Home / Male Adult / Tukang Servis Spesialis / Peringatan Tak Kasat Mata

Share

Peringatan Tak Kasat Mata

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-04-09 12:54:46

"Aduh… M-Mbaakk!! Ati-ati dong!" seru Dayat panik. 

Ia langsung bergerak maju, berusaha meraih lengan Niken.

Waktu seolah membeku. Dayat terpaku di tempatnya. Matanya yang tak sempat berpaling merekam dengan sangat jelas setiap inci kulit Niken yang tanpa sehelai benang pun. 

Dari dada yang berdiri menantang hingga lekuk perut yang ramping, semuanya tersaji begitu nyata di bawah sinar matahari sore yang menembus celah atap.

Glek! Dayat menelan ludah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir.

"Duh... Copot deh," ucap Niken. Anehnya, nada suaranya tidak menunjukkan rasa malu atau panik. Ia justru meraih kembali kain putih itu dengan gerakan yang sangat lambat, seolah sengaja membiarkan Dayat menikmati pemandangan itu beberapa detik lebih lama.

Niken melirik Dayat dengan tatapan yang tajam namun penuh godaan. "Jangan kelamaan liatnya, Mas. Nanti kepengen..." bisiknya sembari melilitkan kembali handuknya ke tubuh.

"Duh, Mbak... lagian Mbak nggak hati-hati," sahut Dayat cepat sembari membuang muka, mencoba menetralisir debaran jantungnya yang sudah tidak keruan. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Niken berdiri tegak.

Niken menyambut tangan kasar Dayat yang penuh noda oli. Namun, baru saja ia berdiri, kakinya kembali seolah kehilangan tumpuan—atau mungkin sengaja dilepaskan. Tubuhnya ambruk ke depan, menabrak dada bidang Dayat dengan keras.

Secara spontan, tangan Dayat melingkar di pinggang Niken untuk menahannya agar tidak jatuh lagi. Rasa hangat dari kulit Niken yang hanya terhalang handuk tipis itu kini merambat langsung ke telapak tangan Dayat, memicu aliran listrik yang membuat otaknya seakan korsleting.

"Mas Dayat..." gumam Niken pelan, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Dayat. Napasnya yang hangat menerpa bibir Dayat. "Tangan kamu... kasar ya, tapi enak."

Dayat mematung. Logikanya berteriak untuk melepaskan pelukan itu, tapi tubuhnya justru mengkhianati pikirannya. Tangan yang tadi memegang kunci inggris kini justru meraba perlahan lekuk pinggang di balik handuk itu.

"Mbak...aduh," ucap Dayat lirih, meski suaranya sendiri terdengar tidak yakin.

"Bayarannya mau sekarang, atau... nanti di kamar?"

Sebelum Dayat sempat menjawab, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari Luki. Getaran itu seolah menjadi alarm yang menarik Dayat kembali ke bumi.

"B-bentar Mbak, ada telepon penting," ucap Dayat terengah, melepaskan dekapannya dengan paksa. Ia melangkah mundur beberapa tindak, berusaha mengatur napas.

"Halo, Luk?" jawab Dayat dengan suara yang masih sedikit bergetar.

"Yat! Lo di mana? Ada orderan darurat nih di Blok F. Panel listrik rumah Pak Bos Gue konslet parah! Gak ada orang disana kecuali istrinya, dia ketakutan. Lo bisa kesana sekarang nggak? Gue kasih alamatnya!" suara Luki terdengar panik dari seberang telepon.

Dayat melirik ke arah Niken yang kini berdiri dengan wajah cemberut karena merasa terganggu. Namun, tawaran kerja di rumah "Pak Bos" berarti bayaran besar. Lagipula, ia merasa harus segera pergi dari rumah Niken sebelum ia benar-benar kehilangan kendali diri.

"Oke, oke. Kirim alamatnya, Luk. Gue meluncur!"

Dayat mematikan telepon. "Mbak, maaf banget. Ada urusan darurat. Ini tagihannya saya kirim via WA aja ya, saya harus jalan sekarang!" ucap Dayat sembari menyambar tas perkakasnya secepat kilat.

Tanpa menunggu jawaban Niken yang masih berdiri mematung dengan handuknya, Dayat berlari menuju motornya yang terparkir di halaman depan. Ia menghidupkan mesin dengan sekali injakan, lalu memacu motornya keluar dari gerbang rumah itu.

Sambil membelah jalanan perumahan, Dayat menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan tubuh Niken yang masih segar di kepalanya. "Baru satu rumah aja udah begini... gila lo, Yat,”

Dayat memacu motor bebeknya dengan serampangan, meninggalkan kepulan asap tipis di depan rumah Mbak Niken. 

Jantungnya masih berdegup seperti mesin diesel yang telat ganti oli. Bayangan handuk putih yang melorot itu seperti stiker yang menempel erat di kornea matanya. 

Ia menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba menghalau fantasi liar yang mulai mengganggu konsentrasi berkendaranya.

"Gila... gila. Hampir aja gue khilaf," gumamnya di balik helm half-face yang sudah kusam.

Ia menepi di bawah pohon peneduh jalan perumahan, merogoh saku celana kargo yang penuh noda minyak untuk mengambil ponselnya. Sebuah pesan W******p dari Luki masuk, lengkap dengan titik lokasi yang dikirimkan. Belum sempat ia membalas, ponselnya kembali bergetar. Luki menelepon lagi.

"Halo, Luk? Sabar napa, gue baru keluar dari rumah pelanggan!" semprot Dayat begitu menekan tombol hijau.

"Pelanggan atau selingkuhan lo, Yat? Lama bener! Ini darurat, bini bos gue udah rewel di grup kantor. Listrik rumahnya mati total, dia sendirian di rumah, katanya ada bau sangit di panel utama," suara Luki terdengar panik namun ada nada mengejek di sana.

"Iya, ini gue jalan. Tapi jangan ngarep cepet, jalanan blok depan lagi ada perbaikan jalan," jawab Dayat sembari menyalakan mesin motornya kembali.

"Eh, Yat... denger ya," nada bicara Luki tiba-tiba berubah serius, sedikit merendah. "Gue kasih orderan ini ke lo bukan cuma karena lo sohib gue. Gue tau kapasitas lo. Lo itu bukan tukang servis abal-abal yang cuma modal nekat. Lo itu mantan mahasiswa teknik elektro tingkat akhir! Lo punya otak, lo punya gelar yang hampir jadi kalau aja lo nggak cabut gara-gara masalah biaya itu."

Dayat terdiam sejenak. 

Kalimat Luki barusan seperti menyiram luka lama dengan cuka. Ya, Dayat dulu adalah mahasiswa berprestasi di salah satu universitas negeri, spesialisasi sistem tenaga listrik. Namun, dunia tidak selalu ramah pada orang pintar yang bokek. 

Kematian ayahnya dan tumpukan utang keluarga memaksanya menukar toga dengan tas perkakas hitam yang kini tersampir di pundaknya.

"Ngapain sih bahas masa lalu, Luk? Nggak guna," sahut Dayat dingin.

"Guna, Yat! Buat gue, lo itu engineer. Makanya gue berani jamin ke bos gue kalau lo bisa benerin sistem otomatisasi rumahnya yang ribet itu. Tapi inget satu hal..." Luki menjeda, suaranya makin lirih, 

"Bini bos gue, Bu Clara... tuh… Hati-hati aja dah!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Sempat Tertunda

    Dayat melangkah pelan, mendorong pintu kamar Mbak Putri yang memang tidak tertutup rapat. Begitu kakinya menapak di dalam kamar, aroma wangi bedak tabur dan kelembapan khas sehabis mandi langsung menyergap indra penciumannya.Mbak Putri yang saat itu sedang berdiri di dekat lemari pakaian langsung menoleh. Menyadari kehadiran Dayat yang menyelinap masuk, wanita itu sama sekali tidak terkejut. Sebaliknya, sebuah senyuman nakal dan penuh arti langsung terbit di bibirnya."Ih, Mas Dayat... udah enggak sabar banget ya?" tanya Mbak Putri dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat manja di telinga Dayat.Dayat tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya melemparkan senyuman miring yang penuh percaya diri. Tatapan matanya seketika menggelap begitu melihat kain jarit yang tadi melilit tubuh Putri kini sudah tergeletak di lantai, menampilkan lekuk tubuh wanita itu yang polos tanpa sehelai benang pun.Tanpa membuang waktu lagi, Dayat melangkah lebar mendekat. Kedua tangan kekarn

  • Tukang Servis Spesialis   Servis Besar Malam

    "Eh, Luk!?" ucap Dayat terkejut setengah mati. Jantungnya berdisko, mendadak kepikiran kalau dia tidak mungkin jujur bilang mau ke rumah Mbak Putri. Kalau dia alasan mau benerin sesuatu, Luki pasti langsung curiga kenapa malam-malam begini dia datang tanpa membawa tas peralatan kerjanya.Luki menyipitkan matanya, memandang Dayat dari atas sampai bawah. "Ngapain lo jalan kaki malem-malem di gang rumah gue, Yat? Mana rapi bener lagi. Mobil lo mana?"Dayat cepat-cepat menguasai ekspresi wajahnya, mencoba tersenyum sealami mungkin. "Kagak... ini, gue lagi ada perlu sama orang sini, Luk. Kebetulan rumahnya udah enggak jauh lagi dari sini. Mobil sengaja gue parkir di Alfa depan, males gue bawa masuk gang, sempit."Luki manggut-manggut, menerima alasan itu tanpa curiga berlebih. "Oh, kirain ada apa. Tumben amat malam-malam.""Iya, urusan bentar doang kok," sahut Dayat cepat, buru-buru membalikkan keadaan sebelum Luki bertanya lebih detail. "Lah, lo sendiri mau kemana malam-malam gini bawa mo

  • Tukang Servis Spesialis   Panggilan Kembang Desa

    Dayat melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar kembali. Rambutnya masih agak basah, dan ia hanya mengenakan celana pendek santai dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya. Aroma sabun langsung menguar, memenuhi ruang tengah tempat Ajeng sedang merapikan daster dan penampilannya. Sambil menyeka rambutnya dengan handuk, Dayat berjalan menghampiri Ajeng dan membuka obrolan. "Jeng, nanti malam kamu mau makan apa? Biar sekalian aku beliin." Ajeng menoleh, menatap Dayat yang tampak segar setelah mandi. "Mas Dayat mau keluar lagi emangnya? Kok tumben nanyain makan malam cepet banget." "Iya, nanti sekitar jam 8 malam aku mau keluar sebentar. Ada kerjaan dikit yang mesti diurus," jawab Dayat, sengaja mencari alasan aman tanpa menyebutkan nama Mbak Putri. "Makanya ini aku nanya, mau makan apa? Biar sebelum aku pergi, makanannya udah ada di rumah buat kamu." Ajeng terdiam sejenak, lalu berjalan mendekati Dayat. Ia tersenyum manis sambil memegang lengan Dayat pelan

  • Tukang Servis Spesialis   Keringat Diatas Meja Dapur

    Sentuhan bibir Dayat di ceruk leher Ajeng membuat wanita itu memejamkan mata, kepalanya tertengadah ke belakang dengan napas yang mulai tak beraturan. Setiap kecupan Dayat terasa intens, meninggalkan jejak hangat yang membuat Ajeng menggeliat, merasa seolah seluruh pertahanannya runtuh seketika. Tangan Dayat yang masih melingkar di pinggang kini merayap naik, mengusap perut Ajeng dengan ritme yang memancing gairah. Ajeng kemudian berbalik badan, berhadapan langsung dengan Dayat. Napas mereka kini saling memburu. Dengan tatapan menantang namun penuh kerinduan, Ajeng bertanya dengan nada suara yang parau. "Jadi... sekarang beneran udah mau nih? Gak takut lagi ama Mbak Gita?" bisik Ajeng, matanya menatap tajam ke manik mata Dayat. Dayat tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan senyuman miring yang penuh percaya diri, sebuah jawaban yang sudah cukup menjelaskan segalanya. Tanpa membuang waktu, Dayat menggendong tubuh Ajeng dengan satu gerakan tangkas, mendudukkannya di a

  • Tukang Servis Spesialis   Daster Yang Kekecilan

    Deru mesin mobil yang dikendarai Dayat membelah jalanan sore yang mulai padat oleh para pekerja yang pulang kantor. Sambil fokus menatap jalanan, perhatian Dayat teralih saat ponselnya yang diletakkan di dasbor tiba-tiba bergetar dan berdering. Layar ponselnya menampilkan nama "Mbak Putri"—tetangga rumah Luki yang beberapa waktu lalu mesin airnya sempat Dayat perbaiki. Dayat menekan tombol *speaker* pada layar ponselnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Halo, assalamualaikum, Mbak Putri?" "Waalaikumsalam. Sore, Mas Dayat... Lagi sibuk enggak?" terdengar suara manja Putri di seberang telepon, nadanya terdengar sedikit berbisik namun penuh intrik. "Ini lagi di jalan pulang kerja, Mbak. Kenapa ya?" tanya Dayat. Putri terkekeh pelan di seberang sana, suara tawa yang sengaja dibuat mendesah tipis. "Ini mumpung rumah lagi sepi banget, Mas. Anakku kebetulan lagi nginep di rumah neneknya sampai besok. Mas Dayat ke rumah ya malam ini... Aku kepengen diservis sama Mas Dayat nih

  • Tukang Servis Spesialis   Aktivitas Yang Terbiasa

    Selesai menyantap makan siang di rumah makan padang, Dayat dan Astrid tidak langsung kembali ke unit proyek. Mereka berjalan kaki menuju ke kantor pemasaran komplek perumahan untuk menemui Benny, sang manajer proyek. Begitu melangkah masuk ke dalam kantor pemasaran yang sejuk karena embusan AC, mereka langsung disambut oleh kesibukan para staf. Astrid segera menghampiri meja Benny yang berada di sudut ruangan. Keduanya langsung terlibat obrolan serius, membuka lembaran berkas dan laptop untuk membahas *report* serta *progress* pembangunan perumahan. Sementara itu, Dayat memilih duduk di sofa tunggu dekat lobi. Tak lama kemudian, Fitri—salah satu staf administrasi di sana—berjalan menghampiri Dayat sambil membawa secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. "Eh, Mas Dayat. Ini Mas, kopinya diminum dulu," ucap Fitri sambil meletakkan cangkir tersebut di atas meja kaca di depan Dayat. "Wah, repot-repot amat, Mbak. Makasih banyak ya," ujar Dayat sambil tersenyum ramah. Fitr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status