分享

Lolos Dan Di Nanti

作者: NomNom69
last update publish date: 2026-04-09 13:02:46

Dayat memacu motornya seolah-olah sedang dikejar malaikat maut. Deru mesin tuanya menjerit di sepanjang jalan aspal perumahan elit yang senyap.

“Gila.. Gilaa.. Apa si Luki ngerjain gue yaa!” Gerutu Dayat.

Pikirannya masih kacau, bau parfum amber milik Clara seolah menempel permanen di jaket kerjanya, menyumbat paru-parunya dengan sensasi yang menyesakkan sekaligus candu.

Begitu sampai di area ruko depan kantor pemasaran, Dayat langsung membanting standar motornya di depan warkop langganan. Ia berjalan terburu-buru, wajahnya tegang, keringat dingin masih mengucur dari pelipisnya.

Di sudut warkop, Luki sedang asyik menyesap kopi hitam sambil menghisap rokok dalam-dalam. Melihat kedatangan Dayat yang berantakan, Luki hanya menyeringai lebar.

"Wuidih... santai, Yat! Kayak abis liat kuntilanak siang bolong lo," goda Luki sambil menarik kursi plastik di depannya.

Dayat tidak menyahut, ia merasa sudah di kerjai oleh kawannya itu. Ia justru langsung duduk dan menggebrak meja pelan. "Kopi item, Bang! Gula dikit, panas!" teriaknya pada penjaga warkop tanpa menoleh.

"Gila lo, Luk! Lo bener-bener gila!" semprot Dayat kemudian. Suaranya rendah tapi penuh penekanan, matanya menatap Luki tajam.

"Lo nggak bilang kalau bini bos lo itu... agresifnya kayak macan kelaparan. Gue baru mau buka box MCB, dia udah nempel kayak perangko. Hampir aja gue 'servis' luar dalem kalau gue nggak inget pesen lo!"

Luki malah tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar nyaring di antara deru kendaraan yang lewat.

"Hahaha! Kan udah gue bilang, dia itu 'penguji' mental. Tapi jujur deh, lo nikmatin kan? Secara, Bu Clara itu top tier di komplek ini. Bodinya... beuh, teknisi sebelum lo aja sampe nangis pas dipecat gara-gara nggak kuat iman."

"Nggak lucu, Luk. Gue ke sini kerja, bukan mau jadi simpenan," gerutu Dayat, meski dalam hati ia tak menampik desiran aneh yang masih tertinggal di perutnya. Ia merogoh saku celananya, mengambil sebatang rokok dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Luki berhenti tertawa. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Dayat dengan ekspresi yang tiba-tiba serius. "Dengerin gue, Yat. Gue nggak asal milih lo. Lo itu sohib gue Yat! Gue tau lo lagi butuh duit cepet buat pelunasan utang bokap lo yang bunganya makin gila itu, kan? Gue juga tau lo masih pengen balik ke kampus."

Dayat terdiam, asap rokoknya mengepul di antara mereka. Ia tak bisa membantah semua kebenaran yang keluar dari mulut kawannya itu.

"Lo itu bukan tukang servis biasa, Yat. Lo itu mantan mahasiswa teknik elektro tingkat akhir. Lo punya otak yang lebih encer dibanding tukang kabel manapun di kota ini. Lo cuma butuh satu 'pintu' buat balik ke atas," Luki mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.

"Gini, denger baik-baik. Bu Clara itu yang pegang kendali atas renovasi sepuluh unit rumah contoh di Blok F. Kalau lo bisa 'menghandle' dia dengan baik—dan maksud gue bukan cuma benerin listriknya, tapi bikin dia merasa 'nyaman'—lo bakal dapet kontrak eksklusif buat semua instalasi di sana. Bayangin komisinya, Yat. Lo bisa bayar lunas utang lo dalam sebulan, dan sisanya? Lo bisa lanjutin skripsi lo yang terbengkalai itu."

Dayat menyesap kopi panasnya yang baru datang. Rasa pahitnya sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. "Jadi maksud lo, gue harus manfaatin situasi ini?"

"Manfaatin peluang, Yat. Itu namanya strategi," sahut Luki enteng. "Di perumahan elit kayak gini, dinding rumah itu penuh rahasia. Dan orang kayak kita, yang masuk lewat pintu belakang buat benerin barang rusak, adalah orang yang paling tau rahasia itu. Bu Clara itu kesepian. Suaminya sibuk main angka, sementara dia butuh orang yang pinter, berwibawa, tapi nggak kaku. Lo itu paket lengkap."

Dayat menyentil abu rokoknya. Kalimat Luki soal "mahasiswa teknik" selalu berhasil menyentil harga dirinya. Ia teringat tas perkakas kusamnya—didalamnya tersimpan mimpi yang ia kubur demi bertahan hidup.

