Mag-log in
"JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!"
BANG! BANG! BANG! Rentetan tembakan yang memekakkan telinga itu menyambar kesadaran Ivy. Tubuhnya tersentak. Terbangun dengan napas yang tertahan di tenggorokan, sementara kepalanya berdenyut nyeri saat pendar cahaya putih dari lampu menerobos masuk menembus kornea. “Di mana aku?” gumamnya serak, menatap bingung ke sekeliling ruangan. Setelah meyakini bahwa dia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi, gadis dengan manik coklat karamel itu mencoba bangkit dari tempat tidur. Namun sial, gerak tubuhnya terhalang oleh simpul mati dari dasi yang mengikat kedua pergelangan tangannya dan terhubung ke kepala ranjang. Wajah Ivy seketika berubah pucat. Seluruh saraf yang ada di tubuhnya menegang diikuti dengan lonjakan degup jantung kala rasa takut tak tertahankan menyekat aliran udara yang menuju paru-paru. “Apa-apaan ini! Siapa yang mengikatku?” Ivy luar biasa panik dan dia meronta sekuat tenaga dalam upaya melepaskan diri dari jeratan tali yang kian menyiksa, sebelum orang gila yang melakukan perbuatan sialan semacam ini kepadanya datang. Dan benar saja, apa yang Ivy takutkan pun terjadi tidak lama kemudian. Derap langkah kaki yang terdengar santai namun penuh teror dari luar ruangan, sukses membuat jantung Ivy serasa mencelos. Peluh sebesar biji jagung bercucuran di dahi gadis itu. Pandangan matanya sibuk mengawasi pintu karena begitu objek yang menjadi titik fokusnya terbuka, Ivy yakin sekali kalau nyawanya berada di ujung tanduk. Cklek! Kedua mata Ivy terbelalak ketika suara derit pintu yang dibuka perlahan menjelma menjadi alunan musik paling horor yang pernah dia dengar sejak saat ini. Sebelum benda itu terbuka sempurna, Ivy yang tidak mampu menahan sensasi ngeri pun lekas berpaling ke arah berlawanan. Memilih pura-pura tidur alih-alih mengarahkan tatapan tajam menghunus yang terkesan menantang. Langkah kaki yang Ivy yakini sebagai si penculik semakin mendekat ke arah ranjang. Lalu, tatkala Ivy merasakan kasur di sampingnya melesak ke bawah, tremor yang melanda tubuhnya menjadi tak terkendali dan dia yakin sekali kalau siasatnya mengelabui si penculik gagal total. Sial! “Kau sudah bangun, Sayang?” Tak ada respon dari Ivy selain otot-otot yang menegang. “Ayolah, jangan pura-pura tidur. Aku tahu kalau kau sudah bangun sejak…” pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu melirik ke arah jam tangan di tangan kirinya, “dua puluh menit yang lalu.” Pria tersebut memberi waktu bagi Ivy untuk menyudahi kepura-puraannya yang tidak berguna secara sukarela meski sebenarnya dia bukan orang yang sabar. Mereka harus reuni omong-omong. Namun, berhubung gadis cantik yang dia culik masih saja bungkam, pria itu pun mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Ivy seraya berbisik, “Masih tidak mau bangun? Apa kamu tidak merindukan aku, hm?” Ivy bergidik oleh kecupan tak terduga yang bertahan cukup lama di pelipis, juga belaian lembut tangan besar itu saat merapikan rambutnya yang berantakan hingga menutupi wajah. Fungsi otaknya terpenjara oleh rasa takut. Sama sekali tidak mampu memikirkan hal apapun termasuk ide yang sekiranya jitu digunakan sebagai upaya pelarian. “Sayang sekali,” suaranya terdengar kecewa dan dia sedikit menjauhkan diri dari Ivy seraya mendecakkan lidah beberapa kali, “sepertinya kamu tidak ingat aku. Padahal tidak pernah sehari pun aku tidak merindukanmu, Vy..." 