FAZER LOGIN"Teh, ini mangkoknya, ayo makan seblak dulu," ucap Sifa yang tiba-tiba muncul menghampiri mereka, memecah ketegangan antara Dayat dan Gita. Sifa meletakkan mangkok-mangkok itu di atas meja kayu ruang tamu dengan ceria.
Gita yang tadi sempat menatap Dayat dengan penuh selidik, akhirnya mengalihkan perhatiannya ke arah seblak yang masih mengepul panas. Bau kencur dan cabai yang menyengat langsung memenuhi ruangan. "Iya Sif, makasih ya. Mas, ayo cicipin juga seblaSuara deru hujan di luar perlahan mulai mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari atap rumbia ke atas tanah. Di dalam gubuk yang remang dan hangat, detak jantung Dayat dan Ajeng yang semula berpacu liar perlahan mulai kembali ke ritme normalnya.Dayat merebahkan tubuhnya di samping Ajeng, lalu menarik kain jarik panjang yang terlipat di dekat bantal untuk menutupi tubuh polos mereka berdua dari terpaan angin malam yang mulai terasa. Dengan lembut, Dayat membawa Ajeng ke dalam pelukannya. Ajeng langsung merapat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Dayat yang masih terasa hangat dan sedikit berkeringat."Capek, Jeng?" bisik Dayat lembut sembari mengusap-ngusap lengan atas Ajeng dengan jemarinya."He-eh..." sahut Ajeng pelan dengan suara yang agak serak. Ia mendongak sedikit, menatap dagu Dayat dengan tatapan yang luar biasa manja. "Tapi senang banget. Makasih ya, Mas Dayat sayang..."Dayat tersenyum tipis. Ia menundukkan kepalanya sebentar untuk mengecup puncak kepala Ajeng
Dayat yang melihat pintu sudah tertutup rapat langsung menyandarkan punggungnya ke dinding bambu. Melihat Ajeng yang mulai sibuk menata gelas di atas tikar, sebuah ide usil melintas di kepala Dayat. Ia tersenyum tipis, menatap Ajeng dengan tatapan yang sengaja dibuat memicing polos."Ngangetin badannya pakai kopi, Jeng?" tanya Dayat memancing.Ajeng yang sedang memegang sendok seketika menghentikan kegiatannya. Ia menoleh ke arah Dayat, lalu senyum nakal yang sangat dikenal Dayat perlahan terukir di bibirnya."Ya enggak dong, Mas..." jawab Ajeng dengan suara yang sengaja diayun manja. "Mumpung lagi hujan deras begini, kan enaknya bisa kelonan di sini."Dayat langsung menepuk jidatnya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aduh, Jeng... ini lho gubuk ibumu. Kamu ada-ada saja deh pikirannya.""Ya enggak apa-apa, Mas, lagian juga enggak bakal ada orang yang ke sini kalau hujan deras begini," sahut Ajeng santai, sama sekali tidak merasa keberatan.Ajeng kemudian bangkit berdiri. Langk
Matahari siang perlahan menggelincir ke barat, menyisakan hawa hangat yang berpadu dengan embusan angin sepoi-sepoi pedesaan. Dayat dan Ajeng berjalan beriringan menyusuri jalan setapak tanah yang di kanan kirinya ditumbuhi rerumputan hijau dan pepohonan rimbun.Ajeng berjalan sedikit di depan sambil sesekali berbalik, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah lahan yang membentang luas dengan wajah penuh kebanggaan."Nah, Mas Dayat, lihat deh. Mulai dari pembatas pohon randu itu sampai ke arah bukit sana, itu kebunnya Ibu," cerita Ajeng bersemangat. "Di sebelah kiri itu ada kebun singkong, terus di bagian bawah yang agak landai, ada tiga petak sawah punya Ibu juga. Tapi sekarang lagi habis panen, jadi belum ditanamin padi lagi."Dayat mangut-mangut kagum, matanya menyapu hamparan hijau di sekelilingnya. "Luas juga ya, Jeng. Hebat Ibumu bisa urus tanah seluas ini sendirian.""Kan dibantu orang juga, Mas," sahut Ajeng tertawa kecil.Langkah mereka kemudian membawa mereka masuk ke area yang leb
