MasukCukup berada di Markas Barat, Bayu mengajak pulang Adit dan Vera, serta beberapa anak buahnya. Sebagian lainnya masih tinggal di markas itu, menunggu koordinasi selanjutnya. Hendra tidak banyak bicara saat melepas mereka, hanya mengangguk sekali dari ambang pintu dengan ekspresi yang tidak berubah sejak tadi malam.Di dalam mobil, tidak ada yang membuka percakapan.Vera menyandarkan kepala ke kaca jendela, matanya setengah tertutup meski ia tidak benar-benar tidur. Adit duduk dengan posisi yang sama seperti berangkat; tegak, tangan di pangkuan, tatapan ke depan.Kota masih tidur. Jalanan kosong kecuali beberapa truk pengiriman yang melintas di kejauhan. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang masih basah oleh embun, membentuk garis-garis cahaya yang panjang dan sepi.Mereka tiba di rumah Renata saat jarum jam hampir menyentuh setengah empat pagi.Renata belum tidur.Ia duduk di kursi ruang depan dengan secangkir teh yang sudah lama dingin di tangannya, punggungnya tegak, matanya lang
Di kursi belakang salah satu SUV, Adit menyandarkan kepalanya, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Di balik deru mesin mobil, ia tahu apa yang menanti mereka di Markas Barat.Adit membuang napas pelan. Ia berharap jawaban-jawaban itu akan sepadan dengan kekacauan malam ini. Jawaban yang akan membawa mereka satu langkah lebih dekat ke sosok bayangan; dalang yang cukup gila untuk mengirim tiga ratus orang Pancasona hanya demi menghancurkan ketenangan di Cafe Rembulan.Perjalanan ke Markas Barat memakan waktu dua puluh menit.Tidak ada yang berbicara di dalam kabin. Sopir memacu kendaraan dengan tenang, memilih jalan-jalan belakang yang sepi, gang-gang sempit yang tidak dilewati kamera, rute yang sudah dihafal di luar kepala. Di SUV kedua dan ketiga, sebelas tawanan duduk dalam keadaan tangan terikat, dijepit di antara anak buah Bayu yang bungkam.Adit menyandarkan kepala ke sandaran kursi, matanya setengah terpejam. Tapi tidak ada yang benar-benar istirahat di dalam mob
Bayu memberikan anggukan singkat kepada Adit; sebuah gestur tanpa kata yang menandakan bahwa tugas di luar telah tuntas. Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam Cafe Rembulan.Jika pelataran parkir adalah medan perang, maka bagian dalam kafe adalah saksi bisu dari penindasan yang pengecut. Suasananya jauh lebih mencekam. Kursi-kursi kayu yang biasanya tertata rapi kini terjungkal malang, beberapa meja hancur di sudutnya seolah sengaja dihantam benda tumpul, dan hamparan pecahan gelas berkilauan di lantai seperti hamparan kristal tajam yang berbahaya. Bau alkohol yang tumpah bercampur dengan aroma amis darah yang tipis memenuhi udara.Di sudut ruangan dekat bar yang gelap, empat orang karyawan duduk bergerombol, saling merapat untuk mencari perlindungan semu. Dua di antaranya memeluk lutut dengan wajah sepucat kertas, sementara satu lagi menekan handuk putih yang kini berubah merah pekat ke pelipisnya yang robek. Kepala keamanan kafe, seorang pria paruh baya deng
Anak buah sang komandan Pancasona itu ibarat pohon jagung yang sudah ditebang; tak ada yang bangun lagi. Seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencabut tenaga mereka satu per satu dengan ketenangan seorang algojo.Dan di titik episentrum kekacauan itu, berdirilah seorang pria bermasker hitam. Ia berdiri tegak, tenang, dan nyaris tidak bergerak, tampak begitu asing di tengah lautan manusia yang mulai kehilangan akal sehatnya. Padahal, hanya dalam hitungan detik yang singkat, ia baru saja meruntuhkan separuh dari moral pasukan Pancasona."Apa yang sebenarnya terjadi?!" bentak sang Komandan, suaranya parau karena amarah yang bercampur dengan rasa tidak percaya.Tidak ada jawaban yang koheren. Hanya ada gumaman ketakutan dan tatapan-tatapan mata yang mulai kehilangan fokus. Nyali mereka yang tadinya sekeras baja, kini melunak seperti lilin yang terpapar panas.Satu teriakan pecah dari barisan paling belakang, melengking tinggi penuh ketakutan. "Mundur! Mundur sekarang! Dia bukan manu
