Share

Bab 6

Author: Juju
Aku membawa koperku menuju apartemen yang dulu kubeli dengan seluruh tabunganku.

Sejak Marco menjadi bos mafia, tempat ini ditinggalkan.

Melihat dekorasi yang hangat itu, hatiku terasa perih.

Tempat ini adalah tempat dia dulu berjanji akan menemaniku seumur hidup. Kini, menjadi tempat berlindungku untuk menghindar darinya.

Aku membereskan isi koper, berbaring di tempat tidur, dan membiarkan kelelahan menelan diriku sepenuhnya.

...

Dini hari.

Aku terbangun oleh suara ketukan keras di pintu.

Begitu aku membukanya, dia langsung menerobos masuk.

Marco, dengan tubuh yang memancarkan bau bir menyengat. Bercampur aroma yang lebih memuakkan lagi, aroma parfum wanita.

Dia menarikku ke dalam pelukannya, mendekapku dalam dadanya dengan erat, hampir membuatku sesak napas.

"Sayang." Suaranya lembut, tidak seperti kekejamannya tadi siang. "Aku tahu kamu pasti pergi ke sini. Jangan marah lagi. Lihat, apa yang aku bawakan untukmu?"

Dia mendorongku hingga terjatuh di sofa, lalu berlutut dengan satu kaki, membuka telapak tangannya.

Kalung dengan liontin bintang, sudah diperbaiki.

Jantungku terhenti sejenak.

Seketika setelah itu, rasa dingin merayap ke dalam hatiku.

Dia benar-benar mengira hal ini bisa memperbaiki segalanya.

Betapa naif, dia mengira sebuah perhiasan murah yang sudah diperbaiki bisa memperbaiki hubungan kami.

Aku menatapnya matanya. "Kamu seharusnya nggak di sini. Pergi."

Wajahnya langsung tertutup kelabu, ekspresinya tampak terluka.

"Kenapa kamu mengusirku? Kamu sudah nggak mencintaiku lagi?"

Aku menunduk. Dalam benakku melintas tentang rasa putus asa saat mengalami kecelakaan dan penghinaan yang kuterima tadi siang.

"Marco." Suaraku sedikit bergetar. "Kamu sendiri yang bilang, aku cuma pengganti bagimu. Emang aku berhak mencintaimu?"

Aku menunggu dalam diam. Menunggu dia membantah, menunggu dia membela diri.

Menunggu dia mengucapkan setidaknya satu kalimat yang bisa membuktikan bahwa tujuh tahun ini bukanlah kebohongan belaka.

Tapi, dia sudah tertidur lelap.

...

Pagi-pagi sekali, aku sarapan sendirian.

Dia menggosok pelipisnya, lalu terhuyung masuk ke dalam dapur. "Sayang, mana air madunya?"

Aku minum susu tanpa menoleh.

Dia terhenti. Di mata yang masih pusing akibat mabuk itu, seolah ada sesuatu yang tiba-tiba menjadi jernih.

Dia pergi mandi. Mandi, mencukur janggut, memperhatikan semuanya dengan teliti.

Saat kembali, tubuhnya masih beraroma sabun yang biasa aku pakai, tapi dia mengenakan kemeja kemarin.

Dia ingin mencium keningku seperti biasa.

Aku menghindar.

Gerakannya membeku, dan di matanya melintas sedikit rasa panik dan gelisah.

Dia berlutut di sampingku, menggenggam tanganku.

"Aku kemarin cuma takut kamu membuat Sunny marah, jadi aku seperti itu padamu. Maafkan aku, sayang. "

"Pukul saja aku. Marahi aku. Luapkan saja kemarahanmu, lakukan apa saja kepadaku, asal kamu mau memaafkanku."

Mataku tidak bergeming. "Nggak apa-apa."

Dia membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Dia sudah siap menyambut air mataku, teriakanku, bahkan perdebatan yang bisa dia menangkan dengan rayuan dan permohonan yang gigih.

Tapi, satu hal yang tidak pernah dia duga, bahwa aku akan berkata "Tidak apa-apa" dengan santai.

Jari-jarinya menggenggam kedua tanganku semakin erat. "Malam ini, ayo kita ke restoran berputar itu. Tempat kita pertama kali bertemu. Ayo kita kembali ke sana. Ingat betapa bahagianya kita waktu itu?"

Dia merasa kali ini aku tidak akan menolaknya.

Dia benar.

Aku memang ingin pergi. Tapi bukan untuk mengenang masa lalu, melainkan untuk mengambil kembali foto itu.

Foto ciuman yang kami ambil setelah menang dalam acara Valentine di restoran itu.

Di foto itu, kami tertawa lepas, seperti dua orang bodoh yang sedang jatuh cinta.

Aku tidak ingin suatu hari muncul di media sosial orang, dikatai sebagai selingkuhan yang memalukan.

Dia meninggalkan kalung itu di atas meja dan melenggang pergi.

Aku tidak menyentuhnya.

...

Waktu berlalu cepat dan malam hari pun tiba.

Aku sedang bersiap untuk pergi, tapi tiba-tiba menerima pesan darinya.

[Aku ada urusan mendadak. Kencannya bisa ditunda? Tunggu aku pulang, ya?]

Lagi-lagi alasan yang payah.

Aku langsung membuka akun media sosial Sunny.

Benar saja, tepat satu menit yang lalu, dia mengunggah foto baru.

Foto itu bertempat di ruang pemeriksaan kehamilan rumah sakit.

Tulisannya berbunyi: [Selamat datang, si kecil tersayang. Papa Mama sudah nggak sabar ingin menyambutmu.]

Komentar pertama dari Marco.

[Papa dan Mama akan melindungimu bersama-sama.]

Ponselku terlepas dari jari-jariku. Aku refleks menangkapnya, tapi aku berharap benda itu jatuh saja dan hancur.

Tiga hari yang lalu, anakku baru saja meninggal dalam kandungan. Tidak ada yang tahu.

Dia malah merayakan kedatangan seorang anak yang bukan dari kandunganku.

Air mataku mengalir deras. Aku membiarkannya mengalir.

Aku menahan emosi, lalu mengirim pesan kepada ayahku.

[Hentikan semua kerja sama dengan Keluarga Hardianto. Semua transaksi, semua proyek kerja sama, hentikan semuanya.]

Dia mendambakan kekuasaan. Dia rakus akan kekayaan. Dia ingin mendaki puncak tertinggi, hingga tidak ada yang bisa menjangkaunya.

Tapi aku tidak akan menjadi batu pijakannya lagi.

Aku datang sendirian ke restoran itu.

Petugas resepsionis menghentikanku di pintu masuk.

"Maaf, Nona. Seluruh lantai sudah disewa untuk acara pribadi."

Aku mengeluarkan kartu hitam yang pernah diberikan Marco kepadaku.

"Saya cuma perlu ambil sesuatu. Foto yang dipasang di dinding itu."

Resepsionis pun menyetujuinya dengan mudah.

Restoran itu sepi, hanya ada dua orang yang duduk di meja dekat jendela.

Marco dan Sunny.

Di atas meja ada kue dengan lilin yang menyala. Wanita itu membungkuk ke depan dan meniup lilin.

Di bawah cahaya lilin yang berkedip-kedip, wajahnya tampak sangat lembut.

Marco menatapnya penuh kasih sayang.

"Kamu berharap apa?"

Wanita itu tersenyum dan menjawab, "Semoga bayi kita lahir dengan sehat."

Seolah teringat sesuatu, dia bertanya sambil lalu, "Kalau Diana hamil, apa kamu juga akan menantikan kelahirannya?"

Marco membungkuk dan menciumnya, perlahan tapi tegas.

"Mana mungkin aku biarkan dia hamil anakku? Dia cuma pengganti." Bibirnya menyentuh pipi Sunny dengan lembut. "Kenapa kita harus membicarakan dia malam ini?"

Aku menggigit bibirku erat-erat, air mata jatuh ke lantai.

Aku bahkan tidak terpikir untuk mendekat dan melabrak mereka.

Aku berjalan ke dinding. Merobek foto kami. Foto saat kami tersenyum dan berciuman, muda, bodoh, dan penuh kebohongan.

Aku merobek foto itu sampai hancur.

Malam itu juga, aku memesan tiket pulang.

Tiga hari. Aku memberi diriku waktu tiga hari untuk menjadi orang yang berbeda. Seseorang yang tidak akan gentar saat mendengar namanya. Seseorang yang bisa menatap wajahnya tanpa merasa putus asa.

Lalu ....

