INICIAR SESIÓNTante Jasmine memang tidak pernah tahu di mana perawat itu berada. Ancaman yang berhasil menyelamatkan Ivy malam itu, sebenarnya hanya berdiri di atas sebuah kebohongan. Surat tersebut memang asli, tapi si perawat benar-benar lenyap ditelan bumi.Pertaruhan Tante Jasmine untuk menyelamatkannya berdiri di atas benang tipis. Jika sampai detik ini Jeff menyadari bahwa Jasmine hanya menggertak, maka seluruh kedamaian yang Ivy rasakan selama lima belas tahun ini akan hancur dalam semalam.Ivy meremas ujung selimutnya. Ia membuka mata, kembali menatap gaun sage green di sudut kamar.Mungkin inilah alasan yang membuat Tante Jasmine begitu gigih mendorongnya untuk membuka diri dan mencari pasangan. Jasmine tahu waktunya mungkin tidak banyak. Karena itu, ia ingin memastikan Ivy memiliki seseorang di sisinya dan kehidupan yang benar-benar aman, sebelum gertakan yang selama ini menjadi tameng mereka terbongkar di hadapan Jeff."Tapi aku belum siap..." bisik Ivy pada kegelapan malam, menyuara
"Tante!" Ivy langsung meletakkan sendoknya, suaranya naik satu oktav. "Pokoknya aku tidak mau! Tante tahu, kan, kalau aku paling benci acara perjodohan seperti ini?" “Ini bukan perjodohan, Ivy. Ini cuma makan malam,” jawab Jasmine santai. Ivy menatapnya tidak percaya. “Tante sendiri yang tadi bilang kencan buta.” “Ya, kencan buta. Bukan perjodohan.” “Bedanya apa?” “Kalau perjodohan, kalian harus menikah. Kalau ini, kalian cuma makan malam.” Ivy terdiam sesaat, menatap tantenya dengan ekspresi lelah. “Tante sedang mempermainkan definisi kata, ya?” Jasmine terkekeh. “Tante cuma mempertemukan dua orang lajang. Soal kalian cocok atau tidak, itu urusan kalian.” “Dan kalau aku tidak datang?” “Tidak masalah.” Ivy mengangkat alis, sedikit lega. Tapi itu sebelum Jasmine melanjutkan kalimatnya dengan tenang. “Tante akan membuang barang-barangmu dari rumah ini. Sana. Cari saja ayahmu.” Ivy mengerang pelan sambil memijat pelan pelipisnya. “Oh, ayolah…” “Jam tuj
Lampu sorot studio atelier itu belum mati, padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di tengah ruangan, sebuah gaun pengantin berenda guipure melingkar sempurna di manekin kayu. Detail payet di bagian dada memantulkan cahaya redup, membiaskan kilau halus dari setiap jahitan yang dikerjakan dengan teliti, bahkan ketika rasa lelah mulai menuntut jemari untuk berhenti.Ivy menunduk, satu jarum pentul terselip di antara bibirnya. Jarinya yang cekatan merapikan bagian kelim bawah gaun, memastikan jatuh kain silk tulle itu tetap sempurna untuk fitting besok pagi.Dua kali getaran dari ponsel di atas meja potong memecah keheningan. Ivy tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa yang memanggil.Dia mencabut jarum dari bibirnya, menancapkannya ke bantalan busa di pergelangan tangan, lalu menggeser tombol hijau tanpa menjauhkan pandangan dari manekin."Sebentar lagi, ya, Tanteku sayang," potong Ivy langsung, bahkan sebelum suara di ujung telepon sempat mengudara.Suara hel
Ivy membeku. Refleks menutupi jari manisnya yang polos. Cincin yang Lucas maksud masih ia simpan. Ivy memang sengaja tidak memakainya karena takut sewaktu-waktu Lucas akan memintanya kembali. Ia pikir selama benda itu tidak terlihat, Lucas akan lupa. Ternyata dugaan Ivy keliru. Lucas menyadarinya jauh lebih cepat daripada yang Ivy perkirakan. Setelah selama ini benda tersebut begitu sulit dilepaskan dari jarinya, ketiadaannya tentu akan memunculkan pertanyaan. Ivy menatap iris mata Lucas dalam diam. Ada bagian dari dirinya yang menyuruhnya untuk menyerah, karena bagaimanapun, menahan barang yang bukan haknya adalah sebuah kesalahan. Akan tetapi, bibirnya terlanjur terikat oleh ego dan rasa takut. Sebab bagi Ivy, mengembalikan cincin itu sama saja dengan melepaskan satu-satunya hal yang masih menghubungkannya dengan Lucas, sebelum dunia mereka berubah menjadi dua sisi yang seolah tidak pernah bersinggungan. “Cincin milikku yang ada padamu. Kembalikan,” ulang Lucas, penuh pe
Beruntung toilet perempuan sedang sepi. Setidaknya di tempat ini, Ivy tidak perlu memasang wajah dingin atau berpura-pura bahwa semua bisikan tentang Lucas sama sekali tidak mengusiknya.“Omong kosong...” gumamnya lirih. “Siapa yang menyebarkan rumor sialan seperti ini?”“Apa ini ulahnya Jeno?”Ivy buru-buru mematikan layar ponselnya. Kedua tangannya bertumpu di pinggiran wastafel, sementara tatapannya yang dipenuhi kekesalan menatap lurus ke arah pantulan cermin. Setelah dia berhasil menguasai diri, Ivy keluar dari sana dengan topeng acuh tak acuh yang terpasang sempurna. Namun, semakin jauh ia melangkah menyusuri koridor, semakin banyak bisikan yang sampai ke telinga.“Itu Ivy, kan? Yang diperebutkan Lucas dan Jeno?”“Katanya Lucas hampir mati lho gara-gara tantangannya sendiri.”“Kan dia yang cari mati. Benar-benar tidak sadar diri.”Langkah Ivy mendadak terhenti. Oksigen yang ia hirup seolah tertahan di ten
Lucas tidak tahu bahwa di tempat lain, seseorang sedang berusaha keras memastikan dirinya tetap memiliki tempat di sekolah itu. Ruang kepala sekolah Kingsley Junior High School terasa sunyi. Ivy berdiri dengan wajah tegang di seberang meja kerja, sementara sebuah amplop tebal tergeletak di hadapannya. Kepala sekolah menatap benda yang Ivy sodorkan kepadanya selama beberapa saat sebelum mengangkat wajah dengan ekspresi yang sarat akan tanda tanya. “Apa ini, Ivy?”“Ini... seluruh tabungan yang saya punya, Pak.”Pak kepala sekolah menaikkan sebelah alisnya. Jari-jemarinya saling bertaut di atas meja, menunggu Ivy memberikan penjelasan lebih lanjut. Di sisi lain, Ivy menghela napas dalam-dalam. Ada perasaan takut yang sempat mengusik tatapannya, tetapi ia buru-buru menekannya kembali agar emosi itu tidak menguasai dirinya. Ia sudah mengambil keputusan, dan dia tidak boleh gagal. “Saya… saya ingin Lucas tetap bersekolah di sini.”
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala
Lima Belas Tahun yang Lalu. “Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang berte
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt







