Short
Selamat Jalan, Mantan Suamiku

Selamat Jalan, Mantan Suamiku

Oleh:  KittyTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Bab
4.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ivan, sang pewaris konglomerat Purim yang obsesif dan gila itu, justru mencintai habis-habisan Jesika — perempuan tanpa kekuasaan maupun status, bahkan seorang pengemis tak berdaya yang dulu ia pungut dari jalanan. Dari usia lima belas sampai dua puluh lima tahun, Ivan sangat memanjakannya, memberikan seluruh kasih sayang dan kelembutannya hanya untuknya. Namun, tiba-tiba pada suatu hari, muncul seorang wanita lain di sisi Ivan. Ivan bilang wanita itu istimewa. Meski punya kekurangan fisik, tetap kuat dan tegar. Perlahan-lahan, wanita itu pun menggantikan posisi Jesika…

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Ivan, sang pewaris konglomerat Purim yang obsesif dan gila itu, justru mencintai habis-habisan Jesika — perempuan tanpa kekuasaan maupun status, bahkan seorang pengemis tak berdaya yang dulu ia pungut dari jalanan. Dari usia lima belas sampai dua puluh lima tahun, Ivan sangat memanjakannya, memberikan seluruh kasih sayang dan kelembutannya hanya untuknya.

Jesika Suka bermain biola, Ivan rela mengesampingkan semua pekerjaannya untuk menemaninya belajar musik di luar negeri, bahkan saat sahamnya merugi belasan triliun, Ivan pun tidak peduli sedikitpun.

Untuk menunjukkan cintanya, Ivan memberikan hadiah mewah bertruk-truk ke hadapan Jesika. Bahkan melakukan siaran langsung selama 999 hari berturut-turut untuk melamar dan mengungkapkan cinta padanya.

Demi menikahinya, Ivan rela dihukum keluarga selama tiga hari, hanya agar bisa melanggar tradisi perjodohan keluarga kaya dan memberinya sebuah pernikahan yang semegah mimpi, menjadikannya seorang putri yang membuat semua orang iri.

Namun, Ivan yang sangat mencintainya ini, kini demi seorang kekasih yang baru dikenalnya selama setengah tahun, membiarkan Jesika berlutut di tengah salju hanya dengan mengenakan baju tidur tipis.

Semua itu hanya karena Ivan mengira Jesika memaksa wanita itu memblokir kontaknya, sehingga si kekasihnya itu bersembunyi.

“Sayang, jawab aku, apa yang kamu katakan pada Jeani?” Ivan duduk di depan Jesika, menatapnya dengan acuh tak acuh sambil memegang gelas alkohol.

Tatapan matanya bahkan lebih dingin dari badai salju, tapi nada suaranya sangat lembut. Seolah dia hanya bertanya apakah pemandangan saljunya indah atau tidak.

Tubuh Jesika mati rasa karena kedinginan. Dia membuka mulut, bibirnya gemetaran, “Ivan, aku nggak bertemu Jeani.”

Ivan menatapnya, lalu agak menajamkan sudut bibirnya. “Sayang, kamu semakin nggak patuh.”

Ivan menggerakkan jarinya dan seorang pengawal membungkuk menyodorkan ponsel, lalu dia pun mulai memutar sebuah video.

Di video itu, respirator adik Jesika yang sedang sakit parah telah dicabut. Wajahnya memucat karena kekurangan oksigen dan seluruh tubuhnya terus kejang-kejang.

“Ivan, dia keluargaku satu-satunya, jangan sakiti dia.” Jesika langsung menangis dan memeluk kaki Ivan.

“Percayalah padaku, aku benar-benar nggak bilang apa-apa. Aku nggak tahu dia pergi ke mana.”

Ivan mencondongkan tubuh ke depan, mengusap air matanya. “Aku ingat pernah bilang padamu, Jeani juga sangat penting bagiku.”

“Sayang, kamu masih punya lima puluh detik lagi. Dalam kondisi kekurangan oksigen, adikmu hanya bisa bertahan dua menit.” Ivan menegakkan tubuhnya, mengetuk layar dengan satu layar, seolah mulai kehilangan kesabaran.

Tubuh Jesika gemetaran hebat, dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang berat.

