MasukDayat masih termangu. Suara kipas angin kontrakannya memecah hening. Dayat baru saja memejamkan mata, tak lama, layar ponsel yang tergeletak di samping bantalnya menyala. Dayat melirik malas, namun keningnya berkerut saat membaca nama pengirimnya.
“Yat! Mau jadi engineer nggak di kantorku? Mumpung ada loker nih! Gaji oke, benefit lengkap. Gimana?” Dayat tertegun. Andini adalah teman satu angkatannya dulu di Teknik Elektro, orang yang tahu persis betapa briliannya otak Dayat sebelum ia terpaksa drop out. Kata "Engineer" itu terasa seperti sembilu yang mengiris harga dirinya. Seharusnya itu gelarnya sekarang. Seharusnya ia duduk di ruangan ber-AC dengan kemeja rapi, bukan berlumuran oli di gudang gelap milik istri orang kaya. "Gaji oke, benefit lengkap..." gumam Dayat lirih. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berjamur. Tawaran Andini adalah jalan keluar yang bersih. Tapi bayangan utang bokapnya yang ratusan juta dan tenggat waktu dari rentenir membuat angka "gaji oke" itu terasa terlalu lambat. Ia teringat kata-kata Luki sore tadi di warkop: "Manfaatin peluang, Yat. Lo bisa lunasin utang dalam sebulan kalau main cantik sama Bu Clara." "Gue butuh uang cepet, peluang dari Luki lebih menjanjikan sih, biarpun resikonya gede.. Ketimbang kerja kantoran lagi yang cuma ngandelin bulanan." Gumam Dayat sambil mencoba menimbang dua penawaran yang sama-sama menguntungkan dengan nilai yang jauh berbeda. Dayat tidak membalas pesan Andini. Ia melempar ponselnya ke ujung kasur, memilih untuk menutup wajahnya dengan bantal. Dilema itu mencekiknya sampai ia tertidur. ** Keesokan paginya, Dayat terbangun dengan kepala berat. Sesuai janjinya pada Luki, ia harus mampir ke kantor pemasaran sebelum menuju rumah Clara. Dengan jaket kerja yang sudah dicuci bersih dan tas perkakas yang tertata rapi, ia memacu motornya. Di kantor pemasaran, suasana sudah sibuk. Luki menyambutnya dengan senyum penuh arti sambil menyerahkan berkas denah instalasi sepuluh unit rumah contoh. "Wah wah wah.. Klimis amat tuh rambut." bisik Luki sembari menyodorkan segelas kopi instan. Baru saja Dayat hendak meminum kopinya, ponsel di sakunya bergetar hebat. “Yat, kamu di mana? Katanya jam 10? Ini sudah lewat 15 menit. AC di kamar utamaku makin berisik. Buruan, saya butuh servis sekarang.” Dayat menelan ludah. Kata "servis" yang digunakan Clara terasa punya makna ganda yang sangat provokatif. "Kenapa muka lo pucat gitu? Dari macan betina ya?" tebak Luki sambil melirik layar ponsel Dayat. "Tuh kan, dia udah nggak sabar. Buruan cabut, Yat!” Dayat berdiri, menyampirkan tas perkakasnya dengan mantap. Ia mengabaikan pesan Andini yang menawarkan hidup normal. "Yaudeh, Gue jalan dulu, Luk," ucap Dayat tegas. "Hati-hati, Yat! Jangan lupa pakai 'pengaman'... maksud gue, alat pelindung diri buat kelistrikannya!" teriak Luki diiringi tawa renyah yang menggema di lobi kantor. “Sialan lo! jangan bikin gue dag dig dug kampret!” Dayat memacu motornya menuju Blok F nomor 12. Di kepalanya, ia mencoba menyusun rencana teknis untuk memperbaiki AC kamar utama. Setibanya di depan gerbang kayu jati itu, pintu sudah terbuka lebar seolah memang menunggunya masuk. Dayat menarik napas panjang, memarkirkan motornya, dan melangkah menuju pintu utama di mana Clara sudah berdiri bersandar di bingkai pintu, masih dengan daster tipisnya, namun kali ini dengan tatapan yang jauh lebih berani dari kemarin. "Kamu telat, Yat," ucap Clara rendah, matanya menyapu tubuh Dayat dari bawah ke atas. "Ayo, AC-nya ada di lantai dua. Di kamarku." Dayat mengikuti Clara menaiki tangga menuju lantai dua. Dari belakang, ia tidak bisa menahan pandangannya untuk tidak memperhatikan gerakan pinggul Clara yang sekal. Begitu pintu kamar terbuka, aromaterapi langsung terhirup. "Ini kamar orang kaya ya, luas banget, kasurnya aja mungkin seharga motor gue," gumam batin Dayat sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang mewah itu. "Eh, kok bengong! Ayo dong! Aku udah kegerahan ini," ucap Clara memecah lamunan Dayat. Ia sengaja mengibaskan bagian depan dasternya, memberikan celah bagi Dayat untuk melihat sekilas belahan dadanya yang menyembul di balik kain tipis itu. "Eh, maaf Tante... Sebentar, saya pinjam kursinya ya." Dayat segera menguasai diri. Ia menarik sebuah kursi rias yang tampak kokoh untuk dijadikan pijakan agar bisa menjangkau unit AC yang terpasang cukup tinggi. Dengan cekatan, Dayat membuka penutup unit "indoor". Ia mendengarkan dengan saksama bunyi kasar yang dikeluhkan Clara. Tak butuh waktu lama bagi tangan terampilnya untuk menemukan baut yang longgar pada bagian fan blower yang menyebabkan getaran tidak stabil. Setelah dikencangkan dan sedikit dibersihkan, mesin itu kembali halus. "Tan, coba dinyalain," ucap Dayat yang masih berdiri di atas kursi, tangannya masih memegang obeng. "Oke," sahut Clara singkat. Ia menyambar remote AC yang tergeletak di atas ranjang empuknya, lalu menekan tombol power. "Bip!" Unit AC itu menyala dengan suara yang sangat halus, hampir tak terdengar, dibarengi hembusan angin yang mulai mendingin. Clara tidak langsung menjauh, ia justru melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping Dayat yang posisinya masih lebih tinggi karena berdiri di atas kursi. Clara mendongak, menatap Dayat dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh maksud. “Ngomong-ngomong, Yat.” Perlahan, jemari lentiknya yang dingin mulai menyentuh bagian betis hingga paha Dayat yang posisinya sejajar lebih rendah dengan pundaknya. "Selain servis AC... kamu bisa servis saya gak, Yat?" tanya Clara dengan suara yang merendah, nyaris berbisik.Hari kian merambat siang, namun hawa dingin udara gunung yang menerobos lewat celah jendela kayu justru membuat gairah di ruang keluarga itu mendidih hebat. Di atas karpet bulu tebal bernuansa earth tone, pakaian santai mereka sudah terlepas berhamburan. Dayat berbaring telentang, bertelanjang dada memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kekar dan kokoh. Clara yang sedang hamil tua tujuh bulan berbaring miring di sisi kanan Dayat, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Jemari lentiknya yang mulus bergerak lihai, membelai dan mengocok kejantanan Dayat yang sudah tegang keras, membesar padat sempurna. "Nngghh... Mas Dayat..." desah Clara halus, napasnya berhembus memburu di leher Dayat. "Lihat nih... milik kamu udah keras banget. Pengen banget aku lahap..." Sementara itu, Astrid yang berdiri polos tanpa sehelai benang pun memamerkan lekuk tubuhnya yang kembali kencang dan seksi pasca melahirkan anak pertama mereka. Matanya memancarkan gairah yang begitu dahsyat. Astrid melan
Penyidik Aris membisu. Keringat dingin menetes di pelipisnya saat menyadari posisinya terjepit total. Tanpa pilihan lain, ia meraih kunci dari sakunya dan membuka kunci borgol di tangan Dayat dengan jemari yang gemetaran. "Kertas tuntutan ini... dianggap tidak pernah ada," bisik Aris pasrah, menarik kembali map merah dari atas meja. "Kalian punya waktu sampai matahari terbit untuk menghilang dari kota ini." Dayat mengusap pergelangan tangannya yang memerah, menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan. Tanpa mengulur waktu, ia melangkah keluar dari kantor kepolisian dan kembali ke resort VVIP. Menggunakan otoritas teknisnya, Dayat membuka akses panic room dari panel pusat. Pintu hidrolik terbuka perlahan. Astrid dan Clara yang panik seketika bernapas lega melihat Dayat berdiri di ambang pintu dalam keadaan selamat. Tanpa membuang kata, Astrid dan Clara langsung menghambur memeluk pria itu kencang-kencang, membasahi dada kekar Dayat dengan air mata haru. Hari itu juga, keputusan be
"Kalian mengira whistleblower agreement Budi itu valid?" ujar Dayat tiba-tiba, suaranya tetap terkontrol dan berat, menggelegar tenang di tengah kepungan pasukan bersenjata. "Sebagai teknisi yang membongkar seluruh sistem Unit 00 semalam, saya tahu persis server mana yang asli dan mana yang cuma umpan." Penyidik Aris tertawa terkekeh, menggelengkan kepalanya meremehkan. "Jangan mencoba menggertak, Dayat. Rekaman live stream kalian bertiga ada di genggaman kami. Bukti audio visual itu lebih dari cukup untuk menyeret kalian bertiga ke sel tahanan." "Sistem perekaman yang dipasang Budi menggunakan IP dinamis dengan enkripsi ganda dari server lokal resort," potong Dayat dingin, melangkah satu petak ke depan tanpa mengindahkan moncong senjata yang mengarah padanya. "Kalau Anda benar-benar mengakses feed itu tiga hari lalu, harusnya Anda tahu kalau Budi bukan cuma menjual akses ke kepolisian... tapi juga melempar data transaksi bodong bernilai ratusan miliar itu ke pasar gelap. Dan dokum
Dayat menatap layar ponsel Pak Handoko yang memancarkan pendar cahaya kebiruan di tengah kegelapan kamar. Tulisan Pesan Teks - Operasi Tangkap Tangan (OTT) itu tercetak amat jelas. Sensasi dingin merayap cepat di tengkuknya, membekukan sisa-sisa kehangatan gairah yang baru saja padam beberapa menit lalu. Di atas ranjang king size, Astrid dan Clara mulai bergeliat. Padamnya arus AC dan heningnya suasana secara mendadak membuat kenyenyakan tidur mereka terganggu. "Mas Dayat... kok gelap? Lampunya mati ya...?" bisik Astrid dengan suara parau khas bangun tidur, tangannya meraba-raba mencari tubuh kekar Dayat di sampingnya. "Ssshh... diam, Astrid," bisik Dayat tegas namun sangat rendah. Ia merayap turun dari kasur, mengenakan celana kerjanya dengan gerakan secepat kilat. Clara ikut duduk, mengucek matanya yang samar. "Dayat? Ada apa sih? Kok listriknya padam... Nngghh, dingin banget..." "Jangan ada yang nyalain lampu HP atau bersuara," potong Dayat dingin, merangkak mendekati tempat t
Astrid membelalak kaget. Selimut yang ditariknya ke dada membeku di genggamannya. Napasnya tertahan saat melihat bos besarnya—wanita paling berwibawa di perusahaan—berdiri di ambang pintu kamar dengan tatapan mata yang tidak lagi memancarkan keangkuhan formal, melainkan dahaga dan gairah yang begitu kentara. "B-Bu Clara...? Maksudnya apa ini...?" bisik Astrid dengan suara bergetar, pandangannya beralih dari Clara ke Dayat yang masih berada di atas tubuhnya. Dayat tidak menunjukkan rasa terkejut sedikit pun. Pria itu justru menyunggingkan senyum tenang, mengusap lembut pipi mulus Astrid untuk menenangkannya. "Gak usah panik, Astrid. Ini semua bagian dari rencana kita buat pegang kendali penuh atas resort ini dan menyingkirkan Handoko." Clara melangkah perlahan mendekati kasur king size tersebut. Jemari lentiknya yang terawat rapi melepas kancing terakhir blazer merahnya, membiarkan pakaian mahal itu jatuh begitu saja ke lantai. Di baliknya, Clara hanya mengenakan lingerie sutra hita
Dayat terdiam sejenak. Tatapannya pada dokumen berstempel hukum di tangannya perlahan memudar, berganti dengan pandangan dingin yang menusuk lurus ke manik mata Bu Clara. Wanita matang di hadapannya itu mungkin berpikir bahwa harta, kekuasaan, dan tubuh indahnya bisa membeli segala keputusan Dayat. Namun, Dayat bukan pria yang bisa didekte atau dipaksa mengorbankan darah dagingnya sendiri. Dayat melempar amplop cokelat tebal itu secara kasual ke atas kasur, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. Tangan kekarnya bergerak cepat, mencengkeram dagu mulus Bu Clara dengan kuat hingga wanita itu terperanjat, menatap Dayat dengan napas tertahan. "Saya tolak syarat itu, Bu Clara," ujar Dayat dengan suara berat, dalam, dan tanpa ragu sedikit pun. Bu Clara membelalak kaget, matanya menyipit penuh rasa tak percaya. "Kamu gila, Dayat?! Itu setengah saham utama resort VVIP! Nilainya belasan miliar! Kamu cuma perlu memastikan Astrid nggak melahirkan anak itu!" Dayat terkekeh
“Hati-hati gimana?”Mendengar ucapan itu Dayat sempat terdiam, ia tahu betul sedikit kesalahan yang ia lakukan nanti atau hal yang membuat Istri dari Bos-nya tidak suka dapat memutus langsung jalur rezekinya.Dayat terkekeh sinis. "Lo tenang deh. Iman gue kuat. Tadi aja di rumah Mbak Niken, gue ham
"Aduh… M-Mbaakk!! Ati-ati dong!" seru Dayat panik. Ia langsung bergerak maju, berusaha meraih lengan Niken. Waktu seolah membeku. Dayat terpaku di tempatnya. Matanya yang tak sempat berpaling merekam dengan sangat jelas setiap inci kulit Niken yang tanpa sehelai benang pun. Dari dada yang berd
"Maaaass!! Udah belum!! Buruan masukin! Aku gerah!”Suara lengkingan itu memecah konsentrasi Dayat. Ia mengembuskan napas pendek, mencoba menahan gerutu yang hampir lolos dari bibirnya. Mbak Niken, pemilik rumah ini, adalah tipe pelanggan yang tidak punya kamus kata "sabar". Sejak Dayat menginjakk
Dayat memacu motornya seolah-olah sedang dikejar malaikat maut. Deru mesin tuanya menjerit di sepanjang jalan aspal perumahan elit yang senyap. “Gila.. Gilaa.. Apa si Luki ngerjain gue yaa!” Gerutu Dayat. Pikirannya masih kacau, bau parfum amber milik Clara seolah menempel permanen di jaket ke







