LOGINHari Senin selalu jadi musuh banyak orang, tapi bagi Ayuna, hari itu terasa seperti lembar baru yang beratnya setara dengan hidup yang harus dipertaruhkan.
Dia berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya, menatap pantulan wajahnya yang ditata seminimal mungkin. Tidak menor, tapi cukup pantas untuk standar Mahendra Corp yang katanya perfeksionis kelas atas. Kemeja putih, rok pensil hitam, dan sepasang sepatu pantofel lama yang disemir seadanya agar tetap terlihat layak.
“Bukan untuk pamer, cuma untuk bertahan,” gumamnya pelan, mencoba menyuntikkan keberanian ke dirinya sendiri.
Sesampainya di lobi Mahendra Corp, pandangan puluhan mata langsung tertuju padanya. Bukan hanya karena dia pendatang baru, tapi juga karena sejak semalam, beberapa foto gala dinner sudah tersebar di akun media sosial internal perusahaan.
CEO Mahendra Corp datang bersama wanita misterius.
Siapa perempuan yang mendampingi Aqil Mahendra?
Pacar? Tunangan? Atau hanya rekan bisnis?
Bisik-bisik itu menggema meski tak terdengar. Tatapan mencurigakan, senyum basa-basi, dan lirikan cepat jadi sambutan resmi Ayuna pagi itu.
Wulan, sekretaris pribadi Aqil, menyambutnya dengan anggukan sopan. “Silakan langsung ke lantai 30. Pak Aqil sudah menunggu.”
Lantai 30. Lantai tertinggi. Lantai yang katanya hanya bisa diakses orang-orang tertentu. Dan kini, Ayuna resmi masuk dalam daftar itu.
Ketika pintu lift terbuka, aroma khas ruangan ber-AC bercampur wangi kopi premium menyambutnya. Desain interior ruang kantor itu minimalis, modern, dan... dingin. Bukan karena suhu, tapi karena atmosfernya.
“Masuk.” Suara itu datang dari balik pintu kaca buram bertuliskan Aqil Mahendra, CEO.
Ayuna melangkah masuk dengan hati yang dipaksa tetap tenang.
Aqil duduk di belakang meja besar, mengenakan setelan biru tua. Kali ini tanpa dasi, tapi tetap terlihat terlalu mahal untuk disentuh.
“Kamu telat dua menit,” katanya tanpa menatap.
Ayuna menghela napas pelan. “Saya sempat dimintai ID di resepsionis.”
Aqil menatapnya sejenak, lalu berdiri dan menyerahkan satu map coklat.
“Mulai hari ini, kamu akan ikut dalam rapat-rapat besar. Dengarkan, catat, dan pelajari pola kerja saya. Kamu bukan sekretaris. Kamu bukan staf biasa. Kamu pendamping yang akan membuat orang berpikir saya punya ‘penyeimbang’.”
Ayuna menyipitkan mata. “Penyeimbang atau tameng?”
Aqil tersenyum kecil. “Keduanya.”
Hari itu berjalan cepat. Dari satu rapat ke rapat lain, dari presentasi dengan investor asing, hingga makan siang yang penuh basa-basi. Ayuna duduk diam di samping Aqil, memperhatikan, mencatat, dan sesekali terlibat dalam diskusi ringan.
Beberapa orang mulai mendekatinya. Ada yang ramah, ada yang pura-pura sopan.
“Hebat juga kamu bisa deket sama Pak Aqil. Padahal biasanya dia... terlalu pilih-pilih,” bisik salah satu staf wanita dengan nada sinis.
Ayuna hanya tersenyum. “Saya juga masih belajar. Tidak semua yang kelihatan indah, semudah itu dijalani.”
Di akhir hari, Ayuna kembali ke ruang Aqil. Kakinya pegal, kepalanya berat. Tapi di matanya, ada rasa lega—karena ia berhasil melewati satu hari tanpa jatuh.
“Bagus,” komentar Aqil singkat saat ia menyerahkan catatan rapat.
“Kamu bahkan belum baca,” balas Ayuna.
“Saya lihat dari cara kamu tetap tenang. Itu lebih penting daripada sekadar tulisan.”
