orang-orang.Ayah mengerutkan kening, wajahnya suram. Dia mengangkat dagunya ke arah prajurit di belakangnya."Bawa masuk orang itu."Tak lama kemudian, dua prajurit membawa masuk seorang wanita berpakaian sederhana dengan wajah yang penuh keriput.Rambut wanita itu sudah memutih,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status