INICIAR SESIÓNIvy menelan salivanya yang terasa sepahit empedu. Ia sempat mengangkat wajah, seolah masih berharap menemukan celah untuk bernegosiasi dengan Lucas. Namun tatapannya yang tajam menusuk, membuat pelita kecil tersebut padam seketika. Jemari Ivy mencengkeram ujung bajunya, sementara napasnya keluar pendek-pendek dan bergetar. Ia takut terkurung selamanya bersama pria yang membencinya sampai ke tulang. Ia juga tidak bisa mempercayai orang yang sanggup melakukan apa pun demi bisa mengurungnya seperti sekarang. Setiap naluri di dalam diri Ivy meronta. Menolak untuk tunduk kepada pria itu. Hanya saja, bayangan Tante Jasmine memaksanya meruntuhkan semua penolakan yang bergejolak dengan begitu hebat. Jika menuruti Lucas adalah satu-satunya cara agar ia bisa memastikan tantenya baik-baik saja, maka Ivy tidak punya pilihan lain. Kelopak matanya terpejam sejenak. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang entah masih tersisa berapa banyak. Lalu ketika ia kembali membuka mata, de
Cengkeraman tangan Lucas mendarat di lengan Ivy, memaksanya berdiri dengan tarikan kasar yang membuat sendi bahu gadis itu terasa mau lepas. Tanpa memberikan Ivy kesempatan untuk menyeimbangkan diri, Lucas menyeretnya menyusuri lorong menuju kamar tidur utama.Ivy tersandung-sandung, napasnya putus-putus menahan sakit dan panik, namun cengkeraman Lucas terlalu kuat layaknya borgol besi. Begitu mereka tiba di dalam kamar, Lucas menghempaskan tubuh Ivy ke atas ranjang dengan tenaga penuh.Tubuh Ivy memantul di atas matras empuk. Matanya membelalak ngeri melihat Lucas berdiri menjulang di kaki ranjang. Pria itu melepas jas mahalnya dengan gerakan lambat yang mematikan, membuangnya sembarangan ke atas lantai. Jari-jari panjangnya kemudian beralih membuka kancing manset di pergelangan tangan, lalu melipat lengan kemejanya hingga sebatas siku.Melihat pemandangan itu, darah Ivy terasa berhenti mengalir. Bayangan kelam masa lalu berkelebat cepat di benaknya. “Apakah Lucas akan memaksaku
Untuk sesaat Ivy hanya berdiri mematung. Pria itu sedang berbicara dengan seseorang di sebuah foyer kecil yang menjadi penghubung antara ruang makan dan lorong toilet, tetapi kemudian menoleh setelah merasa ada yang sedang memperhatikannya. Begitu mata mereka bertemu, Kevin tampak terkejut. Senyum ramah muncul di wajahnya usai memastikan bahwa ia tidak salah orang. “Ivy?” “Kevin.” Selagi Kevin mendekat, Ivy melirik ke belakang melalui celah bahu dengan ekspresi waspada. “Kebetulan sekali, ya. Kamu ke sini sama siapa?” Kevin melempar pandangannya ke arah meja-meja restoran, lalu kembali menatapnya. “Apa kau dipaksa mengikuti kencan buta lagi, sampai harus jauh-jauh datang ke sini?” tanyanya geli. Ivy tersenyum tipis lalu menjawab, “Tidak, kok. Aku… tidak sedang kencan buta. Kau sendiri?" “Aku habis ada acara. Tapi sekarang sudah selesai. Kau sudah makan? Kalau belum, mau bergabung denganku?” Ivy meremas-remas jarinya sendiri. Tampak gelisah, dan sering melirik ke ara
Percakapan di antara mereka—tepatnya antara Lucas dan Yurina, mengalir ringan. Yurina bercerita singkat tentang kesibukannya, mengomentari restoran yang ternyata cukup ramai malam itu, lalu sesekali melontarkan kenangan lama yang membuat suasana di meja mereka tampak seperti pertemuan tiga orang teman yang sudah lama tidak berjumpa.Namun, di sela-sela ocehannya, matanya terus bekerja. Ia memperhatikan gerak-gerik Ivy dengan detail. Mulai dari caranya duduk, ekspresi wajah, juga caranya berbicara yang begitu hati-hati sambil sesekali melirik ke arah Lucas guna melihat respons dari pria itu. “Sebenarnya aku penasaran sesuatu.” Yurina memindahkan pandangannya dari piring berisi makanan ke arah Ivy yang balas menatapnya. “Apa kalian berdua memiliki hubungan khusus yang lebih dari teman?”Mata Yurina menatap Ivy dengan binar keingintahuan yang tajam. Pertanyaannya terdengar ringan, tetapi jelas bukan sekadar basa-basi. Napas Ivy tertahan. Fokusnya tertumbuk pada mata Yurina sedikit lebi
Yurina berdiri di sisi meja mereka dengan gaun elegan yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Ia mendesah pelan, mengerucutkan bibir dengan raut kecewa yang dibuat-buat.“Aku baru saja dicampakkan bahkan sebelum kencanku dimulai. Menyebalkan sekali.” Ia melirik Lucas, lalu tersenyum. “Tapi sepertinya, keberuntunganku tidak seburuk itu. Aku malah bertemu denganmu di sini.”Kalimatnya menggantung ketika pandangan Yurina beralih kepada perempuan yang duduk di seberang Lucas. Wanita itu membeku sesaat. Matanya melebar, sementara satu tangannya spontan menutup mulutnya yang sedikit terbuka, sebelum buru-buru mengubahnya menjadi senyum cerah.“Ya ampun, Ivy? Ini benar kau, kan?”Ivy merasakan jantungnya berdegup keras. Ia mencoba membalas sapaan itu, tetapi senyum yang terangkat di sudut bibirnya terasa kaku dan canggung. “H-hai, Yurina.”“Sudah lama sekali.” Yurina semakin mendekat, matanya menyusuri wajah Ivy sejenak dengan ekspresi penuh keterkejutan yang tampak tulus. “Aku hamp
Kepanikan dalam suara Ivy memecah keheningan kamar. Namun, Lucas hanya berdiri di sana, menatapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah, dingin, dan tenang. “Aku tidak melakukan apa-apa.” “Lalu kenapa kau bilang nasib Tante Jasmine ada di tanganmu?!” Ivy melangkah maju, dadanya kembang kempis dengan cepat ketika udara yang ia hirup terasa semakin sulit mencapai paru-paru. “Lucas, kalau kau berani menyentuh Tante Jasmine—” “Aku tidak menyentuhnya, Ivy,” sergah Lucas cepat, memotong kalimat Ivy dengan nada datar yang terkesan menyiksa. “Lebih tepatnya belum.” Lucas menyeringai, menikmati ekspresi takut yang menyebar di paras cantik Ivy. “Semuanya tergantung bagaimana sikapmu kepadaku,” lanjut Lucas setelah jeda beberapa saat. Lucas mendekat ke arah Ivy. Bayangannya yang tinggi besar, perlahan mengurung gadis mungil itu. Tangannya terangkat, mengusap garis rahang Ivy dengan ibu jari, sebuah sentuhan lembut yang justru terasa seperti goresan duri. Ia sengaja membiarkan kalim
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala
Lima Belas Tahun yang Lalu. “Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang berte
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt







