Mag-log inDayat memacu motornya seolah-olah sedang dikejar malaikat maut. Deru mesin tuanya menjerit di sepanjang jalan aspal perumahan elit yang senyap.
“Gila.. Gilaa.. Apa si Luki ngerjain gue yaa!” Gerutu Dayat. Pikirannya masih kacau, bau parfum amber milik Clara seolah menempel permanen di jaket kerjanya, menyumbat paru-parunya dengan sensasi yang menyesakkan sekaligus candu. Begitu sampai di area ruko depan kantor pemasaran, Dayat langsung membanting standar motornya di depan warkop langganan. Ia berjalan terburu-buru, wajahnya tegang, keringat dingin masih mengucur dari pelipisnya. Di sudut warkop, Luki sedang asyik menyesap kopi hitam sambil menghisap rokok dalam-dalam. Melihat kedatangan Dayat yang berantakan, Luki hanya menyeringai lebar. "Wuidih... santai, Yat! Kayak abis liat kuntilanak siang bolong lo," goda Luki sambil menarik kursi plastik di depannya. Dayat tidak menyahut, ia merasa sudah di kerjai oleh kawannya itu. Ia justru langsung duduk dan menggebrak meja pelan. "Kopi item, Bang! Gula dikit, panas!" teriaknya pada penjaga warkop tanpa menoleh. "Gila lo, Luk! Lo bener-bener gila!" semprot Dayat kemudian. Suaranya rendah tapi penuh penekanan, matanya menatap Luki tajam. "Lo nggak bilang kalau bini bos lo itu... agresifnya kayak macan kelaparan. Gue baru mau buka box MCB, dia udah nempel kayak perangko. Hampir aja gue 'servis' luar dalem kalau gue nggak inget pesen lo!" Luki malah tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar nyaring di antara deru kendaraan yang lewat. "Hahaha! Kan udah gue bilang, dia itu 'penguji' mental. Tapi jujur deh, lo nikmatin kan? Secara, Bu Clara itu top tier di komplek ini. Bodinya... beuh, teknisi sebelum lo aja sampe nangis pas dipecat gara-gara nggak kuat iman." "Nggak lucu, Luk. Gue ke sini kerja, bukan mau jadi simpenan," gerutu Dayat, meski dalam hati ia tak menampik desiran aneh yang masih tertinggal di perutnya. Ia merogoh saku celananya, mengambil sebatang rokok dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Luki berhenti tertawa. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Dayat dengan ekspresi yang tiba-tiba serius. "Dengerin gue, Yat. Gue nggak asal milih lo. Lo itu sohib gue Yat! Gue tau lo lagi butuh duit cepet buat pelunasan utang bokap lo yang bunganya makin gila itu, kan? Gue juga tau lo masih pengen balik ke kampus." Dayat terdiam, asap rokoknya mengepul di antara mereka. Ia tak bisa membantah semua kebenaran yang keluar dari mulut kawannya itu. "Lo itu bukan tukang servis biasa, Yat. Lo itu mantan mahasiswa teknik elektro tingkat akhir. Lo punya otak yang lebih encer dibanding tukang kabel manapun di kota ini. Lo cuma butuh satu 'pintu' buat balik ke atas," Luki mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. "Gini, denger baik-baik. Bu Clara itu yang pegang kendali atas renovasi sepuluh unit rumah contoh di Blok F. Kalau lo bisa 'menghandle' dia dengan baik—dan maksud gue bukan cuma benerin listriknya, tapi bikin dia merasa 'nyaman'—lo bakal dapet kontrak eksklusif buat semua instalasi di sana. Bayangin komisinya, Yat. Lo bisa bayar lunas utang lo dalam sebulan, dan sisanya? Lo bisa lanjutin skripsi lo yang terbengkalai itu." Dayat menyesap kopi panasnya yang baru datang. Rasa pahitnya sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. "Jadi maksud lo, gue harus manfaatin situasi ini?" "Manfaatin peluang, Yat. Itu namanya strategi," sahut Luki enteng. "Di perumahan elit kayak gini, dinding rumah itu penuh rahasia. Dan orang kayak kita, yang masuk lewat pintu belakang buat benerin barang rusak, adalah orang yang paling tau rahasia itu. Bu Clara itu kesepian. Suaminya sibuk main angka, sementara dia butuh orang yang pinter, berwibawa, tapi nggak kaku. Lo itu paket lengkap." Dayat menyentil abu rokoknya. Kalimat Luki soal "mahasiswa teknik" selalu berhasil menyentil harga dirinya. Ia teringat tas perkakas kusamnya—didalamnya tersimpan mimpi yang ia kubur demi bertahan hidup. "Gue nggak tau, Luk. Ini berisiko. Kalau bos lo tau, gue bisa abis, elu mah enak nggak bakalan kena imbasnya," gumam Dayat. "Risiko itu sebanding sama hasilnya, Yat. Lo mau selamanya jadi tukang servis panggilan yang bayarannya cuma cukup buat makan sehari? Pikirin baik-baik. Kesempatan kayak gini nggak dateng dua kali. Ada banyak cara buat lo naikin taraf hidup lo sedikit demi sedikit" Dayat sempat terdiam, meski merasa ragu dengan apa yang di katakan oleh Luki, tapi ia merasa ada benarnya juga ucapan Luki. Selama Dayat bisa menghindari segala kemungkinan dari resiko yang ada, hasilnya tidak akan sia-sia. Tiba-tiba ponsel Dayat bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi masuk. Mata Dayat membelalak saat melihat nominal transferan yang masuk ke e-wallet-nya. Jumlahnya lima kali lipat dari tarif biasanya. Disusul sebuah pesan dari Clara beserta bukti transferan. Uang transport buat sore ini. Besok jam 10 pagi datang lagi ya, Yat. AC di kamar utama bunyinya agak berisik... Aku nggak suka keganggu pas tidur siang. “Nih baca! Istri kesayangan Bos Lo udah WA gue aja!” Gerutu dayat. Dayat menunjukkan layar ponselnya pada Luki. Luki hanya menaikkan alisnya sambil tersenyum penuh arti. "Tuh kan? Baru permulaan aja udah dikasih 'DP' segitu. Inget bae-bae nih saran gue! Besok, lo jangan dateng sebagai tukang servis yang ketakutan dan norak. Lo dateng sebagai engineer yang tau gimana caranya bikin pelanggannya puas.""Pagi mas,," sapa gadis itu dengan senyuman tipis sambil merapikan rambut panjangnya yang agak berantakan di dekat meja makan. Dayat menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar, matanya berkedip beberapa kali melihat sosok asing yang duduk santai di ruang tengah rumah Mira pagi itu. "I-iya pagii.." sahut dayat dengan nada canggung, ia menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali. Mira yang sedang memotong sayuran di dapur kecilnya menoleh sekilas, lalu menunjuk ke arah gadis berkaus ketat di ruang tengah tersebut. "Oh iya mas, kenalin itu sepupuku namanya rita,," ucap mira dengan nada suara yang terdengar sangat santai tanpa beban. Rita bangkit dan melangkah pelan menghampiri dayat, langkah kakinya sengaja dibuat berayun lambat hingga jarak mereka hanya tersisa setengah meter saja. Dia mengamati wajah Dayat dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai, lalu mengulurkan tangannya, "Rita.." Dayat menyambut tangan Rita, membalas genggaman tangan gadis itu yang terasa halus
"Mas... pelan dikit mas,, i-ini dalem banget mas,, aaahh.. aaahhh.. ya ampun mas, ahh, ahh," bisik Mira di sela desahnya. "Eeemmmhh,, gak bisa pelan mir, badanmu padat banget,, rasanya aku gak bisa berhenti,," ucap Dayat di sela gerakannya yang tetap cepat dengan hentakannya yang keras. "Ahhh... ohh, mas, terus mas.. ahh, ahh, di situ mas, emmhh.. ughh, aaahhh! Lebih keras, Mas! Ahh, ahh!" desah Mira semakin keras, meremas sprei dengan kuku-kukunya sampai memutih karena tidak tahan menerima tusukan yang bertubi-tubi. "Oohh, iya, Mir? Ini udah keras belum? Hah? Emmhh!" tanya Dayat dengan suara berat, sambil terus menekan pinggul Mira dan menghantamnya tanpa ampun dari belakang. "Aaahh! Udah, Mas! Ahh, ahh, ughh, dalem banget, Mas! Terus, Mas, jangan berhenti, ahh, ahh!" sahut Mira dengan mata terpejam rapat dan dahi berkerut dalam karena kenikmatan yang memuncak. "Emmhh, jepit terus, Mir! Punya lo sempit banget, ahh!" seru Dayat dengan napas memburu, merasakan jepitan dinding
"Tiba di depan rumah Mira, Mas ayo mampir dulu..." ucap Mira sambil menarik tangan Dayat dengan cukup kuat, seolah tidak sabar ingin membawa pria itu masuk melewati pintu pagar rumahnya. Dayat yang tangan kanannya masih memegang setang motor menahan tarikan tersebut sesaat, memposisikan standar dua kendaraannya agar berdiri tegak dengan kokoh di atas lantai semen. "Iya iya bentar aku parkir motor dulu Mir," ucap Dayat menenangkan kegelisahan gadis di depannya yang nampak sangat terburu-buru itu. Mira melepas cekalannya pada tangan Dayat, berbalik dengan cepat lalu melangkah setengah berlari menuju teras depan rumah. Jemarinya yang lentur merogoh isi tas kecil miliknya, mengambil sebatang kunci logam, lalu memasukkannya ke dalam lubang selot pintu kayu rumahnya dengan gerakan yang sangat cepat. Cklek. Mira melangkah lebih dulu dan membuka kunci serta pintu rumahnya, membiarkan lampu ruang tamu yang masih padam terlihat remang-remang dari arah luar halaman. Setelah memastikan motor
"Oh itu, tadi aku mau nyuruh Mas Dayat WA kamu.. aku mau pulang soalnya," ucap Mira dengan nada suara yang agak cepat, berusaha mencari alasan agar tidak ketahuan. Gita mengangguk pelan sambil menurunkan tas kecilnya dari pundak, meski matanya masih memperhatikan gerak-gerik temannya itu. "Ohh gitu... kamu mau pulang sekarang?" tanya Gita yang merasa agak aneh dengan gelagat Mira yang tampak buru-buru. Tak lama, pintu kamar terbuka sepenuhnya dan Dayat melangkah keluar dengan wajah yang diusahakan sepadat mungkin untuk menutupi kepanikannya. Dia langsung mendapati Gita dan Mira sedang berdiri berhadapan di ruang tengah. "Lho kamu udah pulang Git?" tanya Dayat sambil berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Gita menoleh ke arah Dayat, mengembuskan napas panjang karena merasa lelah setelah menempuh perjalanan sore yang lumayan macet. "Iya Mas, cuma sebentar aja kok.. soalnya kebetulan pamanku disana juga mau pergi katanya," ucap Gita menjelaskan situasi yang membuatnya harus pulang
"Ya, namanya juga memang kerjaanku sehari-hari sebagai tukang servis, Mir. Jadi ya harus pintar servis segala macam barang lah," ucap Dayat dengan nada bicara yang diusahakan tetap tenang dan santai, meskipun ia bisa merasakan deru napasnya sendiri mulai agak tidak teratur. Di dalam benaknya, Dayat mulai menebak-nebak dengan rasa cemas yang tertahan. "Gita udah ngomong apa aja ya ke ini anak?" gumam batin Dayat dalam hati. "Hmmm..." Mira hanya bergumam pelan. Jemarinya yang lentur kembali meremas pelan otot bahu tegap Dayat dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Dayat tampak diam dan sama sekali tidak memberikan gerakan untuk menghindar atau menjauhkan tubuhnya dari sentuhan tersebut. Hal itu membuat Mira merasa berada di atas angin. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang penuh kemenangan di sudut bibirnya. "Bukan servis barang atau sanyo itu maksudku, Mas Dayat. Tapi servis yang lain," ucap Mira dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat manja tepat di samping
"Yaaa... mau gimana lagi, Mir," ucap Dayat sambil mengulas senyum tipis, mencoba mencairkan kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka setelah mobil Niken melaju pergi. Dayat kemudian meneguk sisa kopinya yang sudah mendingin, lalu menatap Mira yang masih duduk santai di sofa rotan. "Oh iya, kamu mau langsung pulang sekarang apa masih mau di sini dulu sebentar?" tanya Dayat dengan nada bicara yang ramah dan sopan. Mira langsung memundurkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada sambil mengerucutkan bibirnya ke depan. "Ihh, Mas Dayat ini kok ketahuan banget sih mau mengusir aku ya? Belum juga semenit Gita jalan, udah langsung ditanya begitu," ucap Mira dengan wajah cemberut yang dibuat-bikin. Dayat tertawa kaku, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa salah bicara. "Yaa enggak begitu, Mir. Maksudku, aku cuma tanya aja. Kalau kamu masih mau di sini dulu ya nggak apa-apa. Mau nunggu sampai Gita pulang nanti juga nggak apa-apa kok, santai aja." Raut wajah