Dia memang pernah mengatakan Jeani penting, tapi Jesika selalu enggan memercayainya, karena pria itu pernah sangat mencintainya.

Saat ini, tiba-tiba Jesika merasa dirinya sangat konyol. Dia benar-benar mengira dirinya tidak tergantikan bagi pria itu.

Sebenarnya, Jesika hanya bertemu Jeani sekali saja. Saat itu di acara lelang dan Jeani adalah seorang petugas di sana.

Saat itu, Jeani menahannya dalam perjalanan ke ruang tunggu. Dia mengangkat dagunya dan menyuruh Jesika menjaga suaminya baik-baik, “Bu Jesika, sudah kubilang aku nggak menyukainya. Suamimu benar-benar sudah mengganggu hidupku.”

Saat itulah, Jesika baru menyadari bahwa kucing kecil yang selalu dibilang menarik oleh Ivan adalah… Jeani.

Jeani menderita ambliopia di mata kiri sejak lahir dan punya bakat seni yang luar biasa. Dia menjadi viral di internet sebagai seorang pelukis jenius yang cacat, tapi tetap tegar.

Namun, Jeani tidak melakukan siaran langsung untuk jualan, melainkan memilih bekerja paruh waktu seperti orang biasa, berkeliling di berbagai jamuan sebagai pelayan.

Dia angkuh, percaya diri, ceria dan langsung menarik perhatian Ivan yang saat itu menjadi investor.

Semakin Jeani menolak, semakin Ivan menyukainya. Ivan mengejarnya hingga menjadi buah bibir, diketahui semua orang di seluruh kota.

Hari itu, Jesika langsung menanyakannya dan Ivan pun tidak menyangkal. Pria itu hanya memeluknya dan berkata dengan santai, “Ini hanya sebuah permainan, semua sahabatku juga pernah melakukannya. Aku hanya ingin tahu berapa banyak uang yang bisa membuatnya tergerak. Tenang saja, sayang. Aku hanya bermain-main dengannya. Hanya kamulah yang paling kucintai selamanya.”

Jesika masih bertanya padanya. “Bagaimana kalau aku nggak terima?”

Pria itu mengusap rambutnya dengan lembut dan menatap wajah Jesika yang pucat dengan tatapan penuh kelembutannya. “Sayang, kalau kamu patuh, kamu akan menjadi istriku selamanya.”

Jesika terdiam. Dia tahu betul bahwa dirinya tak punya hak untuk menolak.

Dia hanya bisa menunggu Ivan menyerah, tapi yang datang justru kabar bahwa mereka berdua sudah resmi menjalin hubungan.

Jeani tidak meminta uang sepeser pun darinya. Ia bersedia membalas pendekatan Ivan, namun dengan satu syarat: mereka harus berkencan seperti pasangan biasa.

Ivan pun menyetujuinya dengan senang hati. Ivan menemaninya siaran langsung melukis, menemaninya mengunjungi pameran seni, menemaninya ke taman hiburan, menemaninya makan di warung pinggir jalan dan makanan cepat saji…

Ivan juga membawanya ke berbagai acara, selalu menempel bersamanya dan memamerkan kemesraan mereka di media sosial seperti pria biasa.

Setiap kali melihatnya, hati Jesika terasa teriris. Dia pernah menangis, bertengkar dengan Ivan dan meminta cerai.

Namun, pria itu tidak pernah menganggap serius, hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Sayang, aku suka istri yang penurut, jangan ribut lagi, ya.”

Jesika memaksakan dirinya untuk tenang, memaksa dirinya untuk memercayai kata-kata Ivan, berharap Ivan akan segera bosan dan kembali ke rumah.

Namun sekarang, Jeani tiba-tiba memblokir kontaknya, setelah sebelumnya dikabarkan pernah bertemu dengan Jesika.

Jesika tahu betul bahwa ini adalah trik licik Jeani, dirinya tak bisa menjelaskan dan Ivan pun tidak akan percaya.

“Sayang, masih nggak mau bilang? Waktu adikmu nggak banyak lagi, 10, 9, 8…” Ivan membungkuk, mendekati Jesika. Napas Ivan yang hangat berhembus di telinganya, tapi justru membuat Jesika merasa sangat dingin.