Aku akan memberi mereka kado pernikahan yang paling istimewa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 16

    Saat melihat Marco dibawa pergi, ekspresi puas di wajah Sunny seketika membeku.Dia akhirnya panik, lalu merangkak dan menyeret dirinya ke kaki Austin.Dia bersujud berulang kali, hingga dahinya berdarah."Tuan Austin, tolong ampuni aku! Aku minta maaf!""Aku nggak akan berani lagi! Aku nggak akan berani menyakiti Nona Diana lagi!"Austin menunduk, matanya dingin menusuk, tanpa sedikit pun belas kasihan."Waktu kamu menyakitinya, kenapa kamu nggak pikirkan dulu apa yang akan terjadi padamu?""Sekalipun aku ambil nyawamu, itu masih belum cukup untuk menebus rasa sakit yang dia rasakan karena kehilangan anaknya."Dia mengangkat dagunya, memberi isyarat kepada para pengawal. "Bawa pergi."Sunny ketakutan, meronta-ronta dan berteriak histeris, "Nggak! Aku nggak mau dibawa pergi! Kumohon, lepaskan aku!"Tapi, para prajurit itu tidak bergeming. Mereka mengangkatnya dan menyeretnya pergi dengan paksa.Setelah itu, aku mendengar bahwa Sunny dikirim ke kamp hukuman paling kejam milik mafia.Dia

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 15

    Sunny berhenti sebentar, lalu berkata dengan puas, "Karena, kamu juga salah satu penyebab kematian anaknya!""Anak?"Marco tersentak, matanya membelalak.Dia menoleh cepat ke arahku, tampak terkejut dan tidak percaya."Kita ... punya anak?"Mataku memerah menahan tangis begitu anakku disebut.Tapi, aku tidak berkata apa-apa, hanya menghunjamnya dengan tatapan dingin.Diam itulah jawaban yang paling kejam.Marco segera menyadari bahwa kata-kata Sunny itu benar.Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti hantu.Dia terhuyung beberapa langkah ke belakang, suaranya bergetar seolah mencengkeram sisa-sisa harapannya."Kamu bohong, 'kan!"Melihatnya seperti itu, Sunny tertawa terbahak-bahak.Tawanya tajam dan menusuk telinga, mengerikan di tengah malam yang sunyi.Dia mendongak, menatap mataku dengan tatapan ular berbisa."Kamu lupa?""Dia baru kecelakaan. Kecelakaan itu membuatnya keguguran!""Waktu itu, dia baru dua bulan lebih mengandung anakmu.""Waktu dia kecelakaan, dia meneleponm

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 14

    Aku menunduk dan menyapu pandanganku kepada orang-orang yang gemetaran di lantai.Lalu berkata dengan datar, "Kalian memandang rendah pelayan, 'kan?""Kalau begitu, rasakan sendiri bagaimana rasanya jadi pelayan."Ini penghinaan berat bagi para tuan dan nona muda yang biasa hidup mewah.Tapi, mereka tidak berani melawan.Begitu aku selesai berbicara, Austin tersenyum setuju.Matanya memancarkan kasih sayang, suaranya dalam dan lembut."Kami ikuti perintahmu."Para prajurit menyeret mereka keluar dari ruang pesta.Marco yang pingsan juga digeret keluar. Keributan di ruang pesta perlahan mereda.Lampu-lampu menyala kembali. Alunan piano kembali mengiringi, dan para tamu berduyun-duyun mendekat untuk mengucapkan selamat.Seolah tidak terjadi apa-apa.Ini adalah pesta ulang tahunku.Orang tuaku yang sangat menyayangiku merayakannya untukku, dan tunanganku juga menemaniku.Aku tersenyum, menerima ucapan selamat satu per satu.Ini adalah ulang tahun paling bahagia yang pernah kualami sejak

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 13

    Begitu kata-kataku terucap, wajah Marco seketika memucat.Pupil matanya menyempit, bahunya yang terluka bergetar, dan darah mengalir semakin deras.Rasa bersalah membanjiri matanya, bercampur dengan rasa sakit."Sayang, jangan begini." Suaranya bergetar.Dia seperti tidak mampu melihatku bersikap asing kepadanya.Anak buahnya datang mendekat, kening berkerut, nada suaranya cemas."Bos, berhenti bicara. Lukamu harus cepat ditangani, nggak boleh ditunda-tunda."Marco mendadak menepis tangannya dengan kekuatan entah dari mana.Dia terhuyung selangkah, matanya masih terpaku padaku, suaranya parau."Jadi, kamu sudah lama tahu identitasmu yang sebenarnya. Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?""Kamu nggak percaya padaku?"Setelah pertanyaan ini, ibuku maju ke depan, tatapannya dingin dan suaranya tajam."Marco, kamu berani mempertanyakan anakku?""Aku sudah menyelidiki semua perbuatanmu. Kamu bersekongkol dengan Sunny untuk mencelakai anakku demi kepentingan dirimu.""Yang kamu pedulikan itu