Dayat yang sedang memegang gelas langsung merasa tidak enak hati. Rasa bersalah seketika menyergapnya setelah mendengar cerita masa lalu Ajeng yang ternyata cukup kelam."Aduh, Jeng... maaf ya," ucap Dayat tulus, nadanya melembut. "Aku beneran enggak tahu. Enggak bermaksud bikin kamu ingat yang enggak-enggak."Ajeng hanya tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya santai seolah hal itu sudah bukan beban lagi baginya. "Enggak apa-apa kok, Mas, santai saja. Lagian itu sudah lama banget."Ajeng meletakkan sendoknya, lalu menatap Dayat dengan pandangan menerawang. "Aku ini kan anak semata wayang, Mas. Pas Bapak kabur begitu saja, Ibu terpukul banget. Makanya pas lulus sekolah, aku langsung memutuskan buat merantau ke kota untuk kerja demi bantu Ibu. Ya... sampai akhirnya takdir membawa aku berakhir begini, ketemu sama Mas Dayat," ucap Ajeng sambil memberikan senyuman manisnya.Dayat mengangguk paham, mulai mengerti latar belakang kehidupan wanita di depannya ini. "Terus, rencana kamu ke dep
Dayat langsung terduduk tegak di atas ranjang. Rasa kantuk dan lelahnya seketika hilang entah ke mana, berganti dengan rasa pusing yang mendadak menyerang kepalanya. Ia memijat pangkal hidungnya dengan gusar sambil menatap layar ponsel itu."Aduh, Ajeng... katanya kemarin enggak usah ngomong dulu sama Gita," gumam Dayat dengan suara berbisik, merutuki kecerobohan wanita itu yang ternyata malah membocorkan rencana mereka sendiri.Dayat menatap nanar papan ketik di ponselnya, kebingungan menyusun kata-kata balasan yang pas agar Gita tidak mengamuk atau merengek rewel seperti yang sudah ia duga sebelumnya.Dayat menarik napas dalam-dalam, lalu jempolnya dengan cepat mengetik balasan di layar ponsel, mencoba meredam suasana sebelum ketahuan berbohong lebih jauh.Dayat: Iya, Git. Aku sengaja anterin Ajeng. Kasihan dia udah lama banget pengen pulang ke desanya tapi enggak ada yang nemenin.Tidak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan detik, status di atas ruang obrolan berubah menjadi typin
Dayat masih terpaku di tempatnya dengan pikiran yang berkecamuk bingung. Namun, sebelum pria itu sempat membuka suara untuk mengklarifikasi, Ajeng dengan cekatan langsung menyergap dan menggandeng erat lengan Dayat, menuntunnya masuk ke dalam rumah."Ayo, Mas, masuk dulu. Sini duduk," potong Ajeng cepat, mencoba mengalihkan suasana sembari mempersilahkan Dayat duduk di kursi kayu ruang tamu. Dayat hanya bisa pasrah dan mendudukkan dirinya dengan canggung.Tak berselang lama, Ibu Ratih kembali dari dapur membawa nampan berisi secangkir teh hangat yang aromanya sangat harum khas pedesaan. Beliau meletakkannya di depan Dayat, lalu ikut mengambil posisi duduk di kursi seberang bersama mereka."Diminum dulu tehnya, Nak Dayat," ucap Ibu Ratih ramah, lalu wajahnya berubah menjadi sedikit sendu saat menatap anak gadisnya. "Ibu itu sebenarnya ya... selama ini khawatir sekali sama Ajeng. Dia kerja di kota besar sendirian, merantau sampai hampir dua tahun enggak pulang-pulang. Pikiran Ibu tuh ke