'Tunggu! Bukankah suara ini…' Ivy tersentak, dia membuka mata lebar-lebar begitu menyadari bahwa suara bariton yang kini sedang mengajaknya bicara, adalah suara milik seseorang yang diam-diam selalu dia rindukan. Demi memastikan kebenaran dugaannya, Ivy buru-buru memutar kepalanya ke samping, ke arah laki-laki yang masih duduk di pinggir ranjang dan kini tengah menatapnya intens sambil tersenyum. “Halo, Honey. Long time no see.” Bariton pria itu kembali merasuk ke gendang telinga Ivy seperti tetes air yang menyirami tanah tandus. Lucas. Itu pasti dia. Wajah tampannya masih sama seperti yang ada di ingatan Ivy. Hanya saja, sekarang dia jauh lebih tampan dengan aura pria dewasa yang matang. Mata teduh yang menatapnya dengan lembut itu juga sama. Suara halus itu… Ya Tuhan… rasanya Ivy ingin segera menghamburkan diri dan menangis di pelukannya jika saja tali sialan ini tidak ada. “Lucas? Kau… benar-benar Lucas, kan?” Wajah Ivy terlihat jauh lebih sumringah, sejenak lupa akan bahaya yang tengah mengintai karena dengan kehadiran Lucas, Ivy yakin kalau dia sudah aman. Lucas mengerjapkan mata sementara senyum takjub muncul menghiasi bibirnya selagi dia memiringkan kepala. “Kau masih ingat padaku? Waaah, luar biasa,” ujar Lucas dengan nada tak percaya yang dibuat-buat. “Aku jadi terharu.” “Bagaimana mungkin aku melupakanmu? Selama ini aku terus—” “Kamu memang harus mengingatku, Vy. Karena kalau tidak, aku pasti sangat sedih. Aku tidak rela kalau kamu lupa sama aku.” Kalimat lanjutan dari Lucas masih diwarnai lengkung menawan yang menghipnotis. Sayangnya keindahan yang memanjakan mata itu tidak berlangsung lama, karena perlahan tapi pasti, tatapan lembut Lucas berubah kelam. Gadis itu mengernyit bingung. Rasa senang bertemu Lucas yang tadi menyelimutinya dengan cepat digantikan kembali oleh perasaan takut. Ya, entah bagaimana Ivy merasa diintimidasi walau rangkaian kata yang keluar dari bibir Lucas masih selembut beledu. Ada yang tidak beres dengan cara Lucas menatapnya, ada yang tersembunyi dibalik tarikan di kedua sudut bibir pria itu, lalu yang lebih penting dari itu semua adalah, Lucas ada bersamanya di kamar tertutup ini dan terlihat tidak memiliki keinginan untuk melepaskannya dari semua jerat yang membuatnya merasa frustasi. Jadi, Lucas ini penyelamat, atau justru penjahatnya? Ivy menelan salivanya dengan susah payah. Senyum canggung terbit di bibirnya yang bergetar sebelum dia berkata, “Lucas, ba-bagaimana kabarmu? Kamu… baik-baik saja, bukan?” “Menurutmu?” “Ka-kau… terlihat baik.” “Begitukah?” “Huh?” “Menurutmu aku terlihat baik?” Ivy bingung sesaat. “Kau… terlihat sukses. Tentu saja itu baik. Iya, kan?” Diamnya Lucas membuat gadis itu merasa kalau dia sedang dihakimi, sedang dikuliti sampai ke tulang kendatipun Lucas tidak melakukan hal lain selain memandangnya dengan tatapan tak terbaca. Ivy tidak dapat menebak apa yang sedang Lucas pikirkan. Hal yang membuat suasana mencekam di sana semakin bertambah pekat seiring berjalannya waktu. “Aku—aku minta maaf padamu karena dulu… aku pernah menyakitimu, Lucas. Aku bisa menjelaskannya padamu. Sungguh! Tolong jangan salah paham. Aku tidak bermaksud—" Sebenarnya, Ivy ingin menanyakan hal lain seperti: kenapa aku bisa berada di sini, dan kenapa aku terikat seperti