MasukYurina berdiri di sisi meja mereka dengan gaun elegan yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Ia mendesah pelan, mengerucutkan bibir dengan raut kecewa yang dibuat-buat.“Aku baru saja dicampakkan bahkan sebelum kencanku dimulai. Menyebalkan sekali.” Ia melirik Lucas, lalu tersenyum. “Tapi sepertinya, keberuntunganku tidak seburuk itu. Aku malah bertemu denganmu di sini.”Kalimatnya menggantung ketika pandangan Yurina beralih kepada perempuan yang duduk di seberang Lucas. Wanita itu membeku sesaat. Matanya melebar, sementara satu tangannya spontan menutup mulutnya yang sedikit terbuka, sebelum buru-buru mengubahnya menjadi senyum cerah.“Ya ampun, Ivy? Ini benar kau, kan?”Ivy merasakan jantungnya berdegup keras. Ia mencoba membalas sapaan itu, tetapi senyum yang terangkat di sudut bibirnya terasa kaku dan canggung. “H-hai, Yurina.”“Sudah lama sekali.” Yurina semakin mendekat, matanya menyusuri wajah Ivy sejenak dengan ekspresi penuh keterkejutan yang tampak tulus. “Aku hamp
Mata Ivy terbelalak lebar. Wajahnya yang semula pucat kian kehilangan warna.“Tante… Jasmine?” Suaranya bergetar, sarat akan kepanikan yang membuncah. “Apa yang kamu lakukan padanya, Lucas?!”“Aku tidak melakukan apa-apa,” sergah Lucas cepat, memotong kalimat Ivy dengan nada datar yang terkesan menyiksa. “Lebih tepatnya belum. Semuanya tergantung bagaimana sikapmu kepadaku, Vy,” lanjut Lucas setelah jeda beberapa saat. Lucas mendekat ke arah Ivy. Bayangannya yang tinggi besar, perlahan mengurung tubuh gadis mungil itu. Tangannya terangkat, mengusap garis rahang Ivy dengan ibu jari, sebuah sentuhan lembut yang justru terasa seperti cengkeraman maut.Ia sengaja menggantung kalimatnya agar terdengar ambigu. Membiarkan imajinasi Ivy bergerak liar membayangkan hal-hal paling mengerikan yang bisa terjadi. Lucas tahu, ia tidak perlu mengancam Jasmine secara langsung. Cukup membuat Ivy percaya bahwa perempuan itu berada dalam jangkauannya, dan ketakutan akan kehilangan satu-satunya kelu
Namun, jauh di dalam hati, Yurina tahu bahwa ada sesuatu yang membuat kemunculan Ivy terasa jauh lebih mengusik daripada sekadar kemunculan seorang perempuan dari masa lalu.Selama ini, ia memang tidak pernah mendapatkan hati Lucas. Ia sudah mengutarakan perasaannya berkali-kali, tetapi pria itu selalu menolaknya dengan cara yang begitu lembut hingga Yurina memilih untuk tetap tinggal di sisinya, berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah di antara mereka.Ia bahkan beberapa kali menjalin hubungan dengan pria lain. Dan Nolan pernah menjadi salah satunya. Bukan karena perasaannya kepada Lucas telah hilang, melainkan karena bagi Yurina, mencintai pria itu dari dekat jauh lebih mudah daripada harus kehilangan tempat di hidupnya sama sekali.Lagipula, Lucas selalu memperlakukannya berbeda dari perempuan lain. Pria itu peduli, menjaganya, dan memberinya perhatian yang terkadang terasa terlalu istimewa untuk sekadar disebut sebagai persahabatan.Selama bertahun-tahun, tak ada perempuan lain