Ayuna hampir membalas, tapi mendadak perutnya berbunyi pelan. Ia menunduk malu. Seharian belum makan karena terlalu sibuk menyesuaikan diri.
Aqil menatapnya sejenak, lalu membuka laci meja dan melemparkan sebatang protein bar.
“Makan. Kamu kelihatan hampir pingsan.”
Ayuna memandangi cokelat itu dengan ekspresi aneh. Tidak mengira pria sekeras Aqil bisa memperhatikan hal sekecil itu.
“Kamu nggak harus pura-pura peduli, Pak Aqil. Saya tahu ini cuma kontrak,” katanya lirih.
Aqil menatapnya lama. “Saya tidak pura-pura. Tapi kalau kamu nyaman menganggap saya tidak peduli, silakan.”
Dan Ayuna tahu—jawaban itu bukan karena dingin. Tapi karena Aqil takut ditanya lebih dari itu.
Ponsel Ayuna terus bergetar sejak pagi. Notifikasi dari media sosial, pesan dari nomor tak dikenal, dan mention yang tak berhenti di X membuatnya ingin membuang semua perangkat elektronik ke luar jendela. Sejak gosip kedekatannya dengan Aqil tersebar di beberapa akun gosip, hidupnya yang tenang berubah total.“Ayuna, kamu trending nomor dua di X,” kata Vina dengan suara tegang di telepon. “Kamu udah lihat?”“Aku nggak berani buka medsos, Vin. Aku takut makin pusing,” jawab Ayuna lemas, menatap layar ponsel yang penuh notifikasi.“Orang-orang pada ngira kamu pelakor. Terus... ada yang bilang kamu cewek simpanan. Mereka dapet foto kalian dari cafe waktu itu. Dan kayaknya ada yang sebarin juga pas kalian bareng di parkiran kantor.”Ayuna menelan ludah. Itu artinya bukan hanya media, tapi juga orang-orang di sekitar mereka yang jadi mata-mata. Siapa yang merekam? Kenapa sekarang, setelah kontrak mereka selesai, justru gosip makin liar?“Kamu baik-baik aja, Yun?” suara Vina mulai melembut.
Tiga hari setelah kontrak itu berakhir, Ayuna duduk sendiri di kafe kecil langganannya bersama Vina. Secangkir cappuccino sudah dingin, nyaris tak tersentuh. Tatapannya kosong, meski bibirnya mencoba tersenyum di antara canda sahabatnya.“Lo yakin nggak mau cerita?” Vina meletakkan sendok kecil di atas piring. “Ayun, sekarang nama lo mulai banyak dicari di media. Ada akun gosip yang nyebutin lo... sebagai cewek simpanan CEO Mahendra Group.”Ayuna menghela napas pelan. Ia sudah menduga hal ini akan datang, tapi tetap saja rasanya seperti tamparan keras di pipi. Beberapa akun media sosial mulai menyebarkan foto-foto lamanya dengan Aqil—beberapa saat mereka datang bersama ke acara amal, atau bahkan momen kebetulan di lobi kantor Mahendra Group. Belum lagi komentar pedas yang membanjiri akun Instagram miliknya.“Gue nggak ngerti, Vin... Kenapa rasanya makin hari makin susah napas? Padahal hubungan itu udah selesai,” gumam Ayuna lirih. “Kontraknya udah selesai, rasa-rasa... harusnya juga s
Pagi itu, udara terasa segar di balkon kecil kosan Ayuna. Burung-burung gereja berkicau, langit mendung tipis seakan malu-malu, dan Ayuna... sedang tersenyum sendiri di depan cermin.Ia menatap pantulan dirinya, rambut diikat rapi, wajah polos tanpa riasan berlebihan, tapi sinar matanya jauh lebih hidup dari sebelumnya. Hari ini, bukan hanya tentang kerja. Tapi tentang hati yang terasa lebih ringan, meski tak sepenuhnya bebas dari beban.Vina mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban.“Nah, ketauan juga senyumnya kenapa udah beda dua minggu terakhir ini!” Vina meletakkan tasnya, lalu menatap sahabatnya dengan curiga yang dibalut kepedulian. “Yun, lo udah nggak nginep di kosan dua malam. Jangan bilang... lo balik sama mantan?”Ayuna tergelak pelan. “Ngaco. Bukan mantan.”“Terus?”Ayuna tak langsung menjawab. Ia meraih secangkir teh dari meja, duduk di ujung kasur.“Gue emang tinggal sementara di tempat... seseorang. Tapi bukan cuma karena alasan itu. Gue pengen nunjukin
