LOGINMereka masih sibuk memasak saat terdengar suara beberapa orang berbicara di luar rumah.Tak lama kemudian terdengar suara ketukan palu.Tia yang sedang mencicipi rendang berhenti sejenak."Si Mang Karta mungkin udah datang ya, Ti?" kata Clara.Tia mengangguk."Iya. Biarin aja. Paling mereka sedang memperbaiki pintu."Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.Namun beberapa detik kemudian, sebuah suara laki-laki terdengar dari luar.Entah mengapa suara itu terasa begitu familiar.Tangan Tia berhenti bergerak. Ia mengernyitkan dahi. Suara itu seperti... tidak mungkin. Tia membantah pikirannya sendiri.Namun rasa penasaran membuatnya berjalan perlahan menuju ruang tamu. Ia mengintip perlahan.Matanya langsung membelalak."Ngapain dia di sini?" desis Tia geram.Clara dan Desy yang penasaran ikut mendekat."Kenapa, Ti?" bisik Clara.Tia tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada ambang pintu. Tampak seorang pria sedang memasang kembali daun pintunya dengan cekatan. Saat Tia memperhatikan lebih de
Ruang tamu terasa mencekam. Saat ini hanya ada tiga orang yang duduk di sana. Paklik Usman, Alex dan Tia. Dua orang anak buah Alex berjaga di luar rumah. Sementara Clara dan Desy memilih bersembunyi di dapur, diam-diam menguping percakapan mereka.Paklik Usman duduk dengan wajah tegang."Saya benar-benar tidak tahu di mana Mbak Astri pergi, Pak! Sumpah!" bantahnya keras. Alex tidak langsung menjawab.Ia hanya menatap Paklik Usman beberapa detik, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku."Kalau begitu, mungkin rekaman ini bisa membantu Anda mengingat."Alex memutar sebuah rekaman CCTV. Memperlihatkan depan gang di mana terlihat Paklik Usman memarkir kendaraan lalu berjalan tergesa masuk ke dalam gang. Tak lama tampak Paklik Usman kembali sambil membawa dua buah koper dan memasukkannya ke dalam bagasi. Lalu menyusul sebuah tas travelling besar dan yang lainnya. Di belakangnya berjalan tergesa ibunya dan Rima. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu. Rekaman pun berhent
Sore harinya, Clara dan Desy datang ke rumah Tia. Kedua sahabatnya itu ingin memasak rendang dan ayam goreng. Tia kebagian menumis sayuran.Dalam sekejab dapur pun menjadi ramai. Clara sibuk memeras santan untuk rendang. Tia berdiri di sampingnya sambil memotong-motong bawang dan sayuran. Sementara Desy menggoreng ayam.Sambil memasak mereka terus mengobrol ringan. Obrolan menjadi seru saat Tia menceritakan tentang Pak Husein."Gile banget itu Pak Husein naikin harga sampai tiga kali lipat khusus buat lo," Clara berdecak sambil memeras kelapa. "Gue yakin dia pasti punya alasan kuat sampai membuat alasan nggak masuk akal kayak gitu."Desy yang sedang membolak-balik ayam ikut menyahut."Tapi apa alasannya?”"Nah, itu." Clara mengangkat bahu. "Coba kita pikir sama-sama. Apa yang membuat Pak Husin sampai nggak mau ngejual dagangannya ke Tia?"Tia terdiam. Pisau di tangannya kembali bergerak perlahan."Gue nangkepnya dia kayak nggak mau gue datang lagi ke kiosnya. Makanya dia bilang semua
Riffat menggeram murka saat melihat Tia masuk ke mobil ayahnya. Ia tidak menyangka kalau usulnya agar Tia mendatangi ayahnya benar-benar dilakukan oleh gadis itu. Benar-benar tidak bermoral. Semua ia lakukan demi uang!Padahal ia memberikan Tia libur dua hari agar Tia bisa istirahat setelah peristiwa pembegalan semalam.Dan pagi ini ia sengaja melewati gang tempat Tia tinggal. Sekedar ingin memastikan apakah Tia baik-baik saja atau memerlukan perawatan medis.Namun yang dilihatnya justru pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Gadis sialan ini malah sibuk mencari kerja sampingan.Rahang Riffat mengeras. Tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih."Kecil-kecil cabe rawit kamu, sialan!" Riffat memukul setir. Membuat klakson tertekan hingga berbunyi keras. Mengejutkan seorang pria pejalan kaki yang kaget dan langsung memaki. Riffat terus mengikuti mobil ayahnya dari kejauhan.Beberapa menit kemudian, mobil itu tiba-tiba menepi.Riffat ikut memperlambat
Tia menatap gelang di tangannya lalu memandang Pak Khalid."Kenapa, Pak?" tanyanya bingung."Jawab saja pertanyaan saya. Dari mana kamu mendapatkan gelang itu?" Pak Khalid menunjuk pergelangan tangan Tia."Ini?" Tia mengangkat lengannya. "Dari Ibu saya. Kata Ibu sekarang gelang ini milik saya.""Itu bukan gelang ibumu. Tapi gelang orang lain," pungkas Pak Khalid tegas. "Maaf, apa dasar Bapak berani mengklaim kalau gelang itu bukan milik Ibu saya?" Alis Tia bertaut. "Atas dasar kebenaran. Gelang itu adalah hadiah dari saya untuk Nila."Tia terdiam. Nama itu langsung mengingatkannya pada sesuatu.Pak Khalid pernah menyebut nama yang sama ketika mabuk di apartemennya. Pak Khalid mengangkat wajah."Kalau kamu tidak percaya, coba periksa. Di inisial huruf P itu, dibaliknya ada huruf R yang diukir kecil. Lalu di inisial huruf A ada huruf H yang juga diukir kecil."Penasaran, Tia pun melepas gelangnya dan memeriksa inisial huruf yang Pak Khalid katakan. Dan ternyata apa yang Pak Khalid ka
Setelah berpakaian rapi dan siap berangkat ke hotel, Tia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia belum mentransfer utangnya pada Riffat!Tia buru-buru mengambil ponsel. Ia tidak ingin Riffat menganggapnya sengaja mangkir. Ia lalu mengetik pesan pada Riffat meminta nomor rekeningnya.Minta nomor rekening, Pak. Saya mau mentransfer cicilan.Tak sampai satu menit, balasan masuk. Riffat mengirimkan nomor rekeningnya tanpa basa-basi. Besok kamu tidak usah datang ke hotel.Tia mengernyit. Apa-apaan ini! Apa Riffat memecatnya?Tanpa berpikir panjang, ia langsung menelepon."Kenapa saya tidak boleh masuk kerja? Apa Bapak mau memecat saya?" tanya Tia gusar."Kalau saya dipecat, bagaimana saya bisa membayar utang?" lanjut Tia lagi.Di seberang terdengar suara decakan lidah."Kamu buta huruf atau bagaimana? Ada saya tulis memecatmu? Tia terdiam. Memang tidak."Saya cuma tidak ingin melihat wajahmu di restoran dalam dua hari ini."Tia masih belum bersuara."Saya ada pertemuan penting dengan beberapa kli