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 12

    Tiba-tiba, terdengar letusan senjata. Suara nyaring itu memecah kekacauan di ruang pesta.Tidak ada yang menduga keadaan jadi seserius iniTubuhku membeku, pikiranku kosong.Tapi, aku melihat seseorang berdiri di depanku.Marco.Setelah letusan menggema, peluru menembus bahunya. Darah mengucur membasahi kemejanya.Dia mengerang dan terhuyung sebentar, tapi masih berdiri tegak di depanku.Pada saat yang sama, sesosok pria tinggi mendadak melompat keluar dari kegelapan, mendekapku erat dalam pelukannya.Pelukannya kokoh dan hangat, dengan aroma pinus yang lembut.Kekacauan dalam hatiku seketika menghilang.Aku refleks mendongak dan melihat wajah tampannya.Pria ini sangat menawan.Entah sudah berapa lama dia mengamati aku dari kegelapan.Saat melihat aku dalam bahaya, dia langsung bertindak.Ibu dan Ayah pucat ketakutan. Mereka bergegas ke sisiku, menggenggam tanganku erat-erat.Suara ibuku bergetar. "Sayang, kamu nggak apa-apa?"Ayah juga tampak khawatir dan masih terbayang rasa takut.

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 11

    Suara bisik-bisik di ruang pesta pun memuncak.Jumlah penonton siaran langsung melonjak tajam. Tidak ada yang mau melewatkan pertunjukan seru ini."Ternyata dia penipu. Pantas saja dia menjebak Nona Diana. Mungkin dia takut identitasnya terbongkar.""Aduh, jijik. Pura-pura lemah dan nggak bersalah, tapi di belakang ternyata kelakuannya kotor.""Tadinya kukira Diana yang nggak tahu diri. Ternyata, semua ini sandiwara yang dirancang Sunny sendiri."Bisikan dan komentar itu menusuk-nusuk hati Sunny.Dia tiba-tiba berdiri, berteriak dengan mata merah, "Diam! Kalian semua diam! Diana pasti menipu Ayah dan Ibu. Mana mungkin aku penipu?"Teriakannya tajam dan memekakkan telinga, tapi tidak mampu meredam perbincangan orang-orang.Ayah mengerutkan kening, wajahnya suram. Dia mengangkat dagunya ke arah prajurit di belakangnya."Bawa masuk orang itu."Tak lama kemudian, dua prajurit membawa masuk seorang wanita berpakaian sederhana dengan wajah yang penuh keriput.Rambut wanita itu sudah memutih,

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 8

    Temannya tiba-tiba menerjang ke arahku, mencoba menangkapku.Aku mencengkeram pergelangan tangannya, lalu mendorongnya dengan keras."Kamu bilang aku pencuri? Mana buktinya?"Seketika itu juga, siaran langsung dipenuhi dengan komentar pedas.[Orang yang bersalah pasti punya seribu alasan.] [Lihat s

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 7

    Selama tiga hari ini, Sunny mengumumkan kebahagiaannya kepada seluruh dunia.Hari pertama, dia mengunggah sebuah video.Marco berdiri di dapur, membuatkan makanan untuknya dengan kikuk.Sementara dia bersandar di samping Marco, dengan senyuman manis yang membuat orang lain iri."Dia sedang belajar m

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 5

    Aku mencoba melepas cincin itu. Tapi tidak bisa dilepas sama sekali.Logam itu menancap dalam ke dagingku. Terlalu kecil, terlalu ketat, seperti lingkaran api yang melilit tulang jariku.Setiap aku memutarnya, rasa sakit yang menusuk menjalar ke atas sepanjang lenganku.Tapi, yang membuat mataku per

  • Tujuh Tahun Menjadi Rahasia   Bab 4

    Saat aku sampai di gerbang vila, pengawal menghentikanku.Suara yang penuh amarah tiba-tiba terdengar dari belakangku. "Kamu beneran mau pergi?"Aku berbalik dan melihat Marco berjalan mendekat dengan langkah cepat.Wajahnya tampak dingin, jelas sedang marah."Jangan ngambek lagi. Kembalilah."Sunny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status