Share

Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku
Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku
Auteur: Mandy

Bab 1

Auteur: Mandy
Morgan mendengus dingin, menutup telepon, lalu menoleh pada Harlem yang sedang merangkai karangan bunga. "Sudah terima teleponnya? Olive sudah mati."

Harlem bahkan tidak mengangkat kepala, tetap fokus merangkai karangan bunga. Dia hanya menjawab singkat, "Hm. Kalau sudah mati, ya mati saja. Kalau kamu ada waktu, ingatlah buat urus jenazahnya."

Sorot mata Morgan seketika mendingin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek.

"Kamu sendiri sebagai tunangannya saja malas mengurus jenazahnya, masih berharap padaku?"

Harlem mengamati karangan bunga yang sudah jadi di tangannya, lalu tersenyum tipis tanpa berkomentar.

"Kalau kamu mau, aku bisa menyerahkan status itu padamu. Pernikahan bulan depan juga sekalian kuberikan. Sekarang sudah boleh berharap sama kamu?"

Aku membelalakkan mata, menatap Harlem dengan tak percaya. Entah kenapa aku sudah mati, tetapi jiwaku tak juga menghilang.

Di mata Harlem ada senyuman, tetapi ekspresinya serius sepenuhnya. Baru saat itu aku percaya, dia tidak berbohong. Dia benar-benar tidak ingin menikah denganku lagi. Bahkan dia tak sabar ingin membuangku, tunangan yang satu ini, sejauh-jauhnya.

Baru sekarang aku sadar, ternyata dia sudah membenciku sedalam ini.

Morgan menatapnya cukup lama, lalu mendengus dingin. "Kamu kira aku tempat sampah? Sampah apa pun mau kuterima?"

"Besok itu ulang tahun Tuan Putri Quinn. Aku nggak punya waktu mengurusi orang-orang yang nggak penting."

Begitu kata-kata itu dilontarkan, ponsel Morgan pun berdering. Nada deringnya sangat khas. Raut wajahnya langsung melunak. Bahkan Harlem tanpa sadar menghentikan gerakan tangannya dan menatap Morgan saat dia mengangkat telepon.

Di ruang VIP yang sunyi terdengar suara perempuan yang manis. "Morgan, kamu lagi bareng Harlem ya? Kok dia nggak angkat teleponku?"

Suara itu sangat kukenal. Itu Quinn, cinta pertama yang tak tergantikan bagi Harlem dan Morgan.

Saat berusia sepuluh tahun, dia ikut orang tuanya pindah ke luar negeri dan baru kembali dua tahun lalu. Ketika Morgan dan Harlem masih baik padaku, dia sudah tidak menyukaiku dan mengancam agar aku menjauh dari mereka.

Aku menolak. Dia lalu menyuruh orang-orang mengepungku, bahkan hampir membuat wajahku cacat.

Setelah tahu kejadian itu, Harlem dan Morgan memarahinya habis-habisan, bahkan mengancam akan memutus semua hubungan dengannya jika dia masih berani menindasku.

Barulah Quinn menahan diri, meskipun sesekali masih melakukan hal-hal kecil di belakang layar.

Saat itu, aku tidak terlalu memedulikannya. Ketika akhirnya aku ingin menjelaskan, semuanya sudah terlambat. Entah sejak kapan, timbangan di hati Morgan dan Harlem sudah miring ke arahnya.

Harlem melirik ponselnya. Benar saja, ada satu panggilan tak terjawab. Alisnya berkerut. Baru dia ingat, setelah menerima beberapa telepon dari polisi, dia merasa sangat terganggu, lalu mematikan suara ponsel. Karena itulah dia melewatkan telepon dari Quinn.

Morgan mengangkat alis sambil tersenyum, lalu menyindir, "Olive sudah mati. Dia pergi mengurus jenazahnya. Mana sempat angkat teleponmu?"

Sorot mata Harlem langsung meredup. Dia berdiri, merebut ponsel dari tangan Morgan, berkata dengan lembut ke layar, "Quinn, jangan dengarkan omongan Morgan. Besok ulang tahunmu. Aku sibuk siapkan kejutan."

