MasukDayat menghela napas pendek, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sempat berpacu cepat. Ia turun perlahan dari tangga lipat agar bisa berbicara lebih fokus.
"Aduh, Tante... itu sebenarnya gara-gara Luki," jawab Dayat dengan nada yang dibuat seolah-olah ia adalah korban keadaan. "Kemarin pas lagi kumpul, si Luki asal nyeletuk aja di depan dia kalau saya ada kerjaan di luar kota. Eh, nggak tahunya dia malah kepengin ikut beneran. Karena nggak enak, ya mau nggak mau saya ajDayat segera meneguk habis sisa kopi hitamnya, lalu beranjak berdiri untuk mengambil tas perkakas di dekat pintu. Ia mengeluarkan beberapa gulungan kabel, sakelar, stopkontak, dan tespen, lalu mulai meneliti jalur utama dari meteran PLN."Dit, ini jalur utamanya mau langsung ditarik ke ruang tengah dulu atau bagaimana?" tanya Dayat, suaranya agak menggema di dalam ruangan batako yang belum diplester itu.Dita ikut bangkit berdiri, melangkah mendekati Dayat hingga jarak mereka mengikis. "Iya, Mas. Tarik ke ruang tengah dulu, baru nanti dicabang ke kamar sama dapur," jawab Dita seraya menunjuk ke arah langit-langit. "Oh iya, Mas, khusus di ruang depan ini, aku minta dipasangin dua gantungan lampu ya. Biar kalau malam kelihatan estetik gitu rumahnya."Dayat menoleh, melirik Dita yang berdiri di sampingnya dengan daster pendek tanpa bra yang sesekali bergeser longgar saat wanita itu mendongak. Dayat berdeham kecil, menahan pandangannya agar tetap fokus pada plafon. "Estetik sih estetik, D
Dayat buru-buru membungkuk, merogoh saku celana jinsnya yang tergeletak di atas lantai ubin berdebu. Layar ponselnya menyala terang di dalam keremangan, menampilkan nama "Dita" yang berkedip-kedip. Ia segera menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkannya ke telinga."Halo, Dit?" ucap Dayat dengan napas yang masih sedikit tidak beraturan, berusaha meredam debaran jantungnya."Halo, Mas Dayat. Kamu posisi sudah di mana? Nanti sampai rumahku kira-kira jam berapa, Mas?" tanya suara Dita di seberang telepon, terdengar agak bising oleh suara kendaraan yang lalu lalang.Dayat mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangan, memeriksa jam digitalnya. "Ini baru mau jalan dari desa, Dit. Kemungkinan sekitar jam satu atau jam dua siang aku baru sampai di depan rumahmu.""Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti kalau sudah hampir sampai atau sudah di depan rumah, kabari aku ya, Mas," sahut Dita."Siap, Dit. Nanti aku kabari."Pip. Sambungan telepon langsung terputus.Dayat mengembuskan napas panjang,
"Sini masuk, Mas, kok malah diam di situ?" panggil Cici, suaranya mengalun rendah dari ambang pintu yang terbuka.Dayat menelan ludah yang terasa kesat. Langkah kakinya bergerak maju dengan ragu, matanya menyapu sekeliling ruangan. "Mb-Mbak... ini ruangan apa?"Kamar ini nampak bersih dan tertata rapi dengan pendar lampu neon berwarna merah muda yang menyala remang. Di tengah ruangan, sebuah ranjang kayu besar dilapisi seprai satin berwarna merah marun. Di sekeliling sudut atapnya, untaian lampu hias kecil kelap-kelip benderang, menciptakan atmosfer yang sangat sensual."Penasaran ya? Makanya, sini masuk," sahut Cici, senyumnya semakin melebar.Jemari Cici mendadak menyambar pergelangan tangan Dayat, menariknya masuk melewati ambang pintu. Begitu Dayat berada di dalam, Cici dengan gerakan kilat menutup pintu kayu itu dan menguncinya dari dalam. Klek.Cici berbalik, merapatkan tubuhnya ke dada bidang Dayat. Ia berjinjit sedikit dan berbisik tepat di telinga pria itu, "Ini tuh... namany