Tiga hari setelah kontrak itu berakhir, Ayuna duduk sendiri di kafe kecil langganannya bersama Vina. Secangkir cappuccino sudah dingin, nyaris tak tersentuh. Tatapannya kosong, meski bibirnya mencoba tersenyum di antara canda sahabatnya.“Lo yakin nggak mau cerita?” Vina meletakkan sendok kecil di atas piring. “Ayun, sekarang nama lo mulai banyak dicari di media. Ada akun gosip yang nyebutin lo... sebagai cewek simpanan CEO Mahendra Group.”Ayuna menghela napas pelan. Ia sudah menduga hal ini akan datang, tapi tetap saja rasanya seperti tamparan keras di pipi. Beberapa akun media sosial mulai menyebarkan foto-foto lamanya dengan Aqil—beberapa saat mereka datang bersama ke acara amal, atau bahkan momen kebetulan di lobi kantor Mahendra Group. Belum lagi komentar pedas yang membanjiri akun Instagram miliknya.“Gue nggak ngerti, Vin... Kenapa rasanya makin hari makin susah napas? Padahal hubungan itu udah selesai,” gumam Ayuna lirih. “Kontraknya udah selesai, rasa-rasa... harusnya juga s
Ruang konferensi di lantai 15 terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu temaram, dan hanya dua cangkir kopi yang tersisa di meja panjang yang belum dibereskan. Ayuna dan Aqil duduk berseberangan. Di antara mereka, kotak kecil yang tadi dibawa Ayuna.Aqil menatapnya, matanya tak melepaskan pandangan sejak mereka duduk. “Kamu mau mulai duluan atau aku?”Ayuna menarik napas panjang. “Aku dulu.”Ia membuka kotak, mengeluarkan kertas kontrak pertama yang dulu ia tandatangani. “Kita mulai dari ini. Selembar kertas yang mengikat semuanya. Tapi juga… yang merusak banyak hal.”Aqil mengangguk pelan. “Aku tahu. Dan aku nyesel.”“Aku juga salah karena menyetujui itu tanpa benar-benar mikir jauh. Tapi saat itu aku butuh... terlalu butuh jalan keluar,” ucap Ayuna. “Aku nggak pernah sangka, dalam prosesnya, aku bakal kehilangan banyak bagian dari diriku sendiri.”Aqil bersandar, tangan dikepal di pangkuan. “Ayuna, aku nggak pernah anggap kamu hanya bagian dari solusi. Aku tahu sejak awal kamu lebih d
Suara notifikasi ponsel berdering bertubi-tubi sejak pagi. Ayuna duduk di tepi tempat tidur, menatap layar dengan ekspresi kosong. Banyak pesan masuk, sebagian dari rekan kerja lama, sebagian dari orang asing yang menyebar simpati sekaligus sindiran.Satu pesan dari Vina membuatnya benar-benar bangkit dari tempat tidur:"Yun, kamu harus lihat ini. Ada video wawancara ibu kandung Aqil di kanal berita gosip. Kayaknya ada hal besar yang dia sembunyiin selama ini."Ayuna membuka tautan yang dikirimkan. Video itu memperlihatkan seorang wanita elegan, berusia sekitar enam puluhan. Wajahnya masih cantik meski dihiasi garis-garis usia. Dialah Bu Arlina, ibu kandung Aqil yang selama ini jarang muncul ke publik.“Aqil selalu anak yang keras kepala,” ucap Bu Arlina di video. “Dan dia punya trauma yang tak semua orang tahu. Ketika ayahnya pergi dari rumah—bukan karena perceraian, tapi karena memilih perempuan lain—Aqil yang menyaksikan semuanya. Usianya baru delapan tahun saat itu.”Ayuna membeku