ini, kepada Lucas. Namun belum lagi keinginannya terealisasikan, sorot mata tajam Lucas yang dipenuhi angkara, membunuh aksara hingga mati di bibir Ivy sampai-sampai dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya yang terpotong. Dengan gerakan kasar dan tak terprediksi, Lucas mencengkram rahang Ivy kuat-kuat seolah-olah dia sudah lama menahan diri untuk tidak meremukkan tengkorak gadis itu hingga hancur. “How dare you! Beraninya kau menanyakan bagaimana kabarku setelah apa yang kau perbuat!“Ivy terdiam. Bibirnya bergetar, tetapi tak ada satu pun kata yang mampu melepaskan diri dari sana. Ia hanya menunduk, berusaha meredam napasnya yang kacau di tengah himpitan rasa bersalah yang mencekik.“Kenapa kamu diam?!” Yurina kembali mendesak. “Jawab aku!”Sebelum retakan di antara mereka semakin dalam, seorang petugas medis menghampiri dengan langkah terburu-buru.“Nona, kami harus membawa pasien sekarang. Salah satu dari kalian yang ingin mendampingi ke rumah sakit, tolong segera bersiap.”Dua petugas dengan sigap memindahkan Lucas ke atas tandu. Tubuh pemuda itu terkulai lemas, hazelnya terpejam rapat, sementara masker oksigen mengembun di separuh wajahnya, menjadi satu-satunya bukti bahwa napasnya masih bertahan.“Lucas...” lirih Yurina.Tatapannya mengekor pada tandu yang mulai dibawa menjauh. Ada kepanikan yang menyuruhnya untuk segera berlari mengejar, namun deretan pertanyaan yang membakar menahan langkahnya untuk tetap di tempat. Sepeninggal para petugas menuju lobi, su
Lucas tidak tahu siapa yang telah merengkuhnya. Tidak tahu bagaimana dirinya berhasil dikeluarkan dari kolam. Bahkan jeritan panik yang mengguncang udara di sekitarnya pun tak lagi mampu menembus pekat yang menyelimutinya.Segalanya terputus, termasuk rasa sakit yang sempat menghajarnya tanpa ampun, seolah-olah dunia telah menariknya menjauh dari segala sesuatu yang masih mengikatnya pada kenyataan.— — —“Lucas! Lucas, bangun!”Suara Ivy bergetar hebat ketika ia menopang kepala Lucas di bahunya. Sambil berpegangan di tangga kolam renang, tangannya yang bebas berkali-kali menepuk pipi pemuda itu, berharap mata hazel tersebut kembali terbuka. Namun Lucas tetap diam. Tidak bergerak sedikit pun.Ivy semakin kalut ketika menyadari napas Lucas nyaris tak terdengar. Dadanya hanya bergerak samar, seolah setiap embusan napas bisa menjadi yang terakhir.“Lucas... Lucas... tolong buka matamu.”“Jangan begini... jangan buat aku takut...”Tidak ada jawaban. Perasaan mengerikan yang sedang menggul
Ivy menarik napas panjang, lalu melontarkan kalimat berikutnya yang tak kalah sinis. “Jangan pernah salah mengartikan perhatian atau kebaikanku sebagai harapan. Aku tidak mencintaimu. Aku tidak menginginkanmu. Dan kamu… bukan orang yang pantas untuk berada di sisiku. Sehebat apa pun kamu berusaha, itu tidak akan pernah mengubah apa pun! “Tolong sadar posisi! Kamu itu cuma atlet yang hidup dari belas kasihan sekolah. Bahkan cederamu sekarang saja belum tentu sembuh. Memangnya apa yang akan kamu lakukan jika beasiswamu dicabut karena sudah tidak bisa berenang?” “Daripada kamu ikut campur di hidupku, lebih baik benahi hidupmu sendiri yang tidak punya masa depan jelas!” Di belakang mereka, Jeno hanya menyunggingkan seringai tipis. Kepuasan berkilat di matanya melihat Lucas akhirnya terdiam di bawah kata-kata paling tajam yang bisa Ivy susun. Ia tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Ivy telah melakukan semuanya untuknya. Luar biasa sekali. “Sudah,” ujar Jeno kepada teman-temannya. “
