로그인Udara di dalam brankas raksasa itu terasa berat oleh feromon gairah dan sisa-sisa dominasi absolut. Di atas singgasana obsidian yang dingin, gaun sutra emas cair milik Laura telah hancur tak berbentuk, robek dan teronggok di lantai marmer hitam bagaikan kulit ular yang baru saja ditinggalkan.Edward masih berada di antara kedua paha sang Nyonya Besar. Napas algojo itu berembus kasar, menyapu kulit leher Laura yang basah oleh keringat. Meski klimaks dahsyat baru saja menghantam mereka berdua beberapa menit yang lalu, kejantanan Edward di dalam sana masih terasa berdenyut, menolak untuk melepaskan penyatuan surgawi mereka. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Laura, mendengarkan detak jantung Ratu-nya yang berpacu liar."Dunia di luar sana mengira mereka tahu apa artinya takut padamu, Laura," parau Edward, menarik wajahnya perlahan untuk menatap mata kelam wanita itu. "Tapi mereka tidak tahu bahwa tuhan yang mereka sembah ini... merintih dan hancur berantakan di bawah tubuh anjingnya send
Kubah bawah tanah Bald Tower, yang dulunya merupakan brankas emas rahasia antinuklir, kini telah disulap menjadi ruang takhta absolut bagi sang Nyonya Besar. Dinding-dindingnya dilapisi marmer hitam pekat yang menyerap cahaya, menciptakan atmosfer penindasan yang mencekik siapa pun yang melangkah masuk.Malam itu, udara di dalam kubah terasa membeku oleh teror. Enam puluh pria paling berkuasa di dunia—kepala badan intelijen, jenderal bintang empat, oligarki Eropa, hingga sisa-sisa raja kartel—berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Tidak ada kursi untuk mereka. Tidak ada meja perundingan. Mereka menundukkan kepala, gemetar dalam keheningan yang memekakkan telinga.Di ujung ruangan, di atas undakan marmer hitam, sebuah singgasana dari obsidian berukir berdiri megah. Laura duduk di sana dengan keanggunan tiran yang menyayat ego. Ia mengenakan gaun sutra berwarna emas cair yang melekat ketat di tubuhnya, membelah tinggi hingga memamerkan paha jenjangnya yang mulus. Sepatu stiletto be
"Sayang, remukkan tulangku, lalu makan tubuhku agar kita tetap menjadi satu, Sayang. Selamanya menjadi satu ...."Matahari pagi musim gugur menyinari Manhattan dengan cahaya keemasan yang dingin, memantul pada gedung-gedung pencakar langit yang menjulang bagai pilar-pilar beton di bawah kaki Laura. Penthouse di lantai sembilan puluh sembilan Bald Tower itu sangat sunyi, sebuah kontras yang tajam dengan kekacauan yang tengah melanda bursa saham dan koridor-koridor pemerintahan di seluruh dunia pasca-kematian Senator Sterling dan jatuhnya Ordo Bayangan.Laura berdiri di depan dinding kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Sang Nyonya Besar hanya mengenakan kemeja kebesaran berwarna putih murni milik Edward—satu-satunya pakaian yang membalut tubuhnya setelah penerbangan panjang dan buas dari Arktik. Tangannya memegang segelas sampanye, matanya yang segelap malam menatap jutaan manusia di bawah sana yang kini hidup dan bernapas semata-mata karena ia mengizinkannya.
Hawa dingin Svalbard yang membekukan tulang tak lagi mampu menembus kulit mereka. Di atas Terminal Genesis yang terbuat dari bongkahan obsidian hitam pekat, napas Laura dan Edward masih beradu dalam ritme yang memburu. Keringat yang membasahi tubuh telanjang Laura menguap tipis di udara Arktik yang kering dan berbau ozon, sementara pelukan protektif lengan kekar Edward menjaganya dari sengatan suhu ekstrem.Data triliunan Euro, kode akses satelit global, dan rahasia paling mematikan di bumi kini mengalir senyap di bawah punggung mereka, menjadi saksi bisu dari penyatuan beringas yang baru saja meruntuhkan warisan terakhir Silas Bald.Edward menarik dirinya perlahan, mengecup dalam-dalam bibir Ratu-nya yang membengkak merah. Ia meraih mantel bulu serigala putih dari lantai baja yang berserakan sisa-sisa selongsong peluru dan rongsokan anjing mekanis, lalu membungkus tubuh Laura dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kebuasannya saat menyetubuhi wanita itu beberapa menit yang lalu
Angin Arktik melolong bagai raungan roh penasaran saat Laura menempelkan Apex Drive ke atas panel pemindai di sisi pintu baja raksasa itu. Lampu LED yang membeku oleh lapisan es seketika berkedip hijau. Terdengar suara desis hidrolik yang memekakkan telinga, memecah kebekuan yang telah bersemayam selama puluhan tahun. Pintu setebal dua meter itu bergeser perlahan, menghembuskan udara kering yang berbau ozon dan mesin dari dalam kegelapan.Edward melangkah masuk lebih dulu, laras FN SCAR-H miliknya membelah gulita, tubuh raksasanya menjadi perisai mutlak bagi sang Ratu. Begitu ujung sepatu bot mereka melewati ambang pintu, deretan lampu darurat berwarna merah darah menyala secara berurutan, menerangi lorong panjang yang terbuat dari beton dan baja padat.Namun, bukan keheningan yang menyambut mereka. Dari ujung lorong, terdengar derap mekanis yang berat dan mematikan.Empat siluet merangkak keluar dari bayang-bayang. Mereka bukan manusia. Itu adalah combat drones berkaki empat—anjing p
Perintah itu adalah pelatuk yang meledakkan kewarasan Edward. Sang algojo mengaum rendah, mengangkat tubuh Laura dari lantai dan membantingnya dengan kasar namun penuh perhitungan ke atas ranjang kabin yang luas. Jubah sutra hitam itu terlepas sepenuhnya, mengekspos kemolekan sempurna Laura di bawah cahaya temaram pesawat.Edward merobek sisa pakaiannya sendiri, memperlihatkan otot-ototnya yang bergemuruh tegang dan kejantanannya yang telah mengeras buas, berkedut menuntut pelampiasan dari rasa frustrasi dan protektivitas yang membakar dadanya.Pria itu merangkak naik, mengungkung tubuh Laura layaknya predator yang mengunci mangsanya. "Dia hanya masa lalu yang sudah membusuk, Laura. Sementara aku... aku adalah masa depanmu. Aku adalah kenyataanmu!"Edward menunduk, menghisap salah satu payudara Laura dengan rakus, menggigit putingnya yang mengeras hingga Laura menjerit nikmat. Tangan Edward yang besar dan kapalan menyusuri paha jenjang sang Ratu, secara paksa melebarkan kedua kaki wan