Lucas membuka kunci gudang dengan tergesa. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertumbuk ke tubuh Ivy yang terkulai di lantai. “Ivy,” panggilnya, sambil mencoba menguasai diri supaya tidak terlihat khawatir. Tidak ada jawaban. “Cepat bangun! Jangan pura-pura.” Lucas menggoyangkan kaki Ivy dengan kakinya beberapa kali. Begitu dia lagi-lagi tidak mendapatkan respon, pria itu mengembuskan napas kasar. Membungkuk dan mengangkat tubuh Ivy ke dalam pelukannya. Kali ini gerakan Lucas jauh lebih hati-hati daripada ketika ia menyeret Ivy ke tempat tersebut. Ia bahkan sempat memastikan napas Ivy masih teratur sebelum membawanya naik menuju kamar lalu membaringkannya di atas kasur. Jika logika Lucas mendikte bahwa dia harus pergi karena Ivy akan baik-baik saja, hatinya tidak berbicara seperti itu. Lucas akhirnya memilih untuk tidak pergi. Ia duduk di sisi kasur, mengawasi wajah pucat Ivy dalam diam. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam. Hampir satu jam berlalu, t
“Kau mau bawa aku ke mana?” “Lepaskan aku, Brengsek!” “Aku tidak mau ikut denganmu!” “Lucas! Aku pasti akan membunuhmu begitu keluar dari tempat terkutuk ini! LEPAS!” “Aku tunggu hari itu tiba,” jawab Lucas tanpa beban, “tapi sayangnya hari itu tidak akan datang, Baby.” Sumpah serapah Ivy tak sedikit pun menggoyahkan Lucas. Alih-alih melonggarkan pegangannya, jemarinya justru semakin mengetat, memaksa wanita itu terus mengikutinya tanpa memberi kesempatan untuk melepaskan diri. Dia menyeret Ivy melewati lorong, sebelum akhirnya menuruni tangga menuju bagian bawah rumah yang selama ini belum pernah gadis itu lihat. Suasana di sana terasa dingin dan lembap, mengisyaratkan area yang tersisolasi dari dunia luar. Langkah Lucas terhenti di depan sebuah pintu besi. Ia membuka kaitnya dengan satu gerakan, lalu mendorong Ivy masuk hingga wanita itu tersungkur di atas lantai beton yang dingin. “Sebenarnya aku ke sini hanya untuk mengajakmu makan siang bersama. Tapi kau malah me
Kilau deretan perhiasan di atas etalase beludru hitam itu memantulkan cahaya lampu kristal. Lucas mengamati satu per satu perhiasan yang tersaji di hadapannya, menelusuri setiap detail dengan tatapan tenang dan penuh perhitungan. Hanya berselang beberapa menit, manajer toko datang sambil membawa sebuah kotak kayu mahoni. Dengan hati-hati ia membukanya. Memperlihatkan sebuah cincin berhiaskan berlian emerald-cut berukuran fantastis, yang memancarkan semburat merah muda langka. "Ini adalah Pink Star, Tuan. Salah satu koleksi paling eksklusif kami. Sangat anggun, namun memiliki karakter yang begitu kuat," jelas sang manajer, suaranya bergetar penuh harap. Lucas mengambil perhiasan tersebut dan menimbang bobotnya di ujung jari. Kilau merah mudanya memang terlihat luar biasa. Namun rangkanya terasa terlalu tebal dan berbobot. "Indah," ucap Lucas dingin. "Tapi berat. Aku menginginkan sesuatu yang begitu halus hingga terasa menyatu di kulit tanpa membebani jarinya. Tunjukkan yang
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt
“Lucas... lepas!" Ivy kesulitan bicara dan suaranya terbata. Alih-alih menuruti permintaan itu, cengkeraman tangan Lucas justru pindah ke leher Ivy. Meski tahu apa yang dia perbuat sangatlah menyakiti gadis yang dulu pernah membuatnya jatuh hati setengah mati, Lucas tampak masa bodoh dan gilanya
"JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!" BANG! BANG! BANG! Rentetan tembakan yang memekakkan telinga itu menyambar kesadaran Ivy. Tubuhnya tersentak. Terbangun dengan napas yang tertahan di tenggorokan, sementara kepalanya berdenyut nyeri saat pendar cahaya putih dari lampu menerobos masuk menembus korn
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi







