LOGINMendengar cerita itu, dada Meisya bergemuruh hebat.Kemarahan yang membara di dalam hatinya bukan lagi sekadar simpati, melainkan sebuah dorongan protektif yang luar biasa besar terhadap pria di hadapannya.Sebagai Ratu Korporasi yang memegang kendali penuh atas bursa saat ini, gagasan bahwa ada orang-orang tidak tahu diri yang pernah merendahkan dan menghancurkan Dani di masa lalu membuatnya merasa tidak terima.Meisya bangkit berdiri dari sofanya. Ia melangkah cepat mengitari meja, lalu berhenti tepat di samping kursi Dani.Wanita itu mencengkeram erat bahu bidang Dani, memaksa pria itu mendongak menatapnya."Siapa nama mereka, Dani?" tanya Meisya dengan suara bergetar penuh kemarahan yang tertahan. Manik matanya menatap tajam, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa bisnis."Siapa nama manajer busuk dan perusahaan tempatmu bekerja dulu?!"Dani tertegun sejenak
Setelah hari yang panjang dan melelahkan, mulai dari vonis berat penjara bagi Harry dan Oswin di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hingga perayaan kemenangan korporasi di lantai bursa, kini kediaman mewah tersebut kembali tenang.Karen Tirta dan Vanya telah lama beristirahat di kamar tamu masing-masing, membiarkan rumah besar itu sepenuhnya berada di bawah kendali kesunyian malam.Di sudut ruang santai yang menghadap langsung ke arah kolam renang infinity, Meisya duduk bersandar di sofa beludru lembut.Di hadapannya, sebuah meja rendah berhiaskan sepiring buah segar dan botol wine tersaji rapi. Wanita itu mengenakan gaun malam santai berwarna hitam legam, sementara rambut panjangnya dibiarkan tergerai natural di atas bahunya."Kamu tahu, Dani?" ucap Meisya memulai percakapan, suaranya terdengar lembut n
Terik matahari siang di kawasan Ampera, Jakarta Selatan, memantul menyilaukan pada pilar-pilar beton besar gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.Di dalam Ruang Sidang Utama Hatta Ali, suasana riuh rendah oleh bisikan para pengunjung, wartawan media cetak, serta jurnalis televisi yang memenuhi setiap jengku kursi galeri penonton.Udara di dalam ruangan bersuhu AC sentral itu terasa dingin, namun dipenuhi oleh ketegangan emosional yang amat pekat.Di hadapan meja majelis hakim, dua sosok pria berdiri kaku di balik pagar pembatas pesakitan.Harry Wijaya mengenakan rompi tahanan oranye bernomor dada seratus dua belas dengan kepala tertunduk dalam, sementara di sampingnya, Oswin Tan, mantan kongkonglomerat hitam yang dulu disegani di seluruh bursa nasional, tampak jauh lebih tua dari usia aslinya.Rambut peraknya acak-acakan, kulit wajahnya kusam keabu-abuan, dan sorot mata tajamnya kini kosong tanpa daya.
Di pagi harinya, Meisya duduk di kursi kepala meja mengenakan setelan blazer santai berwarna krem, memancarkan wibawa alami seorang Ratu Bisnis yang baru saja menaklukkan puncak bursa.Di sisi kanannya, Karen Tirta menyeruput perlahan kopi paginya dengan gaun santai sutra bermotif floral, sementara Vanya duduk di sisi kirinya dengan kemeja katun tipis rapi, menatap layar tablet kecil yang menampilkan rangkuman data pasar pembukaan bursa pagi ini.Tepat di ujung kepala meja, Dani duduk dengan tenang dan tegap.Meisya meletakkan cangkirnya pelan ke atas piring kecil, lalu mengangkat pandangannya menyapu wajah ketiga orang di hadapannya."Kemarin kita telah meruntuhkan benteng terakhir Oswin Tan dan mengamankan tender konsesi pelabuhan senilai 1,5 triliun rupiah," ucap Meisya memulai pembicaraan."Hari ini, lembaran baru resmi dimulai. Kita tidak lagi berperang; kita sekarang membangun kedaulatan."Karen Tirta tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya di kursi dengan anggun. "Kau benar,
Di dalam kamar utama, kamar tidur berukuran king size itu kini kembali sunyi.Karen Tirta dan Vanya telah terlelap dalam kelelahan yang memuaskan di kamar tamu lantai bawah, menyerah pada gelombang keintiman yang baru saja mereka lalui bersama.Namun, di kamar utama, mata Dani terbuka lebar. Insting pengawalnya tidak pernah benar-benar tidur.Di sampingnya, Meisya terbangun perlahan.Wanita itu mengerjap menyesuaikan penglihatannya dengan temaram lampu dinding kamar, lalu mendapati Dani sedang duduk di tepi ranjang, mengenakan celana panjang hitam tanpa atasan, memamerkan pahatan otot punggungnya yang kokoh di bawah pendar cahaya bulan."Dani," panggil Meisya serak, suaranya masih menyimpan getar sisa gairah yang panjang."Kamu tidak tidur?"Dani menoleh perlahan, manik mata elangnya menatap lembut ke arah Meisya."Belum, Nyonya," jawabnya dengan vokal berat yang menenangkan. "Ada hal yang masih ingin saya pastikan."Meisya tersenyum kecil. Ia bangkit dari balutan selimut satin, membi
Di atas ranjang berukuran king size yang dibalut seprai satin hitam, Meisya dan Karen Tirta duduk bersandar berdampingan pada kepala ranjang berukir kayu jati.Malam perayaan kemenangan bisnis di bursa telah meluruhkan sekat-sekat formalitas korporasi yang selama ini memagari mereka.Benteng gengsi dan rasa cemburu dingin yang tadinya memisahkan sang Komisaris Utama Wijaya Group dan sang investor utama kini melebur total, menyisakan kesadaran dewasa yang sama: bahwa pria yang berdiri di hadapan mereka adalah jangkar tunggal yang menyelamatkan seluruh hidup dan takhta mereka.Pintu kamar bergeser pelan.Dani melangkah masuk ke dalam ruangan.Kemeja hitam taktisnya telah dilepas, menyisakan tubuh atletis dengan bidang dada bidang yang dipenuhi otot padat berpahat sempurna.Manik mata elangnya menatap lurus ke arah ranjang, mendapati Meisya dan Karen menatapnya dengan pendar mata yang menyala oleh api hasrat yang lama tertahan."Kau cukup lama di bawah, Dani," tegur Karen Tirta dengan su







