LOGINTeras belakang toko itu terlihat rapi tapi terasa lapang karena tidak ada yang berlebihan di sana; hanya dua kursi rotan, satu meja pendek, dan pot-pot tanaman herbal yang Ayunda rawat sendiri di sepanjang dinding. Lampu teras yang kuning menerangi semuanya dengan cahaya yang hangat dan sedikit kekuningan, berbeda dari lampu dingin di ruang utama toko.Mereka bertiga duduk dengan gelas teh di tangan masing-masing yang Ayunda siapkan dengan cara yang terlalu ribet untuk ukuran membuat teh; cara seseorang yang butuh sesuatu untuk dilakukan agar tangannya tidak gemetar terus-menerus."Kamu nggak perlu takut lagi, Ayun," kata Adit. Ia memegang gelasnya tapi tidak meminumnya, matanya ke arah Ayunda. "Orang-orang seperti itu tidak akan pernah datang lagi kemari."Ayunda mengangguk pelan. Tapi ada sesuatu yang masih tersangkut di wajahnya, sesuatu yang tidak ikut selesai meski urusannya sudah selesai."Iya, Dit." Ia menyendok tehnya sebentar tanpa tujuan. "Eh, itu tadi… Bang Bayu. Dia…" Kali
Adit melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Bukan ugal-ugalan, tapi ada ketegasan dalam cara Adit menginjak pedal gas yang membuat Vera sekali-sekali melirik ke spidometer lalu memilih untuk tidak berkomentar. Ia mengenal Adit cukup lama untuk tahu perbedaan antara Adit yang terburu-buru karena malas menunggu dan Adit yang terburu-buru karena ada sesuatu yang tidak boleh dibiarkan terlalu lama."Mereka masih di sana?" tanya Vera, memecah keheningan."Ayunda bilang belum pergi."Vera mengangguk pelan, menatap jalan di depan. "Siapa mereka?""Belum tahu. Katanya orang pajak. Tapi aku nggak percaya. Ayunda itu terlalu polos kadang-kadang." Adit menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. "Makanya kita ke sana."Vera tidak bertanya lagi setelah itu.15 menit kemudian, akhirnya mereka sampai juga.Adit memarkirkan mobilnya di depan toko rotinya dengan cara yang efisien. Lalu ia pun turun, disusul oleh Vera.Ayunda berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang memadukan antara
Proses syuting telah selesai. Hari itu, Bu Ria ingin mengadakan pesta syukuran. Dan hari itu juga, Adit dan Vera tidak akan menginap lagi. Usai pesta, mereka berencana untuk pamit; pulang ke rumah Renata.Nasi tumpeng itu berdiri dengan gagah di tengah meja panjang yang didirikan di sisi set yang sudah dibersihkan dari peti-peti kayu dan matras stunt. Kerucut kuning dari nasi kunyit itu dihiasi lauk-pauk di sekelilingnya, ayam goreng, tempe orek, sambal, telur balado; dan di meja sebelahnya, bubur sumsum putih berendam dalam genangan kinca gula merah di mangkok-mangkok lucu menunggu giliran untuk disentuh.Sesederhana apapun tampilannya, ada sesuatu yang terasa sungguh dalam dari ritual ini; bahwa sebuah pekerjaan besar telah selesai, dan selesai dengan baik.Pak Teguh yang memotong puncak tumpeng, seperti tradisi yang memang sudah semestinya."Untuk semua yang sudah bekerja keras," katanya singkat, mengangkat potongan puncak itu sebentar sebelum menyerahkannya ke Adit di sebelahnya.