“Aku bilang… aku bilang…” ujar Jesika yang tiba-tiba tersentak. Rasa sakit yang merobek di dalam hatinya terasa mencekik tenggorokan dan untuk pertama kalinya dia berbohong pada Ivan, “Aku menyuruh dia meninggalkanmu, jangan mengganggumu lagi…”

Jesika benar-benar hancur, air mata memburamkan pandangannya. Lengan yang memeluk Ivan perlahan mengendur, hingga akhirnya terkulai tak berdaya.

Melihat kondisinya yang rapuh, Ivan menyentuh pipinya yang dingin untuk menenangkannya. “Sayang, lain kali jangan bertindak sesuka hati, lebih pertimbangkan adikmu.”

Ekspresi Jesika menjadi kaku dan mengangguk. Sesuatu di dalam hatinya terasa hancur dan rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya.

Tubuhnya terasa limbung, gelombang pusing menyerang dan dia terhuyung jatuh ke lantai. Saat terjatuh, dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di antara kedua kakinya…

Tiba-tiba, anak buah Ivan bergegas masuk dan melaporkan bahwa mereka telah menemukan Jeani. Jeani sedang mengajar sekelompok anak penyandang disabilitas melukis.

Anak buahnya melirik Jesika, lalu melanjutkan bahwa Jesika meminta Jeani untuk tidak bertemu dengan Ivan lagi, jadi menyuruh Ivan untuk tidak mencarinya.

Wajah Ivan langsung berseri-seri, mengabaikan kalimat terakhir. Dia segera mengatur agar Jeani menjadi topik viral, memuji dia sebagai sosok yang cantik dan berhati mulia.

Mengenai Jesika yang tergeletak di lantai, Ivan bahkan tidak meliriknya.

“Ivan, perutku sakit…” Di tengah rasa sakit yang tak tertahankan, Jesika mengulurkan tangan ke punggung Ivan, tapi dia malah melihat pria itu semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.

Setelah masuk ke mobil, Ivan hanya menelepon kepala pelayan, memerintahkan untuk mengurung Jesika di kamar meditasi sebagai hukuman.

Kepala pelayan melihat Jesika yang tergeletak di salju, dengan genangan darah merah tua di bawahnya, dia pun segera menjawab, “Sepertinya Bu Jesika keguguran, dia pendarahan hebat…”

Wajah Ivan langsung memuram dan berkata dengan dingin, “Dia hamil? Dia semakin nakal, anak ini nggak seharusnya ada.”

Kepala pelayan menghela napas panjang, tidak berani melanggar perintah Ivan dan mengangkat Jesika ke kamar meditasi.

Jesika terbangun karena rasa sakit yang menusuk. Perih di perutnya seperti merobek sarafnya. Dia merasakan dengan jelas bahwa kehidupan kecil itu menghilang perlahan.

Dia merangkak ke pintu, menggedor dengan kuat, berteriak sekuat tenaga, “Keluarkan aku! Bawa aku ke rumah sakit! Selamatkan anakku…”

“Ivan, tolong anak kita!”

“Tolong!”

Setelah lama kemudian, hanya suara kepala pelayan yang terdengar dari luar pintu, “Bu Jesika, tanpa perintah Pak Ivan, nggak ada yang berani membawamu ke rumah sakit. Lebih baik kamu turuti saja perintahnya dan merenung di kamar meditasi.”

Jesika seperti kehabisan kekuatan dalam sekejap. Teringat betapa teganya Ivan saat pergi, dirinya pun langsung terjatuh terpuruk ke lantai.

Dia hanya ingin punya anak, anak milik mereka berdua.

Karena Ivan tidak ingin punya anak, dirinya tidak punya hak untuk hamil.

Sekarang, demi kekasihnya, Ivan bahkan tidak memedulikan hidup dan matinya, serta mengurungnya saat hamil…

Jesika memegangi perutnya, ingin menangis tapi tidak ada air mata yang keluar. Rasa sakit membuatnya hampir kehabisan napas.

Rasa perih terus menyerang, kesadarannya memudar.

Tepat sebelum pingsan, dia bergumam, “Ivan, bayi kita sudah tiada… aku juga tidak menginginkanmu lagi…”
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

M--G
M--G
kakek nya jahat dan sang cucu pun bodoh mudah dijebak... istri jadi korban.
2025-12-25 23:19:49
0
0
22 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status