Ruang VIP yang luas itu dipenuhi bunga segar, boneka, dan kotak-kotak hadiah. Semua ini adalah hasil persiapan matang Morgan dan Harlem selama tiga hari.

Aku mengenal mereka sejak usia 13 tahun. Aku juga pernah menikmati kejutan seperti ini selama sepuluh tahun penuh.

Mereka akan menghilang tiga hari sebelum hari ulang tahunku. Saat aku sudah cemas dan gelisah, mereka akan menyuruh orang menutup mataku, lalu membawaku ke tempat impian yang mereka bangun khusus ini.

Namun, sejak Quinn kembali, kejutan seperti itu tak pernah ada lagi. Kini, semuanya telah menjadi miliknya seorang.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 8

    Bam! Morgan menutup hidungnya sambil terhuyung ke belakang. Kepalanya langsung pusing dan berdengung.Belum sempat bereaksi, Harlem sudah mencengkeram kerah bajunya dan menghajarnya dengan beberapa pukulan keras.Keduanya seperti ingin meluapkan seluruh dendam dan keluh kesah yang terpendam di dalam hati. Pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun, tak ada yang mau mengalah."Morgan, Olive adalah tunanganku. Dia memilihku. Seharusnya kamu mundur, bukan malah seperti perempuan licik yang setiap hari menggoda dan terus menempel padanya!""Harlem, kamu juga tahu Olive itu tunanganmu, 'kan? Lalu kenapa kamu nggak menjaganya? Kenapa kamu nggak memperlakukannya dengan baik? Begitu Quinn kembali, kamu langsung berubah. Aku sudah lama ingin memberimu pelajaran!"Aku mundur ke sudut, menonton mereka berkelahi, sampai akhirnya keduanya kelelahan. Yang satu bersandar ke dinding, yang satu lagi bertopang pada kusen pintu.Morgan menyeka darah di ujung hidungnya, terengah-engah, menengadah menatap H

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 7

    Setelah Nelly pergi, Harlem tetap mempertahankan posisinya tanpa bergerak sedikit pun.Video itu entah sudah diputar berapa kali. Mungkin karena para pembunuh takut Quinn tidak membayar sisa uang, wajah dan suaranya pun ikut terekam di layar.Seberkas cahaya keemasan menyinari ruangan, jatuh tepat di belakang Harlem, membuat seluruh wajahnya tenggelam dalam bayangan gelap.Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di pintu vila. Morgan memegang sebuah laporan di tangannya. Dadanya naik turun hebat.Dia menatap Harlem, seolah-olah ingin memastikan sesuatu. "Nelly punya kebenaran tentang kematian Olive. Harlem, Olive ....""Sudah mati." Setelah lama terdiam, suara Harlem terdengar agak serak.Matanya tak berkedip menatap layar video. Dia tersenyum pahit. "Dia benar-benar sudah mati dan Quinn memang membunuh orang.""Morgan, sepertinya kita salah."Benda di tangan Morgan jatuh ke lantai dengan suara keras. Itu adalah laporan kehamilan Quinn yang dia suruh orang palsukan.Aku melihatnya melangkah

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 6

    Tiga hari kemudian, dua orang pria itu keluar dari gerbang rumah tahanan.Wajah Harlem muram. Di bawah matanya tampak lingkar kehitaman.Keadaan Morgan juga tak jauh lebih baik. Dengan kesal, dia menendang kerikil di pinggir jalan, lalu berkata dengan dingin, "Olive harus ditemukan. Kalau nggak, Quinn benar-benar dalam bahaya."Harlem mengangguk pelan tanpa berkomentar. Dibanding Morgan, dia jauh lebih tenang."Aku akan mencari Olive. Kamu cari cara untuk mengurus pembebasan Quinn dengan jaminan," ucap Harlem.Morgan melotot menatapnya. "Sekarang bagaimana caranya menjamin? Semua orang bilang dia membunuh orang."Mata Harlem yang hitam tak menunjukkan emosi sedikit pun. Dengan nada datar tanpa gelombang, dia berkata, "Kehamilan bisa dijadikan alasan untuk mengajukan penangguhan penahanan."Morgan baru tersadar. Dia segera naik ke mobil dan melaju ke arah rumah sakit.Aku menatap wajah Harlem yang tanpa ekspresi, untuk pertama kalinya rasa takut muncul di hatiku. Demi melindungi Quinn,