Adit menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara malam yang dingin. Begitu napas itu tertahan di dada, dunia di sekitarnya seolah melambat hingga ke titik nadir. Suara bising jalanan meredup menjadi dengung statis. Lalu ia pun mulai bergerak.Bagi siapapun yang menyaksikannya, Adit bukan lagi manusia, melainkan bayangan gelap yang menyelinap di antara celah kerumunan. Gerakannya terlalu cepat untuk ditangkap mata telanjang, dan langkah kakinya terlalu senyap untuk didengar telinga yang waspada.Pria pertama menerjang dengan ayunan pipa besi yang brutal. Namun, sebelum besi itu sempat membentuk setengah lengkungan di udara, Adit sudah berada di dalam ruang personalnya. Jari-jari Adit mencengkeram pergelangan tangan pria itu dengan kekuatan catut baja.Krak! Bunyi patahan tulang yang singkat dan kering memecah udara. Tanpa sempat mengeluarkan teriakan, pria itu roboh, kesadarannya direnggut paksa oleh rasa sakit yang melumpuhkan.Adit bergerak layaknya arus sungai yang
Ruang makan yang semula hangat kini berubah menjadi ruang strategi yang dingin. Setelah perdebatan singkat, Renata akhirnya melunak. Ia duduk kembali, meski gurat kecemasan masih membekas di wajahnya. Ia tahu Adit memiliki determinasi yang sulit dipatahkan, dan Vera bukanlah tipe wanita yang bisa dikurung dalam sangkar emas saat badai datang."Baik," ucap Renata akhirnya, suaranya parau namun tegas. "Pergilah. Tapi ingat, ini bukan sekadar perkelahian jalanan. Jaga nyawa kalian."Bayu segera mengambil kendali. Sebagai komandan lapangan, ia tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun. Ia memanggil Joko."Bro, kita bagi tugas aja ya. Dan tugasmu bisa dibilang berat malam ini," ujar Bayu sambil menepuk bahu pria itu. "Aku pasrahkan keamanan markas dan Bu Renata sepenuhnya padamu. Jangan lengah. Siapkan dua puluh orang terbaik untuk berjaga di setiap sudut rumah."Bayu merendahkan suaranya, hanya bisa didengar oleh Joko. "Aku khawatir serangan di Kota Lama ini hanyalah sebuah jebakan untuk
Adit belum sempat beli motor. Ia tahu, membeli motor tidak secepat membeli makanan. Jadi, ia pun datang ke klinik dengan menggunakan ojol lagi. Panas siang hari kota itu membuat keringat mengucur di dahinya saat ia turun dari motor ojek di depan gedung klinik yang berlantai tiga itu.Saat Adit masu
Suasana masih riuh. Beberapa pertarungan telah terjadi dan kini Adit pun sedang menonton sebuah pertarungan yang seru. Sesekali Adit menatap Seina. Dan beberapa kali pula tatapan mereka bertemu sekian detik saja.Seina sungguh penasaran dengan Adit. Dua kali ia telah melihat Adit menang melawan law
Pak Jhonatan, ayah Jerry, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Sudah tiga jam mereka menunggu, namun tidak ada satu pun petugas yang memberikan kabar yang jelas mengenai perkembangan kasus anaknya. Hal itu sungguh menguras kesabaran bos sawit yang memiliki perkebunan besar di Kali
Angin malam bertiup sepoi-sepoi menerpa wajah Adit yang duduk di belakang sepeda motor Didik. Lampu-lampu jalan berkelip-kelip melewati mereka bersama dengan suara mesin motor berdengung monoton di tengah keheningan malam yang mulai larut. Didik sesekali menoleh ke samping, memastikan jalan aman, s