Adegan laga tergarap dengan cepat dan entah kenapa proses itu terus menerus terasa menegangkan, bukan dalam artian yang buruk, namun sebaliknya; tegang karena menciptakan kesenangan.Yang membuat adegan itu berbeda dari pertarungan yang pernah direkam di studio itu sebelumnya adalah kecepatan Adit; kecepatan itu sendiri sudah lebih dari cukup untuk membuat kru kamera bekerja keras memastikan frame tidak kehilangan gerakannya. Dan tentu kesungguhan lawan main Adit dalam menyerang itu memang menciptakan kesan alami dan sangat nyata. Itu yang mahal.Lalu juga, ada adegan-adegan yang seharusnya mustahil dilakukan tanpa alat bantu. Namun semua itu bisa terjadi begitu saja.Adit melepaskan energinya dengan cara yang ia ukur, bukan untuk menyakiti, tapi untuk mengarahkan. Setiap kali tangan atau kakinya hampir menyentuh seseorang, ada gelombang yang ia lepaskan terlebih dahulu, tidak kasat mata, yang menyiapkan tubuh itu untuk bergerak ke arah yang ia tentukan sebelum kontak fisik sebenarnya
Kini Adit, Pak Teguh dan beberapa asisten sutradara, serta para pemain lainnya memulai latihan sebelum pengambilan gambar.Dua puluh orang yang berperan sebagai anak buah bos mafia penculik Clara, campuran antara stuntman profesional dan aktor pendukung yang memiliki latar belakang bela diri, berkumpul di set dan mendengarkan Adit menjelaskan apa yang ia inginkan dari mereka. Bukan instruksi tentang kapan harus jatuh atau ke arah mana harus terpental. Instruksi yang berbeda.Dalam hal perkelahian, orang-orang sungguh menaruh hormat kepada Adit. Mereka masih ingat betul peristiwa syuting di pantai waktu itu di mana Adit mengatasi banyak preman lokal sendirian. Jadi, di depan Adit, tak ada yang sok jago meski Adit masih muda.Kini ia memberi penjelasan seperti seorang guru mengajari muridnya."Serang sungguhan," kata Adit, dan ia mengatakannya dengan nada yang tidak memberi ruang untuk ditafsirkan sebagai hiperbola. "Jangan ukur-ukur. Jangan tunggu isyarat dari saya. Kalau naluri kalian
Pagi itu Vera dan Adit meninggalkan rumah Renata setelah sarapan dengan membawa kopor dan tas berisi pakaian serta alat-alat mandi.Merteka pergi ke studio. Berdua saja. Tanpa pengawalan.Hari masih pagi saat mereka memarkir mobil di parkiran depan studio itu. Beberapa kru tampak sibuk menyiapkan sesuatu untuk keperluan di hari itu. Dua security menyapa dengan ramah.Adit dan Vera masuk hingga ke loby depan dan di sana seorang perempuan 40an tahun dengan rambut yang dikepang rapi, berseragam kru, datang menyambut Adit. Adit dan Vera sering melihatnya di studio, tapi tak pernah tahu namanya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Mbak Wulan, yang mengurusi kebutuhan rumah tangga akomodasi studio.Ia berbicara dengan nada yang efisien dan menyenangkan sekaligus, menjelaskan jadwal kebersihan kamar, nomor yang bisa dihubungi jika ada kebutuhan apapun, dan lokasi fasilitas-fasilitas yang mungkin diperlukan, semuanya disampaikan dalam waktu yang tidak lebih dari tiga menit tanpa ada yang terle
Ya, berkali-kali Adit mengkhianati Larasati; dengan wanita-wanita lain di masa lalunya yang bahkan ia sudah hampir lupa siapa saja dan kapan itu terjadi.Tapi yang kali ini... rasanya sangat bersalah. Jauh lebih bersalah dari yang lain.Mungkin karena ini adalah Clara; wanita yang sangat Larasati t
Sentuhan lidah Adit yang tak henti-henti mengeksplorasi titik terdalam Melinda akhirnya membuahkan hasil. Tubuh wanita itu tiba-tiba menegang, jari-jemari kakinya melengkung kuat, dan sebuah erangan panjang lolos dari bibirnya saat sebuah ledakan kecil, namun sangat intens, menghantam pusat syarafn
Adit terdiam, mencerna informasi itu.Larasati melanjutkan dengan nada yang lebih pelan. "Dan untuk melakukan itu... butuh energi yang sangat besar, Dit. Energi spiritual yang menguras tenagaku. Makanya setelah kita selesai semalam, aku langsung tidur kayak pingsan. Tidur nyenyak sampai tadi.""Lar
Adit menutup pintu dengan pelan, suara klik kunci yang mengunci pintu itu seolah terdengar nyaring di ruangan itu. Ia berdiri sejenak di ambang pintu, matanya menyapu seluruh ruangan; mencari tanda-tanda bahwa ada masalah darurat seperti yang Renata katakan lewat telepon.Tapi tidak ada apa-apa.Ti