Lucas tidak menjawab. Ia melangkah mantap menuju balok start di lintasan sebelah Jeno, lalu membungkukkan punggung dan meletakkan kedua tangannya di tepi balok. Rahangnya mengatup rapat ketika posisi tersebut kembali memicu nyeri tajam di bahu kanannya. Mengabaikan rasa sakit itu, Lucas mengunci pandangannya lurus pada permukaan air. Sementara di sudut bar, salah seorang teman Jeno berdiri dan mengangkat tangan hingga suasana di sekitar kolam seketika berubah hening, menanti satu aba-aba yang memecah ketegangan. "Bersiap...!" Di saat yang bersamaan, Ivy melangkah kembali ke area kolam. Namun, sebelum sempat mendekati meja tempat ponselnya tertinggal, pandangannya terkunci pada dua pria yang sudah berdiri di atas balok start. Di detik itu juga, udara seolah lenyap dari paru-paru Ivy. Matanya terbelalak, dia membeku di tempat ketika pandangannya jatuh pada Lucas yang bersiap melompat ke dalam air. Bahu yang belum pulih benar itu seharusnya membuatnya beristirahat, bukan malah dip
Ia berbalik, lalu melangkah kembali memasuki hotel. Di dalam mobil, Ivy menyandarkan tubuhnya yang lelah ke jok belakang. Pandangannya mengarah keluar jendela tanpa tujuan hingga tanpa sengaja menangkap sosok Lucas yang sedang membukakan pintu mobil untuk Yurina. “Aku senang melihatnya baik-baik saja.” Ivy membatin sembari tersenyum pahit. Tanpa berpikir lebih jauh, Ivy mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia mengira Lucas akan pulang bersama Yurina, sehingga dia tidak lagi memedulikan ke mana mobil itu akan melaju. "Mau langsung pulang, Non? Atau mau mampir ke mana dulu?" “Langsung pulang saja, Pak. Saya lelah.” "Baik, Non." — — — Lucas menunggu hingga Yurina masuk ke kursi belakang. Tepat ketika gadis itu hendak menutup pintu, ia menyadari Lucas masih berdiri di luar. "Kamu tidak masuk?" Lucas menggeleng pelan. "Aku masih ada urusan penting. Kamu duluan saja, ya.” Kening Yurina langsung berkerut. "Urusan apa? Sudah malam begini." "Aku akan jelaskan nanti
“Kalian berdua sedang mengobrol apa? Sepertinya serius sekali?” Suara lain yang membaur di antara mereka, otomatis merebut atensi kedua pria itu. Yurina menoleh ke arah Lucas dan Jeno secara bergantian diiringi tatapan yang sarat akan rasa ingin tahu. Sedangkan Jeno, dia segera menghadirkan lengkung ramah di wajahnya sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. “Nona Manis, kamu tidak boleh tahu karena ini urusan laki-laki.” Yurina mengerucutkan bibir, merangkul lengan Lucas, lalu menggoyangkannya dengan lembut dan sedikit manja. “Kamu juga tidak mau memberitahuku?” Senyum Lucas terbit segaris. Dia hampir melepas tangan Yurina dari lengannya, jika saja dia tidak ingat bahwa tindakan tersebut bisa membuat gadis itu malu. “Benar apa yang dikatakan Jeno. Ini urusan laki-laki.” Yurina berdecak sebal. “Dasar curang,” cetus Yurina berpura-pura merajuk, meski akhirnya ia mengalah dan melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Lucas. Pemandangan di depannya mem
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala
Lima Belas Tahun yang Lalu. “Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang berte
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt







