Masuk“Hati-hati gimana?”
Mendengar ucapan itu Dayat sempat terdiam, ia tahu betul sedikit kesalahan yang ia lakukan nanti atau hal yang membuat Istri dari Bos-nya tidak suka dapat memutus langsung jalur rezekinya. Dayat terkekeh sinis. "Lo tenang deh. Iman gue kuat. Tadi aja di rumah Mbak Niken, gue hampir dapet 'bonus' tapi gue tolak." "Halah, palingan lo cuma gemeteran doang. Udah, cepetan ke sana! Blok F, nomor 12. Rumahnya paling gede, pager kayu jati. Jangan telat!" Dayat memasukkan ponselnya kembali. "Hati-hati ya, kayaknya bakal lebih gawat dari Mbak Niken nih," gumam batin Dayat. Kalimat Luki soal "mahasiswa teknik" tadi sedikit membangkitkan harga dirinya, namun juga beban. Ia memutar gas lebih dalam. Lima menit kemudian, ia sampai di depan rumah yang dimaksud. Benar kata Luki, rumah ini terlihat seperti benteng modern yang elegan. Mewah, sunyi, namun terasa mencekam. Ia menekan bel gerbang. Tak lama, gerbang otomatis itu bergeser perlahan dengan suara mesin yang sangat halus—jenis motor penggerak mahal yang biasanya dipelajari Dayat di buku literatur kampus. Begitu ia menuntun motornya masuk, pintu utama rumah yang terbuat dari kayu jati solid terbuka. Seorang wanita muncul. Dayat menduga usianya sekitar akhir tiga puluhan, namun penampilannya berkata lain. Ia mengenakan daster sutra berwarna merah marun yang sangat tipis, dengan potongan leher rendah yang memamerkan kalung berlian kecil di lehernya yang jenjang. "Peringatan Luki, nyata adanya." Gumam batin Dayat Rambutnya disanggul asal, namun justru menambah kesan sensual yang matang. Inilah Clara, istri sang bos. "Kamu yang dikirim Luki?" tanya Clara sembari melipat tangan di dada. Gerakan itu secara otomatis mengangkat bagian bawah dasternya, memperlihatkan paha mulusnya yang tampak berkilau karena lotion. "I-iya, Tante. Eh, maksud saya, Bu... Nama saya Dayat," jawab Dayat, mencoba menjaga pandangannya tetap sejajar dengan mata Clara, meski godaan untuk melirik ke bawah sangat kuat. Clara tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting gelas kristal. "Panggil Mbak Clara aja, atau Tante juga boleh kalau kamu merasa lebih nyaman.” Dayat hanya mengangguk singkat, merasa risih masa lalunya diumbar. "Di mana panelnya, Mbak?" "Di gudang belakang, dekat area gym pribadi. Ayo. Di dalam gelap, lampunya mati semua," Clara berbalik badan, membiarkan Dayat mengekor di belakangnya. Setiap langkah Clara membuat daster sutra itu menempel ketat di bokongnya yang berisi, menciptakan lekukan yang sangat jelas di mata Dayat. “Bukan maen istri Bos-nya Si Luki, untung udah di ingetin ama dia, kalo nggak udah gue remes itu,” gumam batin Juned yang sesekali menggeleng pelan kepalanya menatap keindahan bergerak anggun di hadapannya. Mereka melewati lorong-lorong rumah yang dipenuhi lukisan mahal sebelum sampai di sebuah pintu kecil di pojok rumah. Begitu pintu dibuka, hawa pengap dan aroma karet terbakar langsung menyambut. "Panelnya di ujung sana. Sempit memang, karena aku pakai untuk simpan barang-barang hobi suamiku juga," ucap Clara sembari masuk lebih dulu ke dalam gudang yang gelap. Dayat menyalakan senter kecil dari tasnya. Ruangan itu memang sangat sempit, hanya selebar satu meter dengan rak-rak tinggi di kanan kirinya. “Apa nggak bahaya panel listrik di taruh di ujung begini?” Gumam batin Dayat keheranan melihat posisi Box Panel yang normalnya berada di ruang yang sedikit terbuka dan jauh dari barang-barang yang meningkatkan resiko kebakaran. Untuk mencapai panel listrik di ujung, Dayat harus melewati Clara yang berdiri di tengah jalan. "Permisi, Mbak. Saya mau cek MCB-nya dulu," kata Dayat. Saat Dayat berusaha menyelinap lewat, Clara tidak bergerak menjauh. Justru, wanita itu seolah sengaja memiringkan tubuhnya, membuat dada bidang Dayat harus bergesekan langsung dengan gumpalan lembut di balik daster sutra Clara. Bau parfum mahal dari tubuh Clara menyerang indra penciuman Dayat, membuatnya pening seketika. "Aduh, sempit ya, Yat?" bisik Clara. Dayat bisa merasakan napas Clara di lehernya. Dayat mencoba tetap profesional. Ia membuka penutup panel dan mengarahkan senternya ke deretan sakelar. Benar saja, ada satu kontaktor besar yang meleleh dan kabel yang hangus terbakar. "Ini ada yang korslet, Mbak. Kayaknya beban dari mesin pemanas kolam renang atau AC sentralnya terlalu besar," jelas Dayat dengan istilah teknis yang lancar, mencoba mengalihkan perhatiannya dari tubuh Clara yang makin menghimpitnya dari belakang. "Oh ya? Kamu bisa benerin sekarang? Aku nggak suka kegelapan, Yat... Apalagi kalau sendirian di rumah sebesar ini," Clara menyandarkan tangannya di bahu Dayat, jemarinya yang lentik dengan kuku merah mulai mengusap pelan tengkuk Dayat. Dayat menelan ludah dengan susah payah. Ia merasakan sesuatu di bawah sana mulai bereaksi. "Bisa, Mbak. Tapi saya butuh ruang buat gerak. Mbak... bisa mundur sedikit?" "Kalau aku nggak mau mundur gimana?" Clara berbisik tepat di telinga Dayat, suaranya penuh tantangan. Tangan Clara kini mulai turun dari bahu Dayat, perlahan merayap menuju dada dan perut Dayat yang keras karena sering bekerja kasar. Dayat terpaku. Pikirannya berperang hebat. Antara harga diri sebagai mantan mahasiswa teknik, atau menyerah pada kebutuhan ekonomi dan godaan wanita matang di depannya. "Mbak... ini bahaya. Panelnya bisa meledak kalau salah sentuh," ucap Dayat lirih, meski ia tahu panel itu sudah mati total. "Yang mau meledak itu panelnya... atau yang bawah?"Hari kian merambat siang, namun hawa dingin udara gunung yang menerobos lewat celah jendela kayu justru membuat gairah di ruang keluarga itu mendidih hebat. Di atas karpet bulu tebal bernuansa earth tone, pakaian santai mereka sudah terlepas berhamburan. Dayat berbaring telentang, bertelanjang dada memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kekar dan kokoh. Clara yang sedang hamil tua tujuh bulan berbaring miring di sisi kanan Dayat, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Jemari lentiknya yang mulus bergerak lihai, membelai dan mengocok kejantanan Dayat yang sudah tegang keras, membesar padat sempurna. "Nngghh... Mas Dayat..." desah Clara halus, napasnya berhembus memburu di leher Dayat. "Lihat nih... milik kamu udah keras banget. Pengen banget aku lahap..." Sementara itu, Astrid yang berdiri polos tanpa sehelai benang pun memamerkan lekuk tubuhnya yang kembali kencang dan seksi pasca melahirkan anak pertama mereka. Matanya memancarkan gairah yang begitu dahsyat. Astrid melan
Penyidik Aris membisu. Keringat dingin menetes di pelipisnya saat menyadari posisinya terjepit total. Tanpa pilihan lain, ia meraih kunci dari sakunya dan membuka kunci borgol di tangan Dayat dengan jemari yang gemetaran. "Kertas tuntutan ini... dianggap tidak pernah ada," bisik Aris pasrah, menarik kembali map merah dari atas meja. "Kalian punya waktu sampai matahari terbit untuk menghilang dari kota ini." Dayat mengusap pergelangan tangannya yang memerah, menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan. Tanpa mengulur waktu, ia melangkah keluar dari kantor kepolisian dan kembali ke resort VVIP. Menggunakan otoritas teknisnya, Dayat membuka akses panic room dari panel pusat. Pintu hidrolik terbuka perlahan. Astrid dan Clara yang panik seketika bernapas lega melihat Dayat berdiri di ambang pintu dalam keadaan selamat. Tanpa membuang kata, Astrid dan Clara langsung menghambur memeluk pria itu kencang-kencang, membasahi dada kekar Dayat dengan air mata haru. Hari itu juga, keputusan be
"Kalian mengira whistleblower agreement Budi itu valid?" ujar Dayat tiba-tiba, suaranya tetap terkontrol dan berat, menggelegar tenang di tengah kepungan pasukan bersenjata. "Sebagai teknisi yang membongkar seluruh sistem Unit 00 semalam, saya tahu persis server mana yang asli dan mana yang cuma umpan." Penyidik Aris tertawa terkekeh, menggelengkan kepalanya meremehkan. "Jangan mencoba menggertak, Dayat. Rekaman live stream kalian bertiga ada di genggaman kami. Bukti audio visual itu lebih dari cukup untuk menyeret kalian bertiga ke sel tahanan." "Sistem perekaman yang dipasang Budi menggunakan IP dinamis dengan enkripsi ganda dari server lokal resort," potong Dayat dingin, melangkah satu petak ke depan tanpa mengindahkan moncong senjata yang mengarah padanya. "Kalau Anda benar-benar mengakses feed itu tiga hari lalu, harusnya Anda tahu kalau Budi bukan cuma menjual akses ke kepolisian... tapi juga melempar data transaksi bodong bernilai ratusan miliar itu ke pasar gelap. Dan dokum
Dayat menatap layar ponsel Pak Handoko yang memancarkan pendar cahaya kebiruan di tengah kegelapan kamar. Tulisan Pesan Teks - Operasi Tangkap Tangan (OTT) itu tercetak amat jelas. Sensasi dingin merayap cepat di tengkuknya, membekukan sisa-sisa kehangatan gairah yang baru saja padam beberapa menit lalu. Di atas ranjang king size, Astrid dan Clara mulai bergeliat. Padamnya arus AC dan heningnya suasana secara mendadak membuat kenyenyakan tidur mereka terganggu. "Mas Dayat... kok gelap? Lampunya mati ya...?" bisik Astrid dengan suara parau khas bangun tidur, tangannya meraba-raba mencari tubuh kekar Dayat di sampingnya. "Ssshh... diam, Astrid," bisik Dayat tegas namun sangat rendah. Ia merayap turun dari kasur, mengenakan celana kerjanya dengan gerakan secepat kilat. Clara ikut duduk, mengucek matanya yang samar. "Dayat? Ada apa sih? Kok listriknya padam... Nngghh, dingin banget..." "Jangan ada yang nyalain lampu HP atau bersuara," potong Dayat dingin, merangkak mendekati tempat t
Astrid membelalak kaget. Selimut yang ditariknya ke dada membeku di genggamannya. Napasnya tertahan saat melihat bos besarnya—wanita paling berwibawa di perusahaan—berdiri di ambang pintu kamar dengan tatapan mata yang tidak lagi memancarkan keangkuhan formal, melainkan dahaga dan gairah yang begitu kentara. "B-Bu Clara...? Maksudnya apa ini...?" bisik Astrid dengan suara bergetar, pandangannya beralih dari Clara ke Dayat yang masih berada di atas tubuhnya. Dayat tidak menunjukkan rasa terkejut sedikit pun. Pria itu justru menyunggingkan senyum tenang, mengusap lembut pipi mulus Astrid untuk menenangkannya. "Gak usah panik, Astrid. Ini semua bagian dari rencana kita buat pegang kendali penuh atas resort ini dan menyingkirkan Handoko." Clara melangkah perlahan mendekati kasur king size tersebut. Jemari lentiknya yang terawat rapi melepas kancing terakhir blazer merahnya, membiarkan pakaian mahal itu jatuh begitu saja ke lantai. Di baliknya, Clara hanya mengenakan lingerie sutra hita
Dayat terdiam sejenak. Tatapannya pada dokumen berstempel hukum di tangannya perlahan memudar, berganti dengan pandangan dingin yang menusuk lurus ke manik mata Bu Clara. Wanita matang di hadapannya itu mungkin berpikir bahwa harta, kekuasaan, dan tubuh indahnya bisa membeli segala keputusan Dayat. Namun, Dayat bukan pria yang bisa didekte atau dipaksa mengorbankan darah dagingnya sendiri. Dayat melempar amplop cokelat tebal itu secara kasual ke atas kasur, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. Tangan kekarnya bergerak cepat, mencengkeram dagu mulus Bu Clara dengan kuat hingga wanita itu terperanjat, menatap Dayat dengan napas tertahan. "Saya tolak syarat itu, Bu Clara," ujar Dayat dengan suara berat, dalam, dan tanpa ragu sedikit pun. Bu Clara membelalak kaget, matanya menyipit penuh rasa tak percaya. "Kamu gila, Dayat?! Itu setengah saham utama resort VVIP! Nilainya belasan miliar! Kamu cuma perlu memastikan Astrid nggak melahirkan anak itu!" Dayat terkekeh
"Aduh… M-Mbaakk!! Ati-ati dong!" seru Dayat panik. Ia langsung bergerak maju, berusaha meraih lengan Niken. Waktu seolah membeku. Dayat terpaku di tempatnya. Matanya yang tak sempat berpaling merekam dengan sangat jelas setiap inci kulit Niken yang tanpa sehelai benang pun. Dari dada yang berd
"Maaaass!! Udah belum!! Buruan masukin! Aku gerah!”Suara lengkingan itu memecah konsentrasi Dayat. Ia mengembuskan napas pendek, mencoba menahan gerutu yang hampir lolos dari bibirnya. Mbak Niken, pemilik rumah ini, adalah tipe pelanggan yang tidak punya kamus kata "sabar". Sejak Dayat menginjakk
Dayat masih termangu. Suara kipas angin kontrakannya memecah hening. Dayat baru saja memejamkan mata, tak lama, layar ponsel yang tergeletak di samping bantalnya menyala. Dayat melirik malas, namun keningnya berkerut saat membaca nama pengirimnya. “Yat! Mau jadi engineer nggak di kantorku? Mumpun
Dayat memacu motornya seolah-olah sedang dikejar malaikat maut. Deru mesin tuanya menjerit di sepanjang jalan aspal perumahan elit yang senyap. “Gila.. Gilaa.. Apa si Luki ngerjain gue yaa!” Gerutu Dayat. Pikirannya masih kacau, bau parfum amber milik Clara seolah menempel permanen di jaket ke