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 5

    Suasana yang semula meriah seketika menjadi hening karena kejadian itu.Harlem dan Morgan mengerutkan kening, lalu melindungi Quinn di belakang mereka. Tak seorang pun melihat, di mata Quinn sekilas melintas kepanikan.Di kepalaku samar-samar terlintas beberapa potongan ingatan, tetapi terlalu cepat. Aku belum sempat menangkapnya, ketika melihat dari belakang para polisi, masuk seorang perempuan yang mengenakan gaun hitam. Di dadanya tersemat bunga kecil berwarna putih.Matanya bengkak dan merah, wajahnya tampak pucat dan lelah.Aku spontan bangkit dan berdiri di hadapannya. Tanganku gemetar saat terangkat, ingin menyentuhnya. Namun, tanganku menembus tubuhnya.Perempuan itu mengangkat tangan, menunjuk ke arah Quinn. Suaranya serak, tetapi tegas. "Pak Polisi, dia Quinn. Dia pembunuh Olive."Begitu kata-kata itu dilontarkan, suasana di sekitar langsung membeku. Beberapa detik kemudian, terdengar kegemparan."Apa yang dia katakan? Olive mati? Dan dibunuh Quinn?""Perempuan ini sudah gila

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 4

    Video yang diputar itu menampilkan jasadku.Gaun putih penuh bercak darah, wajahku disayat puluhan kali hingga rupa asliku sama sekali tak bisa dikenali.Aku memalingkan pandangan, tak sanggup melihatnya. Namun, video ini entah sudah ditonton berapa banyak orang.Petugas itu menahan amarah, menggertakkan gigi sambil berkata, "Ini video tanpa sensor. Sebagai tunangan Bu Olive, Anda seharusnya yang paling mengenalnya. Sekarang, apa kalian masih nggak percaya Bu Olive benar-benar telah meninggal?"Ekspresi Harlem berubah-ubah. Dia cepat-cepat memalingkan pandangan, seolah-olah tak tega. "Wajahnya sudah hancur seperti itu, bagaimana kamu bisa memastikan itu Olive? Lagi pula, luka-lukanya kelihatan palsu sekali. Kamu kira hanya dengan satu video aku akan percaya?""Olive itu sangat menyayangi nyawanya. Kalau dia benar-benar mengalami sesuatu, orang pertama yang akan dia hubungi pasti aku. Tapi sampai sekarang, aku nggak menerima satu pun telepon darinya ....""Suruh dia berhenti berakting d

  • Tunangan Dan Sahabat yang Mengacuhkan Kematianku   Bab 3

    Aku lupa bagaimana aku mati. Aku hanya ingat, saat berubah menjadi arwah dan melihat jasadku, aku tak sanggup menatapnya. Terlalu menyedihkan, juga terlalu mengerikan.Aku seperti jatuh ke laut dalam. Sekelilingku gelap gulita. Aku tak tahu akan tenggelam sampai ke mana. Aku ketakutan, meringkuk, lalu tiba-tiba sebuah kekuatan besar menarikku ke atas.Harlem dan Morgan berjalan tergesa-gesa di depan. Morgan menyetir mobil, sementara Harlem menelepon nomorku. Wajah mereka berdua tampak masam.Puluhan detik kemudian, dari ponsel terdengar nada sibuk. Bibir tipis Harlem terkatup rapat, jarinya mengetuk pintu mobil berulang kali.Morgan meliriknya. "Kenapa? Nggak diangkat?"Harlem memejamkan mata, menutupi hawa dingin di balik tatapannya.Morgan menginjak pedal gas lebih dalam, lalu mobil melesat keluar. Dengan suara dingin, dia berkata, "Olive ini benar-benar ketagihan berakting ya? Bahkan sampai menyiapkan abu jenazah. Aku mau lihat, itu benar-benar abu dia atau bukan."Abu jenazah? Jadi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status