LOGINSilvia mundur-mandir sedari tadi. Ia tampak uring-uringan setelah mendapat informasi bahwa ada beberapa pria yang diduga adalah polisi tengah menggeledah rumah lamanya.
“Bagaimana jika mereka menemukannya?” gumamnya panik. Telapak tangannya basah oleh keringat. Ingatannya melayang pada sesuatu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat—sesuatu yang seharusnya sudah lenyap, terkubur bersama masa lalu. Ia berhenti melangkah, menekan pelipisnya yang berdenyut. NaNadira menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil yang dingin. Deru mesin dan gemuruh jalanan menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan di antara napasnya yang masih berantakan. Matanya menatap lurus ke luar, menyaksikan pepohonan, lampu-lampu jalan yang mulai menyala dan bangunan yang berlarian mundur meninggalkannya.Ia telah berhasil kabur. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti kemenangan. Namun entah mengapa, dadanya tetap terasa sesak. Kebingungan kini mulai menyapa. Ia tak tahu harus kemana, bersembunyi atau menemui Nirwan terlebih dahulu.Pantulan wajahnya samar terlihat di balik kaca. Wajah pucat dengan mata sembap yang kehilangan kilau. Ada bekas luka yang belum sepenuhnya mengering di sudut pelipisnya yang tergores akibat melompat dari balkon saat itu.Nadira mengangkat jemarinya, menyentuh kaca tipis yang memisahkannya dari dunia luar.Begitu dekat.Begitu bebas.Tetapi kebebasan itu terasa asing.Selama beberapa hari hidup
Nirwan memutuskan kembali ke kantor setelah mendengar penjelasan Liliana. Namun, alih-alih merasa lega, kepalanya justru semakin dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.Di ruang kerjanya, ia duduk diam di balik meja besar. Sorot matanya tertuju pada pajangan berbentuk bandul yang terus berayun tanpa henti. Gerakannya yang teratur seolah menghipnotis, tetapi gagal meredakan kekacauan yang berputar di dalam benaknya.Penjelasan Liliana terus terngiang di telinganya. Setiap kalimat yang diucapkan sang ibu terdengar masuk akal, tetapi ada sesuatu yang masih mengganjal. Sebuah bagian kecil dalam dirinya menolak menerima semuanya begitu saja.Rahang Nirwan mengencang. Jemarinya bertaut di atas meja, sementara pikirannya kembali mengurai satu demi satu kejadian yang telah terjadi selama ini. Semakin ia mengingatnya, semakin banyak pula kejanggalan yang bermunculan.Bagaimana jika masih ada sesuatu yang disembunyikan?Bagaimana jika selama ini ia han
Nirwan langsung menemui Liliana untuk meminta penjelasan. Suara map yang terlempar ke atas meja mengenai sebuah mangkok kaca hingga terjatuh. Bunyinya yang berderai memekakkan telinga membuat Liliana terkejut. Ia spontan mematikan kompor kemudian menoleh. Keningnya berkerut heran melihat wajah putranya yang kini berkabut kelam. Rahang yang tampak mengencang disertai sorot mata yang tajam cukup menjelaskan akan kemarahan yang tengah putranya pendam. "Ada apa, Nirwan?"Liliana melepas apronnya dan mendekat. Tatapannya bergantian menyorot pecahan mangkuk kaca di lantai dan wajah putranya yang membara oleh amarah.Nirwan terkekeh pelan. Namun tak ada sedikit pun nada humor dalam suara itu. Yang terdengar justru getir dan penuh kekecewaan."Ada apa?" ulangnya dengan suara rendah yang bergetar menahan emosi. "Seharusnya aku yang bertanya, berapa banyak kebohongan yang telah Mama sembunyikan dariku?"Dadanya naik turun dengan keras. Urat-urat di lehernya mene
Nadira tak pernah membayangkan hidupnya akan merosot sejauh ini. Ia sampai harus menjadi tawanan di rumahnya sendiri. Seakan takdir tengah mempermainkannya, bersekongkol menertawakan hidupnya dan menambah luka-lukanya, menjeratnya dalam lingkar drama yang tak pernah memberi jeda walau sekedar untuk menarik napas sesaat saja. Terlalu banyak liku, terlalu banyak hantaman, terlalu banyak goresan luka hingga ia sendiri tak lagi mampu merangkai kata untuk menggambarkan sakit yang menghuni di dadanya. Yang ia tahu hanyalah satu: setiap napas terasa seperti perjuangan untuk tetap bertahan di atas kakinya sendiri, meski dunia terus memaksanya runtuh. Jam yang terus berputar memaksanya untuk segera bergerak mengambil pilihan. Diam dan pasrah dengan takdir atau pergi mengejar cinta serta kebahagiaannya sendiri. “Haruskah aku tetap di sini …?” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Pertanyaan itu menggantung, namun tak pernah benar-benar menu
Seorang lelaki bermasker melangkah masuk ke dalam ruangan yang tak terlalu luas. Langkahnya terukur, dingin, seolah ia telah menyiapkan mental untuk apa pun yang menantinya. Ia duduk di depan bilik kecil yang dipisahkan oleh sekat kaca tebal. Raut wajahnya tetap tenang meski seorang sipir berdiri tak jauh di belakangnya, mengawasi setiap gerak dengan pandangan tajam.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan. Lalu pintu besi di sisi lain ruangan berderit pelan. Suara itu memecah ketegangan seperti goresan pisau di permukaan kaca.Masuklah seorang perempuan dengan seragam tahanan—Silvia.Langkahnya pelan, namun tidak goyah. Kepalanya sedikit terangkat, seolah ia menolak untuk terlihat lemah meski keadaan telah merenggut hampir segalanya darinya. Wajah pucatnya mengukir senyuman sinis—senyuman yang tampak dipahat dari sisa-sisa kewarasan yang ia genggam mati-matian.Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali lelaki itu melihatnya. Tulang pipinya m
Nadira duduk bersandar di lantai kamar, tepat di sudut kaki ranjang. Kepalanya terbaring miring di tepian kasur, sebagian rambut jatuh menutupi wajah pucat yang tampak letih. Pandangannya kosong, menatap satu titik di lantai seakan berharap jawaban muncul dari sana. Mata itu sayu—mata seorang wanita yang telah terlalu lama menahan beban yang tidak pernah ia minta. Segalanya terasa berat dan gelap, membuat napasnya pelan dan tersengal seperti ada sesuatu yang menekan dadanya tanpa henti.Ia ingin pergi dari semua ini, kabur dari tekanan yang membuatnya hampir tak mengenali dirinya sendiri. Namun setiap kali keinginan itu terlintas, ketakutan menyakiti hati Sartika kembali menahannya. Ia memang lelah, namun di dalam hatinya, ia tetap menyayangi wanita itu seperti ibu kandungnya sendiri. Namun keinginan Sartika yang begitu keras, begitu memaksa—terus menghimpit semua ruang kebebasan yang dimiliki Nadira. Dan Devan … nama itu terus menggema di pikirannya, membuatnya semaki