"Gue nggak tau, Luk. Ini berisiko. Kalau bos lo tau, gue bisa abis, elu mah enak nggak bakalan kena imbasnya," gumam Dayat.

"Risiko itu sebanding sama hasilnya, Yat. Lo mau selamanya jadi tukang servis panggilan yang bayarannya cuma cukup buat makan sehari? Pikirin baik-baik. Kesempatan kayak gini nggak dateng dua kali. Ada banyak cara buat lo naikin taraf hidup lo sedikit demi sedikit"

Dayat sempat terdiam, meski merasa ragu dengan apa yang di katakan oleh Luki, tapi ia merasa ada benarnya juga ucapan Luki. Selama Dayat bisa menghindari segala kemungkinan dari resiko yang ada, hasilnya tidak akan sia-sia.

Tiba-tiba ponsel Dayat bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi masuk. Mata Dayat membelalak saat melihat nominal transferan yang masuk ke e-wallet-nya. Jumlahnya lima kali lipat dari tarif biasanya.

Disusul sebuah pesan dari Clara beserta bukti transferan.

Uang transport buat sore ini. Besok jam 10 pagi datang lagi ya, Yat. AC di kamar utama bunyinya agak berisik... Aku nggak suka keganggu pas tidur siang.

“Nih baca! Istri kesayangan Bos Lo udah WA gue aja!” Gerutu dayat.

Dayat menunjukkan layar ponselnya pada Luki. Luki hanya menaikkan alisnya sambil tersenyum penuh arti.

"Tuh kan? Baru permulaan aja udah dikasih 'DP' segitu. Inget bae-bae nih saran gue! Besok, lo jangan dateng sebagai tukang servis yang ketakutan dan norak. Lo dateng sebagai engineer yang tau gimana caranya bikin pelanggannya puas."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Tukang Servis Spesialis   Tertangkap Basah

    Dayat dan Arum melangkah keluar dari kamar mandi. Keduanya sudah tampak lebih segar, walau sisa-sisa kelelahan dari permainan panas tadi masih tertinggal di gurat wajah mereka. Arum berjalan dengan handuk yang hanya dililitkan sebatas dada, sementara Dayat berjalan di sampingnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Namun, langkah mereka terhenti sejenak saat melihat ke arah dapur. Ternyata, Mbak Putri sudah tidak ada lagi di atas kasur. Janda montok itu rupanya sudah berhasil mengumpulkan tenaganya kembali. Dengan hanya mengenakan daster tipis yang longgar, Putri terlihat sedang sibuk mengaduk sesuatu di dalam cangkir, membelakangi mereka. Aroma harum biji kopi yang pekat langsung menguar memenuhi ruangan. "Eh, udah bangun kamu, Put? Kirain bakal pingsan sampai pagi," goda Arum sambil terkekeh pelan. Putri menoleh, melemparkan tatapan pura-pura sebal sambil memegang sendok kecil. "Sialan kamu, Rum. Mas Dayat tuh yang enggak pakai perasaan genjotnya. Tapi untung badanku

  • Tukang Servis Spesialis   Kenikmatan Ganda

    Melihat Mbak Putri yang sudah berada di atas tubuhnya, Dayat tidak mau lagi menjadi pihak yang pasif. Begitu milik mereka menyatu sempurna, gairah kelelakian Dayat benar-benar meledak. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Dayat memegang pinggang montok Putri, lalu membalikkan posisi tubuh mereka dengan satu hentakan kuat. Kini, Dayat berada di atas, menindih penuh tubuh Mbak Putri yang langsung memekik kaget sekaligus kegirangan. "Aahhh... Mas Dayat! Langsung kasar yaaa... hhh!" Tanpa memberikan jawaban, Dayat langsung mengerahkan seluruh tenaganya. Ia mulai menggenjot Mbak Putri dengan sangat kuat, cepat, dan liar. Setiap tusukan dalam yang diberikan Dayat membuat ranjang kayu di kamar itu mulai berdecit keras, beradu dengan suara kecapak basah yang semakin intens. "Aaaahhh! Mas... Mas Dayattt! Pelan-pelan, Mas... ughh, dalem banget... aaahh!" jerit Mbak Putri, matanya terpejam erat dengan kepala yang bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Kedua tangannya mencengkeram bahu Dayat