"Bo-boleh, Mbak," sahut Dayat, menelan ludah yang tiba-tiba terasa kesat di tenggorokannya. Ia mengulurkan tangan ke kiri, menekan tombol untuk membuka pengunci pintu mobil otomatisnya."Makasih ya, Mas," ucap Cici dengan senyuman yang teramat manis.Ia menarik gagang pintu luar, lalu dengan gerakan luwes mendudukkan tubuh sintalnya di atas jok penumpang tepat di samping Dayat. Aroma wangi sabun dan minyak melati yang menyengat langsung memenuhi kabin mobil yang semula berbau pewangi jeruk. Daster batik yang dikenakannya sedikit tersingkap ke atas paha saat ia membetulkan posisi duduk, membuat Dayat hampir tidak kuasa menahan pandangannya agar tidak melirik kemolekan tubuh wanita itu dari dekat. Dayat menarik napas dalam-dalam, mencengkeram kemudi erat-erat, dan berusaha keras memfokuskan matanya ke hamparan jalan aspal di depan."Memangnya Mbak Cici mau ke mana?" tanya Dayat, mencoba mencairkan keheningan yang mendadak terasa begitu intim di dalam kabin.Cici memutar tubuhnya sedikit
"Malam, Mas Dayat," sapa Cici dengan suara parau yang sengaja direndahkan, mengalun lembut membelah desir angin malam.Dayat menurunkan bambu di tangannya dengan napas yang masih sedikit memburu. "Mbak Cici? Ngapain jam segini kelayapan sendirian di belakang rumah orang?"Cici memajukan langkahnya satu tapak, membuat jarak di antara mereka terkikis. Daster batiknya yang sebatas lutut bergoyang pelan. Dengan nada menggoda yang kental, ia menyahut, "Cuma cari angin aja kok, Mas. Terus... enggak sengaja ke sini."Dayat terdiam, namun otaknya berputar cepat. ‘Enggak mungkin sengaja cari angin sampai ke belakang rumah orang jam sebelas malam begini. Perempuan ini pasti punya niat lain,’ batin Dayat penuh selidik."Mas Dayat sendiri... ngapain jam segini belum tidur?" tanya Cici pelan, matanya menatap lekat manik mata Dayat di dalam keremangan."Y-ya... tadi aku lagi minum air," jawab Dayat, mendadak gugup mendapat tatapan seintens itu. Ia berdeham kecil untuk menetralkan suaranya. "Terus d
Jarum jam dinding di kamar Ajeng yang berdetak konstan menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan malam. Dayat perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan ruangan. Ia melirik ke arah jam di atas meja rias yang temaram; jarum pendeknya tepat menunjuk ke angka sebelas malam.Dayat menoleh ke samping. Di sana, Ajeng sudah terlelap dengan sangat pulas. Tubuh wanita itu terbungkus rapat oleh selimut tebal bermotif bunga, dengan kedua lengannya yang melingkar erat memeluk pinggang Dayat, seolah tidak mau kehilangan sosok pria di sampingnya bahkan di dalam mimpi.‘Duh, haus banget tenggorokan gue,’ gumam Dayat di dalam hatinya, menelan ludah yang terasa kesat.Dengan sangat hati-hati, Dayat mulai menggeser lengan Ajeng yang menempel di tubuhnya. Ia bergerak sesenti demi sesenti. Setelah berhasil meloloskan diri, Dayat bangkit dari kasur lantai dengan gerakan yang sangat halus. Sebelum melangkah pergi, ia menarik ujung selimut Aje
Dayat dan Gita duduk berhadapan di ruang makan villa kecil yang kini dipenuhi aroma sedap gurame bakar. Udara pegunungan yang sejuk membuat nasi hangat dan sambal buatan Gita terasa berkali-kali lipat lebih nikmat. "Gimana, Mas? Enak nggak ikannya?" tanya Gita antusias, memperhati
Setelah menyegarkan diri dengan mandi pagi, Dayat melangkah keluar villa dengan tenang. Ia sengaja tidak membangunkan Gita yang masih tampak begitu lelap di balik selimut. Dayat memutuskan untuk turun ke area bawah sebentar demi mencari sarapan hangat untuk mereka berdua. Beberapa
"Teh, ini mangkoknya, ayo makan seblak dulu," ucap Sifa yang tiba-tiba muncul menghampiri mereka, memecah ketegangan antara Dayat dan Gita. Sifa meletakkan mangkok-mangkok itu di atas meja kayu ruang tamu dengan ceria. Gita yang tadi sempat menatap Dayat dengan penuh selidik, akhi
Teh Yuni membimbing Dayat masuk ke sebuah kamar kecil yang aromanya dipenuhi wangi rempah dan minyak esensial. Pencahayaannya temaram, menciptakan suasana yang semakin tertutup. "Mas, lepas bajunya ya. Terus pakai sarung ini, celananya dilepas juga sekalian biar nanti pijatannya ke