  • Tukang Servis Spesialis   Dua Hasrat Tak Berhenti

    Keheningan kamar itu tidak bertahan lama. Pintu kembali terbuka perlahan, dan sosok Arum melangkah masuk dengan sangat santai. Namun kali ini, semua pakaiannya sudah ditanggalkan. Tubuh sintalnya yang polos tanpa busana tampak begitu menawan di bawah temaram lampu kamar, membuat pandangan Dayat lagi-lagi terkunci.Arum berjalan gemulai menghampiri ranjang, lalu merangkak naik mendekati Dayat. Ia sengaja menempelkan dada bidangnya ke tubuh Dayat yang masih berusaha mengatur napas, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu untuk membisikkan godaan nakal."Mas Dayat... udah siap kan? Sekarang giliran aku yang cobain punya Mas sampai puas ya," bisik Arum dengan nada yang sangat seksi, tangannya yang lentik perlahan mendorong dada Dayat hingga pria itu kembali berbaring telentang di atas kasur.Dayat hanya bisa pasrah, membiarkan Arum mengambil kendali. Dengan gerakan yang penuh percaya diri, Arum kemudian mengangkangi tubuh Dayat. Ia memosisikan dirinya di atas paha pria itu, lalu mer

  • Tukang Servis Spesialis   Dihimpit Dua Janda

    Dayat masih duduk tegang di tengah kasur, memegangi bantal erat-erat untuk menutupi kejantanannya yang telanjang bulat. Kepalanya terus menoleh ke arah pintu dengan jantung yang berdegup kencang, bersiap untuk kemungkinan terburuk jika yang datang adalah Luki atau warga gang.Namun, ketakutannya buyar saat pintu kamar terbuka. Mbak Putri melangkah masuk kembali, tetapi ia tidak sendirian. Di belakangnya, mengekor seorang wanita lain yang penampilannya tak kalah memukau. Wanita itu memiliki perawakan yang sintal, wajah yang rupawan, dan tatapan mata yang sangat berani. Pakaiannya yang agak minim mempertegas lekuk tubuhnya yang seksi.Melihat ada orang asing masuk ke dalam kamar dalam kondisi dirinya yang polos, Dayat langsung tersentak kaget. Ia refleks memeluk bantal lebih erat, menekan benda itu kuat-kuat di atas pangkuannya demi menyembunyikan aset berharganya.Melihat kepanikan Dayat, Mbak Putri justru tertawa kecil dan berjalan santai mendekati ranjang. "Halah, enggak usah panik g

  • Tukang Servis Spesialis   Sempat Tertunda

    Dayat melangkah pelan, mendorong pintu kamar Mbak Putri yang memang tidak tertutup rapat. Begitu kakinya menapak di dalam kamar, aroma wangi bedak tabur dan kelembapan khas sehabis mandi langsung menyergap indra penciumannya.Mbak Putri yang saat itu sedang berdiri di dekat lemari pakaian langsung menoleh. Menyadari kehadiran Dayat yang menyelinap masuk, wanita itu sama sekali tidak terkejut. Sebaliknya, sebuah senyuman nakal dan penuh arti langsung terbit di bibirnya."Ih, Mas Dayat... udah enggak sabar banget ya?" tanya Mbak Putri dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat manja di telinga Dayat.Dayat tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya melemparkan senyuman miring yang penuh percaya diri. Tatapan matanya seketika menggelap begitu melihat kain jarit yang tadi melilit tubuh Putri kini sudah tergeletak di lantai, menampilkan lekuk tubuh wanita itu yang polos tanpa sehelai benang pun.Tanpa membuang waktu lagi, Dayat melangkah lebar mendekat. Kedua tangan kekarn

  • Tukang Servis Spesialis   Servis Besar Malam

    "Eh, Luk!?" ucap Dayat terkejut setengah mati. Jantungnya berdisko, mendadak kepikiran kalau dia tidak mungkin jujur bilang mau ke rumah Mbak Putri. Kalau dia alasan mau benerin sesuatu, Luki pasti langsung curiga kenapa malam-malam begini dia datang tanpa membawa tas peralatan kerjanya.Luki menyipitkan matanya, memandang Dayat dari atas sampai bawah. "Ngapain lo jalan kaki malem-malem di gang rumah gue, Yat? Mana rapi bener lagi. Mobil lo mana?"Dayat cepat-cepat menguasai ekspresi wajahnya, mencoba tersenyum sealami mungkin. "Kagak... ini, gue lagi ada perlu sama orang sini, Luk. Kebetulan rumahnya udah enggak jauh lagi dari sini. Mobil sengaja gue parkir di Alfa depan, males gue bawa masuk gang, sempit."Luki manggut-manggut, menerima alasan itu tanpa curiga berlebih. "Oh, kirain ada apa. Tumben amat malam-malam.""Iya, urusan bentar doang kok," sahut Dayat cepat, buru-buru membalikkan keadaan sebelum Luki bertanya lebih detail. "Lah, lo sendiri mau kemana malam-malam gini bawa mo

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status